Monthly Archives: Desember 2010

MENEMUKAN “YANG KONKRIT” BERSAMA EMMANUEL LEVINAS Oleh: Rofiantinus Roger Semester VII FFA UNwira, pengaggum filsafat Levinas

bukalah itu

BANYAK orang menilai bahwa filsafat itu ilmu yang abstrak karena berurusan dengan ide-ide yang melangit, dengan istilah-istilah yang membuat dahi berkerut, ditambah lagi dengan buku-buku serta diktat-diktat yang baru dilihat saja sudah pusing, apalagi untuk mendalaminya. Filsafat merupakan ilmu bersilat lidah karena orang yang berfilsafat gandrung mempersoalkan hal-hal biasa dengan cara mempersulitnya, berputar-putar dengan istilah-istilah asing untuk membingungkan pendengar dan pembaca. Ada  yang alergi dengan filsafat karena mereka berpendapat bahwa filsafat itu ilmu yang kering, tema-tema yang dibahas didalamnya begitu rumit dan sulit, jauh dari usaha untuk membuktikan dengan eksperimen lapangan atau laboratorium ala ilmu-ilmu empiris seperti biologi, kimia, fisika, dll.  Penilaian-penilaian ini mencipta  anggapan bahwa filsafat bercorak esoteris, artinya filsafat hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang khusus, yang belajar khusus, yang tingkat pemahamannya tinggi. Kadar penilaian seperti ini bersifat sudut pandang yang sempit dan berasal dari kesalahpahaman mengenai filsafat. Ada pernyataan, hidup dulu baru berfilsafat.  Bahkan ada juga yang mengatakan, makan dulu baru berfilsafat. Hidup  merupakan tempat berfilsafat dan tujuan filsafat yakni melayani kehidupan. Pertanyaan: Apakah filsafat itu sesuatu yang abstrak atau sesuatu yang konkrit?

Membedakan  “yang konkrit” dan “yang abstrak”

Pemikiran Hegel dapat membantu kita memahami apa itu “yang abstrak” dan apa itu “yang konkrit” dalam kerangka yang terbalik terhadap apa yang selama ini jamak diterima umum. Pertanyaan: siapa yang berpikir abstrak, dan siapa yang berpikir konkrit? Dalam kehidupan sehari-hari kata “konkrit” menunjuk pada realitas yang bisa dilihat dan dipegang, sesuatu yang ada di tempat tertentu. Sebaliknya: kata “abstrak” biasanya menunjuk  pada sesuatu yang tidak bisa diindra, suatu paham yang serba umum, hasil dari proses “abstraksi” atas realitas khusus dan partikular. Namun menurut Hegel, arti biasa kata “Abstrak”/”konkrit” yang diberikan akal sehat manusia perlu dibalik. Maksudnya, “yang abstrak” adalah apa yang bisa diamati kini dan di sini; sedangkan “yang konkrit” adalah berbagai hal yang saling berkaitan, tumbuh, dan berkembang bersama (=concrescere, bhs. Latin) dengan apa yang bisa diamati. Kalau pengetahuan tentang “yang abstrak” (=abstrahere, bhs. Latin, menarik keluar) diperoleh lewat pengindraan, pengetahuan tentang “yang konkrit” didapat lewat pemikiran.  (Tjahjadi: 2007, 74)

Lantas siapa yang berpikir abstrak, siapa yang konkrit? Jawaban Hegel: manusia yang tidak terpelajar berpikir abstrak, manusia terpelajar berpikir konkrit. Manusia yang tidak terpelajar biasa menskematisasi data-data indrawi yang ia saksikan, berpegang teguh padanya dan serta merta mengidentifikasikannya dengan pengertian-pengertiann tertentu. Namun, manusia terpelajar akan menerobos masuk ke dalam persoalannya, melihat seribu peristiwa khusus, kesalingterkaitan antara berbagai peristiwa itu dan berbagai gerakan di dalamnya: ia tidak merasa puas dengan tetapan-tetapan empiris, bahwa sesuatu itu ada sebagaimana adanya. Menurut Hegel, tugas filsafat untuk membantu orang berpikir konkrit seperti ini. Filsafat adalah pengetahuan tentang kesalingterkaitan segala sesuatu, pengetahuan tentang totalitas seluruh kenyataan. (Ibid.) Obyek kajian filsafat adalah kenyataan itu sendiri, sedangkan kekhasan utama filsafat terdapat pada kajian atas kenyataan dalam aspek keumumannya. Kekhususan filsafat terletak dalam keumumannya

 

Perjumpaan “wajah ke wajah” dengan pengalaman

Emmanuel Levinas (1906-1995), seorang pemikir Yahudi, mencoba mengajukan sebuah pemikiran mengenai perjumpaan wajah ke wajah. Dalam hipotesa penulis, perjumpaan wajah ke wajah dalam filsafat Levinas membantu menemukan apa “yang konkrit”. Ia menulis dua karya besar yakni, Totalité et Infini (Totalitas Dan Yang-Tak-Berhingga, 1961) dan Autrement Qu être ou au-dellà de l’ Essence (Lain Daripada Ada, Di Seberang Esensi, 1974). (Franz-Magnis: 2006, 86)

Menurut beliau, ada dua semangat besar dalam filsafat barat, yakni semangat ontologis dan semangat metafisis. Semangat ontologis terangkum dalam ide totalitas. Ide totalitas menunjuk pada suatu cara berpikir yang berpusat pada si Aku (etrê le même). Cara berada seperti ini bertujuan untuk membentuk suatu identifikasi diri. Mengidentifikasikan diri dengan diri sendiri berarti mengidentikan diri dengan yang sama (meme). Dalam identifikasi ini ada gerakan kembali kepada diri. Di sini, Levinas ingin mendobrak tradisi filsafat barat yang ia sebut sebagai “the philosophy of the same.” Filsafat yang demikian disebut egologi atau filsafat tentang Aku. (TI, 44)

Dalam sejarah umat manusia selalu ada upaya untuk menundukan dan menyingkirkan “yang lain” dibawah “yang sama.” Yang sama (le même) selalu berusaha memasukan Yang Lain (l’ Autrui) ke dalam wilayah totalitasnya. Gerak langkah totalitas adalah gerak langkah mereduksi. Mereduksi yang lain kepada yang sama. Dalam reduksi selalu ada gerak kembali kepada yang sama, kepada diri sendiri yaitu sang “aku” sebagai subyek otonom, sebagai pusat kebenaran. Kebenaran tidak dicari di luar tetapi di dalam diri. Inilah yang disebut dengan imperialisme dari yang sama.

Semangat lain selain disebut Levinas sebagai hasrat metafisis untuk menemukan “yang lain” dalam keberlainannya.  Bagi Levinas, Yang Lain adalah pembuka horizon keberadaan kita, bahkan pendobrak menuju ketransendenan kita. Yang Lain itu ada dan indah. Manusia pada hakekatnya terasing satu sama lain. Maka, untuk menjembatani itu pertemuan atau perjumpaan menjadi suatu momen etis. Perjumpaan yang dimaksud adalah perjumpaan dengan yang lain.Yang adalah orang lain atau sesama manusia, secara khusus dalam pribadi yang lain sebagai person dalam keluhuran martabatnya dan manusia pada umumnya.  Pandangan ini merupakan kritik diri atas roh totaliter yang mengabsolutkan si Aku dalam sejarah filsafat. Dalam sejarah, yang lain selalu didekati sebagai obyek, suatu bagian dari skema pemahaman  si Aku. Hal itu memperkosa keunikan dan alteritas yang lain sebagai yang lain, yang lain dari aku.

Setiap kali aku menangkap hal-hal baru, “yang lain” itu menjadi bagian dari kekuasaanku dan kehilangan keberlainannya, sebab ia menjadi bagian dan masuk dalam totalitasku. Namun, sesungguhnya “yang lain” tidak pernah bisa kukuasai, sebab dari kehausan kekuasaanku muncul sosok “yang lain” yang belum aku ketahui yang memasung keinginanku yang tiada habisnya untuk sekali lagi menguasainya.  Keinginanku terus-menerus, di satu pihak, untuk menguasai, dan di lain pihak, ketakberhinggaan “yang lain”, yang selalu muncul, akhirnya menyadarkan diriku pada transendensi yang tidak dapat pernah kukuasai. Dengan kata lain, “yang lain” sesungguhnya berada di wilayah luar dari diriku dan tidak pernah bisa masuk dalam totalitasku yang ambisius. Di hadapan “yang lain”, aku hanya bisa tunduk dan menyerah.

Pengalaman dasar manusia dalah perjumpaan dengan yang lain. Dalam perjumpaan itu, kita sadar bahwa kita langsung bertanggungjawab total atas keselamatannya. Langsung dalam arti bahwa tanggung jawab itu membebani kita, mendahului komunikasi eksplisit kita dengan orang lain. Pengalaman itu bersifat etis.  Menurut Levinas, moralitas adalah pengalaman  paling dasar manusia. Ia selanjutnya menunjukan bahwa pengalaman dasar itu pengalaman tanggung jawab mutlak saya terhadap orang lain yang bertemu saya, di mana sinar kesucian ilahi ikut terlihat. Di sini Levinas dalam analisa eksistensial fenomenologis paling dasariah, menunjukan bahwa pengalaman moral adalah titik tolak segala kesadaran, sikap dan dimensi penghayatan manusia dan bahwa pengalaman dasariah itu sekaligus merupakan kesadaran akan adanya Yang Ilahi di belakangnya.

Levinas ingin menunjukan bahwa secara fenomemologis pada saat berhadapan dengan sesama kita langsung menyadari diri dipanggil olehnya untuk bertanggung jawab atas keselamatannya. Apakah kita mengiyakan atau menolak panggilan itu, adalah masalah belakangan (namun, itulah masalah yang dalam kesadaran mendapat perhatian kita, di mana lalu juga etika normatif mau membantu dalam menentukan sikap mana yang tepat bagi sesama itu). Levinas berfokus pada saat pra-reflektif di mana kita untuk pertama kali menyadari bahwa ada sesama menghadapi kita. Di saat itu, kita seakan-akan “disandera” oleh saudara itu, sehingga terikat total oleh tanggung jawab atas keselamatanya. Dalam kesadaran pra-reflektif itu juga termuat panggilan kepada kebaikan, tuntutan primordial untuk bersikap baik dan tidak jahat terhadap dia itu. Dan bahwa panggilan itu merupakan pancaran dari Yang-Baik-Tak-Berhingga di dalamnya kita bertemu dengan saudara. Manusia etis menurut Levinas adalah yang bertanggungjawab terhadap sesamanya.  Ia menandaskan, “Respondeo Ergo Sum (aku bertanggungjawab,  maka aku ada) berbeda dengan Descartes yang mengatakan, Cogito Ergo Sum, Aku berpikir maka Aku ada.”

Ia menunjukan bahwa fenomena pertemuan dengan orang lain ini menjadi dasar untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan dasar filsafat: bahwa ada  seorang Engkau, bahwa ada realitas di luar kesadaran saya.  Jadi bahwa pengertian manusia memang sampai pada realitas itu sendiri, bahkan bahwa saya menjadi diri saya hanya karena engkau, bahwa saya ada dan identik dengan saya (karena dalam pengalaman tanggung jawab purba itu saya secara langsung dan tak tergantikan menyadari diri bertanggungjawab atas keselamatan orang lain itu), bahwa sikap yang pertama adalah kebaikan dan bukan kejahatan, dan bahwa orang lain maupun kita ada karena adanya Yang Mahabaik.

Suatu perbuatan etis tertentu lahir dari respons yang diberikan atas kehadiran yang lain. Respons dalam bentuk jawaban, yaitu jawaban atas panggilan orang lain. Respons terhadap suatu jawaban mesti dibarengi dengan sikap siap untuk menanggung segala konsekuensi dari jawaban yang diberikan. Sikap menanggung suatu jawaban adalah tanggung jawab.

 

Melihat realitas dalam cara “yang lain”

Levinas mengatakan, “wajah sesamaku mengatakan, terimalah aku, jangan membunuh aku.” Wajah  memberitahukan perintah untuk “jangan membunuh”, ini kelihatan secara pasti mengungkapkan sesuatu yang seharusnya dan tanpa syarat. Wajah memberi perintah kepada setiap orang untuk bertanggungjawab atas yang lain. Wajah tidak dimaksudkan dengan hal fisis atau empiris, seperti keseluruhan yang terdiri dari bibir, hidung, dagu, dan seterusnya. Seandainya sama dengan sesuatu yang bersifat empiris begitu saja, wajah akan termasuk totalitas juga. Yang dimaksudkan dengan wajah adalah orang lain sebagai yang lain menurut keberlainannya. Jadi, kualitas-kualitas fisis atau psikis yang bisa saja tampak pada sebuah wajah (tampan, muda, cemerlang, dll) tidak penting bagi Levinas.

Wajah berarti situasi di mana di depan kita orang lain ada dan muncul. Kita berhadapan wajah ke wajah tanpa pengantara. Ia hadir sebagai orang tertentu melalui wajahnya. Wajah itu menyapa kita. Barangkali ia minta uang atau ia hanya menatap kita dengan situasi diam. Lewat wajahnya kita berhadapan dengan orang lain. Sebuah situasi yang sebenarnya biasa, tetapi menurut fenomenologi luar biasa. Wajah itu telanjang (la visage nu). Artinya wajah yang begitu saja, wajah dalam keadaan polos. Wajah yang menyatakan diri sebagai visage significant, wajah yang telanjang di mana mempunyai makna; langsung, tanpa penengah, tanpa suatu konteks.          Penampilan wajah adalah suatu kejadian etis. Itulah langkah penting dalam pemikiran Levinas. Wajah menyapa saya dan saya tidak boleh acuh tak acuh saja. Ia mewajibkan saya. Ia mengunjungi saya supaya saya membuka hati dan pintu rumah saya. Ia menghimbau saya agar saya mempraktekan keadilan dan kebaikan. Wajah menyatakan diri sebagai “janda dan yatim piatu, orang miskin, orang asing ”.

Levinas menggagas sebuah pemikiran etis tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain sebagai wujud konkrit dari perjumpaan manusia melalui wajah ke wajah itu. Filsafat wajah-nya menarik untuk ditilik. “Wajah” yang dimaksud bukan sekedar bagian dari organ tubuh manusia yang terletak di bagian depan kepala. Yang dimaksud dengan Levinas dengan istilah ini adalah situasi dimana ada orang yang muncul di depan kita. Ia hadir sebagai orang tertentu melalui wajahnya. Dalam wajah sesuatu yang transenden menyatakan diri.

Wajah adalah sebuah personifikasi ketakberdayaan yang mengimbau suatu tindakan etis. Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dalam wajah itu, orang lain tampak sebagai orang tertentu, orang lain. Orang lain menyatakan diri sebagai yang betul-betul lain dari saya. Konsekuensinya adalah bahwa wajah sebagai wajah tidak dapat dikuasai, dipegang atau diperbudak. Kedua, dalam wajah itu orang berada sama sekali di luar kita. Ia tidak berbicara tentang bagaimana tanggung jawab moral, apa itu bertindak secara moral atau bagaimana reaksi yang harus diambil ketika orang lain berhadapan dengan kita, melainkan pada apa yang terjadi di saat wajah itu menatap kita. Ketika seoseorang berhadapan dengan orang lain, ia menjadi tidak bebas lagi, tidak bisa bersikap apatis  tetapi ia harus bertanggung jawab atasnya. Tanggung jawab itu bersifat total. Total dalam arti bahwa kita tersubstitusi bagi orang itu. Bebannya menjadi beban saya, tanggung jawabnya menjadi tanggung jawab saya. Saya bahkan bertanggung jawab atas kesalahan orang lain: orang itu, dengan segala beban yang ada padanya adalah beban saya.

Manifestasi yang lain adalah wajah. Maka, wajah adalah sebuah personifikasi sebagai yang miskin, janda, yatim piatu, orang asing, yang telanjang. Semua figur ini menyiratkan fakta tentang suatu kejadian etis. Epifani wajah adalah suatu kejadian etis. Kejadian yang membuka kemanusiaan, yaitu kemanusiaan yang mengandung di dalam dirinya suatu undangan etis. Undangan yang meminta suatu respons, yaitu respons dalam responsibilité.

Ia menegaskan bahwa baru ketika berhadapan dengan orang lain, saya menjadi saya, saya menemukan identitas saya, menemukan keunikan saya. Inilah yang menjadi inti dari paradigma filosofis Levinas tentang filsafat wajah.

Levinas berfokus pada saat pra-reflektif yang memuat data panggilan untuk kebaikan, tuntutan primordial untuk bersikap baik dan tidak jahat terhadap dia yang lain, dan bahwa panggilan itu merupakan pancaran dari yang baik-Yang-Takberhingga yang menjadi cakrawala di mana didalamnya kita bertemu dengan yang lain.

Dan segala usaha untuk mengeksplisitasi dan memahami keunikan manusia merupakan pelecehan terhadap alteritas (keberlainan yang lain, yang sama sekali lain) manusia sebagai persona. Segala usaha untuk memahami diri sesama merupakan kegagalan. Keunikan sesama sebagai pribadi hadir dihadapan “wajah yang telanjang”. Di sini Levinas memakai nama “Dia Yang Lain” untuk menerapkannya pada manusia. Manusia adalah misteri yang sulit dipahami. Manusia adalah valde aliud atau yang sama sekali lain bagi sesamanya. Karena dalam diri sesama yang unik itu Aku melihat DIA Yang Transenden (: Allah), maka aku harus menghormati sesama, bahkan harus tahkluk dan taat.

Menurutnya, ontologi atau metafisika esensialisme telah memperkosa keunikan. Bagaimana “ada” menjadi dasar keunikan dan sekaligus menjadi dasar kesamaan? Pertanyaan ini yang mau dijawab Levinas. Bahwa eksplisitasi keunikan hanya menjadi latar belakang bagi penindasan terhadap yang lain. Filsafat yang demikian adalah filsafat totalistis.

Menurut para komentator, pemikiran Levinas merupakan pengubah isu etika pasca-modern. Dengan berfokus pada fenomenologi yang lain, ia ingin meradikalkan Yang Lain yang telah lama dilupakan dalam diskursus seluruh filsafat barat. Descartes yang mengabsolutkan kesadaran, Husserl yang mengedepankan paradigma subyak-obyek, dan Heidegger yang mengumandangkan ontologi fundamental, ditolak Levinas. Paradigma semacam ini telah menjadi kerangka dasar pemikiran totaliter yang mengabsolutkan ego in se. Bagi Levinas  pemikiran seperti ini bersifat narsistis, egosentris. Padahal data paling dasar keterpanggilan manusia adalah melihat yang lain. Bukan hanya melihat, tapi merespon impuls etis yang didapat melalui perjumpaan wajah ke wajah dengan suatu sikap tanggung jawab. Ini bukan suatu etika normatif, melainkan suatu fenomemologi moral yang begitu saja disisihkan dalam sejarah.

Relevansi

Sebagai mahluk yang berbudi dan bernurani, manusia tidak sekedar melihat kenyataan hidup sebagai kumpulan data semata, melainkan ia mampu mengambil jarak dari kenyataan, menarik kesalingterkaitan antara-antara pengalaman-pengalaman hidup, dan membawanya pada tataran refleksi. Inilah hakekat berpikir konkrit.  Ternyata manusia tidak berhenti sampai di situ, dengan hasrat pengetahuannya ia senantiasa tak pernah puas dengan aneka jawaban yang sudah ada, melainkan ia senantiasa mengeksplorasi diri dan dunianya dalam menemukan kesatuan, kebenaran, kebaikan dan keindahan. Proses ini disebut dengan ber-filsafat. Pertama, Filsafat  bukan merupakan hasil renungan yang bersifat imajinatif melainkan sebuah hasil perjumpaan wajah ke wajah dengan kenyataan hidup. Kedua, filsafat mendorong orang yang belajar untuk bertindak secara etis karena panggilan mendasar mereka yang ber-filsafat yakni untuk bertanggung jawab terhadap kemanusiaan dalam segala situasinya. Ketiga, mereka yang berfilsafat adalah yang terbuka kepada cara pandang “yang lain”, kejamakan pemikiran dan terbuka untuk diubah oleh kebenaran karena tidak hanya puas dengan kebenaran yang dicapai oleh keakuannya sendiri. Keempat, orang yang berfilsafat adalah mereka yang mampu menjadi manusia bagi sesamanya karena filsafat merupakan pergumulan yang berangkat dari kenyataan hidup menuju pemahaman metafisis dan pertualangan budi untuk menemukan pola-pola yang dinamis dalam kenyataan hidup dan dunia kehidupan manusia. Selamat ber-filsafat. Jayalah FFA. ***

Sumber-sumber:

Levinas, Emmanuel, Totality And Infinity, An Essay On Exteriority, Duquesne University Press, Pittsburgh, Pa, 1969

————————–, Alterity And Transcendence, Columbia University Press, New York, 1995

————————–, Reponsibility For The Other (An Interview With Philippe Nemo), Cross Currents, 1984

Suseno,Franz Magnis, Etika Abad  Kedua Puluh, 12 teks kunci, Yogyakarta: Kanisius, 2006

—————————, 12 Tokoh Etika abad ke-20, Yogyakarta: Kanisius, 2000

Tjahjadi L., Simon Petrus, tuhan Para filsuf dan ilmuwan, Yogyakarta, Kanisius, 2007

Iklan

STFK: SAYA TUNGGU FRATER KELUAR, oleh: Rofiantinus Roger

sendu

O  sanctisima, O piissima, Dulcis Virgo Maria! Mater amata, intermerata, Ora, ora pro nobis, ” demikian senandung lagu penutup Ibadat Malam terdengar dari kapela para frater. Sehabis ibadat malam, aku dan temanku Ebed duduk-duduk di bawah pohon Nimba di belakang gedung seminari sembari menyaksikan lampu-lampu yang indah terang di sekitar Kampus Undana. Kami bercerita, membagi suka dan duka, menerawang awan menemukan Roh penyemangat hidup. Dalam kisah ini, aku mau menumpahkan isi hati Ebed, karena ia lebih dahulu menyodorkannya kepadaku sebagai seuntai rasa untuk dibagi.

Pengalaman itu hanyalah satu fragmen hidup seminarisku, hidup yang telah meninggalkan sejuta inspirasi. Aku masih mengingat kuat apa yang dikatakannya, perasaannya, bahkan harapannya untuk terus melangkah walau permainan hati sedikit membuat miring biduk panggilannya.

Aku telah mengundurkan diri sebagai seminaris 2 bulan lalu, karena merasa diri tak pantas untuk  mengikuti hidup sebagai calon imam. Aku lebih memilih menjadi orang luar yang bebas untuk mengungkap diri tanpa merujuk pada norma-norma yang kaku. Aku dipanggil orang sebagai ‘anak eks’, artinya eks-frater, mantan calon imam. Aku sendiri bernama Sergio. Lengkapnya, Sergio Sermento Diaz. Aku berasal dari negara tetangga, RDTL. Satu kampung dengan Raul Lemos, tambatan hati KrisDayanti, si artis itu. Di sini, dengan persetujuan Fr. Ebed aku akan menuturkan isi hatinya kepada dunia bahwa Ebed adalah lelaki yang penuh semangat untuk mencari Tambatan Hatinya. Maksud saya Dia. DIA huruf besar. Bukan si dia. Dia huruf kecil.

Memang ia pernah terlibat dalam aneka permainan mata, hati, dan perasaan dengan beberapa perempuan. Mereka akan dikisahkan sebagai orang-orang yang pernah menyenggol hatinya, bergerak di sekitar pusaran hatinya, bahkan ada yang sampai mau mematahkan panggilannya untuk menjadi pastor.

Ebed tak bermaksud membual kisah pribadi atau sengaja membuat sensasi. Tidak. Ia hanya mau menyingkap ombak yang mewarnai pelayarannya. Ia hanya mau mengungkap seekelumit rasa yang menjadi pergulatannya sebagai seorang laki-laki. Ebed tak hendak memanfaatkan perasaan untuk dipermainkan, kemudian diartikulasikan dalam kata-kata. Itu terlalu kasar dilakukan. Ia hanya ingin membuka jendela hati bagi masa lalu, masa sekarang, bahkan masa depan yang menjadi tenunan perjalanan hidup.

Ebed seorang teman yang baik. Tenang dan bijaksana adalah bagian dari pembawaannya. Ia memiliki wajah oval yang cukup rupawan. Dia rajin dan bersemangat. Terbuka berelasi dengan semua orang tak terkecuali lawan jenis. Dia juga suka menulis. Namun, hati-hati jangan salah berkata-kata dengannya. Bisa jadi kata-kata anda sendiri akan menjadi racun yang mematikan diri sendiri. Kata-kata Ebed sering kali pedis dan tajam menusuk, seperti jarum, apalagi kalau ia  sedang marah. Satu yang kusuka, dia bergaya cukup unik, tak suka meniru, dan sopan. Ebed, ebdedd…

Malam itu aku bertanya, “Bed…siapa-siapa sih yang menurut kamu pantas dijadikan penghuni hati untuk kita sebagai seorang seminaris?”

“Hehehehe… pertanyaan yang terlalu menusuk kawan e. Hehehe. Jujur, tak mudah menjawab pertanyaan itu.”

“Kenapa fren?”

“Soalnya, menurut Pater pembimbing, di hati setiap seminaris tidak boleh ada yang lain kecuali JenMar. Kalau tidak akan sesak, kacau, dan runyam. Bagiku, sulit untuk menetralkan hati sebagai laki-laki. ”

“Apa itu Jenmar, teman?”

“Hehehe..Jesus n Maria, bro.” Kami terkekeh sama-sama.

“truss , selama ini kau tak pernah jatuh cinta ko?”

“Hehhe…pernahlah… pikir aku sudah jadi malaikat ko. Mungkin malaikat juga bisa jatuh cinta. Tapi tak terjatuh karena cinta. Bukan jatuh cinta sih sebenarnya, Itu cuma permainan hati, bro. Ada 5 perempuan orang yang membuatku merasakan suatu hawa permainan hati. Walau hanya senggal-senggol saja. Tapi, mereka cukup meninggalkan narasi yang melekat di hati. Ciehhhh.”

“Kalau begitu, cerita do.”

 

***

 

Zri, si gadis berkerudung yang alim.

Gadis ini merupakan teman SMA. Tepatnya adik kelas Ebed sewaktu ia mengenyam pendidikan sekolah menengah atas. Berparas cantik dan berpenampilan tidak suka cari perhatian adalah ciri khas gadis ini. Ia muslim. Berasal dari daerah terpencil di bagian utara kota Ebed. Namanya Zri. Dia gadis yang alim karena tamatan madrasah menengah. Ebed sangat menyukai gadis itu karena wajahnya yang seperti ibu Ebed. Banyak puisi dari yang gombal sampai yang real dikirim Ebed untuknya. Banyak usaha dilakukan untuk sekedar bertemu walau hanya untuk saling menikmati wajah satu sama lain. Ebed bilang, dia sungguh tergila-gila pada Zri, sampai hari-hari hidupnya dilalui hanya untuk melamuni gadis itu. Di ruang belajar, di jalan ke sekolah, di kelas, bahkan di atas kloset pun selalu ada waktu untuk mencenungi nama itu. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Apakah ada adegan romantis seperti di dalam sinetron? Tidak. Jawab Ebed. Sampai sekarang ia menyesal karena belum pernah sekalipun ia mencium kening gadis itu. Hehehehe. Aku terkekeh. Aku tanya mengapa. Rupanya ketika Ebed selalu punya niat yang anah-aneh untuk Zri, dadanya selalu mendebar kencang. Jantungnya seolah-olah akan lepas dari tungkainya. Dia bilang mungkin Roh Kudus memberi sinyal untuk jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Jadi, kisah cinta Ebed dan Zri bukannya biasa tapi luar biasa. Mana ada pacaran hanya yang begitu-begitu saja sekarang. Itu pikiran Ebed dulu. Sekarang dimana gadis itu? Semenjak Ebed memilih masuk seminari, rupanya hubungan dengan gadis itu makin hari makin dingin, apalagi Ebed  sempat melirik ke salah satu teman kelasnya, yang padahal hanya main-main saja. Ebedpun tamat lalu lanjut ke seminari. Mulai saat itu komunikasi keduanya putus. Sampai pada suatu waktu mereka saling menghubungi tapi tak sehangat dulu. Rupanya gadis itu sudah meninggalkan cinta pertama yang aneh itu. Zri kini menjadi calon perawat di Pulau Sulawesi. Sesekali dia muncul di FB namun Ebed tak lagi berkontak dengannya. Dia hanya satu dari teman di FB.

 

Nirzaskia, perempuan merobek hati.

Ebed hidup sebagai seorang seminaris yang bersemangat dan penuh harap untuk berkembang dalam olahraga, menulis, pengetahuan, pergaulan, dan iman. Ia menemukan hawa baru di Kupang. Kupang kota panas dan kota karang. Seminari tempat studi Ebed dekat dengan sebuah asrama puteri yang di kelola para suster. Rupanya suatu hari Ebed melirik ke salah satu gadis yang gayanya begitu menor dan cari perhatian. Ebed awalnya tak bermaksud apa-apa. Hanya untuk tahu nama saja. Apalagi si gadis mengaku satu daerah dengan Ebed. Hehehe. Kebetulan. Semakin banyak kawan akan semakin mudah memperluas pikiran, kata Ebed. Niat awal sekedar kawan namun berujung pada gejala perasaan. Rupanya Ebed, yang baru mulai jadi seminaris, agak memainkan hati mengikuti lenggak-lenggok gadis itu. Ebed mengalami suatu yang aneh. Dia selalu menunggu gadis itu lewat di depan seminari. Baginya, cukuplah melihat dia lewat dan satu hari sudah aman. Hehehe. Lalu ia buat suatu yang agak aneh. Dia mengirimi gadis itu sebuah buku rohani. Dan menuliskan kata-kata yang masih ia rahasiakannya hingga kini. Apa isinya? RHS, jawab Ebed. Dalam bahasa Ebed, gadis itu telah merobek hati. Kata-kata yang lebay menurutku. And then? Rupanya gadis itu tidak terima dengan baik. Ia minta konfirmasi apa maksud pemberian Ebed. Tapi si Ebed hanya pasang aksi cuek supaya dikatakan cool. Karena Ebed terus-terus cuek, maka tersebarlah gosip di asrama itu bahwa Ebed naksir setengah mati dengan gadis itu. Sampai-sampai teman satu seminari menangkap berita itu, lalu menambah sedikit bumbu. Hehehehe. Buntut dari permainan hati ini adalah kekonyolan. Gadis itu merobek pemberian Ebed dan membuangnya ada malam tahun baru. Dari situ Ebed tak berani lagi melirik satu pun anak asrama itu, meski hanya untuk berkawan. Gadis itu akhirnya pindah ke tempat yang lain. Sejak saat itu Ebed  tak lagi melihat batang hidungnya. Pertemuan terakhir adalah pada saat gadis itu mengadakan adegan ciuman dengan seorang laki-laki saat Ebed lewat di pertigaan, namun Ebed terus jalan lewat dengan reaksi biasa-biasa saja. Menurut kabar terakhir, gadis itu tewas bunuh diri karena cintanya tak direstui oleh ortunya. Ia telah menamatkan kuliah dan kembali ke daerah asal. Namun malang, dia memilih pergi dengan gantung diri. Ebed pun enggan berkomentar. Ia hanya berdoa untuk keselamatannya.

 

Elsa, teman sms.

Ada satu gadis yang agak unik menurut Ebed. Gadis itu dijumpai Ebed di pantai Lasiana saat berpiknik bersama teman-temannya. Cantik dan menawan, itu yang tampak dari luar. Matanya menarik siapapun yang melihat. Dia mahasisiwi bidang peternakan di salah satu universitas di Kupang. Elsa, itulah namanya. Waktu ketemu pertama kali di pantai itu, Elsa bertanya mengapa Ebed mau masuk seminari padahal tempat kuliah sekarang banyak dan sangat menjanjikan. Ebed bilang bahwa ia mau mengalami hidup yang agak lain. Tapi apa gadis itu menjaring hati Ebed? Rupanya ya. Pertama kali bertemu mereka saling menukar nomor Hp. Padahal di seminari sangat tegas aturan yang melarang penggunaan Hp. Ebed justru diam-diam memakai Hp dan terus menghubungi gadis itu. Akibatnya, hanya lewat kata-kata sms, mereka seolah-olah merasa saling menyayangi, padahal rasa itu tipis setipis kulit bawang, dan dangkal sedangkal air di dalam cangkir. Mereka jarang bertemu kontak wajah ke wajah. Hanya 2 kali  Ebed ke kos perempuan itu. Ebed merasa ada yang aneh. Kok lewat sms bisa menghubungkan dua hati. Padahal kata-kata sms itu bisa multitafsir bahkan sering bisa disalahpahami. Hmmmm. Ebed berhenti menggunakan Hp. Itu bukan karena keinginan sendiri, tapi karena Hp-nya diamankan oleh pembina seminari agar tidak mengganggu situasi studi, kerja, dan doa. Menurut para pembina dengan menggunakan Hp konsentrasi seminaris akan terpecah akibatnya hasil studi merekapun kacau. Jadi,  keputusannya dilarang menggunakan Hp. Mulai dari situ komunikasi antara Ebed dan Elsa terputus. Namun, perempuan itu tetap terkenang sebagai salah satu pemain di arena hati, meski hanya senggol-senggol saja. Dia tak lebih dari teman sms.

 

Gabriela, seorang perawat.

Satu gadis lagi yang sempat tertambat di hati Ebed. Namanya Gabriela. Perempuan itu dikenal lewat sepupunya yang bekerja sebagai perawat di RSUD. Waktu itu mereka berpapasan di Gramed. Entah mengapa Ebed menyatakan dengan polos bahwa gadis itu menarik hatinya. Bukan karena wajahnya atau gayanya. Tapi karena kerendahan hatinya. Ebed suka kesederhanaanya. Hanya itu. Ebed juga tertarik dengan profesinya yang memberi diri untuk melayani orang sakit. Ebed sempat membolos dari tempat kuliah padahal waktu lagi ada pelajaran Metafisika, hanya untuk menemui perempuan itu di RSUD. Hehehe. Gila bener. Apa yang dilakukan Ebed waktu itu? Ia memberi perempuan itu sebuah gelang yang berlingkar ornamen para kudus. Rupanya Ebed tidak bermaksud lain. Ia ingin hanya berkawan dengan perempuan itu. Namun setelah aku korek lebih dalam, rupanya Ebed juga memainkan hati secara diam-diam dengan perawat itu. Saat ada seorang teman yang sakit dan harus opname di RSUD, Ebedlah orang pertama yang mengangkat tangan untuk pergi menjaga. Hehehehe. Di sana mereka bisa bertemu, bercerita, dan saling melihat. Menurut Ebed, perempuan  itu mau merawat hatinya. Namun hubungan itu berjalan begitu-begitu saja. Kabar terakhir, perempuan itu pergi ke Jawa untuk melanjutkan S2 dalam bidang keperawatan. Sekarang, dia hanya salah satu teman fb Ebed. Tak lagi ada permainan hati.

 

Yuanita, seorang wanita melankolis.

Murung. Sedih. Itu kesan yang ditangkap Ebed dari wajah perempuan itu. Ia menjumpainya ketika mengadakan asistensi di sebuah paroki. Gadis itu mau berkenalan dengannya dan meminta Ebed  mendengar curhatnya. Karena Ebed memang seorang pendengar yang baik, maka telinganya ia gunakan betul untuk mendengar gadis itu. Ebed, kasihan mengapa gadis belia itu sungguh naif dalam melihat hidup. Hmmm. Sebagai seorang yang juga belajar psikologi, ia mencoba menerapkan teori bagaimana mengatasi rasa pesimis dalam hidup dan bagaimana caranya berteman dengan orang melankolis. Dan ternyata Ebed berhasil menjadikan perempuan itu menjadi orang yang suka tertawa. Bakat lawak Ebed digunakan untuk membuatnya menjadi lebih bersemangat. Tiap kali Ebed mengunjungi paroki tempat gadis itu, ia selalu diajak ke rumah mereka. Meski hanya untuk bercerita, berbagi, makan bersama keluarganya, Ebed sungguh merasa bahwa ia memiliki keluarga baru di Kupang. Ebed sampai-sampai dianggap sebagai salah satu anak dari keluarga itu, karena mereka tidak mempunyai anak laki-laki. Ebed, dianggap sebagai saudara Yuanita. Namun, pada suatu hari entah karena alasan apa, Yuanita membongkar suasana hatinya, bahwa dia telah menyukai Ebed dan menginginkan dia menjadi kekasihnya. Ebed kaget. Kok’ Yuanita menjadi begitu padahal Ebed hanya mau menjadi saudara baginya. “STFK, saya tunggu frater keluar,” kata Yuanita. Ebed seperti orang kebakaran jenggot. Diam. Tak banyak komentar. Bagaimana mengatasi perasaan itu, dan bagaimana mengontrol hatinya agar tidak hanyut dalam banjir perasaan? Ebed lebih memilih merenung. Apa yang sebenarnya terjadi. Ia mau menjadi pastor, pelayan umat. Apakah ia harus keluar gara-gara perempuan itu? Hmmmm. Ternyata masalahnya pada hukum perjumpaan. Semakin sering berjumpa, maka akan berpotensi menimbulkan gejolak perasaan. Ebed harus rasional. Ia harus menghindari pertemuan dengan Yuanita. Itu jalan yang terbaik. Sampai sekarang Ebed, tak lagi bertemu perempuan itu.

 

***

Itulah kisah Ebed bersama para perempuan yang sempat berkitar di pusaran hatinya. Dari semua itu ia tetap kuat kok dalam melanjutkan pilihannya. Sementara aku, Sergio Sermento Diaz hanya bisa mengagumi teman itu karena ia betul mengalami bagaimana bergejolak sebagai laki-laki. Sementara, aku keluar dari seminari karena belum mengalami gejolak itu. Justru sebagai orang luar aku mau bereksperimen dengan itu.

Bagi saya awal dari cinta adalah eksperimen seperti dalam ilmu kimia. Jika ada persenyawaan, maka muncullah kekuatan. Jika ada gaya tolak-menolak muncullah kelemahan. Dan ternyata aku gagal, gadis yang aku harapkan untuk menjadi kekasihku sewaktu masih di seminari, ternyata akan menikah dengan laki-laki lain. Hmmmmm. Aku tak mau sakit hati. Aku harus berpikir rasional. Perempuan itu bernama Vierra, berasal juga dari Timor Leste. Dia lebih memilih laki-laki yang memiliki pekerjaan yang menjanjikan ketimbang aku seorang eks seminari yang masih bergulat dengan kuliah, sampai aku mendapatkan gelar sarjana filsafat.

Hmmmm…..makasih Fr. Ebed, atas ceritanya. Maaf aku menuliskannya kembali. Bukan untuk menjelekan frater, tapi hanya untuk menyatakan bahwa Ebed, si laki-laki itu,  juga punya gairah, tapi gairah itu menjadi kekuatan untuk menemukan Tambatan  Hati yang adalah Cinta itu sendiri, dia SANG CINTA, Pulchurum Supremum. Sampaikan kata dalam hati, Dum Spiro Spero, selama masih bernafas, aku berharap. (End)

Cerpen: “Golda ini bukan kata-kata biasa” Oleh: Rofiantinus Roger*

golda maressa

Golda Meir, seorang penerbang perempuan pertama di Israel. Perempuan yang gagah dan berani. Cantik sekaligus menakutkan. Tapi kesan itu tak terdapat dalam diri seorang Golda yang aku temui. Ia cantik. Pintar. Lembut. Rendah hati. Mudah diajak bicara. Baik untuk sekedar basa-basi ataupun berdebat. Namanya Golda Mareesa S. Aku menjumpai dia di lorong-lorong Hotel Olive. Waktu itu aku adalah utusan kampusku sebagai pendebat di ajang bergengsi propinsi NTT dalam lomba Debat Mahasiswa.

Kupang, Desember 2009. Setahun lalu. Di Olive. Kupang.

Kesan mata pertama. Apa yang terjadi dengan mataKu? Sebelah mataku? “Tapi sebelah mataku, yang lain menyadari, gelap adalah teman setia, dari waktu-waktu yang hilang, ” kata ERK. Mataku tak bisa berbalik menengok bebungaan Euforbia di Olive, sebelah mataku hanya tertuju pada perempuan berambut poning berjaket almamater kuning, lembut menyapa. Golda.

“Boleh kenalan ko?”

“Boleh ,” jawabnya.

“Alfiano.”

“Golda.”

Hmmmmm. Kesempataan ini tak aku sia-siakan. Setelah berkenalan pasti ada basa-basi, tentang asal, kampus, nomor kamar, nomor ponsel dan yang lainnya. Dia juga adalah utusan dari kampusnya untuk debat bergengsi propinsi NTT itu. Malam itu langsung kami, mencari tema untuk dapat dipersiapkan. Namun, sayang anggota panitia yang mengurus hal itu sudah pulang. Setelah sempat main kata dengan panitia beberapa anggota panita yang agak judes, kami berinisiatif untuk mengambil tema-tema itu di Kuanino untuk di foto kopi. Aku, Janu , Eni, dan Golda dalam satu mobil panther meluncur ke sana. Rupanya kami beruntung, orang yang kami cari ternyata juga sedang menunggu. Setelah dapatkan tema, kami langsung pulang. “Sekarang cari tempat foto kopi,” kata seorang teman. Wahaluallam, toko-toko tempat foto kopi di kota Kupang sudah tutup karena sudah pukul 11 malam.

Aku melirik ke arah Go yang sedang asyik-asyiknya mendengar lagu-lagu Naff. Meski suaranya agak fals namun dia fasih dalam mendaras syair lagu-lagu itu. Asyik ne cw. Gara-gara konser Naff di kupang Go harus kabur dari Alor, padahal waktu itu mereka masih berkegiatan di pulau magik itu. Demi Naff. Kegilaan Naff. Demikian Cerita Go. Aku mendengar saja.

Aku katakan sama Go, aku juga suka Naff. Suka sekali. Bahkan dalam mimpipun bernyanyi lagu Naff. Sampai-sampai mengigau lagu Naff. Kata-kata dan musik Naff sesuai dengan jiwaku. Jiwaku yang suka kesenduan, keteduhan, keterlemparan, ketersudutan, kegelisahan dan kesenyapan. Hmmmm. Ternyata dalam satu aspek aku dan Go bisa sambung satu sama lain. Dari situ percakapan menjadi hangat. Walau dalam hati aku agak malu, karena gadis memang itu terlalu….terlalu lembut dan manis. Aku takut dengan perempuan yang terlalu cantik. Takut mereka menjadi cepat bosan dengan wajahku atau mungkin mereka akan menertawakan wajahku. Karena terlalu polos. Mataku terlalu polos sehingga orang bisa tahu isi hatiku. Mataku sering menelanjangi tubuhku. Makanya aku menjauhi perempuan yang terlalu……..terlalu manis. Tapi untuk Go tidak. Dan tidak untuk saat itu.

Untunglah malam itu ada teman yang memiliki mesin foto kopi dekat hotel, jadi tema-tema itu bisa diperbanyak dan dibagi untuk semua peserta Pisma NTT. Alhamdulillah.

Aku tambah bersyukur lagi ketika berhasil mendapat nomor hp Go. Hehehhe. So, bisa terjadi komunikasi antar-tembok kamar nehhh. Paling tidak sms bisa membuka jalan lain perkenalan. Hehehe. Kata-kata sms tak menyentuh kekakuan. Bisa bermain kata. Bisa membuat humor pendek. Hmmmm. Rupanya dialog  lewat sms lebih efektif. Bisa curhat. Bisa lebih leluasa.

Malam itu aku dan rekan-rekan dari Unwira tidak tidur terburu-buru. Kami berdiskusi. Mencari bahan di internet. Saling memberi masukan dan kritik. Membagi tehnik debat yang baik dan sopan. Termasuk bagaimana membuat lawan lemas dengan gaya debat. Hehehehe. Kompetisi memang harus begitu.

“Hmmmm. Golda…cantik juga e,” kataku kepada seorang teman mahasiswa.

“ahhh…biasa saja. Cw seperti itu banyak di Kupang.”

“Banyak perempuan, tapi tak sama bro…kamu ingat lagu Padi, semua tak sama, tak pernah sama, apa yang kusentuh, apa yang kukecup, sehangat pelukmu, selembut belaimu, tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu…”

“hehhehhe..aku ngalah fren, but itu kan perasaan u saja. U harus obyektif dong. Di kampus kita ada yang lebih cantik dan bahkan yang paling cantik, kamu tau Freska kan? Yang miss NTT itu. Dia pernah setengah mati dengan aku lho…” kata temanku gombal.

“ahhhh….joak kaleee. Ogah percaya dehhh.  Cape dengar orang joak.”

Senyum sendiri. Berimajinasi sebentar. Lalu melihat ke jendela. Cup..cup…cup. Sebelum tidur aku menyebut nama perempuan itu bagai orang mistik yang menyebut kata-kata mitis. Rupanya perkenalan hari itu mengendap dalam dasar hati meski belum seberapa endapannya. Tak seperti endapan Lapindo yang pekat dan keras, endapan perasaanku bak seperti susu cair Benlutu. Masih cair bro.

Pada keesokan hari, restoran tempat makan pagi menjadi tempat yang ramai karena para peserta debat berkumpul sambil berbincang-bincang di sana. Ada percakapan yang serius adapula yang ringan. Kuperhatikan teman-teman dari Ledalero dingin-dingin saja. Rupanya mereka lagi jaga wibawa. Ciehhh. Sementara aku dan Janu sibuk mencari teman. Hehehe. Kesempatan itu memang kami gunakan sungguh untuk mencari kenalan-kenalan baru. Acapkali  aku memperhatikan Go yang duduk di sudut. Aku cari-cari kesempatan untuk bicara. Hmmmm. Aku dekati, rupanya dia tidak angker. Dia ramah bro. Lembut. Aku ajak bicara. Dan lumayan responnya bagus. Kuajak sedikit berdebat. Ternyata ia debat dengan sungguh-sungguh. Satu hal yang ia mungkin tak setuju sampai sekarang, karena aku mengatakan politik tubuh perempuan, perempuan dan politik tubuh, perempuan yang maju menjadi anggota legislatif hanya mengandalkan propaganda tubuh. Go marah. Ia tersinggung. Kata-kataku terlalu lebay. Dia mau murka, tapi tak jadi karena aku buru-buru minta maaf.

***

Debatpun berlangsung. Dua juri bersiap-siap. Ditambah dengan seorang moderator yang seperi muka pelawak Kadir, anggota srimulat itu.  Kami dapat undian pertama, melawan tim dari Ende. Mereka kuat sekali dalam berargumentasi. Aku sampai kelabakan menjawab soal yang mereka ajukan bahkan sampai patah-patah dalam berkata-kata. Padahal aku sering berdebat seperti Budiman Sujatmiko, politikus kesukaanku. Namun saat itu aku berbicara seperti jurkam yang kehabisan ide. Massya’allah. Namun jurus lain dipakai, yakni memancing emosi lawan. Hehehe. Rupanya mereka hanyut dalam gaya tim kami, sampai-sampai mengeluarkan kata-kata dan ekspresi yang tidak perlu.

Setelah  giliran semua tim selesai berdebat, maka tibalah saat-saat yang dinanti: PENGUMUMAN. Ada enam tim yang masuk babak final. Salah satunya tim kami. Meski kami mempunyai nilai yang rendah, nomor buntut, namun kami senang karena bisa mencicipi final. Sementara tim Go tidak masuk. Ada sedikit kekecewaan dalam hatiku, mengapa tidak bertemu tim Go. Padahal kalau saja bisa berhadapan, aku bisa terus melihat wajahnya. Wajah dalam aneka ekspresi. Hehehehe..aku lihat Go tidak kecewa. Dia cool-cool saja, mungkin karena dia memang sering ikut kompetisi. Jadi, menang dan kalah biasa-biasa saja baginya. Malah saat kami berdebat diputaran final, Go membantu kami dengan memberi masukan dan saran. Kami berjuang dengan baik pada babak final. Gaya debat, tehnik, isi debat, argumentasi kami siapkan dengan serapih mungkin. Waktu itu aku bicara bak Obama yang cool, atau seperti gaya sastrawan Aswendo yang santai. Lawan kami dari Sumba. Akhirnya kami harus puas  sebagai runner up. Kami selisih angka dengan Ledalero. Kami juara dua dan mereka juara satu. Tak apalah, yang  penting pengalaman. Dan yang lebih penting lagi, bisa berkenalan dengan Golda Mareesa.

***

Saatnya berpisah di Olive. Kompetisi berakhir. Ada suka ada kecewa. Ada senyum ada dahi berkerut. Berat hatiku meninggalkan Olive. Bukan karena kamarnya yang full AC , atau karena pelayan-pelayan hotel yang gempal dan seksi, namun karena: Naff, curhat, mata sendu, kulit putih, bola mata, kecanduan FB, debat, makan bersama, jalan sore, malu-malu, sms, marah, judes, perasaan. Kata-kata itu tak tersambung satu sama lain. Maknanya tercecer. Jujur saja, aku tak mau pisah dari perempuan itu. Hmmmm. Lemas karena harus pulang  ke markas Penfui. Aku ingin terus berdiskusi dengan Go. Berbicara dengannya hati ke hati. Karena saat itu aku sempat mendengar curahan hatinya, yang ia sampaikan juga dengan Vano Jaman, temanku. Hmmm. Sudahlah. Rasa bisa menguap. Namun, kenyataan hidup akan berbicara dengan keras dan jujur.

Kami kembali ke markas masing-masing. Yang dari Ledalero membawa piala kemenangan ke lembah Nita. Kami membawa piala sebagai runner up ke puncak Penfui.

Beberapa bulan kemudian, aku masih sempat berbicara dengan Go, entah lewat sms  atau fb. Pernah janjian ketemu namun batal lantaran hujan. Siallllll. Aku betah di markas Penfui sambil bergulat dengan banyak proyek hidupku, baik itu tugas kampus maupun karya kreatif. Hmmmm. Aku tak tahu, nomor hp Go sekarang. Kartu ponselku yang ada nomor Go lenyap. Sialll. Tak bisa lagi dehhh aku ber-sms ria dengan perempuan manis itu.

Kadang-kadang saja aku nongol di fesbuk untuk melihat update status dan mengintip aktivitas  Go, tulisan-tulisannya, foto-fotonya yang terbaru.

Baru-baru aku dengar dari Janu, Go memperoleh sebutan Summa Cum Laude di kampusnya, dia wisudawan terbaik. Dan kabar lain lagi dia sekarang menjadi guru pada sebuah sekolah swasta di kota ini. Baguslah kalau begitu. Aku bangga sama Go. GO……saya suka sama kamu. Sungguh.  Kamu pahamkan arti kata suka???? Suka adalah suka.

Desember, 2010. Rumah Kata-Kata

Malam senin saat aku cape di depan laptopku,

Aku melihat gambar perempuan di jendela kaca

Aku menengok keluar

Aku hanya menemukan bunga euforbia

Gelombang cinta

Dan bunga kaktus

Aku menumpahkan rasa berlimpa ruah pada daun-daun bebungaan itu

Namun perasaan  itu terpantul kembali menampar wajah sendu.(rgr)