Cerpen: Aisyah, sekeping harapan di balik jubah Oleh Rofiantinus Roger oleh Rofiantinus Roger pada 08 Desember 2010 jam 12:35

Kun fa ya kun. Yang terjadi terjadilah.  5 bulan Sudah aku menjalankan Tahun Orientasi Pastoral  di Paroki Bunda Kaum Miskin. Paroki ini jauh dari kota keuskupan. Waktu yang ditempuh kalau hendak ke kota atau sebaliknya yakni 13 jam perjalanan. Gereja paroki ini terletak di bawah kaki bukit menghadap laut biru. Di sini aku bekerja bersama pastor  parokiku yang bernama Rm. Ardi  berumur 52 tahun dan seorang pastor muda yang baru ditahbiskan bernama Rm. Ikus, 27 tahun. Mereka semua bersemangat dan energik. Dalam tugas mereka sungguh menghayati apa arti kehadiran seorang rasul di daerah pesisir ini.  Umat Katolik dan Muslim seimbang dalam jumlah, meski konsentrasi pemukiman berbeda-beda dan terpencar.

Orang Katolik di sini identik dengan orang gunung yang mata pecahariannya bertani. Mereka ini disebut-sebut sebagai penduduk asli, tuan tanah. Sementara orang Islam kebanyakan berasal dari; suku Bugis, Bima dan orang Buton. Mereka menguasai daerah pesisir. Mayoritas pekerjaan mereka adalah pedagang di pasar dan nelayan. Secara ekonomis mereka lebih sejahtera ketimbang orang gunung.

Namun, ternyata agama bukanlah penghalang untuk bergaul. Ada beberapa keributan kecil. Namun itu hanya terjadi di antara anak-anak jahil yang suka nongkrong di pasar inpres dan di pelabuhan ikan.

Di sini kami berkarya dalam bidang pelayanan pastoral baik itu yang bersifat sakramental maupun karya sosial misalnya pendidikan. Kami bekerja di sebuah sekolah dari tingkat SMP sampai SMA yang bernama Sekolah St. Theresia dari Kolkata, karena didirikan pas saat mangkatnya ibu Theresa. Aku bertugas di sekolah ini sebagai pendamping di asrama putera/i  merangkap guru musik, guru agama Katolik dan pendidikan kewarganegaraan.

Aku sering ke pesisir, namun bukan sekedar pelesir. Itu karena Pastor paroki menugasiku untuk membantu mengajar di Madrasah Aliyah sebagai pengajar musik. Rupanya kaum muslimin juga ingin belajar membaca not dan piano. Yang memintaku adalah Haji Muksin , yang menjadi pembina kepala sekolah.

Hubunganku dengan anak–anak madrasah sangat akrab. Mereka sering memanggilku dengan sebutan  ka’e Fian artinya kakak Fian. Namaku Frater Belarminus Alfian Pratama. Aku juga sering makan di rumah-rumah meraka. Mereka juga tidak mengharamkan aku sebagai orang kafir sebagaimana yang sering disalahpahami. Di situ aku bisa belajar sedikit demi sedikit budaya pesisir, kebiasaan Shalat, Wudu, rukun Islam, rukun iman, memahami bahasa Arab meski patah-patah dan belajar Qasidah. Maksudku bukan untuk masuk menjadi muslim, namun untuk lebih memahami mereka, karena konflik sering dimulai dari kesalahpahaman.

Di sepanjang  pemukiman pesisir, aku tidak menemukan kata benci, karena daerah ini sungguh ingin dijadikan Dar Al-Islam, sebuah rumah damai oleh penduduknya.

Selain dekat dengan Haji Muksin, aku juga sering berkunjung ke rumah Haji Imran. Dia memiliki usaha dalam bidang jual-beli ikan yang sangat sukses. Boleh di bilang ia merupakan saudagar sukses di pemukiman itu. Rumahnya hanya 10 meter dari Masjid Al-Rahman. Di sana aku kenal Aisyah. Gadis itu berparas ayu. Wajahnya oval dan segar, bersih dan putih. Mungkin karena percampuran antara Bugis dan Bima sehingga wajah begitu rupawan.

Aku sering bicara dengan Aisyah. Pak haji juga tidak marah, karena aku bicara padanya sebagai guru dan murid. Aku mengajari di cara bermain piano, membaca not dan melatihnya mengoperasikan komputer. Aku sangat hati-hati berdekatan dengannya, apalagi menyentuh tangannya, karena dalam Islam haram hukumnya untuk menyentuh perempuan yang bukan mukrimnya. Tapi, hubungan itu tidak kaku. Bahasa mata selalu mengakrabkan bahkan bisa menerobos sampai ke sudut-sudut hati. Dalam relung hati tersedia ruang untuk merajut kasih universal yang tak mengenal batas. Di situlah kami bertemu.

“Ka’ Fian, mengapa mau jadi romo, kan tidak bisa punya istri?,” katanya suatu ketika.

“Aku mengikuti arah hati menuju Yang Memanggil.. Syah.”

“Masya’allah…ka…Allah ingin manusia itu berkembang, beranak cucu ‘kan?”

“Syah…di agamaku, para imam harus hidup wadat supaya lebih utuh dalam melayani sehingga tidak bercampur dengan urusan-urusan duniawi, hanya tugas pelayanan kepada Allah dan umat tok…”

Aisyah tak puas dengan jawabanku. Namun aku meyakinkannya bahwa kalau saja dia belajar agama katolik pastilah ia akan paham. Mendengar itu ia hanya senyum-senyum saja. Makin lama, aku makin dekat dengan Aisyah. Hmmmm. Ada sedikit geteran di dada yang menunjukan bahwa hasratku berbicara. Namun, aku selalu mengingatkan diri bahwa aku seorang frater.

Menurutku Aisyah lebih dari sekedar cantik. Tapi ia muslimah yang indah. Indah sekali. Wajahnya berseri menawan. Tak terpancar kesenduan darinya. Kecantikannya bukan terletak pada kulit muka, tapi jiwanya, hatinya. Aku bertanya, “Syah…apa rahasia  di balik kecantikanmu?” jawabannya singkat. Syukur dan gembira. Apapun bentuk hidup dan jalannya, manusia wajib bersyukur dengan begitu ia dapat menambatkan harap pada Allah. Allah adalah sumber kegembiraan setiap insan.

Meski sering ke pesisir, namun aku tak akan lupa bahwa aku frater top di sini. Aku mengikuti semua kegiatan di komunitas pastoran seperti misa pagi, kerja, makan bersama dan doa pribadi. Tugas mengajar, mengunjungi umat, mengantar komuni, berkatekese,  aku lakukan dengan sungguh. Suatu ketika ada gosip tidak enak tersangkut di telinga. Gosipnya begini: Frater suka sama anak haji dan mau masuk Islam.  Gosip itu tersebar subur di antara anak-anak SMP dan SMA  St. Theresia. Bahkan di kalangan umat cerita itu lebih parah. Ada yang mengusulkan ke Rm. Adri supaya aku jangan mengajar lagi di Madrasah.

“Frater…kamu harus periksa motif kamu pergi ke madrasah.” Kata Romo Adri.

“Romo, aku ke sana tuh murni untuk belajar dan untuk membagi keterampilan yang aku miliki dengan mereka, apalagi romo sendiri kan yang minta?”

“Ya…itu betul. Persoalannya saya sering mendapat sms dari umat kita bahwa frater suka sama Aisyah, anak Haji Imran. Ada yang memergoki frater berdua-duaan dengan gadis itu di pantai. Kata mereka frater memegang tangan Aisyah. Hati-hati fr, ini bisa menimbulkan masalah. Ada baiknya frater berhenti dulu mengajar di sana.”

“Kalau itu yang terbaik romo, maka aku ikut.” Kataku  sambil menunduk kecewa.

Aku mensheringkan ini dengan Rm. Ikus tentang siapa itu Haji Imran, Aisyah, dan anak-anak Madrasah. Anehnya, Romo Ikus bukannya mendukungku, malah menyalahkan aku karena menyalahgunakan kesempatan saat mengajar di Madrasah. “Frater…ingat di sini rentan sekali konflik, kalau frater   harus hati-hati, umat kita banyak yang tidak suka. ”

Aku mengalah. Semua tidak mengerti, kecuali diriku sendiri. Mungkin juga pengertianku juga sebuah kekeliruan. Saat itu panggilanku berada dalam masa krisis. Jika begini, lebih baik keluar saja.

Aku memikirkan bagaimana, respon Asiyah dan keluarganya jika aku berhenti begitu saja mengujungi mereka. Bagaimana pula dengan anak-anak madrasah? Bingung. Terpaksa aku harus berbohong. Aku sms ke Aisyah bahwa tugasku di madrasah sudah selesai, karena hanya 1 semester.

Hubunganku dengan Aisyah tidak boleh berakhir. Aku sudah tersandera dengan keindahan perempuan itu. Dalam wajahnya aku menemukan harapan hidup, sebuah optimisme, bukan kemurungan. Dalam dirinya aku temukan sosok muslimah yang sungguh Islam.

Untunglah ada hp, jadi aku masih bisa berhubungan dengan anak-anak madrasah termasuk Aisyah. Mereka juga paham posisiku dan tetap memanggilku sebagai ka’e mereka.

***

Suatu hari aku nekat ke pantai untuk menemui Aisyah. Aku turun seperti biasa dengan menggunakan motor Win dan langsungi menyambangi madrasah. Di sana aku bertemu Hasan. Dia memberitahu bahwa Aisyah sedang saki demam. Aku langsung meluncur ke rumahnya. Di sana aku melihat dia sedang berbaring di temani ibunya, Haja Aminah.

“Syah…kamu tidak apa-apa?”

Dia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Itu senyum terindah yang aku dapatkan seumur hidupku. Perempuan itu sungguh indah. Kedatanganku telah menyembuhkannya dari sakit. Kemudian, aku mengajaknya ke pantai untuk melihat laut dan berbincang. Ibunya memberi izin. Saat itu pak haji masih di kota.

Di jalan menuju pantai aku memegangi tangannya yang halus. Aku rasakan getaran keperawanan yang melingkari aura tubuhnya. Hatiku juga bergetar. Ada percikan-percikan gairah bermain-main. Aku menatap matanya. Menyelaminya secara dalam di saksikan laut dan pasir putih serta pohon bakau. Di dalam mata itu aku menemukan gairah yang selama ini aku pendam-pendam.

Sekarang saatnya gairah itu memuncrat. Spontan saja aku mengecup bibir Aisyah. Saat itu tak ada lagi benteng aturan agama dan moralitas palsu. Yang ada getaran cinta dua anak manusia. Beginilah kalau api-dan api bertemu. Tak ada yang dapat memadamkan gairah anak perawan dan perjaka, bahkan letusan gunung berapi pun., bahkan tsunami sekalipun.

Kami berpelukan di bawah matahari. Saling menukar gairah dan kehangatan tubuh. Aku usap jilbabnya yang menutup rapih rabut yang begitu harum. Aku tenggelam dalam kehangatan Aisyah. Aku masuk menyelami jiwanya yang perawan dan belum disentuh laki-laki. Geliat dua anak manusia semakin menjadi-jadi  di bawah panas matahari.

Aisyah merasa aman dalam pelukanku. Aku menciumi bibirku berulang-ulang kali. Aku lemah dan jatuh ke lembah nikmat. Seperti firdaus saja rasanya. Nikmatnya melebihi apapun. Ohhh.

Tiba-tiba!!!!!!! “Hoii…..”

Datang sekelompok pria berkopiah dan berbaju putih berteriak. “Maksiat…..Maksiat…bangsat….bajingan….berani-beraninya kamu mendekat anak haji Imran….jahanam…jahil..kena azhab kau.” Mereka datang dengan parang, pentungan dan kunci roda. “Ka….lari …tolong, cepat…”pinta Aisyah.

Aku tak mau lari. Aku diam mematung di tempat sementara Aisyah di samping. Tanpa banyak tanya , mereka langung memukuli, menendangi dan mrobek-robek bajuku. Aku diludahi dihina dan dihempaskan ke pasir. Mukaku dibenamkan di air laut. Kepalaku diinjak. Jahanam. jahil. Bangsatttt.

“TOLONG…TOLONG,” aku berteriak. Mereka malah memukuli semakin menjadi-jadi.

Tolong……tolong……..tolong…….ngngnng. Tolonggggggggggg.

“Alfian….Fian..bangun, kamu mengigau,” Romo Ikus membangunkan aku. Huft. Padahal aku hanya bermimpi. Aku memerika mukaku, dadaku, kakiku. Semuanya aman. Tak lecet. Wahalualam.

Aku hanya bermimpi. Masya’allah. Mimpi. Hanya mimpi. Hehehe.

***

Hari itu perta perpisahanku dengan anak-anak SMP dan SMA St. Theresia dari Kolkata. Kami turut mengundang beberapa tokok muslim seperti Haji Muksin dan Haji Imran. Waktu aku sendiri yang menjemput Aisyah. Kami menumpangi mobil paroki.

Sesampai di beranda pastoran orang-orang kaget termasuk para murid dan  situ. Aku mendorong Aisyah di kursi roda. Mereka baru tahu bahwa Aisyah itu gadis cacat. Ia lumpuh. Mereka juga baru tahu bahwa ia sangat cantik, bahkan melebih kecantikan puteri Indonesia. Wajahnya cerah. Bersih. Putih. Karena dalam kondsinya ia sangat dekat dengan Allah dalam do’a dan djikir. Ia lebih dari sekadar cantik. Tapi ia seorang perempuan yang indah. Indah sekali.

Aku terharu saat harus mengucap kata perpisahan. Banyak pengalaman aku dapat di sana, bersama umat Katolik maupun Islam. Semuanya kurangkai dalam kisah hidupku.

Aisyah  mewakili anak-anak Madrasah, mengungkap curahan hati. Mereka senang dengan karyaku di sana. Bahkan menganggapku sebagai saudara mereka yang sangat dicintai. “Kami tunggu 3 tahun lagi, ada seorang imam yang bersemangat, bertugas  di sini, merajut kasih dan harap  bersama kami, menuang asa membentang harapan bersama, Frater…kami tunggu..kami akan menenun stola dan kasula dengan tangan kami sendiri untuk ka’e…kami tunggu ka’e. ”

Terimakasih semua.

Terimakasih Aisyah. Dari engkau gadis, aku menemukan harapan. Bahwa apapun keadaan hidup, kita harus selalu bersyukur kepada Allah.

Kun fa ya kun. Yang terjadi terjadilah.

Wasallam.

Rumah kata-kata_Medio Desember 2010

Posted on 8 Desember 2010, in CERPEN, Masalah sosial and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: