Arsip Blog

CINTA ROMANTIS : SEBUAH RELIEF AMBIGUITAS


By: Fian Roger*(catatan permenungan yang tak ilmiah)
Cinta romantis merupakan tema yang hangat untuk selalu diperbincangkan. Banyangkan saja, ketika mengetik kata kunci ‘cinta romantis’ pada sebuah mesin pencari virtual, kita akan menemukan ribuan entri yang berisikan cinta romantis. Kontennya beragam, mulai dari catatan yang tak ilmiah sampai yang ilmiah. Ada yang berbentuk puisi dan ada pula yang berbentuk prosa. Dan bagi aku, mengayuh lebih dalam cinta romantis bukanlah pekerjaan yang membuang-buang waktu. Justru inilah hasrat terkuatku yakni untuk menyibaknya secara lain.

Dalam evolusi pemikiran soal ini bukan tidak digubris oleh para pemikir. Justru tema ini menjadi sesuatu yang membasahi kekeringan pemikiran filosofis mereka yang acap kali jarang mendarat pada permukaan, karena terus menukik mencari akar realitas. Soal ini masuk dalam penelaahan antropologi filosofis. Salah satu pemikir yang aku senangi adalah Platon. Platon memandang badan sebagai penjara atau kuburan bagi jiwa. Dalam bahasa yang lebih keren waktu itu disebut soma sema. Badan menjadi semacam kuburan bagi jiwa. Konon, tubuh menerima jiwa yang mengalami kejatuhan dari dunia idea, dunia asal muasal jiwa. Jiwa digambarkan sedemikian rupa sebagai sesuatu yang terbelenggu dalam badan dan membutuhkan pelepasan. Jiwa senantiasa bernostalgia akan saat-saat indahnya dalam dunia idea. Jelas, dalam pemikiran Platon jiwa merupakan sesuatu yang lebih luhur dari badan. Jiwa identik dengan kebakaan, sedangkan badan identik dengan kefanaan. Badan merupakan eksistensi rendahan.

Pandangan itu berimbas pada cara pandang mengenai cinta. Cintapun dibuat klasifikasi. Ada cinta badaniah yang sering disebut eros. Aku lebih suka menyebutnya dengan cinta romantis. Ada cinta persahabatan atau filia, cinta kekeluargaan, dan cinta ranah kasih yang disebut agape. Dalam piramida susunan cinta romantis sering ditempatkan pada nomor buntut. Sedang agape sering diberi nomor wahid dan dijadikan menjadi semacam cinta keilahi-ilahian. Read the rest of this entry