Arsip Blog

pasti ada rasa untuk Litta (kisah cinta anak Ruteng) By: Rofiantinus Roger*

Litta, gadis di bemo itu

Setiap kali aku pulang dari tempat kerja, aku selalu menggunakan bemo. Di samping lebih murah, juga karena aku belum mau beli sepeda motor. Daripada harus kredit yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan pihak dealer, lebih baik aku jalan kaki saja. Aku memang mau begini saja, meski mama dan saudara-saudara mendorongku untuk beli motor agar memudahkan untuk pulang-pergi dari rumah ke tempat kerja atau pun sebaliknya. Aku tak mau karena lebih milih hidup sederhana. Tidak mau hidup sekedar tunjuk-tunjuk barang yang mampu dibeli. Kalau saja mau beli, itu sudah dari dulu. Ini bukan soal isi kantong, tapi soal pilihan. Gajiku besar semenjak kerja pada salah satu Bank swasta di Ruteng.
Aku memilih naik bemo saja. Sudah biasa. Semenjak aku taman kanak-kanak sampai sudah kerja seperti sekarang ini, aku sudah terbiasa menumpang bemo. Sampai-sampai teman-teman kerja menjuluki aku sebagai ‘manusia bemo’.
Saat-saat naik bemo kujadikan saat santai, menikmati jalan-jalan kota atau sekedar melihat wajah-wajah baru orang yang sungguh lain dari keluarga, kenalan, dan para teman-temanku. Saat itulah aku menemui Litta. Itu terjadi 4 bulan lalu.
***
Ruteng, Februari 2010.
Gadis itu kelihatan terburu-buru keluar dari rumahnya. Ada seorang ibu separuh baya yang kelihatan sedang marah-marah di depan pintu. Aku menerka bahwa itu ibu gadisnya. Ia menyerobot masuk sesaat saja bemo berhenti seperti roket pejuang Palestina yang meluncur di jalur Gaza. Dengan nafas terengah-engah ia duduk. “Gila ne cewek”.
“Huff… dasar orang tua, kerjanya hanya marah-marah saja. Orang mau pergi sekolah juga harus diberi nasihat pagi-pagi.” Gadis itu mengeluh.
Setelah itu ia mengeluarkan Blackberry-nya, sebuah barang yang harganya bisa membuat dahi berkerut. Tak lama kemudian ia mengambil juga headset dari saku tasnya, lalu memasang alat itu pada kedua telinganya dan mendengar lagu-lagu kesukaannya. Ia tak mempedulikan orang-orang di sekitar. Kuhitung-hitung dalam bemo itu ada 5 orang. Sopir dengan kondekturnya, aku, gadis itu, dan seorang ibu tua yang tak tahu akan turun di mana. Ia sungguh tak peduli.
“Om..Sa turun di Ahmad Yani,” katanya kepada Sopir.
“Ya, nona, ” jawab si pengemudi singkat.
Aku tidak biasa memberi tahu tempat turun karena setiap bemo jurusan Leda-Kota Ruteng yang aku tumpangi sudah tahu aku harus turun di mana setiap pagi. Si ibu tua juga turun tepat di depan RSUD Ruteng. Dia membawa bungkusan-bungkusan plastik hitam. Aku menebak bahwa ibu itu sedang menjaga keluarganya yang sakit.
Si gadis itu masih sibuk dengan Bb-nya. Tak peduli sedikitpun kalau aku telah memperhatikannya dari tadi. Eleh-eleh-eleh. Sesekali ia berhenti mendengar musik dan mengetik sms dengan cepat. Jari jemarinya seperti mesin yang sudah diprogram untuk mengetik sms di tuts-tuts mungil alat itu. Tak lama ia menjawab telepon teman-temannya. Suaranya begitu besar saat bicara. Sepertinya ia hendak mengatakan kepada supir, kondektur dan aku bahwa dia sedang menelpon. Sesekali dia tertawa meladeni orang yang di ujung telepon. “Kegilaan hp kali,” kataku dalam hati.
Gadis itu masih SMA. Lihat saja seragamnya. Pada dada kanan seragamnya ditulis, Maria Tarlitta B. Mungkin saja namanya Litta. Ia memakai rok yang menyentuh lutut. Pakaiannya ketat. Belahan-belahan tubuhnya yang baru mekar sungguh nampak. Belum lagi harum parfum ala gadis-gadis opera sabun. Hmmm. Asyik. Sungguh ia terkesan seksi dan membangkitkan imajinasi pagi-pagi. Litta seperti bunga yang sedang mekar dan mekar dengan begitu bergairah. Akhirnya, dia turun juga, tepat di depan gerbang sebuah SMA di kota Ruteng. Ohh…..rupanya dia sekolah di sini. Dari situ kutahu nama gadis itu. Litta. Hehe. Meski belum kenalan. Tebak saja.
***
Ruteng, Mei 2010.
Suatu hari aku tak sengaja lewat di depan sekolah Litta. Kulihat gadis itu sedang bercengkrama dengan kawan-kawannya. Mereka tertawa begitu bebas, sebebas burung-burung yang sedang mengais-ngais makanan pada sela-sela rerumputan di halaman. Mungkin saat itu jam istirahat. Dari jalan nampak jelas betul aku bisa melihat anak-anak SMA itu berkelompok-kelompok bercerita dan tertawa sambil melihat kendaraan yang lalu-lalang. Dari situ kutahu padahal Litta adalah seorang gadis yang ceria.
***

Juni, 2010.
Aku sendiri di dalam bemo bersama dengan sang supir.
“Kita jalan su pa tak ada penumpang lagi.”
“Mana-mana saja bung, apalagi kampung tengah sudah takitu ni” Jawabku.
Kami meluncur dari arah Toko Pagi menuju ke Markas Brimob kemudian melaju ke jalur Leda. Bemo begitu melaju. Mungkin karena sang supir mau makan siang. Hehehe…ikut saja. Sesampai di depan Toko Buku Nusa Indah kulihat Litta berdiri sendiri.
“Berhenti dulu ka’e,” kataku kepada sopir itu.
“Litta, ayo naik,” pintaku kepada gadis itu.
Gadis itu keheran-heranan. Siapa laki-laki yang sok kenal sok dekat ini? “Ayo,” pintaku lagi.
Ia akhirnya naik juga setelah bertingkah seolah-olah bingung. Siapakah Aku? Mengapa aku mengajaknya? Dia duduk terdiam. Sesekali ia memperhatikanku. Sedikit lagi ia mungkin bertanya.
“Om kenal aku ko?”
“Tidak. Hanya tau namamu saja dari tulisan di seragam itu e.” Hehehehe. Ia juga terkekeh. Kok bisa? Memang kenapa? Salah ko?
“Boleh ralat? Aku belum om-om e”
“Ok deh ka…”
Hanya kami berdua di bemo itu. Di sana ada percakapan. Makin lama makin menunjukan tanda-tanda baik. Tak ada lagi dering sms masuk, telepon, atau sejenisnya. Yang ada percakapan dua anak manusia yang baru tahu nama masing-masing. Betul, nama kecil gadis itu adalah Litta. Ia begitu cantik. Mungkin umurnya baru 18 atau 19 tahun. Gadis yang baru mekar, harum, dan ranum. Dia terlihat indah mengalahkan bunga mawar di pekaranganku. Diam. Itu adalah jeda antar kalimat percakapan. Tatapan menginterupsi di sela-sela pembicaraan. Dua bola mata berbicara. “Apakah aku tertarik sama anak baru gede yang karena berparas ayu dan mengenakan pakaian seragam seksi ini, dia yang sedemikian rupa mengganggu hasratku kelaki-lakianku?” Aku membatin. Tak lama Litta turun.
“Kiri Om.” Katanya kepada sang supir. Bemo segera berhenti. “Ka’ Aku turun duluan. Sampai nanti.” Sambil melambaikan tangan lalu menghilang dari pintu…
Litta turun di depan rumahnya. Seorang bapak paruh baya menunggu di depan rumah. Litta mencium tangannya. Lalu masuk ke rumah dengan sopan. Aku mengamati dari bemo yang melangkah dengan pelan.
***
Selanjutnya aku terus berjumpa dengan Litta di bemo yang aku tumpangi. Seakan-akan ada kontak batin antara kami berdua. Saat aku naik bemo A, ia juga naik bemo yang yang sama. Saat aku melirik kepadanya, pada saat yang sama ia juga melirik. Saat aku kebetulan sedang menengok ke luar jendela, ia juga sama. Wahhh…ada apa neh? Rupanya ada suatu persenyawaan. Hehe. Aku jatuh cinta sama anak SMA. Anak SMA!!!! Entah bagaimana sampai suatu sore aku nekat menyambangi rumah gadis itu. Rupanya dia sedang seorang diri di sana. Dia juga senang aku datang. Bahkan disambut bak teman sebaya saja. Padahal umur kami terpaut berbeda 6 tahun.
Karena diterima begitu baik di rumahnya, aku menjadi ketagihan mengunjungi rumah itu. Aku seperti kumbang yang sangat tertarik kepada bunga yang baru mekar. Ingin mencuri madunya, namun masih takut-takut. Sungguh rasa yang berkelebat ramai. Suka. Cinta. Hasrat. Naksir. Macam-macam. Apapun jenisnya, namun yang pasti ada rasa untuk Litta. Kecantikan, kemolekan dan kemanjaan gadis itu sungguh-sungguh menyandera hati. Orangtuanya pun tahu kalau aku sedang dekat dengan anak mereka. Mereka bersikap apa adanya. Mungkin aku sekaligus menjadi penjaga si anak gadis. Kalau mau di sebut pacaran, hubungan itu tak seromantis cinta Gaston dan Jupe, hanya ada tawa canda dan saling melirik tak lebih dari itu. Aku pun semakin lekat.

Kami sering naik bemo berdua. Cuma berdua. Hanya ada om sopir yang setia mengantar. Kadang kami meluncur ke Lintas Luar Kota Ruteng hanya untuk mengambil jarak sejenak dari kota berhawa dingin itu. Acap kali juga pergi menyusuri hutan-hutan Ampupu di Wae Lengkas. Semua itu terbingkai dalam suatu hubungan yang sulit disebut pacaran. Ini tepatnya sebuah persahabatan dua manusia yang baru bertumbuh. Tapi menurut orang-orang, kami sungguh pacaran, karena sering berdua. Hehehe.
***
Niat tak membeli motor meski tabungan sudah gemuk kini luluh. Aku kasihan sama Litta. Masa pacaran dengan gadis yang sebegitu cantik tak pakai sepeda motor? Bukannya takut ketinggalan tren, cuma ini kebutuhan mendesak. Ciehhh. Setelah konsultasi dengan keluarga, akhirnya aku merumahkan sebuah motor Yamaha CS1 dari sebuah Dealer. Kontan. Malas kredit. Motor itu berwarna keperak-perakan. Warna yang aku suka.

Karena sudah memiliki CS1, maka tugas ke kantor dan jalan-jalan dengan Litta sudah dipermudah. Ciuhhhh. Jalan-jalan kota Ruteng tak pernah alpa dengan sepasang manusia yang meluncur dengan motor baik itu baik itu sore maupun malam hari. Si laki-laki mengenakan helm masker standar sementara si wanita dengan rambut terurai memeluk si laki-laki dari belakang. Orang bilang itu gaya naik motor gaya nungging. Seperti kuda saja. Hehehe. Waktu-waktu senggang, kami manfaatkan secara sungguh untuk pacaran dengan sungguh-sungguh. Meski pergi hanya melihat pepohonan dan menghirup aroma hutan. Namun tak ada acara cium-ciuman ala film romantis. Yang ada hanya kecupan yang terlihat ragu-ragu seperti dalam film-film amatir.
***
November, 2010
Hari Minggu yang cerah. Aku meminta ke ayah Litta untuk mengajaknya ke Danau Rana Mese. Alasannya untuk refreshing. Bak gayung bersambut, ortunya setuju, yang penting jangan macam-macam. Padahal dalam hati aku sudah menyiapkan sebuah kencan spesial, yang lain dari yang sebelumnya. Waktu itu hari ulang tahunku. Aku telah menyiapkan sebuah lagu, bebungaan, makanan dan minuman seadanya untuk membuat hari itu layak disebut pesta.
Kami pun star dari rumah pagi pukul 7.30. Kami meluncur melewati kita masalah. Bok-bok di sekitar Wae Reno kali lipat bak pembalap profesional saja. Namun tiba-tiba sesampai di Mano. Brarrrr….brarr….motorku seperti dihantam oleh tubrukan yang keras. Tak jelas. Hancur. Terlempar. Tergesek aspal. Pusing. Apa kami yang menabrak atau mobil itu yang menabrak? Tak jelas. Motor terguling. Penyok. Aku juga tak Litta jatuh ke arah mana. Aku pusing tak sadarkan diri……….sampai…….
Aku tersadar sudah ada di ICU RSUD Ruteng. Aku cek kaki, tangan, mulut, kepala, rusuk…Ahhh ternyata masih utuh..hanya kaki yang kena luka lecet panjang akibat gesekan di aspal.
“Dokter…Litta.. di mana…. Littaaa…?”
“Dia ada di sebelah. Dia juga tidak apa-apa, hanya sedikit lecet. Rupanya Tuhan masih memberi kalian kesempatan hidup.” Jawab si dokter dengan tenang.
Aku menoleh ke sebelah. Si gadis itu rupanya juga sudah siuman. Dia tersenyum padaku. Itu tandanya dia baik-baik saja. Litta..Littta…maafkan Aku e, sudah buat kamu begini. “Sudahlah ka…Litta juga bersyukur ka’ juga selamat.”

Kisah ini kutulis sehari sebelum aku bertunangan dengan Litta. I love U cinta.(end) http://www.fianroger.wodpress.com di Rumah Kata-kata.

Iklan

Zirra, bara cinta terkubur oleh abu_(kisah cinta anak Ruteng) oleh: Rofiantinus Roger(fianroger@yahoo.co.id.)***


Aku bosan ketika harus membaca setiap status Yosefina Marzirra Dj. pada dinding facebooknya. Semua dipenuhi kata mutiara. Penuh dengan puisi membosankan. Penuh dengan laporan suasana hati yang menjengkelkan. Mau mandi juga dia lapor. Mau tidur juga lapor. Kecapaian juga orang harus tahu. Huft. Tulisannya penuh dengan tanda baca yang membingungkan. Penuh dengan kata-kata yang ditulis sesuka hati. Dia pikir semua orang akan membacanya dan teman-teman akan memberi komentar yang akan selalu membuatnya senang.
Jujur. Aku jarang mengomentari statusnya. Aku bahkan tidak pernah membalas apapun pesannya. Atau juga tautan yang ia tandai sebagai namaku. Apalagi banyak catatan yang ia buat hanya membuat aku muak dengan kata-kata puitis dan kalimat-kalimat kutipan. Atau juga foto-fotonya yang aneka pose. Dari yang rada-rada centil sampai yang sok-sok dewasa. Muak. Bosannn.

Zirra membuat aku menjauhi Facebook, karena fb malah membuat aku menjadi semakin asing darinya. Hari-hari kami bertemu sebagai sepasang laki-laki dan perempuan yang saling jatuh cinta, jalan bersama, makan bersama, belajar bersama…. Namun nyatanya hubungan itu adalah sebuah keterasingan. Perjumpaan adalah sebuah kehambaran. Dia malah lebih cuka chatting lewat fb. Atau berkomentar omong kosong pada dinding fb. Pacaran model begini adalah suatu kebodohan. Tepatnya kebohongan. Sebuah tanda Tanya besar.
?????

Apa sebenarnya yang ia cari. Ketika aku mengajaknya bicara ia malah sibuk dengan Blackberry-nya. Atau ketika aku memintanya untuk mendengarkan curahan suasana hatiku dia malah mendengarkan ipod-nya. Aku sudah muak berhubungan dengan gadis itu. Memang dia cantik. Anak pejabat. Berasal dari keluarga yang punya reputasi bagus. Dia pintar. Berkuliah di sebuah perguruan swasta yang mahal. Punya kenalan yang banyak. Bakat banyak. Pokoknya komplit deh untuk ukuran entete. Namun, aku merasa hanya digunakan sebagai pelengkap status saja agar tidak berpredikat lajang. Aku hanya patung yang digunakannya untuk menunjukan bahwa dia juga suka laki-laki dan normal. Apalagi aku sedikit kena dengan kriterianya.

Aku harus memutuskan permainan yang konyol ini. Memang dulu aku begitu menggebu-gebu mengejar dia. Seolah-olah hanya dia perempuan di kolong langit. Namun sekarang ketika tahu tabiat dan peringainya yang begitu lebih baik aku mengungsi ke lain hati. Toh… belum ada komiten apa-apa antara kami. Belum ada janji yang terpatri. Yang ada hanya basa-basi pelengkap percakapan harian.

“Ebed, Kawin yuu.”
Aku bilang padanya. “Zi beta ni anak kere. Sekolah saja pake biaya orang. Apalagi mo nikah. Mau belis pake apa co? Apa lu mau hidup susah??”
“Ehh..takut ya..sulit apa sih kawin.”

Cara bicaranya memang seperti itu. Zirra. Zirrra.
Yang membuat aku bertahan berpacaran dengan dia sekarang hanyalah karena aku tidak mau mengakhiri apa yang aku mulai dengan sebuah pengorbanan. Saya bilang pengorbanan karena dulu saya sampai tidak jadi masuk Frater gara-gara Zirra bilang dia tidak bisa hidup tanpa aku. Mati dehh.
Sewaktu cinta monyet zaman SMA kata-kata seperti ini begitu menyentuh hati. Sampai-sampai harus memutuskan untuk menjadi seperti ini. Kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Kupang sebagai seorang calon sarjana kesehatan masyarakat yang belum tentu akan lulus jika tes pegawai negeri. Aku memang tidak terlalu menyesal ‘coz merasa aman-aman saja setelah tak jadi masuk frater. Kupikir aku bakal dikutuk karena tak mematuhi pesan almarhum ayah. Mungkin siksaannya sekarang bahwa aku terus menjadi budak cinta Zirra. Entah sampai kapan.

Aku memang orang yang tinggi mimpi. Aku hanya seorang dropout SMA seminari di Manggarai. Keluar pas mau naik kelas tiga. Aku juga hanya seorang anak yatim dari sebuah gang tersudut di kota Ruteng. Merantau ke Kupang karena sebuah LSM yang dikepalai salah satu kerabat rela membiayai kuliahku sampai gelar sarjana. Jadilah aku meninggalkan mama dengan 2 orang adik yang masih duduk di kelas 5 SD dan 2 SMA. Aku anak sulung. Jadi, banyak beban yang harus aku tanggung nanti. Aku pantas bersyukur kepada Tuhan karena meski ibuku hanya seorang penjahit kasur, toh aku bisa berkuliah. Otakku pun lumayan encer. Apalagi soal penampilan. Wajahku good-looking-lah. Ayahku orang Jawa rantauan dan mamaku orang Manggarai asli. (Sayang, ayah terlalu cepat pergi. Ia meninggal karena kecelakaan di laut saat ia masih bekerja di sebuah perusahaan pengumpul kerang mutiara di Labuan Bajo). Wajahku adalah campuran Jawa dan Manggarai. Mungkin karena percampuran yang mengagumkan itu saya jadi begini. Hehe.

Aku mengenal Zirra sejak aku pindah ke satu SMA Negeri 1 di Ruteng. Seperti yang kukatakan sebelumnya. Awalnya sebuah cinta monyet. Dari cinta yang kemonyet-monyetan sampai betulan seperti sekarang. Zirra memang tidak nekat seperti gadis lain. Artinya kalau pacaran berarti harus bersetubuh. Kami sering bersama dalam kesendirian. Tapi, tidak menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Aku selalu alergi dengan kata ‘hamil’. Meski tidak pasti juga kalau pakai ‘helm pengaman’. Pokoknya pertemuan rutin sepasang manusia yang berpacaran hanya dilalui dengan kecup-kecap ringan tidak lebih dari itu. Pernah nyaris lari lewat namun aku segera disadarkan oleh gonggongan anjing pemilik kos.

Tugasku tiap hari selain kuliah adalah bantu di LSM Om. Selain itu tugas menjemput dan mengantar Zirra menjadi kegiatan lazim. Entah dari tempat kuliah ke kos. Kos ke tempat kuliah. Dari kos teman ke Flobamora Mal. Dari mal ke perpustakaan daerah. Dan kemana lagi. Ke pantai Lasiana, Manikin, Tabulolong. KFC. Subasuka. Macam-macam. Ke mana lagi ya. Ya…saya ingat ke pasar Inpres Naikoten. Pokoknya ikut dia saja. Ada sisi enaknya juga berpacaran dengan dia. Karena dia anak orang kaya. Jadi dia tidak sungkan-sungkan untuk membelikan saya makanan, baju, pulsa dan rokok. Sampai-sampai CD pun dia belikan. Kos kami dekat. Hanya berjarak 11 meter satu sama lain. Kalau mau dihitung aku banyak berhutang pada perempuan itu.

Zirra memang membingungkanku!!! Ia banyak dekat dengan laki-laki lain bahkan suka memeluk dan mencium mereka. Meski hanya peluk dan cium persahabatan ala anak zaman informatika. Tapi aku merasa tak nyaman. Dia beraksi seperti artis sinetron yang suka cap-cup dengan sesama artis. Dia pikir aku ini batu. Jadi tidak perlu cemburu. Gila e tu perempuan. Kalau dibilang murahan sulit juga karena setahuku dia masih perawan 100% dan tak mudah digombali.
***
Suatu hari aku sudah benar-benar putus asa lalu mencari akal untuk bisa putus dengannya. Dan keputusan itu harus lahir dari diriku sendiri. Aku putuskan untuk selingkuh saja. Dan itu harus terang-terangan. Ada seorang gadis yang sudah lama kusuka. Dia anak Kupang. Namanya Delfi. Adik semester. Baik. Cantik. Namun otaknya pas-pas saja. Kami sering diskusi bersama di kampus. Aku coba saja bereksperimen untuk mengungkap isi hati padanya. Aku bilang, sudah lama aku suka padanya, namun karena masih diperbudak cinta Zirra makanya ditahan-tahan. Ehh…ternyata tu nona ju pakai sistem yang sama. Sistem tahan-tahan. Padahal dia juga pendam rasa setengah mati terhadap aku.

Tak sampai seminggu kami putuskan untuk berhubungan sebagai laki-laki dan perempuan. Kami pacaran secara terang-terangan. Saya menjemput dia dan mengantar dia. Mengunjungi taman rekreasi bersama, bahkan katong berdua-duaan di kos sampai larut malam.
Saat itulah Zirra, enu dari Ruteng itu murka. Suatu petang ia memergoki kami sedang berciuman mesra di kamar kosku yang sempit.
“Benconggggggg….” Teriak Zirra histeris.
“Kalau lu sang beta putus kas tau baik-baik. B su kasi apa saja yang ko minta. Uang kos pun sa bayar.”
“Lalu lu buat sa seperti ini. Jahattttttttt. Bajingannn.”
Aku tak bisa membalas apapun makian Zirra karena memang dia terluka. Orang bilang jangan menggangu babi hutan yang telah terkena peluru pemburu anda bisa mati. So, aku diam-diam sa. Dan seharusnya seperti itu. Dia juga harus mengalami sakit hati. Ini adalah puncak kebosanan saya. Putus. Putus. Dan saling memusuhi sampai kiamat. Kami saling bungkam satu sama lain.
***
Sampai aku wisuda tak pernah Zirra menegur atau menghubungi aku lagi. Pernah aku ketemu dia di jalan, dia mengacuhkanku sungguh. Pernah ikut sama-sama ikut kegiatan OMK di Paroki, namun tetap ia melihatku sebagai musuh. Wajahnya seperti ingin menelanku. Kulihat statusnya di FB hanya berisi komentar pedas atas kaum lelaki. Seolah-olah setelah putus dia telah menjadi feminis radikal yang anti kaum laki-laki. Namun ada sisi positifnya juga. Dia malah berubah semenjak putus. Lebih serius kuliah. Sementara nasip hubunganku dengan Delfi, nona Kupang itu, hanya suam-suam kuku. Hangat-hangat tahi ayam. Awal-awalnya panas. Sampai-sampai kami nekat seranjang berdua bagai suami istri. Untung saja tidak terlanjur ukur badan. Hanya sebatas jep-jep ringan saja. Namun, entah kenapa aku cepat bosan, lalu membuat hubungan itu menjadi hambar tak berasa. Dia juga mencari alasan yang sungguh masuk akal untuk putus baik-baik. Rupanya dia juga pandai selingkuh. Sialll. Setelah aku minta info dari teman-temanku, aku baru tahu ternyata dia memang sering menjadi ‘piala bergilir.’ Putusss.
***

Setelah wisuda aku kembali ke Ruteng, ke kota kelahiranku. Aku melihat ibuku sudah cukup berumur dan sudah waktunya aku yang harus mengurus adik-adik dan terlibat dalam tekek bengek adat Manggarai yang kadang memusingkan kepala. Sambil menunggu testing PNS, saya mencoba melamar di sebuah radio FM swasta di Ruteng. Lamaran aku diterima. Bermodalkan suara yang lumayan oke dan logat khas anak Jawa tempelan saya memandu sebuah acara musik sore hari. Membosankan memang karena hari-hari hanya membaca SMS orang dan memutar lagu kesukaan mereka.
Aku jadi keasyikan bekerja di radio sampai-sampai saat testing PNS tiba aku malah tak menghiraukannya. Ibuku mengomel keras. Untuk apa sekolah cape-cape di kupang kalau pulang hanya menjadi penyiar radio yang honornya tidak jelas. Lebih baik pi duat saja.

“Nana tidak ingat kesusahan kita kah? Jangan ingat diri saja. Bet koe se so’o..”
Omelan ibu makin lama-lama makin menusuk hati apalagi keluarga besar juga terus mendorongku untuk ikut tes. Aku bukannya tidak mau. Tapi karena tes PNS di Ruteng banyak dilumuri dengan kolusi dan nepotisme, makanya aku malas. Kalau ada orang dalam baik bisa nego dengan ‘sebotol bir dan ayam’. Kalau lulus juga untung-untungan. Ini bukan soal kecerdasan menjawab soal tapi kelihaian melakukan pendekatan.

Karena belajar keras walhasil aku pun lulus. Rupanya bukan karena dewi fortuna berpihak padaku tapi karena aku berusaha dengan keras. Aku lulus. Yeeaaa. Akhirnya bisa menikmati pakaian dinas sambil lalu lalang di kota, pasar Puni, pertokoan, kantor Dinas Kesehatan, tempat hotspot, rumah, tempat tugas. Hehehe. Semua senang. Mama dan adik-adik bangga. Keluargapun mengatur acara syukuran. Seperti biasa pasti ada ritus pemotongan ayam dan dilihat ‘uratnya’. Baik atau tidak. ‘Urat manuk’ itu mungkin bisa menggambarkan apakah aku bisa menjadi PNS yang sukses atau yang gagal ke depan.
Menjadi PNS nyaman, enak, meski awal harus menjadi ‘suruhan’ atasan. Entah untuk foto kopi ataupun untuk mengerjakan tugas-tugas. Dari yang mudah sampai yang rumit. Semua kunikmati dengan penuh semangat. Tabah saja dulu. Tunggu posisi aman baru bisa bergaya sedikit. Sekarang tinggal cari calon istri sa.
***
Jadi PNS memang enak. Tapi acap kali membosankan juga. Ikut apel pagi. Pakaian harus seragam. Enaknya bisa kredit. Hehehe.
Karena tinggal di Ruteng banyak waktu luang, maka aku menggerakan adik-adik untuk menghias sekitar rumah dengan tanaman yang bisa di makan seperti tomat, buncis, sayur asin. Kalau tak ada jam kantor aku mengurus kebun.
“Tit…tit…tit….” Suara klakson motor membuat aku menoleh ke jalan di depan rumah. Sebuah sepeda motor Mio necis ditumpangi seorang gadis cantik berhenti. Dia enggan membuka helmnya. Dia turun lalu melambaikan tangan.

Dibukanya sedikit kaca penutup helmnya. “Ka Ebed…”
“Siapa ne,” aku bertanya. Dia mendekat. Sudah lupa kah? Zirra.
Hehehe…Zirra…sa tidak lupa e. Ini memang benar-benar kamu Zi’. Tapi…ko setambun ini sekarang. Hehehe.
“Ayo masuk yo..”

Begitu senang dan kaget. Rasa bercampur . Dia juga tambah cantik. Aku bertanya, “Mengapa perempuan ini datang lagi Padahal sudah kusakiti?” “ Enu dari mana tadi?”
“Dari rumah toh.” Untuk apa ke sini? tanyaku.
“Ya Cuma mau tau, apakah nana Ebed masih hidup atau sudah tewas. Hehehe. Ka’e Ebed mandi su Zirra mau ajak jalan-jalan. Sekalian nostalgia gitu.”
Kemana???
“Ke Biara Suster-Suster Carmelite.” Mo buat?
“Sa mau pi Doa e.” Ok dehh. Tunggu e. Sepuluh menit sa.
Saya mandi dengan gesit. Dengan jurus memakai pakaian ala tentara plus semporatan minyak wangi ala kadarnya langsung kabur dengan Zirra.
Rupanya dia memang mau benar-benar berdoa di biara yang jaraknya hanya 8 km dari rumahku itu. Bahkan dia lebih sopan dan khusyuk saat doa daripada aku yang eks-seminari. Dia begitu tenang dan anggun sekarang. Dewasa dan kelihatan mendalam. Zirra sudah berubah. Aura keibu-ibuanya sudah muncul.
Setelah itu ia mengajakku duduk di taman biara.
“Kamu kemana sa selama ini ?” tanyaku.
“Sa di Jawa e lanjut S2. Sekarang sa mau menetap di sini su n mo ngajar di STKIP. Ehh..ka Ebed su married ko?”
Belummm. Pacar saja belum ada apalagi married. Istri dari Hongkong ko??
Hehehe. Kami berdua terkekeh sama-sama.
Kalau begitu kita lanjut saja. Lanjut apa?? Pacaran to. Anggap saja 2 tahun terakhir ini menjadi masa penenangan diri buat kita untuk lebih dewasa dan memaknai cinta secara lebih pas. Yang benar sa. Benar. Serius. Kita harus punya akar dulu baru berani tumbuh. Tanpa akar kita akan tumbang. Lalu bagaimana??? Lanjut e. berpelukannnn……(seperti film kartun Winnie the pooh). Hehehe.
***
Ternyata cinta yang dulu masih membara. Meski baranya terkubur di bawah kumpulan abu dan debu namun ia masih memerah panas. Kini bara itu siap di hangatkan kembali saja. Zirra…Zirra…biar kukecup dia seribu kali sekarang karena dia akan menjadi istriku untuk selamanya. Aku tak akan bosan lagi. Walau sampai uzur umurku….(end) copyright: http://www.fianroger.wordpress.com.
‘Rumah Kata’, medio November 2010