Kisah Sarjana Bingung

“selalu ada solusi dibalik semua masalah,” NN

Setelah kuliah, saya mengalami kebingungan, apa yang dilakukan setelah tamat ini. Memang banyak lapangan pekerjaan. Apakah itu harus diambil tanpa memperhitungkan latar belakang ilmu yang telah saya geluti selama empat tahun? Apakah harus menjadi penjaga toko? Menjadi seles? Saya seorang sarjana filsafat, apakah kualifikasi saya harus tunduk hanya untuk sebuah keterdesakan hidup. Perhaps, mau tidak mau. Bingung. Itu mungkin kata yang pas untuk saya saat ini. Namun, apakah saya harus putus asa? Tentu jangan. Saya harus berjuang. Terus belajar dan berpikir solutif. Tak hanya berpikir, saya harus mau dan jangan malu bertanya kepada mereka yang paham akan situasi hidup. Saya menulis artikel ini, karena memang saya lagi kebingungan. Apa yang harus saya buat. Apa solusi bagi soal ini? Tak mungkin jalan di tempat, saya harus berjuang. Saya harus terus memotivasi diri. Kebingungan merupakan awal pengetahuan. Itu kata orang bijak. Ya, saya harus menjadi pria dewasa yang bijaksana. Sampai kapan harus membuang waktu, pemikiran, dan energi hanya untuk stress. Bisa jadi saya akan menjadi pria muda yang muka tua, karena stress. Intinya saya harus bergerak. Tenang. Kuat. Sabar. Pasti maslaah ini akan teratasi. Siapa memiliki kemauan kuat, maka seluruh duinia akan membantu mewujudkan semua mimpi. Noumenon terletak di balik setiap fenomen. Artinya ada sebuah kebenaran dibalik masalah. Atau kadang makna sebuah pergulatan terletak di balik situasi kasat mata. Situasi dan faktanya adalah bahwa saya, fian roger, adalah seorang tamatan filsafat yang tak memiliki pekerjaan untuk menyambung hidup. Apa yang ada dibalik soal ini. Bahwa saya ditantang untuk berpikir kreatif. Kreatif untuk berpikir dan menemukan solusi. Nah, kebijaksanaan inilah yang disebut cara berpikir solutif. Cara menemukan jalan keluarnya adalah dengan rendah hati menerima konsekuensi semua pilihan yang telah dibuat. Menerima bahwa saya sangat rapuh dalam percaturan dunia yang begitu kompleks. Karena logika dunia adalah uang. Siapa yang memiliki cukup uang dia akan bertahan hidup. Lantas, bagaimana mendapatkan uang secara layak? Ya dengan bekerja. Tak cuklup hanya “ternganga.” Fenomen menarik selama ini adalah bahwa uang 20 ribu, hanya bisa dihabiskan hanya dalam 15 menit. Uang habis begitu cepat untuk sesuatu yang bukan kebutuhan. Nah, di sini kebijaksanan lain muncul. Saya harus membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Apa itu keinginan? Keinginan adalah sebuah keadaan psikis yang berhubungan dengan hasrat akan suatu barang, keadaan, orang tertentu. Misalnya, hasrat untuk belanja sebungkus rokok. Saya sangat ingin membeli rokok. Namun, apakah saya membutuhkan rokok? Ternyata kadang tidak. Sebenarnya saya tidak membutuhkannya, sebab merokok dapat membawa azab untuk kesehatan. Kemudian, kebutuhan diketahui berhubungan dengan hal-hal yang menjadi priorotas manusia dan dapat mendukung pertumbuhan positif dalam hidupnya. Misalnya sebagai seorang sarjana, saya sangat membutuhkan pekerjaan untuk melanjutkan hidup dan perjuangan. Mengapa pekerjaan sangat dibutuhkan? Karena tanpa pekerjaan, tak mungkin saya bisa memilliki uang. Kemudian, bagaimana mendapatkan uang? Jawabannya dengan bekerja. Tak ada rejeki yang turun dari langit. Orang ikut lotre atau kuis berhadiah saja butuh usaha untuk mendapatkan duit. Jadi, tak ada yang mudah. Dan sejauh ini kita telah melihat sedikit pembedaan antara keinginan dan kebutuhan. Hidup sendiri adalah sebuah masalah, namun jangan mempermasalahkan hidup dengan hanya mengeluh. Apa usaha riil anda? Banyak orang yang lebih tak beruntung dari anda. Ada yang tidak memiliki kaki, tangan, namun terus berjuang untuk melakukan yang terbaik. Ada yang bahka tak pernah mengenyam pendidikan, bahkan tak tau apapun tentang apa dan bagaimana dunia pendidikan. Namun, mereka semua bisa berusaha dan berjuang untuk bertahan hidup. Saya seorang sarjana filsafat, umur 24 tahun, pernah mengamali hidup di seminari. Apakah saya harus kalah dalam percaturan hidup? Berhenti berputus asa dan ambillah hikmah dari keputusan dan kegagalan di masa lalu. Sisa uang di saku saya sekarang untuk bertahan hidup di kota karang adalah 70 ribu. Cuma 70 ribu. Saya harus bagaimana. Mencuri? Hehehe. Tak mungkin lah. Merampok? Lebih tak masuk akal lagi. Mengemis? Hehe. Tak ada cara lain lagi kah? BERUSAHA KERAS dan cerdas. Itu solusinya. Mengapa yang lain bisa dan saya tidak bisa. SAYA BISA. “Bagi-Nya tak ada yang mustahil, bahkan dengan iman sebesar biji padi saya bisa memindahkan gunung.” Eh yang benar saja. Artinya dalam situasi seperti ini, saya membutuhkan iman. Iman dan keyakinan sebesar biji sesawi. Motovasi yang lembut dan didukung usaha yang cukup akan menjadikan hidup lebih bermakna. Terimakasih para pembaca setia “catatan fian roger” dan para surfer yang sempat mengunjungi blog “ANAK NERA. WordPress.com.”

Posted on 15 Oktober 2011, in ARTIKEL, FilSafat, OPINI and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: