Di seberang KEmatian

Aku mengikuti kemana imaji dan ilusi membawa dan hendak menghamparkan aku. Aku sedang mencari ketidakpastian diriku yang selama ini dianggap sudah pasti. Aku ingin memastikan diriku dalam ketidakpastian. “Kemanakah imaji dan ilusi ini membawaku?” aku bertanya pada diriku. Pikiran dan jiwaku yang telah berpadu begitu mesra, pasrah pada sebuah keterarahan yang bisu. “Kemana?” “Kita kemana?” aku bertanya pada jiwa dan pikiranku sendiri. Sungguh pertanyaan soliloquis. “Omong sendiri”. Bicara sendiri tanpa partner. Sendiri seorang diri. Seperti orang yang berpuisi tapi tanpa pendengar. Tak ada respon. Saling diam. Jiwa dan pikiran ku saling bisu.Aku tersadar. Tubuhku rebah telungkup di atas pepasir panas. Aku tersadar. Pelan–pelan aku keluar dari perangkap bawah sadar. Aku bangkit. Kemudian berjalan di sepanjang pantai. Aku memakai celana pendek hitam northstar kesukaanku. Dan baju kaus yang kupakai adalah baju hasil ikut nimbrung pada kampanye legislatif dan pilpres yang lalu. Sebuah baju kaus oblong merah bergambar kepala garuda. Orang bilang itu baju gerindra. Aku tidak peduli. Hanya tahu pakai saja. Pakai buat kerja. Buat main bola. Bisa juga buat tidur. Yang penting punya baju, dari pada telanjang. Pepasir putih bercampur batu hitam kecil-kecil kebiruan dihempas ombak yang begitu lincah. Aku terpekur mengamati pepasir. Mereka menampakan diri. Menyingkap makna bagi tangkapan ratioku. Aku membayangkan bahwa aku adalah sebutir pasir keberadaan. Aku, secuil ada yang kecil di dalam kemahaadaan. Ringan. Rapuh. Rentan. Tak berarti ditengah kemahaluasan. Kemahaluasan segala dalam segalanya. Aku berlari seakan mengejar ombak padahal aku sedang bermain dengan bayanganku sendiri yang jatuh di sebelah kiri. Dari jauh aku melihat sosok manusia yang bermenung dibawah pohon pandan nan teduh. Ia memandang laut. Pandangan yang dalam. Ia berambut panjang, tapi berkelamin laki-laki. Berjenggot. Tenang dan sangat menikmati hembusan hawa panas kebasahan. Gunung-gunung pepasir memperhatikannya dari jauh.Aku coba dekati orang itu. Lumayan dijadikan teman bicara. “Déjà vu. Aku seperti telah kenal orang ini. Tapi dimana? Kapan? Orang ini sudah kukenal. Entahlah. Yang pasti aku pernah lihat tapi tidak tahu siapa namanya. Aku merasa sudah kenal bahkan sudah sangat dekat.” “Duduk kawan,” ungkapnya dengan ramah. “Ah…orang ini asik juga,”kataku dalam hati. Perlahan-lahan mataku merayapi sekujur tubuh sosok anonim itu. Terutama wajahnya. “Kok dia seperti mukaku sendiri sih? Mukanya bulat. Serius tapi segar lagi mendalam.” “ Aku Filos,” kataku memperkenalkan diri. “Aku tahu kawan, sebab aku dulu sangat dekat dengan kamu,” jawab orang itu. Kulihat lebih dalam dan teliti, mukanya sudah lain. Dia berubah. Wajahnya berupa lain. Seperti perpindahan bentuk. Ya, semacam metamorfosa. Lain dari yang tadi. Aneh sekali. Aku lalu melempar horizonku kearah laut biru yang membentang. Laut yang hadir dalam pengamatanku. Disana semua unsur mengamuk dan berpadu. Bergerak dalam harmoni dan kekacauan. Tapi tetaplah itu indah. Indah juga ada dalam situasi amuk. “Indah sekali, ”katanya penuh decak kagum sambil memandang laut. “Lautan ini adalah gambaran hidup. Lautan tidak hanya mengandung air yang asin rasanya. Didalamnya juga terdapat kehidupan yang begitu kaya, sehingga dapat membuat manusia kaya. Dalam laut tidak hanya terdapat ikan saja, tapi ribuan jenis kehidupan. Besar dan kecil. Bergerak atau diam. Indah atau menakutkan. Ikanpun terdiri dari ribuan jenis. Begitu pula hidup. Hidup dibentuk banyak hal. Hidup ini tersusun oleh entitas-entitas yang membentuk sebuah lanskap yang menakjubkan. Kenyataan tidaklah tunggal tapi jamak. Jadi, tidak ada manfaatnya besar kepala dan terlalu fanatik. Kita hanyalah sebutir pasir. Ya tak lebih dari itu.” “Sungguh kata-kata yang indah,” ucapku sambil mengamati matanya yang teduh. Kata-katanya sungguh mempermalukan aku, karena aku gagap berpuisi. “Mungkin ia seorang guru sufi yang sedang merenung kehidupan”, dugaku. “Jangan bingung kawan, aku bukanlah orang yang seperti kamu pikirkan. Aku hanya seorang pengembara seperti kamu. Kita berdua sama. Kita sama-sama berada dalam perangkap ketidakpastian. Kita ingin memastikannya bahwa semua ini tidak pasti. Tapi yang ada kita menemukan semuanya seolah-olah pasti. Aku ingin kamu menyimpan gulungan lontar ini. Mungkin bagimu dapat sedikit mengungkap tabir rahasia keterlemparanmu disini. Sebab hidup ini adalah sebuah keterlemparan, bukan ? ” Katanya.Sesudah itu, Ia memberiku segulung anyaman lontar yang diiris tipis-tipis nan rapih. Didalamnya terdapat tulisan-tulisan tangan yang indah. Ia pergi. Tak kuasa aku melarangnya. Tanpa menoleh lagi ia menyusur sepanjang pantai. Tidak tahu ia hendak kemana. Namun yang pasti aku telah menemukan sedikit makna dari kebersamaan ini. Aku kehilangan, namun disisi lain aku menemukan arti. Kehilangan yang menemukan.Selepas ia pergi aku membaca tulisan dalam anyaman lontar itu helai demi helai. Isinya sungguh mengagetkanku. “…Selamat datang kawan dalam kemelut ketidakpastian jagat pepasir. Selama ini kamu sibuk merenungi dirimu, mengenai siapa kamu; darimana kamu, mengapa kamu lahir, mengapa kamu menderita, mengapa bertumbuh, mengapa sakit, dan mengapa kita harus mati. Kamu lalu bertanya tentang kematian. Bagaimana kehidupan sesudah kematian? Kamu telah menemukannya. Déjà vu. Sekarang kembalilah ketempat dimana kamu memulai pengembaraan ini. Disana kamu akan mulai paham satu demi satu. Salam. AKU. ”Bergelayut dalam tanya dan tanpa permisi lagi pada gunung-gunung pasir dipinggir pantai aku berlari. Terus berlari. Aku ingin menemukan dari mana aku mulai. Begitu kencang kakiku berlari sekencang angin lautan. Tapi kemana? Dimana semuanya dimulai? Diujung pantai? Diperkampungan? Ya mungkin diperkampungan itu. Aku menuju perkampungan. Dari jauh sudah kulihat asap. Ada asap berarti ada api. Ada api berarti ada manusia, karena manusia pasti membuat api. Namun sebelum aku sampai di pa’ang* aku terperanjat.“Ha…apa…apakah itu aku? Oh… tidak. Tidak. Tidakkkk. Oh tubuhku. Oh tubuhku,” Aku berteriak menangis. Menangis seorang diri. Mana tidak terguncang melihat tubuh sendiri yang memakai celana pendek northstar dan baju kampanye meregang nyawa pada dahan pohon Kom dengan tali nilon. Kaku. Mengenaskan. Tak bernyawa lagi. “Ohhh..tubuhku bangunlah. Aku belum mau mati. Tubuhku mengapa engkau membisu.” Sekarang aku paham bahwa aku sekarang tinggal roh yang menubuh beserta pikiran dan jiwa yang bergentayangan. Aku ingin memecah misteri, namun yang ada hanyalah ketidakpastian. “Tidakkkkkk…”[end] (Ket. *Pa’ang: Bahasa Manggarai yang artinya sama dengan gerbang kampung)Oktober 2009, SHM-Claretian Matani

 

Posted on 23 September 2011, in CERPEN. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: