Monthly Archives: Desember 2010

Detik-Detik terakhir seorang Calon Imam Oleh: Rofiantinus Roger

Saat senja kala di biara. Saat pikiran itu tak menentu seperti kuda liar yang berlari-lari semaunya. Perasaan tersudut bak debu-debu yang diusir angin ke sudut ruang. Tak ada waktu merenungi kata-kata bijak pelipur lara. Tak ada nyawa untuk berfilsafat tentang suasana hati yang hitam. Mood yang gelap.
Kucoba mengendapi semua sehingga kecemasan yang meremas dada menjadi lumpur-lumpur di dasar kegelisahan. Mustahil. Itu sia-sia. Imposible.
Saat senja kala di biara. Suara dua manusia terdengar di ruang tertutup bak interogator dan narapidana. Bak wartawan dan tersangka kasus maksiat. Ya. Seperti suara-suara itu berbalas. Seperti saling mempertahankan argumen. Tapi tidak. Tidak demikian sebetulnya.
Saat langit direbah gelap yang lama-lama makin tebal. Saat tak ada aura positif di wajahku. Saat itu aku berkonsultasi dengan pemimpin biara. Sang Delegatus.
“100 % anda tidak memberi diri bagi jalan religius,” kata Pater Pemimpin pelan tapi kedengarannya begitu menusuk.
“Anda mengalami jalan buntu,” kata-kata yang membuat aku tersudut.
“Iya…Pater memang demikian adanya..”jawabku. Selama beberapa waktu, ia mengurai daftar kelemahan-kelemahanku sebagai seorang calon imam. Aku terus mengatakan ya. Sebab tak ada argumentasi yang dapat mematahkan perkataannya. Bicaranya melumpuhkan mekanisme bela diri.
Kalimat besar pada percakapan itu dimulai dengan sesuatu yang mengguncang.
“Anda harus membuat keputusan yang kuat!” tegasnya.
Apatah daya. Itu kebenaran. Suatu ketaktersembunyian. Aletheia terbongkar. Kata-katanya melemahkan semua argumentasi yang coba aku bangun padahal aku seorang pendebat ulung. Aku tak kuasa membantah. Demikianlah kebenaran bersabda. Selanjutnya segala kelemahan-kelemahanku menjadi termuncrat, seperti usus Babi Hutan yang terburai keluar akibat parang pemburu. Segala rahasia yang terpendam dalam alam bawah sadar meledak keluar. Terbuka. Telanjang. Tak ada pakaian rasionalisasi. Senjakala mengurai semuanya menjadi bagian-bagian nudis yang tak dapat dipungkiri.
“Apa solusi anda untuk kebuntuan ini?” Ia bertanya sambil mengarahkan sorot matanya kepadaku.
“Pater…aku tidak menemukan solusi sekarang, tak satupun jalan keluar, satu-satunya aku harus melakukan refleksi diri.”
Ya memang itu yang aku lakukan. Aku melempar diriku ke belakang, ke depan, lalu mengambil jarak darinya sebentar. Lalu berkata, “itu Aku.”
Masalah panggilanku tidak bersumber dari manapun. Oleh siapapun. Atau apapun. Masalahnya ada dalam dasar hatiku. Ada pada sisi jiwaku. Apa pada pinggir pikiranku. Pada pusat tubuhku. Pada motifku. Pada keputusanku. Ya keputusanku. Sebab dimana hatiku berada, di situ hartaku.
Pada sebuah ujung refleksi diri yang aku lakukan menghasilkan sebuah jalan buntu. Sebuah tembok. Apakah harus melompat meski ada kawat duri, atau harus menjebolnya dengan linggis. Pada pinggirnya ada jiwa yang gelisah sebab hasrat dipendam-pendam.
Poros soal senjakala itu terletak pada alam bawah sadarku. Dalam tahun-tahun terakhir semua itu terperam. Dan saatnya semua diledakan. Lantas aku membuka takdir baru.
“Jangan maju kalau anda tidak mau, atau anda akan sangat menderita,” kalimat iu bak tangga yang menghantam ubun-ubunku.
Saat senjakala biara. Aku memegang tangan si pastor. Mengucap maaf disusul terimakasih karena sudi mendengarkan meski aku telah menjadi tersangka. Tanpa memberi titik pada akhir kalimat aku meninggalkan ruang itu.
“I have to go out, quit… ”kataku kuat dalam hati. Itu simpul akhir. Lalu aku ayunkan langkah menuju gua Maria tuk berdoa rosario.
“I’ve to go out. Go out. Out. Out there. Right now. Out. Out. Quit the game.” Aku bak pecundang yang terus merenungi kekalahan. Kata-kata menjauhkan suasana doa dari ruang bathin. Out now. Quit now!!! The game is over.
Ada takdir dibalik kesimpulan ini. Aku lalu menghubungi Rumah. Namun tak ada balasan. Aku meminta saudara tertua mengeluarkan suara tapi tak ada respon. Aku berbicara dengan kawan seperjalanan namun kutemukan hanya sebuah kotbah pendek yang membosankan.
Aku memandangi pakian-pakaian, rak buku, data-dataku. Diam. Terpekur. Tak ada komentar. Sebab besok mungkin semua akan ditaskan, digarduskan, bahkan dibakar.
Kuambil secarik folio bergaris, kemudian kutulis sebuah surat kepada Seseorang yang menembus Seseorang. Intinya satu. I decide to leave.
Selamat tinggal ruang penatku. [end]
Menjelang Natal 2010

Rumah Kata-Kata

Iklan

Cerpen: Aisyah, sekeping harapan di balik jubah Oleh Rofiantinus Roger oleh Rofiantinus Roger pada 08 Desember 2010 jam 12:35

Kun fa ya kun. Yang terjadi terjadilah.  5 bulan Sudah aku menjalankan Tahun Orientasi Pastoral  di Paroki Bunda Kaum Miskin. Paroki ini jauh dari kota keuskupan. Waktu yang ditempuh kalau hendak ke kota atau sebaliknya yakni 13 jam perjalanan. Gereja paroki ini terletak di bawah kaki bukit menghadap laut biru. Di sini aku bekerja bersama pastor  parokiku yang bernama Rm. Ardi  berumur 52 tahun dan seorang pastor muda yang baru ditahbiskan bernama Rm. Ikus, 27 tahun. Mereka semua bersemangat dan energik. Dalam tugas mereka sungguh menghayati apa arti kehadiran seorang rasul di daerah pesisir ini.  Umat Katolik dan Muslim seimbang dalam jumlah, meski konsentrasi pemukiman berbeda-beda dan terpencar.

Orang Katolik di sini identik dengan orang gunung yang mata pecahariannya bertani. Mereka ini disebut-sebut sebagai penduduk asli, tuan tanah. Sementara orang Islam kebanyakan berasal dari; suku Bugis, Bima dan orang Buton. Mereka menguasai daerah pesisir. Mayoritas pekerjaan mereka adalah pedagang di pasar dan nelayan. Secara ekonomis mereka lebih sejahtera ketimbang orang gunung.

Namun, ternyata agama bukanlah penghalang untuk bergaul. Ada beberapa keributan kecil. Namun itu hanya terjadi di antara anak-anak jahil yang suka nongkrong di pasar inpres dan di pelabuhan ikan.

Di sini kami berkarya dalam bidang pelayanan pastoral baik itu yang bersifat sakramental maupun karya sosial misalnya pendidikan. Kami bekerja di sebuah sekolah dari tingkat SMP sampai SMA yang bernama Sekolah St. Theresia dari Kolkata, karena didirikan pas saat mangkatnya ibu Theresa. Aku bertugas di sekolah ini sebagai pendamping di asrama putera/i  merangkap guru musik, guru agama Katolik dan pendidikan kewarganegaraan.

Aku sering ke pesisir, namun bukan sekedar pelesir. Itu karena Pastor paroki menugasiku untuk membantu mengajar di Madrasah Aliyah sebagai pengajar musik. Rupanya kaum muslimin juga ingin belajar membaca not dan piano. Yang memintaku adalah Haji Muksin , yang menjadi pembina kepala sekolah.

Hubunganku dengan anak–anak madrasah sangat akrab. Mereka sering memanggilku dengan sebutan  ka’e Fian artinya kakak Fian. Namaku Frater Belarminus Alfian Pratama. Aku juga sering makan di rumah-rumah meraka. Mereka juga tidak mengharamkan aku sebagai orang kafir sebagaimana yang sering disalahpahami. Di situ aku bisa belajar sedikit demi sedikit budaya pesisir, kebiasaan Shalat, Wudu, rukun Islam, rukun iman, memahami bahasa Arab meski patah-patah dan belajar Qasidah. Maksudku bukan untuk masuk menjadi muslim, namun untuk lebih memahami mereka, karena konflik sering dimulai dari kesalahpahaman.

Di sepanjang  pemukiman pesisir, aku tidak menemukan kata benci, karena daerah ini sungguh ingin dijadikan Dar Al-Islam, sebuah rumah damai oleh penduduknya.

Selain dekat dengan Haji Muksin, aku juga sering berkunjung ke rumah Haji Imran. Dia memiliki usaha dalam bidang jual-beli ikan yang sangat sukses. Boleh di bilang ia merupakan saudagar sukses di pemukiman itu. Rumahnya hanya 10 meter dari Masjid Al-Rahman. Di sana aku kenal Aisyah. Gadis itu berparas ayu. Wajahnya oval dan segar, bersih dan putih. Mungkin karena percampuran antara Bugis dan Bima sehingga wajah begitu rupawan.

Aku sering bicara dengan Aisyah. Pak haji juga tidak marah, karena aku bicara padanya sebagai guru dan murid. Aku mengajari di cara bermain piano, membaca not dan melatihnya mengoperasikan komputer. Aku sangat hati-hati berdekatan dengannya, apalagi menyentuh tangannya, karena dalam Islam haram hukumnya untuk menyentuh perempuan yang bukan mukrimnya. Tapi, hubungan itu tidak kaku. Bahasa mata selalu mengakrabkan bahkan bisa menerobos sampai ke sudut-sudut hati. Dalam relung hati tersedia ruang untuk merajut kasih universal yang tak mengenal batas. Di situlah kami bertemu.

“Ka’ Fian, mengapa mau jadi romo, kan tidak bisa punya istri?,” katanya suatu ketika.

“Aku mengikuti arah hati menuju Yang Memanggil.. Syah.”

“Masya’allah…ka…Allah ingin manusia itu berkembang, beranak cucu ‘kan?”

“Syah…di agamaku, para imam harus hidup wadat supaya lebih utuh dalam melayani sehingga tidak bercampur dengan urusan-urusan duniawi, hanya tugas pelayanan kepada Allah dan umat tok…”

Aisyah tak puas dengan jawabanku. Namun aku meyakinkannya bahwa kalau saja dia belajar agama katolik pastilah ia akan paham. Mendengar itu ia hanya senyum-senyum saja. Makin lama, aku makin dekat dengan Aisyah. Hmmmm. Ada sedikit geteran di dada yang menunjukan bahwa hasratku berbicara. Namun, aku selalu mengingatkan diri bahwa aku seorang frater.

Menurutku Aisyah lebih dari sekedar cantik. Tapi ia muslimah yang indah. Indah sekali. Wajahnya berseri menawan. Tak terpancar kesenduan darinya. Kecantikannya bukan terletak pada kulit muka, tapi jiwanya, hatinya. Aku bertanya, “Syah…apa rahasia  di balik kecantikanmu?” jawabannya singkat. Syukur dan gembira. Apapun bentuk hidup dan jalannya, manusia wajib bersyukur dengan begitu ia dapat menambatkan harap pada Allah. Allah adalah sumber kegembiraan setiap insan.

Meski sering ke pesisir, namun aku tak akan lupa bahwa aku frater top di sini. Aku mengikuti semua kegiatan di komunitas pastoran seperti misa pagi, kerja, makan bersama dan doa pribadi. Tugas mengajar, mengunjungi umat, mengantar komuni, berkatekese,  aku lakukan dengan sungguh. Suatu ketika ada gosip tidak enak tersangkut di telinga. Gosipnya begini: Frater suka sama anak haji dan mau masuk Islam.  Gosip itu tersebar subur di antara anak-anak SMP dan SMA  St. Theresia. Bahkan di kalangan umat cerita itu lebih parah. Ada yang mengusulkan ke Rm. Adri supaya aku jangan mengajar lagi di Madrasah.

“Frater…kamu harus periksa motif kamu pergi ke madrasah.” Kata Romo Adri.

“Romo, aku ke sana tuh murni untuk belajar dan untuk membagi keterampilan yang aku miliki dengan mereka, apalagi romo sendiri kan yang minta?”

“Ya…itu betul. Persoalannya saya sering mendapat sms dari umat kita bahwa frater suka sama Aisyah, anak Haji Imran. Ada yang memergoki frater berdua-duaan dengan gadis itu di pantai. Kata mereka frater memegang tangan Aisyah. Hati-hati fr, ini bisa menimbulkan masalah. Ada baiknya frater berhenti dulu mengajar di sana.”

“Kalau itu yang terbaik romo, maka aku ikut.” Kataku  sambil menunduk kecewa.

Aku mensheringkan ini dengan Rm. Ikus tentang siapa itu Haji Imran, Aisyah, dan anak-anak Madrasah. Anehnya, Romo Ikus bukannya mendukungku, malah menyalahkan aku karena menyalahgunakan kesempatan saat mengajar di Madrasah. “Frater…ingat di sini rentan sekali konflik, kalau frater   harus hati-hati, umat kita banyak yang tidak suka. ”

Aku mengalah. Semua tidak mengerti, kecuali diriku sendiri. Mungkin juga pengertianku juga sebuah kekeliruan. Saat itu panggilanku berada dalam masa krisis. Jika begini, lebih baik keluar saja.

Aku memikirkan bagaimana, respon Asiyah dan keluarganya jika aku berhenti begitu saja mengujungi mereka. Bagaimana pula dengan anak-anak madrasah? Bingung. Terpaksa aku harus berbohong. Aku sms ke Aisyah bahwa tugasku di madrasah sudah selesai, karena hanya 1 semester.

Hubunganku dengan Aisyah tidak boleh berakhir. Aku sudah tersandera dengan keindahan perempuan itu. Dalam wajahnya aku menemukan harapan hidup, sebuah optimisme, bukan kemurungan. Dalam dirinya aku temukan sosok muslimah yang sungguh Islam.

Untunglah ada hp, jadi aku masih bisa berhubungan dengan anak-anak madrasah termasuk Aisyah. Mereka juga paham posisiku dan tetap memanggilku sebagai ka’e mereka.

***

Suatu hari aku nekat ke pantai untuk menemui Aisyah. Aku turun seperti biasa dengan menggunakan motor Win dan langsungi menyambangi madrasah. Di sana aku bertemu Hasan. Dia memberitahu bahwa Aisyah sedang saki demam. Aku langsung meluncur ke rumahnya. Di sana aku melihat dia sedang berbaring di temani ibunya, Haja Aminah.

“Syah…kamu tidak apa-apa?”

Dia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Itu senyum terindah yang aku dapatkan seumur hidupku. Perempuan itu sungguh indah. Kedatanganku telah menyembuhkannya dari sakit. Kemudian, aku mengajaknya ke pantai untuk melihat laut dan berbincang. Ibunya memberi izin. Saat itu pak haji masih di kota.

Di jalan menuju pantai aku memegangi tangannya yang halus. Aku rasakan getaran keperawanan yang melingkari aura tubuhnya. Hatiku juga bergetar. Ada percikan-percikan gairah bermain-main. Aku menatap matanya. Menyelaminya secara dalam di saksikan laut dan pasir putih serta pohon bakau. Di dalam mata itu aku menemukan gairah yang selama ini aku pendam-pendam.

Sekarang saatnya gairah itu memuncrat. Spontan saja aku mengecup bibir Aisyah. Saat itu tak ada lagi benteng aturan agama dan moralitas palsu. Yang ada getaran cinta dua anak manusia. Beginilah kalau api-dan api bertemu. Tak ada yang dapat memadamkan gairah anak perawan dan perjaka, bahkan letusan gunung berapi pun., bahkan tsunami sekalipun.

Kami berpelukan di bawah matahari. Saling menukar gairah dan kehangatan tubuh. Aku usap jilbabnya yang menutup rapih rabut yang begitu harum. Aku tenggelam dalam kehangatan Aisyah. Aku masuk menyelami jiwanya yang perawan dan belum disentuh laki-laki. Geliat dua anak manusia semakin menjadi-jadi  di bawah panas matahari.

Aisyah merasa aman dalam pelukanku. Aku menciumi bibirku berulang-ulang kali. Aku lemah dan jatuh ke lembah nikmat. Seperti firdaus saja rasanya. Nikmatnya melebihi apapun. Ohhh.

Tiba-tiba!!!!!!! “Hoii…..”

Datang sekelompok pria berkopiah dan berbaju putih berteriak. “Maksiat…..Maksiat…bangsat….bajingan….berani-beraninya kamu mendekat anak haji Imran….jahanam…jahil..kena azhab kau.” Mereka datang dengan parang, pentungan dan kunci roda. “Ka….lari …tolong, cepat…”pinta Aisyah.

Aku tak mau lari. Aku diam mematung di tempat sementara Aisyah di samping. Tanpa banyak tanya , mereka langung memukuli, menendangi dan mrobek-robek bajuku. Aku diludahi dihina dan dihempaskan ke pasir. Mukaku dibenamkan di air laut. Kepalaku diinjak. Jahanam. jahil. Bangsatttt.

“TOLONG…TOLONG,” aku berteriak. Mereka malah memukuli semakin menjadi-jadi.

Tolong……tolong……..tolong…….ngngnng. Tolonggggggggggg.

“Alfian….Fian..bangun, kamu mengigau,” Romo Ikus membangunkan aku. Huft. Padahal aku hanya bermimpi. Aku memerika mukaku, dadaku, kakiku. Semuanya aman. Tak lecet. Wahalualam.

Aku hanya bermimpi. Masya’allah. Mimpi. Hanya mimpi. Hehehe.

***

Hari itu perta perpisahanku dengan anak-anak SMP dan SMA St. Theresia dari Kolkata. Kami turut mengundang beberapa tokok muslim seperti Haji Muksin dan Haji Imran. Waktu aku sendiri yang menjemput Aisyah. Kami menumpangi mobil paroki.

Sesampai di beranda pastoran orang-orang kaget termasuk para murid dan  situ. Aku mendorong Aisyah di kursi roda. Mereka baru tahu bahwa Aisyah itu gadis cacat. Ia lumpuh. Mereka juga baru tahu bahwa ia sangat cantik, bahkan melebih kecantikan puteri Indonesia. Wajahnya cerah. Bersih. Putih. Karena dalam kondsinya ia sangat dekat dengan Allah dalam do’a dan djikir. Ia lebih dari sekadar cantik. Tapi ia seorang perempuan yang indah. Indah sekali.

Aku terharu saat harus mengucap kata perpisahan. Banyak pengalaman aku dapat di sana, bersama umat Katolik maupun Islam. Semuanya kurangkai dalam kisah hidupku.

Aisyah  mewakili anak-anak Madrasah, mengungkap curahan hati. Mereka senang dengan karyaku di sana. Bahkan menganggapku sebagai saudara mereka yang sangat dicintai. “Kami tunggu 3 tahun lagi, ada seorang imam yang bersemangat, bertugas  di sini, merajut kasih dan harap  bersama kami, menuang asa membentang harapan bersama, Frater…kami tunggu..kami akan menenun stola dan kasula dengan tangan kami sendiri untuk ka’e…kami tunggu ka’e. ”

Terimakasih semua.

Terimakasih Aisyah. Dari engkau gadis, aku menemukan harapan. Bahwa apapun keadaan hidup, kita harus selalu bersyukur kepada Allah.

Kun fa ya kun. Yang terjadi terjadilah.

Wasallam.

Rumah kata-kata_Medio Desember 2010

Natal dan jihad hati Oleh: Fian R.

jilbab

Tiap tahun aku lalui bulan ini. Bulan ini warna liturgi berubah ungu. Bulan penantian atau adventus untuk menantikan kelahiran Isa-Al masih, putera Maryam, kalimat Allah, dan sabda yang mewujud dalam daging.  Apa artinya warna ungu? Ungu adalah lambang pertobatan. Apa itu pertobatan? Pertobatan berarti peralihan dari hal-hal yang lama, yang menjerat dalam situasi dosa, menuju ke hal-hal yang baru, di mana ada ketenteraman dan keadaan al salam, keadaan selamat.

Bagaimana bertobat? Nabi Yahya alias Yohanes, anak Zakaria, mengatakan, “luruskan jalan bagi Tuhan”. Jalan Tuhan sudah lurus. Mengapa harus meluruskannya lagi? Ternyata bukan lantaran jalan Tuhan yang sudah bengkok, tapi hati manusia yang sudah mencong. Makanya perlu diluruskan kembali. Tuhan menulis lurus pada garis bengkok, artinya Ia memiliki rencana bagi setiap orang yakni menyelamatkannya. Keselamatan memiliki dwi dimensi. Pertama, hari ini, bahwa manusia dapat mengalami kebahagiaan dan kesejahteraan. Penderitaan manusia merupakan kekurangan dari keadaan bahagia dan sejahtera itu. Tuhan telah menyediakan semuanya, tinggal bagaimana usaha setiap insan untuk meraihnya. Kedua, dimensi akan datang, kita tidak tahu, yang pasti kita percaya dalam pengharaan, bahwa  Allah menginginkan semua manusia kembali ke firdaus. Sekarang, apa manusia mau kembali?

Isa Al Masih, Kalimat Allah, Putera Allah, Ia dilahirkan dalam gua dingin. Tak jelas juga kapan ia lahir, jam berapa, situasinya bagaimana. Injil bukanlah buku sejarah, injil itu buku iman. Dalam Injil, kita mengimani bahwa Isa lahir sebagai penyelamat dari Allah untuk semua insan. Banyak juga yang mengira ia lahir dalam kandang,  sehingga banyak yang beramai-ramai membuat kandang natal yang indah dihiasi aneka lampu-lampu, diapiti oleh pohon cemara baik buatan mapun alami. Apa betul Isa Al-Masih lahir dalam kandang? Tidak. Ia lahir di dalam gua, dan gua-gua itu menjadi tempat lindung ternak-ternak, tapi aman bagi manusia. Ia dilahirkan dalam gua, lantaran saat itu penginapan di sekitar Bethlehem penuh, karena pas bertepatan dengan sensus penduduk oleh pemerintah Roma. Maryiam, Ibu Isa dengan kepekaan keibuan, melahirkan dia di atas palungan makanan ternak, dialasi kain lampin. Apa makna palungan? Palungan adalah tempat makanan ternak. Isa Al-Masih, adalah utusan Allah, putera Allah, Yang Diurapi Allah, menjadi “makanan” bagi keselamatan manusia.

Natal, bukan soal asesoris, atau gegap gempita pesta, baju baru, atau kue-kue yang dipajang di ruang tamu. Natal adalah jihad hati. Jihad adalah usaha untuk berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah yang melibatkan perjuangan hidup baik rohani maupun jasmani. Jihad tidak identik dengan kemartiran yang salah kaprah dengan membunuh seperti zaman jahiliyyah. Natal adalah saat perang melawan kecenderungan mewah diri. Kita belajar dari Yesus yang rela merendahkan diri menjadi manusia.

Engkau, aku, kita, dipanggil untuk menjadi roti yang siap dibagi-bagi untuk sesama. Apapun jurusan kuliahmu saat ini, apapun pekerjaanmu, apapun warna kulitmu, apapun sukumu, kita diundang menjadi roti yang dipecah-pecahkan dan dibagi untuk umat manusia. Jika kamu seorang guru, jadilah guru seperti Isa Al-Masih. Jika anda seorang perawat, jadilah tabib seperti Isa Al-masih. Selamat menanti natal, siapkan natal di hati, suatu jihad hati. *