STFK: SAYA TUNGGU FRATER KELUAR, oleh: Rofiantinus Roger

sendu

O  sanctisima, O piissima, Dulcis Virgo Maria! Mater amata, intermerata, Ora, ora pro nobis, ” demikian senandung lagu penutup Ibadat Malam terdengar dari kapela para frater. Sehabis ibadat malam, aku dan temanku Ebed duduk-duduk di bawah pohon Nimba di belakang gedung seminari sembari menyaksikan lampu-lampu yang indah terang di sekitar Kampus Undana. Kami bercerita, membagi suka dan duka, menerawang awan menemukan Roh penyemangat hidup. Dalam kisah ini, aku mau menumpahkan isi hati Ebed, karena ia lebih dahulu menyodorkannya kepadaku sebagai seuntai rasa untuk dibagi.

Pengalaman itu hanyalah satu fragmen hidup seminarisku, hidup yang telah meninggalkan sejuta inspirasi. Aku masih mengingat kuat apa yang dikatakannya, perasaannya, bahkan harapannya untuk terus melangkah walau permainan hati sedikit membuat miring biduk panggilannya.

Aku telah mengundurkan diri sebagai seminaris 2 bulan lalu, karena merasa diri tak pantas untuk  mengikuti hidup sebagai calon imam. Aku lebih memilih menjadi orang luar yang bebas untuk mengungkap diri tanpa merujuk pada norma-norma yang kaku. Aku dipanggil orang sebagai ‘anak eks’, artinya eks-frater, mantan calon imam. Aku sendiri bernama Sergio. Lengkapnya, Sergio Sermento Diaz. Aku berasal dari negara tetangga, RDTL. Satu kampung dengan Raul Lemos, tambatan hati KrisDayanti, si artis itu. Di sini, dengan persetujuan Fr. Ebed aku akan menuturkan isi hatinya kepada dunia bahwa Ebed adalah lelaki yang penuh semangat untuk mencari Tambatan Hatinya. Maksud saya Dia. DIA huruf besar. Bukan si dia. Dia huruf kecil.

Memang ia pernah terlibat dalam aneka permainan mata, hati, dan perasaan dengan beberapa perempuan. Mereka akan dikisahkan sebagai orang-orang yang pernah menyenggol hatinya, bergerak di sekitar pusaran hatinya, bahkan ada yang sampai mau mematahkan panggilannya untuk menjadi pastor.

Ebed tak bermaksud membual kisah pribadi atau sengaja membuat sensasi. Tidak. Ia hanya mau menyingkap ombak yang mewarnai pelayarannya. Ia hanya mau mengungkap seekelumit rasa yang menjadi pergulatannya sebagai seorang laki-laki. Ebed tak hendak memanfaatkan perasaan untuk dipermainkan, kemudian diartikulasikan dalam kata-kata. Itu terlalu kasar dilakukan. Ia hanya ingin membuka jendela hati bagi masa lalu, masa sekarang, bahkan masa depan yang menjadi tenunan perjalanan hidup.

Ebed seorang teman yang baik. Tenang dan bijaksana adalah bagian dari pembawaannya. Ia memiliki wajah oval yang cukup rupawan. Dia rajin dan bersemangat. Terbuka berelasi dengan semua orang tak terkecuali lawan jenis. Dia juga suka menulis. Namun, hati-hati jangan salah berkata-kata dengannya. Bisa jadi kata-kata anda sendiri akan menjadi racun yang mematikan diri sendiri. Kata-kata Ebed sering kali pedis dan tajam menusuk, seperti jarum, apalagi kalau ia  sedang marah. Satu yang kusuka, dia bergaya cukup unik, tak suka meniru, dan sopan. Ebed, ebdedd…

Malam itu aku bertanya, “Bed…siapa-siapa sih yang menurut kamu pantas dijadikan penghuni hati untuk kita sebagai seorang seminaris?”

“Hehehehe… pertanyaan yang terlalu menusuk kawan e. Hehehe. Jujur, tak mudah menjawab pertanyaan itu.”

“Kenapa fren?”

“Soalnya, menurut Pater pembimbing, di hati setiap seminaris tidak boleh ada yang lain kecuali JenMar. Kalau tidak akan sesak, kacau, dan runyam. Bagiku, sulit untuk menetralkan hati sebagai laki-laki. ”

“Apa itu Jenmar, teman?”

“Hehehe..Jesus n Maria, bro.” Kami terkekeh sama-sama.

“truss , selama ini kau tak pernah jatuh cinta ko?”

“Hehhe…pernahlah… pikir aku sudah jadi malaikat ko. Mungkin malaikat juga bisa jatuh cinta. Tapi tak terjatuh karena cinta. Bukan jatuh cinta sih sebenarnya, Itu cuma permainan hati, bro. Ada 5 perempuan orang yang membuatku merasakan suatu hawa permainan hati. Walau hanya senggal-senggol saja. Tapi, mereka cukup meninggalkan narasi yang melekat di hati. Ciehhhh.”

“Kalau begitu, cerita do.”

 

***

 

Zri, si gadis berkerudung yang alim.

Gadis ini merupakan teman SMA. Tepatnya adik kelas Ebed sewaktu ia mengenyam pendidikan sekolah menengah atas. Berparas cantik dan berpenampilan tidak suka cari perhatian adalah ciri khas gadis ini. Ia muslim. Berasal dari daerah terpencil di bagian utara kota Ebed. Namanya Zri. Dia gadis yang alim karena tamatan madrasah menengah. Ebed sangat menyukai gadis itu karena wajahnya yang seperti ibu Ebed. Banyak puisi dari yang gombal sampai yang real dikirim Ebed untuknya. Banyak usaha dilakukan untuk sekedar bertemu walau hanya untuk saling menikmati wajah satu sama lain. Ebed bilang, dia sungguh tergila-gila pada Zri, sampai hari-hari hidupnya dilalui hanya untuk melamuni gadis itu. Di ruang belajar, di jalan ke sekolah, di kelas, bahkan di atas kloset pun selalu ada waktu untuk mencenungi nama itu. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Apakah ada adegan romantis seperti di dalam sinetron? Tidak. Jawab Ebed. Sampai sekarang ia menyesal karena belum pernah sekalipun ia mencium kening gadis itu. Hehehehe. Aku terkekeh. Aku tanya mengapa. Rupanya ketika Ebed selalu punya niat yang anah-aneh untuk Zri, dadanya selalu mendebar kencang. Jantungnya seolah-olah akan lepas dari tungkainya. Dia bilang mungkin Roh Kudus memberi sinyal untuk jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Jadi, kisah cinta Ebed dan Zri bukannya biasa tapi luar biasa. Mana ada pacaran hanya yang begitu-begitu saja sekarang. Itu pikiran Ebed dulu. Sekarang dimana gadis itu? Semenjak Ebed memilih masuk seminari, rupanya hubungan dengan gadis itu makin hari makin dingin, apalagi Ebed  sempat melirik ke salah satu teman kelasnya, yang padahal hanya main-main saja. Ebedpun tamat lalu lanjut ke seminari. Mulai saat itu komunikasi keduanya putus. Sampai pada suatu waktu mereka saling menghubungi tapi tak sehangat dulu. Rupanya gadis itu sudah meninggalkan cinta pertama yang aneh itu. Zri kini menjadi calon perawat di Pulau Sulawesi. Sesekali dia muncul di FB namun Ebed tak lagi berkontak dengannya. Dia hanya satu dari teman di FB.

 

Nirzaskia, perempuan merobek hati.

Ebed hidup sebagai seorang seminaris yang bersemangat dan penuh harap untuk berkembang dalam olahraga, menulis, pengetahuan, pergaulan, dan iman. Ia menemukan hawa baru di Kupang. Kupang kota panas dan kota karang. Seminari tempat studi Ebed dekat dengan sebuah asrama puteri yang di kelola para suster. Rupanya suatu hari Ebed melirik ke salah satu gadis yang gayanya begitu menor dan cari perhatian. Ebed awalnya tak bermaksud apa-apa. Hanya untuk tahu nama saja. Apalagi si gadis mengaku satu daerah dengan Ebed. Hehehe. Kebetulan. Semakin banyak kawan akan semakin mudah memperluas pikiran, kata Ebed. Niat awal sekedar kawan namun berujung pada gejala perasaan. Rupanya Ebed, yang baru mulai jadi seminaris, agak memainkan hati mengikuti lenggak-lenggok gadis itu. Ebed mengalami suatu yang aneh. Dia selalu menunggu gadis itu lewat di depan seminari. Baginya, cukuplah melihat dia lewat dan satu hari sudah aman. Hehehe. Lalu ia buat suatu yang agak aneh. Dia mengirimi gadis itu sebuah buku rohani. Dan menuliskan kata-kata yang masih ia rahasiakannya hingga kini. Apa isinya? RHS, jawab Ebed. Dalam bahasa Ebed, gadis itu telah merobek hati. Kata-kata yang lebay menurutku. And then? Rupanya gadis itu tidak terima dengan baik. Ia minta konfirmasi apa maksud pemberian Ebed. Tapi si Ebed hanya pasang aksi cuek supaya dikatakan cool. Karena Ebed terus-terus cuek, maka tersebarlah gosip di asrama itu bahwa Ebed naksir setengah mati dengan gadis itu. Sampai-sampai teman satu seminari menangkap berita itu, lalu menambah sedikit bumbu. Hehehehe. Buntut dari permainan hati ini adalah kekonyolan. Gadis itu merobek pemberian Ebed dan membuangnya ada malam tahun baru. Dari situ Ebed tak berani lagi melirik satu pun anak asrama itu, meski hanya untuk berkawan. Gadis itu akhirnya pindah ke tempat yang lain. Sejak saat itu Ebed  tak lagi melihat batang hidungnya. Pertemuan terakhir adalah pada saat gadis itu mengadakan adegan ciuman dengan seorang laki-laki saat Ebed lewat di pertigaan, namun Ebed terus jalan lewat dengan reaksi biasa-biasa saja. Menurut kabar terakhir, gadis itu tewas bunuh diri karena cintanya tak direstui oleh ortunya. Ia telah menamatkan kuliah dan kembali ke daerah asal. Namun malang, dia memilih pergi dengan gantung diri. Ebed pun enggan berkomentar. Ia hanya berdoa untuk keselamatannya.

 

Elsa, teman sms.

Ada satu gadis yang agak unik menurut Ebed. Gadis itu dijumpai Ebed di pantai Lasiana saat berpiknik bersama teman-temannya. Cantik dan menawan, itu yang tampak dari luar. Matanya menarik siapapun yang melihat. Dia mahasisiwi bidang peternakan di salah satu universitas di Kupang. Elsa, itulah namanya. Waktu ketemu pertama kali di pantai itu, Elsa bertanya mengapa Ebed mau masuk seminari padahal tempat kuliah sekarang banyak dan sangat menjanjikan. Ebed bilang bahwa ia mau mengalami hidup yang agak lain. Tapi apa gadis itu menjaring hati Ebed? Rupanya ya. Pertama kali bertemu mereka saling menukar nomor Hp. Padahal di seminari sangat tegas aturan yang melarang penggunaan Hp. Ebed justru diam-diam memakai Hp dan terus menghubungi gadis itu. Akibatnya, hanya lewat kata-kata sms, mereka seolah-olah merasa saling menyayangi, padahal rasa itu tipis setipis kulit bawang, dan dangkal sedangkal air di dalam cangkir. Mereka jarang bertemu kontak wajah ke wajah. Hanya 2 kali  Ebed ke kos perempuan itu. Ebed merasa ada yang aneh. Kok lewat sms bisa menghubungkan dua hati. Padahal kata-kata sms itu bisa multitafsir bahkan sering bisa disalahpahami. Hmmmm. Ebed berhenti menggunakan Hp. Itu bukan karena keinginan sendiri, tapi karena Hp-nya diamankan oleh pembina seminari agar tidak mengganggu situasi studi, kerja, dan doa. Menurut para pembina dengan menggunakan Hp konsentrasi seminaris akan terpecah akibatnya hasil studi merekapun kacau. Jadi,  keputusannya dilarang menggunakan Hp. Mulai dari situ komunikasi antara Ebed dan Elsa terputus. Namun, perempuan itu tetap terkenang sebagai salah satu pemain di arena hati, meski hanya senggol-senggol saja. Dia tak lebih dari teman sms.

 

Gabriela, seorang perawat.

Satu gadis lagi yang sempat tertambat di hati Ebed. Namanya Gabriela. Perempuan itu dikenal lewat sepupunya yang bekerja sebagai perawat di RSUD. Waktu itu mereka berpapasan di Gramed. Entah mengapa Ebed menyatakan dengan polos bahwa gadis itu menarik hatinya. Bukan karena wajahnya atau gayanya. Tapi karena kerendahan hatinya. Ebed suka kesederhanaanya. Hanya itu. Ebed juga tertarik dengan profesinya yang memberi diri untuk melayani orang sakit. Ebed sempat membolos dari tempat kuliah padahal waktu lagi ada pelajaran Metafisika, hanya untuk menemui perempuan itu di RSUD. Hehehe. Gila bener. Apa yang dilakukan Ebed waktu itu? Ia memberi perempuan itu sebuah gelang yang berlingkar ornamen para kudus. Rupanya Ebed tidak bermaksud lain. Ia ingin hanya berkawan dengan perempuan itu. Namun setelah aku korek lebih dalam, rupanya Ebed juga memainkan hati secara diam-diam dengan perawat itu. Saat ada seorang teman yang sakit dan harus opname di RSUD, Ebedlah orang pertama yang mengangkat tangan untuk pergi menjaga. Hehehehe. Di sana mereka bisa bertemu, bercerita, dan saling melihat. Menurut Ebed, perempuan  itu mau merawat hatinya. Namun hubungan itu berjalan begitu-begitu saja. Kabar terakhir, perempuan itu pergi ke Jawa untuk melanjutkan S2 dalam bidang keperawatan. Sekarang, dia hanya salah satu teman fb Ebed. Tak lagi ada permainan hati.

 

Yuanita, seorang wanita melankolis.

Murung. Sedih. Itu kesan yang ditangkap Ebed dari wajah perempuan itu. Ia menjumpainya ketika mengadakan asistensi di sebuah paroki. Gadis itu mau berkenalan dengannya dan meminta Ebed  mendengar curhatnya. Karena Ebed memang seorang pendengar yang baik, maka telinganya ia gunakan betul untuk mendengar gadis itu. Ebed, kasihan mengapa gadis belia itu sungguh naif dalam melihat hidup. Hmmm. Sebagai seorang yang juga belajar psikologi, ia mencoba menerapkan teori bagaimana mengatasi rasa pesimis dalam hidup dan bagaimana caranya berteman dengan orang melankolis. Dan ternyata Ebed berhasil menjadikan perempuan itu menjadi orang yang suka tertawa. Bakat lawak Ebed digunakan untuk membuatnya menjadi lebih bersemangat. Tiap kali Ebed mengunjungi paroki tempat gadis itu, ia selalu diajak ke rumah mereka. Meski hanya untuk bercerita, berbagi, makan bersama keluarganya, Ebed sungguh merasa bahwa ia memiliki keluarga baru di Kupang. Ebed sampai-sampai dianggap sebagai salah satu anak dari keluarga itu, karena mereka tidak mempunyai anak laki-laki. Ebed, dianggap sebagai saudara Yuanita. Namun, pada suatu hari entah karena alasan apa, Yuanita membongkar suasana hatinya, bahwa dia telah menyukai Ebed dan menginginkan dia menjadi kekasihnya. Ebed kaget. Kok’ Yuanita menjadi begitu padahal Ebed hanya mau menjadi saudara baginya. “STFK, saya tunggu frater keluar,” kata Yuanita. Ebed seperti orang kebakaran jenggot. Diam. Tak banyak komentar. Bagaimana mengatasi perasaan itu, dan bagaimana mengontrol hatinya agar tidak hanyut dalam banjir perasaan? Ebed lebih memilih merenung. Apa yang sebenarnya terjadi. Ia mau menjadi pastor, pelayan umat. Apakah ia harus keluar gara-gara perempuan itu? Hmmmm. Ternyata masalahnya pada hukum perjumpaan. Semakin sering berjumpa, maka akan berpotensi menimbulkan gejolak perasaan. Ebed harus rasional. Ia harus menghindari pertemuan dengan Yuanita. Itu jalan yang terbaik. Sampai sekarang Ebed, tak lagi bertemu perempuan itu.

 

***

Itulah kisah Ebed bersama para perempuan yang sempat berkitar di pusaran hatinya. Dari semua itu ia tetap kuat kok dalam melanjutkan pilihannya. Sementara aku, Sergio Sermento Diaz hanya bisa mengagumi teman itu karena ia betul mengalami bagaimana bergejolak sebagai laki-laki. Sementara, aku keluar dari seminari karena belum mengalami gejolak itu. Justru sebagai orang luar aku mau bereksperimen dengan itu.

Bagi saya awal dari cinta adalah eksperimen seperti dalam ilmu kimia. Jika ada persenyawaan, maka muncullah kekuatan. Jika ada gaya tolak-menolak muncullah kelemahan. Dan ternyata aku gagal, gadis yang aku harapkan untuk menjadi kekasihku sewaktu masih di seminari, ternyata akan menikah dengan laki-laki lain. Hmmmmm. Aku tak mau sakit hati. Aku harus berpikir rasional. Perempuan itu bernama Vierra, berasal juga dari Timor Leste. Dia lebih memilih laki-laki yang memiliki pekerjaan yang menjanjikan ketimbang aku seorang eks seminari yang masih bergulat dengan kuliah, sampai aku mendapatkan gelar sarjana filsafat.

Hmmmm…..makasih Fr. Ebed, atas ceritanya. Maaf aku menuliskannya kembali. Bukan untuk menjelekan frater, tapi hanya untuk menyatakan bahwa Ebed, si laki-laki itu,  juga punya gairah, tapi gairah itu menjadi kekuatan untuk menemukan Tambatan  Hati yang adalah Cinta itu sendiri, dia SANG CINTA, Pulchurum Supremum. Sampaikan kata dalam hati, Dum Spiro Spero, selama masih bernafas, aku berharap. (End)

Posted on 6 Desember 2010, in CERPEN, PUISI. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: