Tipe-tipe tatapan manusia

Kita dapat membicarakan perbedaan antara tipe-tipe tatapan yang diberikan orang kepada sesama dalam pencarian akan cinta dan intimasi mereka. Setiap orang melihat satu sama lain berdasar pada level kesadarannya. Cara seseorang menatap yang lain menandakan jenis relasi interpersonal yang ia mampu. Pemisahan cinta dan seks yang tak menguntungkan yang telah merangkak menuju budaya modern mengungkapkan pandangan yang reduktif mengenai pribadi dan manusia dan mengejawantahkan dirinya sendiri dalam cara manusia menatap sesamanya. Pada level yang lebih rendah kematangan pribadi yang lain secara mudah dilihat sebagai objek dan kumpulan bagian-bagian tubuh. Pada level yang lebih tinggi orang lain dinilai sebagai pribadi dan integritas dirinya dihargai. Tubuh dilihat sebagai ekspresi diri yang lain terlepas dari perubahan temporal padanya.
1. Tatapan erotis: ini cara melihat yang reduktif yang melihat hanya “bagian-bagian yang menarik” dari orang lain dan menggunakannya sebagai objek kenikmatan dalam hayalan. Orang lain dinilai untuk “glamour” dan “penampilan seks.”
2. Tatapan Superfisial: seseorang henya menatap orang lain berdasarkan warna, ras, budaya atau umur. Sesuai dengan itu orang lain dinilai, dihakimi, ditolak atau dilihat tanpa memerhatikan kebaikan intrinsic pribadinya.
3. Tatapan Konsumeris: seperti etalase di tempat belanja, orang lain dilihat karena memiliki “barang-barang” yang memuaskan rasa ingin tahu orang dewasa. Atau untuk mengisi kekosongan batin seseorang. Bagian-bagian tubuh ditaksir dan dibandingkan untuk dihubungkan dengan nilai seseorang.
4. Tatapan narsis: seseorang hanya melihat citra dirinya yang dipantulkan pada orang lain, meski akan ada dalih ihwal cinta dan perhatian. Tidak ada ruang untuk keunikan dan keterpisahan dengan orang lain. Si “Aku” menjadi awal mula, pertengahan dan akhir dari sebuah relasi.
5. Tatapan selingkuh: ini adalah sebuah tatapan yang secara rahasia berlabuh pada hubungan yang dilarang dan keliru dengan hati seseorang. Ada kecenderungan taat dalam komitmen karena hasrat yang terungkap secara rahasia ini hanya terjadi dalam hati.
6. Tatapan porno: tatapan ini mencari gambaran untuk memuaskan kebutuhan dalam relasi. Pribadi yang hidup digantikan dengan gambaran dan objek yang dapat dimanipulasi semaunya tanpa takut akan penolakan.
7. Tatapan personal: tatapan yang menerobos tampilan lahiriah pribadi untuk melihat misteri pribadi dalam cahaya kekaguman dan syukur. Fokus lebih pada mata atau wajah daripada pada bagian-bagian tubuh yang memuaskan rasa ingin tahu.
8. Tatapan kontemplatif: Orang lain dilihat secara utuh sebagaimana dia dalam konteks panggilan dan misinya, kekuatan-kekuatannya dan keterbatasan-keterbatasannya dan dalam relasi dengan misteri manusia yang lebih luas. Rasa ketersambungan dan persekutuan dengan pribadi dalam jejaring relasi yang lebih luas membawa kegembiraan dan cinta terlepas dari tanggapan orang lain.

Tatapan Yesus: tatapan Yesus mewujudkan cinta belas kasih Bapa pada manusia. Ini adalah tatapan ilahi yang mempertemukan, menguatkan, menyembuhkan dan menciptakan kembali manusia yang hancur dan berdosa. Tatapan Yesus mewahyukan kepada orang lain keindahanya sebagai anak Allah dan mengundangnya untuk memulai sebuah ziarah menuju kepenuhan dan kekudusan melalui kemuridan. Ketika hati kita didiami oleh Roh Kudus, kita juga mulai menatap pada sesame yang lain dengan cinta welas asih Allah.

Posted on 24 Agustus 2011, in ARTIKEL, OPINI and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: