Ruteng Pu’u: Kelesuan dalam pengelolaan

Tidak jauh, dari pusat Kota Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, NTT, ada sebuah kampung, yakni Kampung Ruteng. Kampung ini berada di wilayah Kelurahan Golodukal, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. Kampung Ruteng, atau yang dalam bahasa lokal disebut dengan Ruteng Pu’u atau Compang Ruteng, memiliki catatan sejarah sendiri bagi Ruteng yang sekarang kita kenal ini. Sesuai catatan sejarah yang diperoleh Pos-Kupang.Com dari beberapa tokoh adat yang berada dalam lingkaran Ruteng Pu’u, disebut Ruteng Pu’u karena dari sanalah, Kota Ruteng, yang kini menjadi ibukota Kabupaten Manggarai berasal. Karena itu, hingga kini, kampung ini, tetap dijadikan sebagai titik awal perjuangan hal-hal besar dalam pembangunan Kabupaten Manggarai. Sayangnya, tempat bersejarah, yang dulunya memiliki nilai sakral yang harus dipatuhi oleh setiap orang yang berkunjung ke sana, yakni harus masuk melalui jalan masuk yang dianjurkan. Setelah itu, mereka kemudian terlebih dahulu mengganti pakaian yang dikenakannya, dengan menggunakan pakaian adat Manggarai yang disediakan pada sebuah rumah khusus dalam lingkaran rumah adat pada kompleks tersebut. Baru setelah itu mereka dapat memasuki jejeran rumah adat yang ada, dan boleh mendapatkan informasi seputar kegunaan barang-barang adat yang ada dalam setiap rumah adat, beserta kegunaannya masing-masing. Namun kini hanya menjadi bagian dari catatan sejarah masa lampau, dan hanya dikunjungi oleh para pimpinan wilayah Kabupaten Manggarai (bupati dan wakil bupati), pada momen-momen tertentu. Pada saat hendak melakukan sebuah kegiatan besar, atau kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan adat istiadat orang Manggarai. Sayangnya, semua penghormatan kepada tempat yang sarat dengan nilai-nilai sejarah ini, kini hanya melekat di hati para tokoh-tokoh adat disekitarnya. Pihak pemerintah sepertinya sudah tidak memiliki perhatian untuk melestarikan tempat yang menjadi asal mula adanya Kota Ruteng ini. “Kami hanya berharap, pemerintah melalui dinas pariwisata bisa memberikan sedikit perhatian, khususnya rumah ganti yang sudah roboh, sehingga pakaian adat yang ada bisa digunakan lagi oleh setiap tamu yang datang kesini. Sekaligus bisa juga dibangun sarana petunjuk ke tempat ini, guna menjadi daerah tujuan wisatawan asing maupun domestik. Karena dengan demikian, juga bisa diambil retribusi, karena ini merupakan nilai budaya yang tidak gampang untuk diperoleh. Namun karena tidak ada, hampir setiap minggu ada orang barat yang datang dan hanya sekedar mereka foto-foto sendiri dan pulang, tanpa bisa menceritakan sesuatu apapun dari tempat ini kepada orang lain,” urai Ampa yang dibenarkan oleh Tua Gendang Ruteng, Lambertus Dapur. (www.pos-kupang.com)

Posted on 14 Oktober 2011, in BuDaya LoKal, cATATan PerJALAnan, Masalah sosial and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: