Cerpen: “Golda ini bukan kata-kata biasa” Oleh: Rofiantinus Roger*

golda maressa

Golda Meir, seorang penerbang perempuan pertama di Israel. Perempuan yang gagah dan berani. Cantik sekaligus menakutkan. Tapi kesan itu tak terdapat dalam diri seorang Golda yang aku temui. Ia cantik. Pintar. Lembut. Rendah hati. Mudah diajak bicara. Baik untuk sekedar basa-basi ataupun berdebat. Namanya Golda Mareesa S. Aku menjumpai dia di lorong-lorong Hotel Olive. Waktu itu aku adalah utusan kampusku sebagai pendebat di ajang bergengsi propinsi NTT dalam lomba Debat Mahasiswa.

Kupang, Desember 2009. Setahun lalu. Di Olive. Kupang.

Kesan mata pertama. Apa yang terjadi dengan mataKu? Sebelah mataku? “Tapi sebelah mataku, yang lain menyadari, gelap adalah teman setia, dari waktu-waktu yang hilang, ” kata ERK. Mataku tak bisa berbalik menengok bebungaan Euforbia di Olive, sebelah mataku hanya tertuju pada perempuan berambut poning berjaket almamater kuning, lembut menyapa. Golda.

“Boleh kenalan ko?”

“Boleh ,” jawabnya.

“Alfiano.”

“Golda.”

Hmmmmm. Kesempataan ini tak aku sia-siakan. Setelah berkenalan pasti ada basa-basi, tentang asal, kampus, nomor kamar, nomor ponsel dan yang lainnya. Dia juga adalah utusan dari kampusnya untuk debat bergengsi propinsi NTT itu. Malam itu langsung kami, mencari tema untuk dapat dipersiapkan. Namun, sayang anggota panitia yang mengurus hal itu sudah pulang. Setelah sempat main kata dengan panitia beberapa anggota panita yang agak judes, kami berinisiatif untuk mengambil tema-tema itu di Kuanino untuk di foto kopi. Aku, Janu , Eni, dan Golda dalam satu mobil panther meluncur ke sana. Rupanya kami beruntung, orang yang kami cari ternyata juga sedang menunggu. Setelah dapatkan tema, kami langsung pulang. “Sekarang cari tempat foto kopi,” kata seorang teman. Wahaluallam, toko-toko tempat foto kopi di kota Kupang sudah tutup karena sudah pukul 11 malam.

Aku melirik ke arah Go yang sedang asyik-asyiknya mendengar lagu-lagu Naff. Meski suaranya agak fals namun dia fasih dalam mendaras syair lagu-lagu itu. Asyik ne cw. Gara-gara konser Naff di kupang Go harus kabur dari Alor, padahal waktu itu mereka masih berkegiatan di pulau magik itu. Demi Naff. Kegilaan Naff. Demikian Cerita Go. Aku mendengar saja.

Aku katakan sama Go, aku juga suka Naff. Suka sekali. Bahkan dalam mimpipun bernyanyi lagu Naff. Sampai-sampai mengigau lagu Naff. Kata-kata dan musik Naff sesuai dengan jiwaku. Jiwaku yang suka kesenduan, keteduhan, keterlemparan, ketersudutan, kegelisahan dan kesenyapan. Hmmmm. Ternyata dalam satu aspek aku dan Go bisa sambung satu sama lain. Dari situ percakapan menjadi hangat. Walau dalam hati aku agak malu, karena gadis memang itu terlalu….terlalu lembut dan manis. Aku takut dengan perempuan yang terlalu cantik. Takut mereka menjadi cepat bosan dengan wajahku atau mungkin mereka akan menertawakan wajahku. Karena terlalu polos. Mataku terlalu polos sehingga orang bisa tahu isi hatiku. Mataku sering menelanjangi tubuhku. Makanya aku menjauhi perempuan yang terlalu……..terlalu manis. Tapi untuk Go tidak. Dan tidak untuk saat itu.

Untunglah malam itu ada teman yang memiliki mesin foto kopi dekat hotel, jadi tema-tema itu bisa diperbanyak dan dibagi untuk semua peserta Pisma NTT. Alhamdulillah.

Aku tambah bersyukur lagi ketika berhasil mendapat nomor hp Go. Hehehhe. So, bisa terjadi komunikasi antar-tembok kamar nehhh. Paling tidak sms bisa membuka jalan lain perkenalan. Hehehe. Kata-kata sms tak menyentuh kekakuan. Bisa bermain kata. Bisa membuat humor pendek. Hmmmm. Rupanya dialog  lewat sms lebih efektif. Bisa curhat. Bisa lebih leluasa.

Malam itu aku dan rekan-rekan dari Unwira tidak tidur terburu-buru. Kami berdiskusi. Mencari bahan di internet. Saling memberi masukan dan kritik. Membagi tehnik debat yang baik dan sopan. Termasuk bagaimana membuat lawan lemas dengan gaya debat. Hehehehe. Kompetisi memang harus begitu.

“Hmmmm. Golda…cantik juga e,” kataku kepada seorang teman mahasiswa.

“ahhh…biasa saja. Cw seperti itu banyak di Kupang.”

“Banyak perempuan, tapi tak sama bro…kamu ingat lagu Padi, semua tak sama, tak pernah sama, apa yang kusentuh, apa yang kukecup, sehangat pelukmu, selembut belaimu, tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu…”

“hehhehhe..aku ngalah fren, but itu kan perasaan u saja. U harus obyektif dong. Di kampus kita ada yang lebih cantik dan bahkan yang paling cantik, kamu tau Freska kan? Yang miss NTT itu. Dia pernah setengah mati dengan aku lho…” kata temanku gombal.

“ahhhh….joak kaleee. Ogah percaya dehhh.  Cape dengar orang joak.”

Senyum sendiri. Berimajinasi sebentar. Lalu melihat ke jendela. Cup..cup…cup. Sebelum tidur aku menyebut nama perempuan itu bagai orang mistik yang menyebut kata-kata mitis. Rupanya perkenalan hari itu mengendap dalam dasar hati meski belum seberapa endapannya. Tak seperti endapan Lapindo yang pekat dan keras, endapan perasaanku bak seperti susu cair Benlutu. Masih cair bro.

Pada keesokan hari, restoran tempat makan pagi menjadi tempat yang ramai karena para peserta debat berkumpul sambil berbincang-bincang di sana. Ada percakapan yang serius adapula yang ringan. Kuperhatikan teman-teman dari Ledalero dingin-dingin saja. Rupanya mereka lagi jaga wibawa. Ciehhh. Sementara aku dan Janu sibuk mencari teman. Hehehe. Kesempatan itu memang kami gunakan sungguh untuk mencari kenalan-kenalan baru. Acapkali  aku memperhatikan Go yang duduk di sudut. Aku cari-cari kesempatan untuk bicara. Hmmmm. Aku dekati, rupanya dia tidak angker. Dia ramah bro. Lembut. Aku ajak bicara. Dan lumayan responnya bagus. Kuajak sedikit berdebat. Ternyata ia debat dengan sungguh-sungguh. Satu hal yang ia mungkin tak setuju sampai sekarang, karena aku mengatakan politik tubuh perempuan, perempuan dan politik tubuh, perempuan yang maju menjadi anggota legislatif hanya mengandalkan propaganda tubuh. Go marah. Ia tersinggung. Kata-kataku terlalu lebay. Dia mau murka, tapi tak jadi karena aku buru-buru minta maaf.

***

Debatpun berlangsung. Dua juri bersiap-siap. Ditambah dengan seorang moderator yang seperi muka pelawak Kadir, anggota srimulat itu.  Kami dapat undian pertama, melawan tim dari Ende. Mereka kuat sekali dalam berargumentasi. Aku sampai kelabakan menjawab soal yang mereka ajukan bahkan sampai patah-patah dalam berkata-kata. Padahal aku sering berdebat seperti Budiman Sujatmiko, politikus kesukaanku. Namun saat itu aku berbicara seperti jurkam yang kehabisan ide. Massya’allah. Namun jurus lain dipakai, yakni memancing emosi lawan. Hehehe. Rupanya mereka hanyut dalam gaya tim kami, sampai-sampai mengeluarkan kata-kata dan ekspresi yang tidak perlu.

Setelah  giliran semua tim selesai berdebat, maka tibalah saat-saat yang dinanti: PENGUMUMAN. Ada enam tim yang masuk babak final. Salah satunya tim kami. Meski kami mempunyai nilai yang rendah, nomor buntut, namun kami senang karena bisa mencicipi final. Sementara tim Go tidak masuk. Ada sedikit kekecewaan dalam hatiku, mengapa tidak bertemu tim Go. Padahal kalau saja bisa berhadapan, aku bisa terus melihat wajahnya. Wajah dalam aneka ekspresi. Hehehehe..aku lihat Go tidak kecewa. Dia cool-cool saja, mungkin karena dia memang sering ikut kompetisi. Jadi, menang dan kalah biasa-biasa saja baginya. Malah saat kami berdebat diputaran final, Go membantu kami dengan memberi masukan dan saran. Kami berjuang dengan baik pada babak final. Gaya debat, tehnik, isi debat, argumentasi kami siapkan dengan serapih mungkin. Waktu itu aku bicara bak Obama yang cool, atau seperti gaya sastrawan Aswendo yang santai. Lawan kami dari Sumba. Akhirnya kami harus puas  sebagai runner up. Kami selisih angka dengan Ledalero. Kami juara dua dan mereka juara satu. Tak apalah, yang  penting pengalaman. Dan yang lebih penting lagi, bisa berkenalan dengan Golda Mareesa.

***

Saatnya berpisah di Olive. Kompetisi berakhir. Ada suka ada kecewa. Ada senyum ada dahi berkerut. Berat hatiku meninggalkan Olive. Bukan karena kamarnya yang full AC , atau karena pelayan-pelayan hotel yang gempal dan seksi, namun karena: Naff, curhat, mata sendu, kulit putih, bola mata, kecanduan FB, debat, makan bersama, jalan sore, malu-malu, sms, marah, judes, perasaan. Kata-kata itu tak tersambung satu sama lain. Maknanya tercecer. Jujur saja, aku tak mau pisah dari perempuan itu. Hmmmm. Lemas karena harus pulang  ke markas Penfui. Aku ingin terus berdiskusi dengan Go. Berbicara dengannya hati ke hati. Karena saat itu aku sempat mendengar curahan hatinya, yang ia sampaikan juga dengan Vano Jaman, temanku. Hmmm. Sudahlah. Rasa bisa menguap. Namun, kenyataan hidup akan berbicara dengan keras dan jujur.

Kami kembali ke markas masing-masing. Yang dari Ledalero membawa piala kemenangan ke lembah Nita. Kami membawa piala sebagai runner up ke puncak Penfui.

Beberapa bulan kemudian, aku masih sempat berbicara dengan Go, entah lewat sms  atau fb. Pernah janjian ketemu namun batal lantaran hujan. Siallllll. Aku betah di markas Penfui sambil bergulat dengan banyak proyek hidupku, baik itu tugas kampus maupun karya kreatif. Hmmmm. Aku tak tahu, nomor hp Go sekarang. Kartu ponselku yang ada nomor Go lenyap. Sialll. Tak bisa lagi dehhh aku ber-sms ria dengan perempuan manis itu.

Kadang-kadang saja aku nongol di fesbuk untuk melihat update status dan mengintip aktivitas  Go, tulisan-tulisannya, foto-fotonya yang terbaru.

Baru-baru aku dengar dari Janu, Go memperoleh sebutan Summa Cum Laude di kampusnya, dia wisudawan terbaik. Dan kabar lain lagi dia sekarang menjadi guru pada sebuah sekolah swasta di kota ini. Baguslah kalau begitu. Aku bangga sama Go. GO……saya suka sama kamu. Sungguh.  Kamu pahamkan arti kata suka???? Suka adalah suka.

Desember, 2010. Rumah Kata-Kata

Malam senin saat aku cape di depan laptopku,

Aku melihat gambar perempuan di jendela kaca

Aku menengok keluar

Aku hanya menemukan bunga euforbia

Gelombang cinta

Dan bunga kaktus

Aku menumpahkan rasa berlimpa ruah pada daun-daun bebungaan itu

Namun perasaan  itu terpantul kembali menampar wajah sendu.(rgr)

Posted on 6 Desember 2010, in CERPEN. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: