Arsip Blog

Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

(berpikir bersama Herbert Marcuse  Dan Erich Fromm )

Oleh: Rofiantinus Roger

Persoalan

Sejak usia dini sampai menginjak perguruan tinggi saya dicecoki konsep ini oleh orang tua dan para guru, “kamu harus menjadi orang yang berguna untuk masyarakat, bangsa dan Negara…” Kata “berguna” menjadi kata kunci untuk mereka yang bersekolah. Orientasi sekolah adalah kerja. Orientasi pendidikan adalah profesi. Arah pendidikan adalah kesuksesan. Kesuksesan ditakar dengan memiliki pekerjaan yang bagus, keluarga yang mapan (plus istri atau suami yang berkarir mantap), menjadi tokoh berpengaruh dalam masyarakat, dikenal banyak orang, kehidupan ekonomi yang cukup, memiliki barang-barang material yang standar kelas menengah, dsb. Menjadi “manusia” atau “orang” didefinisikan oleh kriteria kesuksesan yang diterima sebagai pandangan umum masyarakat. Hal itu terungkap dalam frase usang, “…dia sudah jadi orang…”  Hemat saya, dibalik ungkapan “berguna untuk masyarakat, bangsa dan negara” secara implisit tersembunyi suatu konsep pendidikan berorientasi pasar.

Visi semacam ini menarik jika dihadapkan dengan visi UNESCO mengenai tujuan pendidikan. Menurut lembaga PBB ini, pendidikan bertujuan untuk tercapainya autonomy, equity, dan survivalAutonomy berkaitan dengan pemberian kesadaran kepada individu atau kelompok agar dapat hidup mandiri dan hidup bersama untuk kehidupan yang lebih baik. Equity atau keadilan berarti pendidikan sedapat mungkin memberi kesempatan kepada seluruh anggota masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan budaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberikan pendidikan dasar yang sama. Dan survival berarti dengan pendidikan kebudayaan akan diwariskan dari generasi ke generasi. (Burhanudin Salam: 1997, 12) Saya menerima pemahaman humanistis  yang mengatakan bahwa pada dasarnya pendidikan merupakan sebuah proses pemanusiaan manusia, sebuah proses penyadaran dan pembebasan manusia, sehingga dunia semakin manusiawi. Apakah pendidikan berorientasi pasar merangum juga visi humanistik? Dan apakah menjadi manusia harus memiliki kriteria sukses yang didikte pasar? Dalam uraian berikut saya mengajak pembaca untuk  melihat pemikiran Herbert Marcuse dan Erich Fromm sebagai pisau analisis terhadap persoalan ini. Read the rest of this entry

Iklan

MENYIMAK BENTUK-BENTUK KONGKRET MASYARAKAT MANUSIA

(Sebuah Deskripsi Filsafat Sosial)

Kodrat sosial manusia menuntut suatu kebersamaan. Dalam kebersamaan itu terjadi interaksi personal dan interpersonal antar manusia. Interaksi itu menyata dalam bentuk-bentuk kongkret masyarakat manusia yakni: keluarga, agama, budaya, negara, dan kelompok bebas. Berikut akan diuraikan secara singkat dan sederhana tentang bentuk-bentuk itu.

Keluarga (family)

Apa itu keluarga? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus menggali akar kata dalam bahasa yang lebih tua yakni Bahasa Latin. Kata family dalam Bahasa Inggris berasal dari kata familia yang berarti rumah tangga. The Oxford Universal Dictionary memberi beberapa deskripsi penting. Pertama, keluarga merupakan sebuah badan yang terdiri dari pribadi-pribadi yang hidup dalam sebuah rumah dan di bawah seorang kepala, yang terdiri dari orangtua, anak-anak, dan pembantu. Kedua, keluarga merupakan kelompok yang terdiri dari orangtua dan anak-anak mereka, yang hidup bersama maupun tidak; dan dalam makna yang luas berarti semua orang yang memiliki kedekatan karena hubungan darah atau keturunan (affinity). Ketiga, mereka yang berasal dari keturunan yang sama, memiliki rumah dan garis keturunan yang sama.[1] Keluarga merupakan sel terkecil masyarakat di mana identifikasi awal seorang individu terjadi.

Keluarga terbentuk pertama-tama karena alasan kodrati eksistensial. Manusia senantiasia membutuhkan yang lain. Kebutuhan untuk berada bersama yang lain terejahwantah salah satunya lewat keluarga. Dengan kata lain, manusia tidak bisa menjadi individu yang menyendiri tetapi individu bersama individu yang lain. Yang kedua berkaitan dengan pembentukan manusia itu secara integral berawal dari sel masyarakat yang lebih kecil, yang menjadi lingkup hidupnya. Jadi, adanya keluarga merupakan kebutuhan eksistensial. Dalam sosialitas manusia, pembentukan keluarga juga erat kaitannya dengan pendidikan. Keluarga bertanggungjawab atas pendidikan seseorang. Tugas ini merupakan tuntutan kodrati keluarga. Read the rest of this entry

CINTA ROMANTIS : SEBUAH RELIEF AMBIGUITAS


By: Fian Roger*(catatan permenungan yang tak ilmiah)
Cinta romantis merupakan tema yang hangat untuk selalu diperbincangkan. Banyangkan saja, ketika mengetik kata kunci ‘cinta romantis’ pada sebuah mesin pencari virtual, kita akan menemukan ribuan entri yang berisikan cinta romantis. Kontennya beragam, mulai dari catatan yang tak ilmiah sampai yang ilmiah. Ada yang berbentuk puisi dan ada pula yang berbentuk prosa. Dan bagi aku, mengayuh lebih dalam cinta romantis bukanlah pekerjaan yang membuang-buang waktu. Justru inilah hasrat terkuatku yakni untuk menyibaknya secara lain.

Dalam evolusi pemikiran soal ini bukan tidak digubris oleh para pemikir. Justru tema ini menjadi sesuatu yang membasahi kekeringan pemikiran filosofis mereka yang acap kali jarang mendarat pada permukaan, karena terus menukik mencari akar realitas. Soal ini masuk dalam penelaahan antropologi filosofis. Salah satu pemikir yang aku senangi adalah Platon. Platon memandang badan sebagai penjara atau kuburan bagi jiwa. Dalam bahasa yang lebih keren waktu itu disebut soma sema. Badan menjadi semacam kuburan bagi jiwa. Konon, tubuh menerima jiwa yang mengalami kejatuhan dari dunia idea, dunia asal muasal jiwa. Jiwa digambarkan sedemikian rupa sebagai sesuatu yang terbelenggu dalam badan dan membutuhkan pelepasan. Jiwa senantiasa bernostalgia akan saat-saat indahnya dalam dunia idea. Jelas, dalam pemikiran Platon jiwa merupakan sesuatu yang lebih luhur dari badan. Jiwa identik dengan kebakaan, sedangkan badan identik dengan kefanaan. Badan merupakan eksistensi rendahan.

Pandangan itu berimbas pada cara pandang mengenai cinta. Cintapun dibuat klasifikasi. Ada cinta badaniah yang sering disebut eros. Aku lebih suka menyebutnya dengan cinta romantis. Ada cinta persahabatan atau filia, cinta kekeluargaan, dan cinta ranah kasih yang disebut agape. Dalam piramida susunan cinta romantis sering ditempatkan pada nomor buntut. Sedang agape sering diberi nomor wahid dan dijadikan menjadi semacam cinta keilahi-ilahian. Read the rest of this entry