Category Archives: Uncategorized

Sistem Perkawinan Adat Manggarai: Menelisik Makna Belis

1. Prolog
Dalam versi cerita rakyat, kata Manggarai terbentuk dari bahasa Bima (NTB), yakni persenyawaan kata Manggar: Jangkar, dan Rai: lari (ini dari segi fonetis pembentukan kata). Namun ada versi lain yang menjelaskan, bahwa nama itu diberikan orang Goa dan Tallo dari Sulawesi Selatan ketika melakukan ekspansi kekuasaan ke Nuca Lale (Flores). Meski asal-usul kata itu masih simpang siur, namun sebenarnya kata “Manggarai” menunjuk pada sebuah kelompok etnik yang memiliki kesadaran dan identitas sendiri, dengan sebuah bahasa bernama Bahasa Manggarai. (Bustan: 2006, 20-21)
Dari mana asal-usul orang Manggarai? Ada ragam versi berdasarkan cerita rakyat dan bukan sebuah dokumen tertulis. Misalnya, orang Kuleng pertama-tama mendiami daerah Mandosawu, kemudian menyebar ke wilayah Mano, Sita, Riwu dan Cibal. Ada juga yang menyatakan bahwa penduduk asli Manggarai bernama orang Ru’a, yakni penduduk asli keturunan Pongkor yang leluhurnya bernama Rutu dan anaknya bernama Okong. Di samping itu, disinyalir ada juga suku pendatang dari Minangkabau (Bonengkabo), Sumba, Ende. (Lawang: 1999, Jehaun: 2002).
Dalam makalah ini kami akan membicarakan salah satu aspek dari kebudayaan Manggarai yakni sistem perkawinan:
2. Perkawinan Adat Manggarai
2.1 Dasar, tujuan dan bentuk-bentuk perkawinan adat Manggarai
Dasar perkawinan adat Manggarai adalah cinta laki-laki dan perempuan yang ingin dilembagakan dalam sebuah institusi yang bernama keluarga. Dalam beberapa ungkapan digambarkan bagaimana seorang laki-laki memperjuangkan cintanya untuk memperoleh si jantung hati; wa’a wae toe lelo, usang mela toe kira (demi cinta, banjirpun tak dihiraukan, hujan pembawa penyakitpun diacuhkan); bahkan demi cinta, sotor wae botol agu ata mbeko (meminta bantuan dukun untuk menggaet gadis impian).
Tujuan perkawinan adat Manggarai terungkap lewat beberap ungkapan; pertama, kudut beka weki one-beka salang pe’ang, artinya untuk mendapat keturunan. Anak dilihat sebagai pelanjut subsistensi keluarga yang terungkap lewat pernyataan, eme wakak betong asa-manga waken nipu tae, eme muntung pu’u gurung-manga wungkutn te ludung ( Bambu tua mesti mati, mesti diganti dengan bambu tunas-tunas muda). Dalam upacara Nempung atau Wagal (peresmian pernikahan secara adat), terungkap doa begini: “ ra’ok lobo sapo-renek lobo kecep, borek cala bocel-ta’i cala wa’i” (duduk berhimpun di atas tungku api, uduk berderet-deret bagai tutupan periuk, membuang air besar mengenai betis-buang air besar mengenai kaki). Artinya, doa meminta keturunan. Kedua, perkawinan adat juga bertujuan untuk menambah keeratan jalinan kekerabatan antar keluarga besar. Ketiga, perkawinan bertujuan untuk kebahagiaan pasangan yang menikah itu. Itu tersembul dari pernyataan, kudut ita le mose di’as ise wina-rona (agar suami istri hidup sejahtera). Sifat perkawinan adat Manggarai terungkap oleh ungkapan, acer nao-wase wunut (tak terpisahkan) dan wina rona paka cawi neho wuas-dole neho ajos (perkawinan itu menyatukan secara abadi).
Dalam keadatan Manggarai terdapat tiga jenis perkawinan yakni perkawinan Cangkang atau perkawinan antar klen atau suku, perkawinan Tungku dan Cako atau perkawinan dalam klen/ intra-klen. Perkawinan cako terbagi atas dua; cako sama ase kae atau cako sama wa’u, ada pula yang disebut cako cama salang (perkawinan yang terjadi dalam lingkup kesukuan tertentu, atau dalam satu garis keturunan). Perkawinan cangkang amat bersesuaian dengan tradisi Gereja yakni suatu perkawinan yang bertujuan untuk membentuk kekerabatan baru (woe nelu agu ine ame weru), sehingga terjadi keterjalinan kekerabatan karena perkawinan dengan suku-suku lain. Sedangkan perkawinan Tungku bertujuan untuk menjaga hubungan kekeluargaan yang telah terjalin dalam satu garis biologis agar tidak terputus. Ada beberapa macam tungku, pertama, tungku cu/ tungku dungka atau perkawinan antara laki-laki dari saudari dengan anak gadis saudara (cross cousin). Kedua, tungku sa’i/tungku ulu atau (perkawinan antara anak laki-laki saudari dengan anak saudar laki-laki dalam satu garis keturunan). Ketiga, istilah lain; tungku anak de due, tungku salang manga, tungku neteng nara, atau juga tungku dondot. Untuk mengetahui suatu perkawinan disebut tungku atau tidak maka diperlukan suatu penceritaan kembali suatu genealogi keluarga yang disebut turuk empo. Perkawinan tungku cu sangat dilarang oleh Keuskupan Ruteng dan Gereja Katolik pada umumnya.
2.2 Tahap-tahap dalam perkawinan adat Manggarai secara umum
Pertama, Cumang Cama Koe artinya laki-laki dan perempuan bertemu di mana sang pemuda membawa tanda cinta misalnya cincin, maka ada suatu kejadian yang disebut tukar kila (tukar cincin). Pihak laki-laki (calon anak wina) menemui pihak perempuan (calon anak rona) untuk membuat pra-kesepakatan mengenai pernikahan, belis, mas kawin (paca). Bila terjadi kesepakatan, maka hubungan itu dibawa pada jenjang selanjutnya.
Kedua, Weda Rewa Tuke Mbaru. Proses ini mencakup; pengikatan, masuk minta, masuk rumah permpuan membawa sirih-pinang yang dalam bahas adat disebut “pongo” atau “ ba’cepa”. Tahap ini lazim disebut “Tuke Mbaru”. Tahap ini menjadi momen peresmian pertunangan. Dalam acara pongo kedua pihak mendelegasikan pembicaraan adat pada sesorang yang disebut “Tongka/Pateng” (jubir). Juru bicara pihak wanita disebut “tongka tiba” sedangkan juru bicara pihak laki-laki disebut “ tongka tei.” Dalam proses inilah belis and paca dibicarakan. Jika terjadi kesepakatan, maka apa yang diminta pihak wanita akan dipenuhi dalam proses selanjutnya.
Ketiga, Uber/ Pedeng Pante. Tahap ini ditandai dengan pemberian belis sebagian kecil sesuai dengan kemampuan anak wina. Umber ini juga disebut cehi ri’i-wuka wancang-radi ngaung (peresmian perkawinan adat karena sebagian belis sudah dibayar). Filosofi dibalik belis adalah “bom salang tuak-maik salang wae teku tedeng.” Artinya: keluarga yang baru dibentuk itu bagaikan mata air yang tidak akan berhenti seperti mengalirnya air dan bukan seperti jalan pohon enau yang “air”nya berhenti. Maksudnya; dalam perjalanan hidup mereka kelak akan membayar segala tunggakan belisnya dengan cara-cara adat yang berlaku hingga akhir hayat.
Keempat, upacara podo. Upacara ini merupakan upacara menghantar (podo) pengantin ke rumah pengantin pria. Dengan ini, ia sudah menjadi anggota suku (wa’u) laki-laki dan harus megikuti tata hidup keluarga si pria (ceki). Dalam tahap ini juga pihak perempuan member “wida” kepada keluarga baru. “Wida” merujuk pada “widang” yakni pemberian perlengkapan rumah tangga dari pihak keluarga wanita misalnya kain adat, perlengkapan tidur, barang-barang dapur. Sesi pamungkas dari “podo” adalah upacara “pentang pitak”, yakni upacara pembebasan si istri dari segala keterikatannya dengan keluarga asal. Ritual yang dijalankan yakni: menginjak telur di depan rumah adat (Gendang/tembong). Ini menjadi tanda inisiasi si wanita ke dalam tatanan hidup si laki-laki.
2.3 Budaya Belis dan paca
Belis/ paca itu merupakan seperangkat mas kawin yang diberikan oleh anak rona ( keluarga mempelai laki-laki) kepada anak wina (keluarga mempelai perempuan) yang biasanya berdasarkan atas kesepakatan pada saat pongo (ikat). Yang dimaksud seperangkat mas kawin di sini adalah seng agu paca (seng = uang; paca = hewan berupa kerbau dan kuda). Dalam bahasa adat perkawinan Manggarai, uang biasa disebut dengan menggunakan term kiasan seperti kala (daun sirih), one cikang (dalam saku), one mbaru (dalam rumah); sedangkan untuk hewan disebut dengan menggunakan term kiasan seperti peang tana (di luar rumah). Semua pembicaraan yang berkaitan dengan jumlah belis yang harus diberikan oleh pihak laki-laki terhadap pihak keluarga perempuan dibicarakan pada saat pongo. Ketika itu terjadi proses tawar menawar antara tongka (juru bicara) dari pihak anak rona dan anak wina tentang jumlah belis. Mempelai perempuan memberikan patokan belis yang harus ditanggapi oleh keluarga mempelai laki-laki berupa tawar-menawar sebelum adanya keputusan final. Kadang tidak ditemukanya kesepakatan dan apabila kesepakatan tidak ditemukan, maka acara itu ditunda lagi.
Setelah semuanya mencapai kesepakatan, ada waktu yang telah ditentukan untuk menyerahkan mas kawin itu pada saat acara adat yang disebut coga seng agu paca . Di mana semua hal menyangkut mas kawin yang telah dibicarakan dan diputuskan bersama (pada tahap perkawinan sebelumnya yaitu pada saat pongo) akan diserahkan oleh pihak laki-laki kepada keluarga perempuan. Adat coga seng agu paca merupakan inti/ puncak sebagai bukti tanggung jawab keluarga laki-laki dalam melunasi belis kepada keluarga perempuan. Momen inilah yang menjadi tolok ukur sampai sejauh manakah kesiapan, kemampuan kelurga mempelai laki-laki dalam urusan perkawinan itu.
Mengapa belis atau “Paca” harus “dibayarkan” dalam pernikahan adat Manggarai? Pertama-tama belis atau “paca” bukan hanya suatu penetapan melainkan suatu pengukuhan kehidupan suami istri. Ada sua unsur pokok: anak rona (penerima mas kawin) dan anak wina (pemberi mas kawin). Telah dikatakan bahwa filosofi dasarnya adalah “salang wae teku tedeng” (jalan mata air) dan bukan “salang tuak” (jalan tuak enau). Itu berarti relasi perkawinan yang akan dibentuk bukan hanya sesuatu yang bersifat temporal saja (untuk sementara waktu), melainkan relasi perkawinan itu akan berdampak pada suatu hubungan “woe nelu” atau kekerabatan yang berkelanjutan sampai pada generasi-generasi berikutnya. Belis menjadi semacam “tunggakan” yang menjadi kewajiban pihak “anak wina” kepada “pihak anak wina.” Filosofi lain yang tersembul dalam ungkapan “le Mbau teno” artinya, belis atau paca akan diberikan kepada pihak yang berhak menerimanya (anak rona) sembari menanti hasi kerja suami istri. Jika terjadi “sida” (permintaan sejumlah uang atau hewan) kepada pihak anak rona, maka itu harus berdasarkan “momang” atau belaskasih si pihak pemberi belis (anak wina). Hal itu terungkap dalam peribahasa, “pase sapu-selek kope, weda rewa-tuke mbaru.” Pemberian pihak “anak rona” kepada “anak wina” berasal dari suatu konsolodasi internal keluarga mereka untuk meenanggung permintaan “anak wina” itu.
Formulasi permintaan belis dalam upacara “Umber” sebelum peresmian adat misalnya; 2 ekor kerbau ditambah dengan 5 ekor kuda serta uang 40 juta. Misalnya disanggupi secara tertentu dalam; 1 ekor kerbau, 2 ekor kuda dan 1 ekor kerbau (kaba ute/ khusus untuk dimakan “lebong”). Biasanya permintaan yang tertugn sebagai “paca atau belis” harus disanggupi pada saat pengesahan perkawinan adat, yakni saat “Nempung” atau “wagal.” Namun sekalai lagi pada saat itu bukan suatu sistem “bayar tuntas” karena merujuk pada filosofi “wae teku tedeng” atau mata air abadi. Bagi pasangan yang dikukuhkan dalam pengukuhan adat dikenakan peribahasa: “du pa’ang le mai-cako agu reha lesak penong pa’ang.” (suatu pesta meriah yang melibatkan seluruh kampung). Si perempuan disanjung-sanjung dengan ritual “sendeng atau sompo.” Terbersit bahwa dalam upacara ini ada penghargaan terhadap martabat wanita dan keluarganya.
Jawaban atas permintaan belis ada dua: pertama, untuk menyatakan kesanggupan atas tuntutan adat ada tuturan adat sbb: “ho’o ca libo, dumpu ca sora mata, titut nggitu deng hitu, o hae gereng sala = hanya ada satu kolam kecil, kudapati satu udang kecil, terimalah dulu, sambil mencari yang lain kemudian.” Itu berarti belis merupakan suatu kelanjutan yang menandai hubungan kekerabatan “Woe-Nelu.” Belis bukan “beli mati” melainkan suatu budaya yang melanggengkan hubungan itu. “Sida” (tuntutan adat) dari pihak peminta belis secara berkelanjutan akan meminta respon dari pihak penerima belis. Kedua, untuk memohon pengertian baik pihak wanita karena si laki-laki tidak mampu; “eme tenang laku lalo, retang nanggong du kakor lalong. Eme nuk laku kasi asi, one ritak laing, momang koe, cala di’a diang, baeng koe, cala jari tai.” Intinya memohon pengetian baik dari pihak wanita agar tuntutan adat diperlunak mengingat hidup bukan hanya hari ini, mungkin besok keluarga ini akan menjadi baik.
3. Refleksi filosofis
Nilai-nilai filosofis perkawinan adat Manggarai dapat digambarkan dalam beberapa ungkapan berikut: Pertama, perkawinan mengungkapkan kebutuhan dasar manusia untuk berada bersama dengan Yang Lain dalam suatu ranah kehidupan yang sejahtera, subur dan berkembang, seperti ungkapan “saung bembang ngger eta, wake seler ngger wa”. Kedua, perkawinan bertujuan agar manusia dapat melanjutkan subsistensi dirinya lewat keturunan. Seperti suatu ungkapan seorang suami, “wua raci tuke, lebo kala ako” (: istriku sudah hamil). Ketiga, perkawinan membuka sosialitas manusia agar terhubung dengan Orang Lain dan kelompok lain sehingga terjalinlah suatu kekeluargaan dan persaudaraan manusia seperti ungkapan “cimar neho rimang, cama rimang rana, kimpur kiwung cama lopo (persaudaraan itu ibarat lidi yang tak mudah dipatahkan, kuat seperti batang enau)” Keempat, perkawinan merupakan ruang pembentukan keluarga yang nantinya akan menjadi ruang transimisi nilai budaya dan moral, seperti tanggung jawab dan jiwa besar. Itu tersembul dalam ungkapan “Nai nggalis tuka Ngengga (kearifan dan jiwa besar)” Atau ungkapan “Mese bekek, langkas nawa” (pribadi yang bertanggung jawab dan bermoral). Keenam, perkawinan menjadikan kebebasan manusia terlembagan dalam suatu tatana moral dan etika, seperti menghargai perempuan yang sudah bersuami. Seperti ungkapan “lopan pado olo, morin musi mai (sudah ada yang punya).”

4. Epilog: Tantangan dan peluang
Apakah tantangan sekaligus peluanh yang dihadapi Gereja Katolik khususnya Dioses Ruteng berkaitan dengan perkawinan adat Manggarai? Pertama, tantangan seperti;
 Kawin Tungku Cu dilarang Gereja karena tidak sesuai dengan ajaran moral iman dan menjadi halangan nikah dalam hukum Gereja.
 Banyak urusan perkawinan sakramental ditunda lantaran adat belum beres padahal pengukuhan sakramental lebih penting.
 Budaya “sida” atau tuntutan adat yang berlebihan dapat menjurus pda pemiskinan oleh pihak peminta belis (anak rona).
Adapun peluang seperti:
 Pernikahan adat merupakan suatu ruang pelestarian nilai-nilai penghargaan terhadap kemanusiaan dan sosialitas manusia yang mengandung didalamnya juga nilai-nilai yang diakui Gereja seperti norma bahwa pernikahan itu “suci, utuh dan tak terceraikan.”
 Keluarga merupakan ruang transmisi nilai moral dan kultur dan disisi lain juga menjadi “gereja domestik” untuk membentuk anak-anak dalam terang Injil.

5. Referensi:
• Antonius Bagul Dagur, Kebudayaan Manggarai Sebagai Saah Satu Khasanah Kebudayaan Nasional, Surabaya: Ubhara Press, 1997.
• Fransiskus Bustan, Etnografi Budaya Manggarai : Selayang Pandang, Kupang: Agrilcola, 2006.
• Adi M. Nggoro, Budaya Manggarai, selayang Pandang, Ende: Nusa Indah, 2006.
• Petrus Janggur, Butir-Butir Adat Manggarai, Ruteng: Yayasan Siri Bongkok, 2010.

Iklan

Detik-Detik terakhir seorang Calon Imam Oleh: Rofiantinus Roger

Saat senja kala di biara. Saat pikiran itu tak menentu seperti kuda liar yang berlari-lari semaunya. Perasaan tersudut bak debu-debu yang diusir angin ke sudut ruang. Tak ada waktu merenungi kata-kata bijak pelipur lara. Tak ada nyawa untuk berfilsafat tentang suasana hati yang hitam. Mood yang gelap.
Kucoba mengendapi semua sehingga kecemasan yang meremas dada menjadi lumpur-lumpur di dasar kegelisahan. Mustahil. Itu sia-sia. Imposible.
Saat senja kala di biara. Suara dua manusia terdengar di ruang tertutup bak interogator dan narapidana. Bak wartawan dan tersangka kasus maksiat. Ya. Seperti suara-suara itu berbalas. Seperti saling mempertahankan argumen. Tapi tidak. Tidak demikian sebetulnya.
Saat langit direbah gelap yang lama-lama makin tebal. Saat tak ada aura positif di wajahku. Saat itu aku berkonsultasi dengan pemimpin biara. Sang Delegatus.
“100 % anda tidak memberi diri bagi jalan religius,” kata Pater Pemimpin pelan tapi kedengarannya begitu menusuk.
“Anda mengalami jalan buntu,” kata-kata yang membuat aku tersudut.
“Iya…Pater memang demikian adanya..”jawabku. Selama beberapa waktu, ia mengurai daftar kelemahan-kelemahanku sebagai seorang calon imam. Aku terus mengatakan ya. Sebab tak ada argumentasi yang dapat mematahkan perkataannya. Bicaranya melumpuhkan mekanisme bela diri.
Kalimat besar pada percakapan itu dimulai dengan sesuatu yang mengguncang.
“Anda harus membuat keputusan yang kuat!” tegasnya.
Apatah daya. Itu kebenaran. Suatu ketaktersembunyian. Aletheia terbongkar. Kata-katanya melemahkan semua argumentasi yang coba aku bangun padahal aku seorang pendebat ulung. Aku tak kuasa membantah. Demikianlah kebenaran bersabda. Selanjutnya segala kelemahan-kelemahanku menjadi termuncrat, seperti usus Babi Hutan yang terburai keluar akibat parang pemburu. Segala rahasia yang terpendam dalam alam bawah sadar meledak keluar. Terbuka. Telanjang. Tak ada pakaian rasionalisasi. Senjakala mengurai semuanya menjadi bagian-bagian nudis yang tak dapat dipungkiri.
“Apa solusi anda untuk kebuntuan ini?” Ia bertanya sambil mengarahkan sorot matanya kepadaku.
“Pater…aku tidak menemukan solusi sekarang, tak satupun jalan keluar, satu-satunya aku harus melakukan refleksi diri.”
Ya memang itu yang aku lakukan. Aku melempar diriku ke belakang, ke depan, lalu mengambil jarak darinya sebentar. Lalu berkata, “itu Aku.”
Masalah panggilanku tidak bersumber dari manapun. Oleh siapapun. Atau apapun. Masalahnya ada dalam dasar hatiku. Ada pada sisi jiwaku. Apa pada pinggir pikiranku. Pada pusat tubuhku. Pada motifku. Pada keputusanku. Ya keputusanku. Sebab dimana hatiku berada, di situ hartaku.
Pada sebuah ujung refleksi diri yang aku lakukan menghasilkan sebuah jalan buntu. Sebuah tembok. Apakah harus melompat meski ada kawat duri, atau harus menjebolnya dengan linggis. Pada pinggirnya ada jiwa yang gelisah sebab hasrat dipendam-pendam.
Poros soal senjakala itu terletak pada alam bawah sadarku. Dalam tahun-tahun terakhir semua itu terperam. Dan saatnya semua diledakan. Lantas aku membuka takdir baru.
“Jangan maju kalau anda tidak mau, atau anda akan sangat menderita,” kalimat iu bak tangga yang menghantam ubun-ubunku.
Saat senjakala biara. Aku memegang tangan si pastor. Mengucap maaf disusul terimakasih karena sudi mendengarkan meski aku telah menjadi tersangka. Tanpa memberi titik pada akhir kalimat aku meninggalkan ruang itu.
“I have to go out, quit… ”kataku kuat dalam hati. Itu simpul akhir. Lalu aku ayunkan langkah menuju gua Maria tuk berdoa rosario.
“I’ve to go out. Go out. Out. Out there. Right now. Out. Out. Quit the game.” Aku bak pecundang yang terus merenungi kekalahan. Kata-kata menjauhkan suasana doa dari ruang bathin. Out now. Quit now!!! The game is over.
Ada takdir dibalik kesimpulan ini. Aku lalu menghubungi Rumah. Namun tak ada balasan. Aku meminta saudara tertua mengeluarkan suara tapi tak ada respon. Aku berbicara dengan kawan seperjalanan namun kutemukan hanya sebuah kotbah pendek yang membosankan.
Aku memandangi pakian-pakaian, rak buku, data-dataku. Diam. Terpekur. Tak ada komentar. Sebab besok mungkin semua akan ditaskan, digarduskan, bahkan dibakar.
Kuambil secarik folio bergaris, kemudian kutulis sebuah surat kepada Seseorang yang menembus Seseorang. Intinya satu. I decide to leave.
Selamat tinggal ruang penatku. [end]
Menjelang Natal 2010

Rumah Kata-Kata

KULTUS PEMUJAAN TUBUH ERA INFORMATIKA

Tidaklah ‘lebay’ jika kita menyebut semangat zaman (Seitgeist) ini sebagai zaman penguasaan teknologi dan informasi dan di sisi lain zaman perbudakan oleh teknologi dan informasi. Masih kuat dalam ingatan kita akan berbagai kasus video porno yang beredar luas (termasuk di kalangan mahasiswa/i) yang melibatkan beberapa artis kondang yang dilabeli predikat ganteng, tenar, cantik dan selebritis. Atau beberapa kasus tingkat lokal yang menggemparkan kota Kupang di mana beberapa wanita dan pria berbugil ria dalam foto-foto dan video digital. Kasus-kasus ini bermula dari sebuah keisengan untuk mengabadikan gambar tubuh entahkah dalam posisi diam atau bergerak sampai pada sebuah “chaos moral” yang oleh sejumlah moralis dan agamais dicap sebagai tindakan asusila. Menurut mereka (: kaum moralis dan agamais), bahwa pihak-pihak yang terlibat rupanya sedang terjerumus dalam perbudakan birahi yang menjadikan baik nilai-nilai agama maupun  etika menguap entah kemana.

 

“Nafsu menggebu-gebu bikin malu dan susah maju,” demikian lirik lagu dari Band yang tidak begitu kondang Efek Rumah Kaca. Upaya merekam adegan bersetubuh atau hanya sekedar memamerkan kemolekan tubuh dalam bentuk gambar entahkah untuk kenangan semata ataukah untuk kebutuhan pasar memang lazim zaman sekarang. Ada orang yang menyebut gejala ini sebagai kultus tubuh era informatika. Kultus tubuh adalah suatu upaya sadar ataupun tidak sadar untuk mengagung-agungkan atau mendewa-dewakan tubuh manusia baik itu melalui untuk kepentingan kesenangan pribadi maupun untuk memenuhi selera pasar. Dalam arti yang negatif, kultus tubuh merupakan suatu upaya pengobjekan tubuh untuk menjadi suatu komoditi demi keuntungan material ataupun  psikologis. Ada yang melihat fenomena ini sebagai suatu ketersesatan arah dari generasi teknologi dan informatika, dan ada pula yang menafsir sebagai ketidakdewasaan moral, psikologis dan rohani. Memang setiap kejadian hidup keseharian seperti ini merupakan sebuah teks yang bisa ditafsir dari aneka sudut pandang baik itu agama maupun ilmu pengetahuan dan filsafat.

 

Filsuf Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969) benar ketika ia mengungkapkan bahwa kemajuan tidak terlepas pula dari kemunduran. Tesisnya yakni teori kemajuan dimengerti juga dalam teori kemunduran. Pada masa pencerahan sejarah ditafsir sebagai proses yang melibatkan manusia dalam dalam pertentangan satu sama lain. Sejarah dipandang sebagai pembebasan manusia dari cengkeraman alam dimana perkembangan sejarah memperlihatkan proses diatasinya ketergantungan manusia pada alam. Kebebasan penuh manusia dilihat sebagai keterlepasan bangsa manusia dari ketergantungan pada alam. Inilah yang kemudian disebut sebagai emansipasi. Namun kemajuan tidak dapat dilepaskan dari kemunduran sebab kemajuan tidak mungkin jika tidak ada sesuatu yang ditiadakan atau dihancurkan, yaitu alam dari mana manusia membebaskan diri. Maka bagi Adorno, teori tentang kemajuan hanya mungkin sebagai teori dialektis, artinya teori di mana kemajuan hanya dimengerti sejauh kemunduran dimengerti. Inti dialektika adalah perlunya penguasaan. [1]

 

Bukan berarti dengan menahlukan alam manusia sudah masuk dalam  kebebasannya.  Yang terjadi malah manusia menjadi budak oleh kemajuan itu, karena ia menjadi obyek penguasaan. Daripada menghasilkan emansipasi ilmu pengetahuan dan tehnik membuat manusia menjadi obyek. Manusia menjadi subyek yang menguasai sekaligus obyek yang dikuasai. Ia yang mau membebaskan diri, pada kenyataannya diperbudak saja. Adorno menyebut ini sebagai  ‘Umschlag’ atau suatu pembalikan dari subyek menjadi obyek. Bagaimana manusia yang mengklaim diri sebagai subyek yang bebas dan pelaku bebas menjadi budak kemajuan?[2] Adorno memang kelihatan pesimis dengan segala kemajuan IPTEK namun jika kita baca pemikiran dalam konteks zaman teknologi dan informasi kita dapat menemukan sebuah benang merah yang menggambarkan paradoks kemajuan.

 

[1] Kees Bertens, Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman, Jakarta: Gramedia, 2002, hlm. 210.

[2]  Op. Cit., hlm. 211.