Senja itu berwarna pink

“Selamat…foto Anda menjadi pilihan terbaik untuk klinik fotografi minggu ini…,” demikian isi pemberitahuan Pemred. “Kami akan kirimkan honornya lewat rekening Anda. Selamat sekali lagi….”

Yeaaaa..a……!!! thanks for all readers. (Ada laki-laki melompat tak beraturan lantaran terlalu gembira. Kamar itu serentak menjadi ribut oleh sebuah suara. Suara laki-laki itu sendiri. Padahal dia hanya sendiri. Coba bayangkan!)

Wajahku langsung sumringah tak terduga. Ternyata jepretan-jepretan senja itu bisa diapresiasi sedemikian baik oleh Koran Ibu Kota. Tak sia-sia aku menenteng Canon-ku kemana-mana. Tak percuma aku plesir ke pantai, hutan, perkotaan, keramaian, kesendirian dan kegelapan untuk menemukan sudut yang tepat.

Tema fotoku waktu itu adalah hitam. Kebetulan penyelenggara memperlombakan tema yang sama. Pucuk ditiba ulam pun tiba. Aku kirim saja ke redaksi koran terkemuka Ibu Kota. Ehhh..ternyata dipilih menjadi yang terbaik.

Sebetulnya foto itu sederhana. Namun, agak ganjil sih kalau dilihat terus menerus. Apalagi kalau menelisik kisah dibaliknya.

ƔƔƔƔƔƔ

Lirik lagu On My Prison mengalun pelan dari sepasang wireless mini di kamar kos sempit berukuran 6 x 8 meter. Pukul 10 lewat 25 menit, malam. Tak lelah aku memandangi hasil jepretanku. Terus kulihat kembali file-file berisi beragam foto di komputer jinjing bernama Acer. Eh…ternyata banyak jepretan tak terduga. Tak disengaja. Waktu aku ke Pantai Cina dan sedang mengintip matahari senja alias sunset, saat yang sama tertangkap siluet laki-laki yang jaraknya kira-kira 11 meter di depanku.

Namun ganjil. Ia tak sedang melihat senja, apalagi tenang memperhatikan awan merah redup. Manusia itu memandang tubuh sendiri yang hanya memakai celana dalam alias underwear. Selain itu tak ada. Tak lama sesudahnya ia mengeluarkan benda menyerupai terung kecil. Itu adalah penisnya sendiri. Ia mengeluarkannya seakan-akan tak yakin dengan bagian tubuhnya itu. Emosi sang laki-laki tertangkap kamera. Banyak jepretan terisi dalam frame. Namun hanya satu yang menyembul getaran emosi.

Tunggu…Ia seperti menyesal bercampur ragu. Ia seakan menunjuk pada laut bahwa ia laki-laki. Gambar itu langsung kuabadikan dalam kamera juga dalam benak. Terciptalah sebuah siluet yang kaya emosi dan getaran.

ƔƔƔƔƔƔ

Waktunya mengucapkan terima kasih. Itu niatku. Aku harus mencari orang yang ada dalam foto itu. Maksudku Laki-laki itu. Biar ia juga ketiban rezeki.

“ Suatu senja yang merah. Laki-laki itu memandangi sendiri. Memandanginya di depan laut. ” Demikian narasi foto itu. Sengaja pula aku tempelkan pada dinding FB. Tak lama berselang banyak komentar berhamburan, berjejalan masuk, bahkan saling mengantre. Beberapa mengeritik dan sebagian berkomentar perih. Namun, ada satu yang menggelitik yakni komentar seorang laki-laki.

“Ehh…iseng ambil gambar orang pakai gaya candid tapi dapat duit juga. Kok bisa?” tulis orang itu.

“Gambar ini di Pantai Cina. Bukan karena iseng tapi memang sedang mencari sudut yang tepat untuk menangkap senja. Kebetulan juga saat itu ada orang di situ, ada senja yang begitu indah dan padat. Jadi, sia-sia kalau tidak dijepret. Memang menyalagi etiket tapi aku yakin ini sebuah karya seni….”

“Bro…mungkin orang itu aku. Aku sadar betul rambut, tubuh dan potongan umum orang itu. Itu aku, yang ada pada fotomu. Ya…itu aku.”

“Hups..kok bisa kebetulan kayak gini sih? Hmmmf.”

Ternyata laki-laki yang mengomentarinya adalah orang itu. Si model yang tak dikenal. Buktinya adalah model rambut yang tak dimiliki orang lain selain dirinya. Ternyata ia tak murka karena kujadikan obyek foto. Malah senang. Aneh!

Awalnya aku tak yakin apa ia ada pada daftar teman-teman FB-ku. Ohh…rupanya ada. Vito Reneqi Mortenssen namanya. 21 tahun. Mahasiswa. Suka musik klasik dan baca novel. Tinggal di Jl. Rumbia, Kupang.

“Bro…boleh kita ketemuan di Kafe Blogger? Aku mau berterima kasih karena bro yang jadi model tak terduga, maka fotoku jadi juara.”

“Boleh….jam berapa ka?”….

ƔƔƔƔƔƔ

Tak butuh waktu lama untuk ada jembatan keakraban. Vito dan aku semacam tersambung oleh sebungkus Sampoerna, roti cokelat dan kopi Luwak. Percakapan mengalir bak cairan gletser menuju lembah. Bahkan sampai merobek sekelumit rahasia. Apa itu?

Vito..Vito…Senja itu bukan dari keisengan. Ia serius. Laki-laki muda sedang terpeleset dalam kubangan ketakyakinan diri bahwa ia sungguh laki-laki. Ternyata ia sedang terganggu dengan cerita orang, bahwa perempuan enggan menyukai laki-laki berpenis ukuran standar lantaran tak bisa memuaskan di ranjang. Perempuan lebih menyukai ukuran jumbo alias besar karena bisa tahan lama, terasa dalamnya, dan mampu membuat kenikmatan menyentuh ubun-ubun alias orgasme tingkat tinggi.”

“ Malu ‘kan kalau perempuan selingkuh gara-gara suaminya bukan pejantan tangguh, ” kata Vito polos sepolos kapas ballsak.

Aku mendengar saja ceritanya sembari mengendapkan sari-sari positif dan hanya menahan napas panjang . Wahai laki-laki, Engkau begitu polos. Baru ketemu pertama kali sudah mengumbar rahasia begini hebat. Padahal kodrat laki-laki adalah penjaga rahasia dalam bidang apapun.

Wahai Vito yang betul-betul ragu tubuh sendiri. Engkau membandingkan diri dengan para aktor film-film biru yang acap kali dinikmati anak-anak Rumbia. Hasilnya engkau menilai ukuran organmu tak seberapa jumbo dan kuat. Engkau ingin memiliki penis sebesar orang-orang itu untuk bisa memacari Vanti, si gadis nomor wahid dalam daftar incaran. Mimpi memiliki penis sebesar betis, sehingga si perempuan bernama Vanti itu terkapar seperti macan betina yang kalah karena dirobohkan popor pemburu. Berikhtiar memiliki kantong sperma yang kental seperti butir-butir peluru yang siap disiram pada tubuh Vanti. Berupaya menghancurkan pikiran di benak Vanti bahwa engkau laki-laki yang biasa-biasa saja alias peshawat (pria lemah syahwat).

Vanti adalah perempuan yang sangat ia hasrati. Bahkan mau ia kuliti karena terlalu ia minati. Wahai Vanti tunggu pembuktian. Itu hasrat Vito.

“Bro….sekarang tergantung cara pandangmu tentang seks,” Aku mencoba meyakinkan Vito.

“Maksud kaka?”

“Bro akan paham bahwa hubungan laki-laki dan perempuan tidak diukur oleh besarnya organ seks keduanya, tak diukur oleh seberapa kuat si laki atau perempuan. ”jawabku.

“Aku tak percaya dengan banyak teori cinta kayak gitu ka’ Fian. Buktinya banyak orang yang kawin-cerai, cerai-kawin, selingkuh, dan macam-macam. Aku pikir kebanyakan lantaran masalah seks. Ketidakcocokan seks makanya cari yang lain. Kasarnya karena tidak puas dengan pasangan.”

“Hei…Vito…be aware man…itu bukan cuma teori saja. Memang sejatinya hubungan laki-laki dan perempuan itu bukan semata hubungan antara dua kelamin, entah itu jumbo atau mini, tapi relasi antara dua pikiran, jiwa, tubuh dan hati. So, lebih dari sekedar pertukaran cairan tubuh, saling menukar organ dan memberi kenikmatan…ada yang lebih mulia dan agung ketimbang hal fisik. Itu yang orang sebut pengorbanan. ”

“Ka Fian, setahu kaka…berapa sih normalnya ukuran penis laki-laki ka?”

“Setahuku, setelah pubertas seharusnya penis laki-laki dewasa mencapai kurang lebih 30 sentimeter kubik, 4 x 3 x 2,5 cm. Bahkan ada yang lebih dari itu. Kecuali kalau seseorang menderita sindrom klinefeter, yakni laki-laki dengan testis kecil. Gejalanya yakni tak pernah mimpi basah dan ereksi di pagi hari, padahal mimpi basah biasa terjadi pada laki-laki ketika memasuki masa pubertas. Produksi hormon kejantanan sangat minim. Si penderita tetap memiliki gairah seksual, tapi tidak bisa punya anak. Ciri lain yakni; wajah klimis tak ditumbuhi kumis atau dikotori jenggot, otot lemah dan kurang padat, pinggul lebar seperti perempuan.”

“Ada orang yang selalu tak puas dengan ukuran penis miliknya sampai-sampai menyuntikan obat untuk memperbesar. Padahal efek obet seperti itu berbahaya bagi kesehatan prostat dan organ dalam lain. Obat kuat juga merusak bagian tubuh lain lho. Mengapa banyak orang tergoda iklan dan tidak mau tampil natural? Itu soal cara pandang. Mengaa tidak memakai yang alamiah saja lah yang penting tidak berbahaya bagi kesehatan? ” imbuhku dengan serius.

“Hehehehe. Komplit. Kaka ini wartawan atau seksolog sih..?”

pegawedolog, Pak Vito. Hehehe.”

“Berarti ka’ sudah ukur dong?”

“Belumm…Cuma terka…hahahaa…”

Dua manusia terbahak-bahak di depan komputer jinjing yang menyala dan sedang dalam keadaan on line. Pelayan melihat mereka sambil tersenyum simpul.

ƔƔƔƔƔƔ

Pertemanan dengan Vito tak hanya sebatas perjumpaan di Kafe Blogger bersama komunitasku di Journalist Without Border (JBW). Tapi, dia terus membagi cerita pada lewat pesan FB dan email. Aku juga tak kalah semangat untuk meresapi setiap cerita dan kisah Vito untuk kujadikan sebuah narasi pengisi waktu senggang.

Ia semakin rajin mencari data di internet dan perpustakaan tentang seksualitas manusia untuk menambah pengetahuan daripada terus berkutat dalam ketidakktahuan yang akan memunculkan pelbagai kebingungan. Namun, bagi dia tak cukup pengetahuan kalau tidak dialami sendiri. Artinya, butuh semacam percobaan. Kelinci percobaannya adalah diri sendiri. Begini ia menceritakan pengalaman menubuh ala Vito reneqi Mortessen; ia mandi seperti perempuan yang sedang SPA. Mandi dengan cara yang unik yakni dengan membenamkan tubuh pada bak berbusa dan memasang cermin-cermin besar di sekitar. Tak lupa sebuah lampu sorot dipasang agak redup sehingga kamar mandi itu berubah menjadi panggung untuk menikmati tubuh sendiri. Lilin-lilin beraroma lavender di pasang pada sudut-sudut kamar untuk menghipnotis situasi.

Berulang kali-kali memanjakan diri pada bebusa wangi. Kemudian dalam keadaan yang polos bertingkah selolah-olah bingung di depan cermin besar sambil memeriksa senti demi senti tubuh. Apakah ada yang kurang? Dari ujung rambut sampai ujung kuku. Sekali lagi coba bertingkah dalam kebingungan. Memang kalau dibandingkan dengan pemain film biru ia akan terlihat kalah. Namun ia unggul sedikit. Kulit putih tak ternoda jerawat nakal. Rambut berombak yang indah dan gigi yang rapih dan bersih. Kumis subur dan jenggot yang tumbuh serampangan tapi menawan. Spontan ia tersenyum polos. Ia seharusnya sudah dari dulu bersyukur, karena Tuhan menganugerahi rambut, mata, hidung, bibir dan dagu yang menawan.

Tapi, mengapa kemudian tubuh itu mendadak tegang seperti macan yang ingin segera menyantap mangsa? Ada bagian yang terus merangkak naik seakan menunjuk kaca. Ini tubuhku yang bisu. Tubuh itu mengerang karena ada obyek alien yang memeluk secara tak kelihatan. Tegang karena ada roh halus yang memasukinya dari kaca kemudian mencium sekujur badan. Sesaat kemudian, mata itu melihat tubuh kemerah-merahan. Wajah seperti udang rebus. Vito merasa harus melepaskan sesuatu. Itu akan mengakhiri ritual hari itu.

Siraman air kembali membasahi tubuh yang bergetar dalam emosi. Tubuh itu basah oleh bekas air, akan kering oleh handuk, namun telah berair kembali oleh tegangan tinggi di depan cermin.

ƔƔƔƔƔƔ

Suatu hari aku menanyakan perihal hubungan percintaan dengan Vanti. Namun Vito tak menjawab. Lantas, soal ketakpuasan terhadap tubuh? Rupanya tak lagi. Ia sedang mencari C. I. N. T. A. Ia ingin mencari cinta sesungguhnya. Vanti disuka lantaran tubuh yang berisi, buah dada yang menakjubkan, mata yang menggoda, bibir yang menggairahkan dan bokong yang penuh. Tapi Vito tak sungguh menganggap itu sebuah C. I. N. T. A. Biarlah itu hanya menjadi sebuah hasrat rendah kala senggang saja.

“Lalu…bro..mau cari yang model bagaimana lagi???”

“Ada deh…sudah dapat. Kalau ada waktu aku kenalin sama kaka.”

“Tapi..yang aku maksud ia seorang perempuan ‘kan? Hehehe..”

“Gila e…pikir aku banci kaleng kah?”

“Ya..kalau terus-terus tidak PD dengan tubuh sendiri bisa dicap banci kaleng dong..”

“Hehehe…makasih karena sudah beri masukan dan nasehat alim, hehehe, gara-gara foto itu,… but now i’m aware, this is my body, and I respect it very deep…I am gonna be a man with a good mind.”

“Mantapp…itu baru namanya Vito manusia jantan…hehehehe..”

ƔƔƔƔƔƔ

Petang yang senggang aku meluncur ke Pantai Cina. Tak banyak pengunjung. Hanya ada orang-orang yang memungut bekas botol minuman mineral. Di sebuah Lopo dekat pohon kelapa sepasang laki-laki dan perempuan yang sama-sama bermata indah sedang berpelukan sangat rapat. Sesekali si laki menyibak rambut si perempuan dan mendaratkan bibir yang basah ke kening putih. Si perempuan juga tak kalah manja, begitu tenang dalam pelukan laki-laki itu, sambil mengusapi wajahnya yang penuh kelembutan.

“Jika engkau belum berani mencintai diri sendiri dengan baik, jangan coba-coba mencintai orang lain. Jika engkau sudah mencintai dirimu, maka Dia dan dia akan mencintaimu.” Aku membatin sembari menjepret situasi itu detik demi detik. Tak terasa matahari semakin jatuh dan nyaris mencium ujung laut. Senja tak lagi memerah tapi berwarna pink.[…]

Makasih spesial buat Vito

Pantai Cina _Januari 11

Posted on 10 Februari 2011, in CERPEN. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: