Musik Bukan Bahasa Universal

Dony Riwayanto*
Ungkapan “musik adalah bahasa universal” telah lama menjadi jargon usang yang hanya cenderung menjadi pemanis dalam artikel-artikel musik. Sementara pihak yang kontra dengan ungkapan tersebut menyatakan mosi tidak percaya.

Ungkapan tersebut sering disalah artikan bahwa keuniversalannya adalah karena semua orang bisa menikmatinya, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sementara bagi yang kontra menyatakan jika musik merupakan bahasa universal, maka tentu PBB telah menggunakan musik sebagai sarana komunikasinya.

Musik bukanlah bahasa konvensional seperti bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Cina, dan lain-lain. Namun sebagai sebuah sistem yang mampu mewakili suasana, perasaan, bahkan gagasan, musik mampu melampaui bahasa konvensional dalam menyampaikan apa yang dikandungnya secara universal. Meski demikian, musik tidak mampu menyampaikan pesan secara lebih spesifik.

Sebagai ”bahasa universal”, musik dengan mudah menyampaikan perasaan-perasaan yang bersifat global seperti: sedih, gembira, semangat, haru, dan lain lain, kepada seluruh manusia. Namun cukup sulit untuk menyampaikan pesan sederhana dan spesifik semacam ”Ibu mau pergi ke pasar” atau ”Kambingku gemuk-gemuk”. Sebaliknya pesan spesifik semacam itu dengan mudah disampaikan oleh bahasa konvensional namun dalam masyarakat linguistik terbatas.

Dalam bahasa musik, baik masyarakat barat maupun timur akan setuju bahwa lagu gugur bunga bukanlah lagu gembira, sementara lagu Seek and Destroynya Metalica bukanlah lagu sendu. Karena musik telah menyampaikan kepada siapapun kandungan rasanya secara universal.

Teknisnya adalah seluruh manusia akan setuju bahwa akor mayor dapat dikatakan bersifat lebih ”cerah” dibandingkan akor minor. Begitu pula tidak terbantahkan di seluruh penjuru dunia jika interval ters merupakan interval konsonant sementara interval seconde merupakan interval dissonant. Di situlah letak dasar keuniversalan bahasa musik.

Musik dan Lirik.
Sebagai bahasa, musikpun memiliki dua elemen simbol. Baik simbol lisan berupa nada dan ritme, serta simbol tulisan (teks) berupa notasi, tablatur, grafik dan lain-lain. Namun kedudukan antara simbol lisan dan teks dalam musik tidak cukup setara seperti dalam bahasa konvensional pada umumnya.

Di dalam bahasa konvensional, baik lisan maupun tulis relativ mampu menyampaikan secara cukup gamblang pesan apa yang diembannya. Sementara dalam musik, bahasa teks yang ada tidak cukup universal seperti bahasa lisannya.

Sebuah simbol akor C Mayor, atau A minor, tidak cukup universal dalam menggambarkan bagaimana suasana yang dibawanya. Sementara jika teks tersebut dilisankan, maka kandungan rasanya akan langsung terasa secara universal.

Ketika kebiasaan dalam musik populer berupa menambahkan syair (bahasa konvensional, atau sering disebut dengan lirik) ke dalam melodi lagu, tibalah saatnya lirik membatu melodi, harmoni, dan ritme untuk menyampaikan pesan yang lebih spesifik. Namun disaat yang sama sekaligus membatasi keuniversalannya.

Lagu Nasional Indonesia Raya dengan gamblang menyampaikan sebuah perasaan bersemangat pada seluruh manusia di dunia, terlepas dari silang sengkarut tentang dua atau tiga koplet lirik yang otentik. Namun pesan spesifik tentang kemerdekaan dan cinta tanah air bangsa Indonesia tidak akan sampai pada siapapun tanpa lirik yang menyertainya.

Keterbatasan Bahasa
Adalah suatu keniscayaan jika setiap bahasa memiliki keterbatasan. Karena bahasa hanya sekedar bayang-bayang dari setiap gagasan yang ada dalam pikiran manusia. Seluruh bahasa yang ada tidak mampu mengambarkan sesuatu seperti dia berada dalam dirinya sendiri.

Sebuah konsep sederhana semacam suasana duka, an-sich, tidak cukup digambarkan dengan kata duka itu sendiri. Terlebih lagi bagi orang yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Susunan abjad D-U-K-A, Sama sekali tidak memiliki makna apapun yang berkait dengan suasana duka itu sendiri. Sementara konsep global semacam ”duka” akan lebih universal ketika diungkapkan dalam bentuk musik.

Dalam bahasa konvensional manapunpun, untuk konsep yang lebih rumit, penjabaran makna ”Tuhan” misalnya. Tidak akan pernah mampu menggambarkan ”Tuhan” seperti Dia berada dalam dirinya sendiri. Apalagi dengan bahasa seglobal musik. Tentu tidak mudah.

Bahasa universal dapat ditangkap dengan mudah oleh siapapun. Namun selalu memiliki kekurangan berupa keterbatasan materi untuk menyatakan sesuatu yang spesifik. Ekspresi wajah misalnya, ekspresi marah atau sedih dari wajah seseorang secara universal dapat dibaca oleh seluruh manusia di dunia. Namun ekspresi tidak cukup mampu untuk mendefinisikan kata ”kebudayaan” misalnya.

Begitu pula dengan bahasa musik yang bersifat universal namun terbatas pada perasaan-perasaan global. Wajar jika musik tidak mampu menyampaikan gagasan, atau gambaran yang lebih spesifik. Tentu jika ada musisi yang mampu menyampaikan gagasan spesifik dengan bahasa musik (tanpa lirik) harus diakui bahwa dia adalah musisi yang sangat tangguh.

Namun musik akan lebih terasa sangat universal ketika kita membandingkan dengan bahasa yang digunakan Tuhan dalam mengatur semesta. Karena bahasa yang digunakanNya sama dengan yang digunakanNya pula dalam mengatur musik. Tidak lain adalah melodi, harmoni, dan ritme.

Pendidik, penulis,
dan pemerhati masalah musik.

Posted on 14 Oktober 2011, in ARTIKEL, OPINI and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: