Teroris memanfaatkan kelemahan pemerintah Indonesia

Selamatkan negara dari Terorisme
Selamatkan negara dari Terorisme!!!!!

Minggu 25 September 2011, publik dikejutkan kembali oleh sebuah ledakan bom di Gereja Bethel Indonesia Solo (GBIS), yang konon adalah bom bunuh diri. Pria yang diidentifikasi sebagai pelaku bom bunuh diri tewas di lokasi kejadian, sementara puluhan anggota jemaat mengalami luka berat dan ringan. GP Ansor, PGI, dan KWI kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa tindakan bom bunuh diri ini merupakan penyerangan terhadap symbol keberagaman. Bom Solo ini disinyalir masih kuat terkait dengan Bom Cirebon beberapa waktu silam.(Informasi disarikan dari running news MetroTV pukul 19.25 WIB)

Beberapa analisa muncul ke permukaan menanggapi kasus ini. Pertama, posisi pemerintah sebagai pelindung segenap bangsa Indonesia sangat lemah. Itu dibuktikan bahwa begitu mudahnya terorisme bersarang di negeri majemuk ini.  Sudah dari awal tahun, Negara ini disibukan dengan aneka terror, sampai pada pengusutan kasus Baasyir yang sampai sekarang masih dalam pertanyaan besar. Akankah pemerintah bisa mengusut tuntas dan mengatasi terorisme? Kalau posisi pemerintah melemah maka dengan mudah teroris melakukan aksi. Penguatan pranata dan posisi politis pemerintah menjadi hal fundamental sembari melawan aneka radikalisasi. Deradikalisasi harus menjadi salah satu program politik pemerintah.

Kedua, sekali lagi intelejen Indonesia lemah dan kecolongan. Kita konon memiliki intelejen yang kuat, tetapi mengapa selalu kecolongan. Kita memiliki BIN, intelejen TNI, Polri dan ada lagi yang disebut sebagai Densus  98. Tetapi mengapa selalu ada celah untuk teroris? Rupanya kita harus rendah hati mengatakan bahwa antisipasi intelejen masih lemah. Lingkup kerja intelejen yakni antisipasi, investigasi, interogasi dan penindakan/penangkapan masih belum maksimal. Lemahnya antisipasi intelejen, mungkin masih berkait degan RUU Intelejen yang belum rampung pembahasannya. Ataukah lantaran anggaran untuk operasi intelejen belum besar. Padahal posisi intelejen, dalam skema geo-politik dan keamanan nasional sangat penting.

Ketiga, bisa jadi dalam konteks kelicikan politik dan kebusukan aksi politis, telah terjadi pembiaran terhadap teroris untuk menghancurkan keragaman hidup. Bisa jadi aksi terorisme menjadi jalan untuk melancarkan aksi politik busuk atau untuk mengalihkan perhatian publik pada kebusukan politik akibat korupsi. Mungkin juga asumsi politik pembiaran ini menjadi   sarana untuk semakin mengedepankan isu Negara agama atau agama Negara di Republic ini, sehingga minoritas yang berada pada posisi yang lemah selalu menjadi objek atau tumbal politis. Bisa jadi terorisme dan aksi teroris terjadi dalam semua rencana politis untuk mengancurkan keragaman dan ko-eksistensi damai di Negara ini.

Keempat, konflik merupakan sebuah proyek politik yang sengaja menciptakan kaos untuk tujuan tertentu. Dalam komentar Editorial Media Indonesia dikatakan bahwa bom bunuh diri biasanya terjadi di Negara konflik, sebagai perang melawan kekuasaan, misalnya di Palestina, Irak, Afganistan. Sementara, Indonesia bukan Negara konflik seperti itu. Jadi siapa sebenarnya kawan, siapa sebenarnya lawan? Ataukah sudah kaburkah batasan antara kawan dan lawan? Konflik bisa jadi menjadi medan proyek untuk memperoleh keuntungan politis, atau keuntungan financial, sebab di mana ada proyek di sana ada keuntungan. Politik busuk bisa menjadikan konflik sarana mengeruk keuntungan besar, ada jenderal yang naik pangkat atau ada pejabat yang semakin tenar gara-gara tampil di publik sebagai penyelesai kasus, padahal bukan dia yang sebenarnya yang bekerja keras. Public harus kritis terhadap aneka konflik baik itu horizontal maupun vertical, sebab konflik menjadi medan proyek. Coba kita tengok baik-baik kasus Poso, Ambon dan Papua. Meski ini hanya sebuah asumsi, namun jika realitas akan bicara jujur maka hal ini memang sudah lazim.

Apapun asumsi-asumsi atau aneka opini yang mencuat sehubungan dengan kasus terorisme, fakta mewahyukan bahwa radikalisme agama semakin meresahkan. Pemerintah harus menjedi garda terdepan untuk memutus mata rantai radikalisme ini. Namun, jika pemerintah seolah-oleh “impoten” di hadapan radikalisme ini, maka Negara sebetulnya kehilangan kewibawaan dan supremasi politik. Memang, masalah hubungan antara agama dan Negara menjadi kabur manakala politik agama semakin menguat, yakni adanya upaya gencar untuk menjadikan Negara ini Negara agama. Padahal, Indonsia akan semakin terbelakang kalau menjadi Negara agama.

Teroris mungkin lebih pintar. Pintar dalam menggunakan kesempatan. Saat negara kocar-kacir karena poltikus busuk, atau saat negara lemah, maka mereka beraksi. Maka sekalilagi negara harus kuat. Kuat secara politis, ekonomi dan keamananan serta pendidikan. Bila perlu dalam pranata pendidikan perlu dimasukan pelajaran anti-terorisme, atau sebuah format kurikulum deradikalisasi. Bila perlu juga kurikulum yang menanamkan ajaran sesat seperti terorisme dalam institusi-institusi pendidikan agama harus dibongkar dengan mengedepankan kurikulum nasional yang mengedepankan kemajemukan dan kemajuan manusia Indonesia. Namun, bisa jadi nanti negara dalam hal ini akan menjadi arogan, maka cukuplah kalau institusi intelejen semakin diperkuat dalam menangkal ancaman terorisme sedini mungkin. Oleh karenanya, pembahasan RUU intelejen, di samping mengedepankan diskusi kritis, urgen untuk diundang-undangkan.

Entah gereja dimana lagi yang akan menjadi sasaran berikutnya? Entah kedutaan negara mana lagi objek berikutnya? Intelejen harus sigap. Itu tugas mereka. Negara harus lebih kuat menjamin keselamatan seluruh warganya sebagaimana yang diamanatkan pembukaan UUD 1945. Namun, kalau negara juga menjadi teroris, lantas kita berlindung kemana lagi? Negara tak akan kalah oleh teroris sejauh tak membiarkan dirinya kalah. Ia kalah kalau mengalah dari terorisme. (*)

Posted on 26 September 2011, in ARTIKEL, cATATan PerJALAnan, FilSafat, Masalah sosial, OPINI, Ulasan Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: