LAKI-LAKI PERAWAN

tubuh perawan si laki-laki: perpaduan animus dan anima

Pria berjubah putih itu sudah lama berdiam dalam “sangkar putih” berjendela mozaik-mozaik ala abad pertengahan pada sebuah kapela berarsitektur Belanda. Kisi-kisi kecil dikepung oleh caya matahari memerah di ufuk barat memenjara keredupan dalam ruang Confessa. Pria itu ringkih. Umurnya sudah 71 tahun. Tapi masih bertugas sebagai pastor kapelan. Ia tertatih-tatih keluar dari ruang kecil itu. Akupun segera menyambanginya.
“Romo…, selamat sore,” sapaku.
“Ibet.., selamat sore. Ah…baru kali ini kamu ke sini lagi. Apa yang kamu bawa itu?” Ia menunjuk sesuatu di tanganku.
“Ini buat Romo,” aku menyerahkan barang itu kepadanya.
“Apa ini buku cerpenmu?”
“Bukan Romo, ini novel perdanaku. Peluncurannya minggu depan di Aula Misio. Aku harap Romo datang.”
“Hehehe, bagus..Bet. saya pasti ikut.” Dari wajah pria tua itu terbersit kebanggaan lantaran ada mantan anak didik yang menekuni dunia sastra meski penghasilan sebagai penulis tak menjanjikan. Tapi pastor itu keliru. Ibet tak datang hanya untuk promo novel tapi aku juga datang membawa sebuah cerita lain.
****
Mario Anak Nera. Laki-laki berwajah putih, bermata bening. Anak dari seorang laki-laki sukses dari Tanah Congkasae. Ayahnya memiliki banyak sawah di Bea Nio, kebun jeruk yang luas di Langke Majok dan lahan kopi yang subur di Lingko Elar. Jangan heran bila mereka memiliki lusinan truk pengangkut manusia yang oleh orang sebut Oto Kol. Angkutan umum yang melayani jalur kota Ruteng menuju kampung-kampung jauh, pun pula sebaliknya.
Ia besar di Kota Dingin itu. Kota yang mungil namun layak huni karena asupan oksigen segar melimpah hutan dari gunung-gunung di sebelah selatan. Golo Lusang dan aroma dingin dari Wae Ces begitu merangsek masuk ke dalam celah-celah kota menjadikan tempat ini nyaman sebagai tempat studi.
Alkisah ada Pastor seorang selalu berjalan kaki dari biaranya mengunjungi pemukiman-pemukiman untuk menjual hasil kebun di biaranya seperti tomat, wortel dan lombok. Awal mula orang mengira dia penjual lombok enceran, namun belakangan mereka tahu bahwa ia adalah biarawan Ordo Pengemis. Ayah Rio begitu kagum dengan pastor itu sampai-sampai ketika anak bungsu laki-lakinya lahir ia menamakannya Mario Anak Nera. Nama Mario diambil dari nama pastor itu. Rio kecil belajar di SD St. Nikolaus. Ia sangat pandai dalam bidang Matematika dan Sastra sehingga jangan heran ketika ada seleksi masuk seminari menengah dialah yang mendapat nilai paling tinggi.
Sewaktu mendengar Rio lulus seminari begitu girang hati sang ayah seperti saat Elisabeth dikunjungi Maria. Jangan heran kalau ia memberi fasilitas apapun yang diminta Rio ketika ia sudah mulai belajar di Lembah Hijau, tempat seminari menengah itu berdiri. Buku-buku, makanan, pakaian yang bagus, uang, alat musik dan macam-macam diberikan kepadanya. Ayahnya begitu berhasrat bahwa anaknya bisa memakai jubah putih.
Rio sangat ingin menjadi seperti Pater Mario; menjadi imam yang baik, kudus dan dicintai umat. Di seminari, ia begitu rajin belajar sehingga jangan kaget bila nilai-nilainya mendekati sempurna semua. Kehidupan rohaninya subur bak tanah di Lembah Hijau yang hitam nan subur. Ia sangat dihargai teman-teman karena kesopanan dan kedisiplinan yang dimiliki. Karena begitu menjadi panutan ia beberapa kali menjabat sebagai ketua kelas. Makin lama ia bertumbuh menjadi laki-laki; jakunnya sudah menyeruak keluar, kumis tipis klimis tumbuh pelan-pelan, suara jadi rendah, dan semakin cerah wajahnya.
Suatu malam ia diserang kompleks rasa bersalah. Ia menemukan bagian segitiga celananya basah semua. Entah siapa yang nakal menuang air di selangkangan. Ia seperti kehujanan. Ia membangunkan seorang teman. Ia marah-marah tak karuan. Ada apa Mario??? Siapa yang menuang air di celanaku??? Hehehehe. Dia tidak tahu bahwa ia mimpi basah untuk pertama kali. Laki-laki yang masih SMP itu menyadari bahwa ia mengalami masa pubertas. Dalam keluguan, ia bertanya kepada romo pembina, apakah berdosa seorang laki-laki mengalami mimpi basah? Tentu tidak, jawab si pembina. Kecuali kalau disengaja.
Langkah demi langkah dilalui. Rio yakin bahwa ia harus menjadi pastor. Namun ia juga laki-laki normal ia perlu berhubungan dengan perempuan. Banyak teman-teman yang memiliki teman koresponden di Ruteng atau pulau lain untuk sekedar mengisi waktu dan menuang imajinasi. Namun Rio sebaliknya, ia malah tenggelam dalam pelajaran Matematika, Bahasa Latin, Sastra Indonesia dan Bahasa Inggris. Jangan heran ia begitu maju dan berkembang. Di lapangan bola ia semakin cantik saja memainkan si kulit bundar. Seperti tak terasa ia sudah akan harus memilih karena sudah berada di kelas 6 seminari, “apakah terus ke seminari tinggi praja ataukah menjadi biarawan seperti pater Mario?”
Malam itu. Di sebuah ruang kosong menganga di bawah Katakombe. Ada pertanyaan! Akankah ia hidup tanpa menyentuh perempuan sekujur hayat? Tidak. Ia pernah menyentuh perempuan. Bahkan pernah ber-satu-tubuh dengan perempuan. Ia tinggal kurang lebih 9 bulan dalam rahim yang hangat, menete dari sepasang buah dada yang indah, diapit oleh paha-paha yang lembut, dicium oleh belahan bibir yang basah, bahkan waktu kecil ia dimandikan perempuan. Tubuh dilumuri sabun oleh perempuan. Tak ada yang melihat, mereka telanjang di kamar mandi. Ia melihat perempuan itu dalam kepolosan begitupun sebaliknya. Perempuan itu adalah ibunya sendiri.
Ada bagian jiwa yang terlempar saat ia lahir. Entah kemana. Ruang itu adalah hasrat kepada sesuatu yang lain di luar dirinya. Apakah itu perempuan? Haruskah terus menjadi laki-laki perawan? Banyak kisah indah tentang laki-laki yang bersetubuh dengan perempuan seperti pada novel-novel murah yang dipinjamkan teman. Apakah permainan kelamin tidak membuatnya tertarik?
Dan jawaban Rio bulat. Ia mau menjadi laki-laki perawan untuk sekujur hayat. Dari segi fisik ia bukan laki-laki rendah gairah atau tanpa gairah; ia sehat, segar bugar, tingginya 175 cm, tampan, pintar, jago bermain piano dan bola, sopan dan tenang, disukai banyak teman. Sebetulnya ia punya potensi kalau keluar dari seminari. Tidak. Ia harus jadi biarawan, katanya. Tapi ia juga sadar ia tak harus menjadi seperti Pater Mario seperti cita-cita dulu. Menjadi diri sendiri sudah cukup dalam mengikuti Sang Guru sampai titik terakhir. Entah mengapa, pada malam selepas berdoa di Katakombe, ia memutuskan untuk menjadi rahib. Dan langkahnya pasti, setelah menerima ijasah seminari ia pergi ke Pulau Ujung.
****
5 Januari. Tim Warta Nusa sudah siap melakukan kegiatan jurnalistik pada pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Besar. Aku ikut sebagai fotografer. Entah mengapa aku lebih tertarik ke Pulau Ujung. Sebenarnya bukan pulau itu yang membuat aku tertarik, tapi aku ingin melihat seorang kawan lama, teman di seminari dulu, Rio. Dia sudah 13 tahun di sana. Apa yang terjadi dengan laki-laki itu?
Kami meluncur ke Kampung Nelayan. Di sana kami di sambut hujan lebat yang tak berhenti siang dan malam. Para nelayan di situ bilang bahwa berbahaya berlayar ke sana pada bulan-bulan seperti ini. Gelombang laut sangat tinggi.
Tapi, kami nekat menyeberang. Untung saja, kami sampai dengan selamat. Di sebuah gerbang biara kami disambut ramah oleh seorang rahib yang mengenakan jubah hitam menyerupai rompi dengan dalaman jubah putih sampai di mata kaki.
Si rahib mengajak kami berkeliling untuk melihat lingkungan biara yang asri. Di sana ada taman bunga yang begitu rapih, kolam ikan, lorong-lorong kamar yang sepi, kandang kelinci, kandang sapi, ayam, kambing. Biara itu bak tempat eksperimen bidang peternakan saja. Di bagian utara ada kapela yang begitu sederhana tempat mereka berdoa brevir, melakukan adorasi dan mengadakan Ekaristi.
Aku tergerak untuk berjalan keliling sendiri untuk memotret sudut-sudut biara itu. Seluruh sudut kususur. Tak satupun terlewati. (….)
Aku terpaku pada satu titik dinding. Aroma lilin dan bunga begitu kuat. Wewangian mencengkram hidung. Sebuah foto menyandera mata. Wajah kukenal. Wajah yang sering kuajak bermain kelereng. Segar. Pandangan mata mendalam. Aku terpaku. Diam. Mulutku tersumbat. Dadaku terbelah. “Mario Anak Nera…1987-2010.”
“Rio…ya benar ini Rio….” tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dari belakang. Sontak saja aku terhunyung jatuh dengan tubuh terkulai. Jiwaku seperti terbelah. (….)
“Pak Ibet bangun…kenapa Anda tidur di sini,” seorang pria berjubah membangunkanku.
“Rii..Rio…aku melihat Rio.”
“Anda pasti dulu sangat mengenalnya makanya dia menyapa anda.”
“Apa Tuan… Abbas di sini?” “Bukan.”
Wajah rahib itu berubah seperti awan mendung. Ada cerita tergurat dalam pori-pori kulit wajah legam.
“Rio adalah rahib yang sangat maju dalam kerohanian. Ia sudah berkaul agung dan menjadi penata taman yang hebat di biara. Dia suka melakukan askese yang keras seperti mencambuki diri dan berpuasa. Pemimpin memperingatinya sering kali karena askesenya yang terlalu berlebihan itu sudah lama ditinggalkan Tradisi. Tapi ia tetap melakukanya secara diam-diam. Suatu pagi ia seperti biasa bermeditasi di pantai dengan Injil kecil yang selalu ditentengnya. Tapi seharian ia tidak pulang, bahkan sampai keesokan hari ia tidak pulang. Lalu seisi biara mencarinya. ”
“Apa yang terjadi?”
“Ia meninggal….” Biarawan separuh baya itu tiba-tiba menitikkan air mata seperti hujan di musim dingin. Makin lama-makin banyak.
“Apaa…?” Seluruh ruang diam.
Hanya pikiranku yang ribut tak karuan. Kisah macam apa ini? Apa aku harus mempercayai cerita yang begitu singkat ini? Cerita ini layak jadi berita surat kabarku. Tapi…tidak. Dia itu sahabat lama. Ini berita duka. Bukan berita untuk dijual. Sedianya aku menjenguk Rio yang hidup tapi ternyata yang ditunjuk hanya pusara. Tinggal lama-lama di biara itu membuat aku merasakan hawa dupa dan wewangian yang main kuat mencengkram hidung. Duka, dupa dan wangi bunga. Aku harus pulang. Nanti baru aku kembali lagi. [end]
*Cat:nama dan tempat adalah suatu surealisme.

Posted on 16 Maret 2011, in CERPEN and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: