Detik-Detik terakhir seorang Calon Imam Oleh: Rofiantinus Roger

Saat senja kala di biara. Saat pikiran itu tak menentu seperti kuda liar yang berlari-lari semaunya. Perasaan tersudut bak debu-debu yang diusir angin ke sudut ruang. Tak ada waktu merenungi kata-kata bijak pelipur lara. Tak ada nyawa untuk berfilsafat tentang suasana hati yang hitam. Mood yang gelap.
Kucoba mengendapi semua sehingga kecemasan yang meremas dada menjadi lumpur-lumpur di dasar kegelisahan. Mustahil. Itu sia-sia. Imposible.
Saat senja kala di biara. Suara dua manusia terdengar di ruang tertutup bak interogator dan narapidana. Bak wartawan dan tersangka kasus maksiat. Ya. Seperti suara-suara itu berbalas. Seperti saling mempertahankan argumen. Tapi tidak. Tidak demikian sebetulnya.
Saat langit direbah gelap yang lama-lama makin tebal. Saat tak ada aura positif di wajahku. Saat itu aku berkonsultasi dengan pemimpin biara. Sang Delegatus.
“100 % anda tidak memberi diri bagi jalan religius,” kata Pater Pemimpin pelan tapi kedengarannya begitu menusuk.
“Anda mengalami jalan buntu,” kata-kata yang membuat aku tersudut.
“Iya…Pater memang demikian adanya..”jawabku. Selama beberapa waktu, ia mengurai daftar kelemahan-kelemahanku sebagai seorang calon imam. Aku terus mengatakan ya. Sebab tak ada argumentasi yang dapat mematahkan perkataannya. Bicaranya melumpuhkan mekanisme bela diri.
Kalimat besar pada percakapan itu dimulai dengan sesuatu yang mengguncang.
“Anda harus membuat keputusan yang kuat!” tegasnya.
Apatah daya. Itu kebenaran. Suatu ketaktersembunyian. Aletheia terbongkar. Kata-katanya melemahkan semua argumentasi yang coba aku bangun padahal aku seorang pendebat ulung. Aku tak kuasa membantah. Demikianlah kebenaran bersabda. Selanjutnya segala kelemahan-kelemahanku menjadi termuncrat, seperti usus Babi Hutan yang terburai keluar akibat parang pemburu. Segala rahasia yang terpendam dalam alam bawah sadar meledak keluar. Terbuka. Telanjang. Tak ada pakaian rasionalisasi. Senjakala mengurai semuanya menjadi bagian-bagian nudis yang tak dapat dipungkiri.
“Apa solusi anda untuk kebuntuan ini?” Ia bertanya sambil mengarahkan sorot matanya kepadaku.
“Pater…aku tidak menemukan solusi sekarang, tak satupun jalan keluar, satu-satunya aku harus melakukan refleksi diri.”
Ya memang itu yang aku lakukan. Aku melempar diriku ke belakang, ke depan, lalu mengambil jarak darinya sebentar. Lalu berkata, “itu Aku.”
Masalah panggilanku tidak bersumber dari manapun. Oleh siapapun. Atau apapun. Masalahnya ada dalam dasar hatiku. Ada pada sisi jiwaku. Apa pada pinggir pikiranku. Pada pusat tubuhku. Pada motifku. Pada keputusanku. Ya keputusanku. Sebab dimana hatiku berada, di situ hartaku.
Pada sebuah ujung refleksi diri yang aku lakukan menghasilkan sebuah jalan buntu. Sebuah tembok. Apakah harus melompat meski ada kawat duri, atau harus menjebolnya dengan linggis. Pada pinggirnya ada jiwa yang gelisah sebab hasrat dipendam-pendam.
Poros soal senjakala itu terletak pada alam bawah sadarku. Dalam tahun-tahun terakhir semua itu terperam. Dan saatnya semua diledakan. Lantas aku membuka takdir baru.
“Jangan maju kalau anda tidak mau, atau anda akan sangat menderita,” kalimat iu bak tangga yang menghantam ubun-ubunku.
Saat senjakala biara. Aku memegang tangan si pastor. Mengucap maaf disusul terimakasih karena sudi mendengarkan meski aku telah menjadi tersangka. Tanpa memberi titik pada akhir kalimat aku meninggalkan ruang itu.
“I have to go out, quit… ”kataku kuat dalam hati. Itu simpul akhir. Lalu aku ayunkan langkah menuju gua Maria tuk berdoa rosario.
“I’ve to go out. Go out. Out. Out there. Right now. Out. Out. Quit the game.” Aku bak pecundang yang terus merenungi kekalahan. Kata-kata menjauhkan suasana doa dari ruang bathin. Out now. Quit now!!! The game is over.
Ada takdir dibalik kesimpulan ini. Aku lalu menghubungi Rumah. Namun tak ada balasan. Aku meminta saudara tertua mengeluarkan suara tapi tak ada respon. Aku berbicara dengan kawan seperjalanan namun kutemukan hanya sebuah kotbah pendek yang membosankan.
Aku memandangi pakian-pakaian, rak buku, data-dataku. Diam. Terpekur. Tak ada komentar. Sebab besok mungkin semua akan ditaskan, digarduskan, bahkan dibakar.
Kuambil secarik folio bergaris, kemudian kutulis sebuah surat kepada Seseorang yang menembus Seseorang. Intinya satu. I decide to leave.
Selamat tinggal ruang penatku. [end]
Menjelang Natal 2010

Rumah Kata-Kata

Posted on 26 Desember 2010, in ARTIKEL, CERPEN, Masalah sosial, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: