“Muliakanlah Allah Dengan Tubuhmu”

Tubuh[ku] dalam sketsa papan iklan

            Saat ini nilai kemanusiaan manusia sebagai makhluk bertubuh [yang niscaya-otomatis juga berjiwa] telah diredusir pada nilai ekonomis-konsumtif semata. Pelan-pelan entah melalui tayangan [media elektronik] atau juga rubrik [media cetak] atau papan-papan iklan [media pajang] yang ditanam-jejerkan di seputaran jalan raya sebagai penawar di satu pihak; dan pemenuhan hasrat keinginan-kesukaan- [dan semoga kebutuhan] si pembeli di lain pihak; di belakang itu sebenarnya sedang dibentang sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik, tetapi sesungguhnya cukup mendasar; yang saya rumuskan sedikit lebih positif, masih ‘relevan’kah bentuk tubuhku seperti saat ini?

            Sebuah pertanyaan yang menjerat hasrat perawatan yang ekstra ketat dan hati-hati pada setiap jengkalan bagian tubuh kita. Orang lalu mulai mendewa-dewakan kemolekan tubuh. Tubuh dan keindahan tampilannya adalah segala-galanya. Salon-salon kecantikan [dan mungkin juga ketampanan] semakin ramai dikunjungi. Klinik-klinik konsultasi dan produk-produk solusi tanpa efek samping semakin menjamur dibuka. Dan bahkan jam operasinya pun kompromis leluasa-dua puluh empat jam. Semuanya mengerucut pada cita-cita yang sama, ingin memanjakan setiap pengunjung-pengguna agar tampil prima-bugar-ceria dan otomatis percaya diri [juga ja’im-jaga image] berhadapan dengan orang lain.

            Tapi benarkah setiap ikhtiar peremajaan dan pemanjaan perawatan tubuh itu semakin membuat kita menjadi subyek bermartabat dan dihargai? Atau malah sebaliknya ada sebuah gerak pengobyekan diri yang terjadi di luar kesadaran kita? Mungkin benar seperti kata para pemikir, semakin kita merias-memperindah-mempercantik diri, semakin kita menjadi obyek bagi yang lain. Sentilan ini tentunya jauh dari ikhtiar membuka sebuah diskusi besar mengenai tubuh, kebertubuhan dan makna yang melekat di atasnya. Cita-cita sederhananya sebatas memicu lahirnya sebuah gerak metanoia pemaknaan pada tubuh. Bahwa tubuh juga kadang disalahgunakan. Jemaat St. Paulus pun terjerembab dalam soal yang serupa. Orang-orang kota Korintus saat itu terlampau mengagung-agungkan tubuh. Bagi mereka rupanya tubuh hanyalah sebuah alat pemuas. Lebih sadis lagi tubuh saat itu dijadikan ‘bahan korban’ dalam ibadat pemujaan dewa-dewa dalam kuil-kuil kota. Menyandingkan kisah mengenai Korintus dalam benak dan ingatan kita, seakan menyertakan kita dalam misi besar Paulus mengunjungi Korintus dan ikut prihatin pada soal-soal hidup jemaat saat itu.

Nostalgia kota Korintus

            Kota Korintus yang terletak di sebelah selatan Yunani, adalah sebuah kota dengan dua pelabuhan laut yang ramai: Kenkrea di timur dan Lekhaion di barat. Kota ini adalah ibu kota propinsi Akhaya [salah satu propinsi Romawi, bdk. 2Kor 1:1] dan menjadi pusat perdagangan dan industri. Kota Korintus yang lama [bergaya Yunani] dihancurkan oleh tentara Roma, tahun 146 SM. Di atas puing kota ini kemudian didirikan kota baru, Korintus ‘baru’ yang bergaya Romawi, oleh Julius Caecar. Kota ini menjadi kota khusus untuk para veteran tentara Roma dan eks-budak kaisar. Inilah Korintus yang dikunjungi Paulus.

 Korintus memiliki nama yang kurang baik dalam bidang moral seksual. Banyak kata Yunani sehubungan dengan pelacuran, sundal, zinah, selingkuh, dll, biasanya memakai permainan nama kota ini. Kota Korintus biasa disebut “kota cinta” [City of love]. Di sana ada kuil-kuil dewi Aphrodite [Latin: Venus], dewi cinta-birahi. Konon dalam setiap kuil dewi ini disiapkan sejumlah imam-wanita yang bersedia menjadi para ‘pelacur suci’ [konon ada ribuan di seluruh kota Korintus] untuk kepentingan ‘ibadat’ dan ‘liturgi’ memuja dewa cinta tersebut. Sampai sekarang, arkheologi hanya menemukan dua kuil seperti itu. Artinya praktek ‘ibadat’ khusus ini pada zaman Paulus sudah amat berkurang [karena tidak cocok dengan tradisi Romawi!], meskipun mentalitas lama tetap ada [orang Yunani menganggap pelacuran sebagai hal yang biasa, hanya zinah yang dinilai jahat. Hukum Romawi melarang pelacuran, meskipun amat ‘toleran’ dalam prakteknya].[i]

            Korintus indah dengan dua dermaga menjulur kokoh membelah bibir Laut Tengah ternyata menyimpan segudang soal yang menyita perhatian pastoral St. Paulus. Selain lahirnya gerakan partaisme, dimana setiap kelompok memproklamirkan golongannya sebagai yang benar. Seperti dari golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas dan golongan Kristus. Masing-masing mengusung panjinya sambil otomatis menilai rendah setiap kelompok lainnya. St. Paulus juga mengahadapi soal pelik lainnya mengenai moral seksual orang-orang Korintus. Atau dalam rumusan yang lebih positif Paulus berhadapan dengan soal mengenai pemahaman dan pemaknaan mengenai tubuh dan kebertubuhan.

            Posisi geografis yang menguntungkan sebagai tempat  perjumpaan-persinggahan para pelaku bisnis, ternyata tidak hanya menggeliatkan denyut nadi kehidupan ekonomi orang-orang Korintus. Tetapi juga memberi ruang sekaligus peluang  bagi munculnya masalah-masalah moral. Terutama moral seksual. Apalagi dengan sebuah pendasaran argumentasi demi kepentingan ibadat dan liturgi, kasus penyimpangan seksual ini terjadi di mana-mana. Rupanya Paulus tidak tutup mata apalagi sampai membiarkan jemaatnya tercebur lama dalam soal-soal amoral semacam itu. Dalam suratnya kita menangkap kecekatan dan ketangkasan St. Paulus menjawab persoalan yang tengah digeluti jemaat kota Korintus. Gagasan teologisnya pun amat kaya dan dalam. Di atas pendasaran itu pula Paulus membangun argumentasi mengenai tubuh dan pemaknaan atas tubuh.

Tubuh dalam pandangan St. Paulus

            Kalau kita membaca surat-surat St. Paulus, kita akhirnya menemukan kekhasan sekaligus apa yang menjadi titik berangkat refleksi teologis St. Paulus, yaitu rencana Allah. Kata Yunani yang digunakan untuk ini adalah prothesis[ii] [hal yang ditempatkan sebelumnya]. Dalam Perjanjian Baru, kata ini muncul 12 kali, dan Paulus sendiri menggunakannya 6 kali. Kata Pro [Yun.] merupakan kata depan yang bisa berarti ‘yang di depan’, ‘yang mendahului’, ‘yang di atas’. Kata depan ini bisa digunakan untuk merujuk pada kategori waktu [yang sebelumnya, yang mendahului], tapi juga merujuk pada kategori tempat [yang di depan, yang utama]. Dan ternyata Paulus menggunakan kata ini merujuk pada kategori tempat. Paulus mau menekankan betapa pentingnya menempatkan Allah sebagai yang utama dalam hidup kita. Allah sebagai yang  di depan. Allah sebagai yang utama dalam hidup manusia.

            Proyek menempatkan Allah sebagai yang utama, sebagai yang di depan dalam hidup dan pewartaannya menjadi kekhasan teologi Paulus. Dan mengenai itu bisa kita temukan dalam tulisan-tulisannya. Misalnya dalam surat yang dialamatkan kepada jemaat yang sama [Korintus], Paulus menulis seperti ini, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Pelayanan pemberitaan Injil [kabar gembira Allah yang memberikan diri melalui PutraNya] adalah tugas utama yang tidak bisa ditawar-tawar. Dan Paulus menyanggupi sekaligus konsisten dengan prinsip ini.

            Teologi mengenai Allah sebagai yang utama, sebagai yang di depan juga digunakan Paulus ketika ia bicara mengenai tubuh. Kepada jemaat di kota Korintus, ia menulis dengan cukup keras, “Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.” Pada waktu itu ada slogan yang sudah sangat dikenal oleh orang-orang Korintus, “makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan.”[iii] Nampaknya dibayang-bayangi oleh ungkapan ini juga orang-orang Korintus membangun pola hidup yang secara moral menyimpang, tubuh untuk percabulan. Namun Paulus-yang tidak saja sebagai misionaris ulung tetapi juga pemikir yang cekatan-langsung mematahkan slogan itu dengan sebuah ungkapan yang lebih dalam dan menyentuh asas, “Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.” Lagi-lagi gagasan prothesis amat melatarbelakangi ungkapan ini. Bahwasannya tubuh selalu diarahkan untuk Tuhan. Allah dan kepentinganNya selalu dalam urutan pertama.

            Kecuali bicara mengenai tubuh yang diarahkan untuk Tuhan, dalam sebuah pertanyaan retoris, Paulus membangunkan kesadaran orang-orang Korintus mengenai kekudusan tubuh. Tubuh adalah bait Roh Kudus. Nampaknya di sini Paulus bicara mengenai tubuh sebagai bait Roh Kudus dalam diri orang per-orangan, bukan dalam konteks komunitas/jemaat seperti yang dibicarakan dalam 3:16.[iv] Artinya setiap orang harus sampai pada penemuan mengenai dirinya sendiri sebagai tempat tinggal Roh Kudus. Dan setiap peristiwa perjumpaan dengan orang lain [yang mau tidak mau mengandaikan adanya relasi], setiap pribadi juga diharapkan mampu menemukan kehadiran Roh Kudus dalam diri mitra relasinya.

            Tubuh manusia yang terlihat oleh mata adalah pintu utama untuk masuk pada kenyataan Allah yang tidak terlihat. Allah telah memutuskan untuk memungkinkan hakikat diriNya yang tak terlihat itu menjadi terlihat. Ini dilakukannya dengan menciptakan manusia seturut gambar dan rupaNya sendiri.[v] Pada tataran ini manusia akhirnya tiba pada sebuah pengakuan betapa luhur dan bermartabatnya setiap pribadi yang terangkai dalam setiap kisah perjumpaan hidup kita. Pemaknaan mengenai tubuh mesti dibangun di atas gagasan seperti ini.

Mengembalikan keluhuran makna tubuh

            Waktu telah menggelindingkan kita pada sebuah ruang hidup yang sarat kemajuan. Dan ternyata kemajuan pada semua bidang kehidupan itu tidak serta merta menghapus pelbagai persoalan pelik mengenai hidup. Malah menimbulkan soal-soal baru seperti pereduksian makna tubuh manusia untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Ruang sosial tempat kita berelasi yang pada saat yang sama juga amat salut-hormat pada martabat setiap pribadi, telah berubah menjadi ruang pemajangan tubuh; yang bisa saja menjadi mata rantai bagi munculnya kasus-kasus lain. Dangkalnya pengetahuan iman dan moral di satu sisi juga memicu lemahnya penghargaan dan pemaknaan mengenai tubuh.

            Gagasan St. Paulus mengenai tubuh sebagai tanda kehadiran Allah dan mengenai kepentingan Allah sebagai yang utama, [semoga saja] membangun gerak penyadaran baru dalam ikhwal memberi arti pada tubuh. Tubuh dan kebertubuhan selalu berdimensi ilahi. Membimbing orang untuk semakin berjumpa dengan Allah dan menjadi berbagi dalam derajat kemartabatan yang sama dengan orang-orang lain. Setiap kemolekan dan ketampanan adalah bagian dari gambar dan rupa Allah, yang selalu memercikan getaran pesona untuk semakin mengagumi karya Allah di dalam sejarah. Sekali lagi, “muliakalah Allah dengan tubuhmu!” (*)


[i] Irwan, Arda C, Corpus Paulinum, Bahan kuiah surat-surat Paulus, Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta, 2006.

[ii] Ibid.

[iii] Collins, Raymond F, Sacra Pagina-First Corinthians, Minnesota: The Liturgical Press, 1999

[iv] Ibid.

[v] Ramadhani, Deshi, Lihatlah Tubuhku-Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II, Yogyakarta: Kanisius, 2009.

Posted on 16 Maret 2011, in ARTIKEL, OPINI, tEOlOgI and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: