KULTUS PEMUJAAN TUBUH ERA INFORMATIKA

Tidaklah ‘lebay’ jika kita menyebut semangat zaman (Seitgeist) ini sebagai zaman penguasaan teknologi dan informasi dan di sisi lain zaman perbudakan oleh teknologi dan informasi. Masih kuat dalam ingatan kita akan berbagai kasus video porno yang beredar luas (termasuk di kalangan mahasiswa/i) yang melibatkan beberapa artis kondang yang dilabeli predikat ganteng, tenar, cantik dan selebritis. Atau beberapa kasus tingkat lokal yang menggemparkan kota Kupang di mana beberapa wanita dan pria berbugil ria dalam foto-foto dan video digital. Kasus-kasus ini bermula dari sebuah keisengan untuk mengabadikan gambar tubuh entahkah dalam posisi diam atau bergerak sampai pada sebuah “chaos moral” yang oleh sejumlah moralis dan agamais dicap sebagai tindakan asusila. Menurut mereka (: kaum moralis dan agamais), bahwa pihak-pihak yang terlibat rupanya sedang terjerumus dalam perbudakan birahi yang menjadikan baik nilai-nilai agama maupun  etika menguap entah kemana.

 

“Nafsu menggebu-gebu bikin malu dan susah maju,” demikian lirik lagu dari Band yang tidak begitu kondang Efek Rumah Kaca. Upaya merekam adegan bersetubuh atau hanya sekedar memamerkan kemolekan tubuh dalam bentuk gambar entahkah untuk kenangan semata ataukah untuk kebutuhan pasar memang lazim zaman sekarang. Ada orang yang menyebut gejala ini sebagai kultus tubuh era informatika. Kultus tubuh adalah suatu upaya sadar ataupun tidak sadar untuk mengagung-agungkan atau mendewa-dewakan tubuh manusia baik itu melalui untuk kepentingan kesenangan pribadi maupun untuk memenuhi selera pasar. Dalam arti yang negatif, kultus tubuh merupakan suatu upaya pengobjekan tubuh untuk menjadi suatu komoditi demi keuntungan material ataupun  psikologis. Ada yang melihat fenomena ini sebagai suatu ketersesatan arah dari generasi teknologi dan informatika, dan ada pula yang menafsir sebagai ketidakdewasaan moral, psikologis dan rohani. Memang setiap kejadian hidup keseharian seperti ini merupakan sebuah teks yang bisa ditafsir dari aneka sudut pandang baik itu agama maupun ilmu pengetahuan dan filsafat.

 

Filsuf Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969) benar ketika ia mengungkapkan bahwa kemajuan tidak terlepas pula dari kemunduran. Tesisnya yakni teori kemajuan dimengerti juga dalam teori kemunduran. Pada masa pencerahan sejarah ditafsir sebagai proses yang melibatkan manusia dalam dalam pertentangan satu sama lain. Sejarah dipandang sebagai pembebasan manusia dari cengkeraman alam dimana perkembangan sejarah memperlihatkan proses diatasinya ketergantungan manusia pada alam. Kebebasan penuh manusia dilihat sebagai keterlepasan bangsa manusia dari ketergantungan pada alam. Inilah yang kemudian disebut sebagai emansipasi. Namun kemajuan tidak dapat dilepaskan dari kemunduran sebab kemajuan tidak mungkin jika tidak ada sesuatu yang ditiadakan atau dihancurkan, yaitu alam dari mana manusia membebaskan diri. Maka bagi Adorno, teori tentang kemajuan hanya mungkin sebagai teori dialektis, artinya teori di mana kemajuan hanya dimengerti sejauh kemunduran dimengerti. Inti dialektika adalah perlunya penguasaan. [1]

 

Bukan berarti dengan menahlukan alam manusia sudah masuk dalam  kebebasannya.  Yang terjadi malah manusia menjadi budak oleh kemajuan itu, karena ia menjadi obyek penguasaan. Daripada menghasilkan emansipasi ilmu pengetahuan dan tehnik membuat manusia menjadi obyek. Manusia menjadi subyek yang menguasai sekaligus obyek yang dikuasai. Ia yang mau membebaskan diri, pada kenyataannya diperbudak saja. Adorno menyebut ini sebagai  ‘Umschlag’ atau suatu pembalikan dari subyek menjadi obyek. Bagaimana manusia yang mengklaim diri sebagai subyek yang bebas dan pelaku bebas menjadi budak kemajuan?[2] Adorno memang kelihatan pesimis dengan segala kemajuan IPTEK namun jika kita baca pemikiran dalam konteks zaman teknologi dan informasi kita dapat menemukan sebuah benang merah yang menggambarkan paradoks kemajuan.

 

[1] Kees Bertens, Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman, Jakarta: Gramedia, 2002, hlm. 210.

[2]  Op. Cit., hlm. 211.

Posted on 26 November 2010, in ARTIKEL, Masalah sosial, OPINI, Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. kultus tubuh dari sudut pandang filsafat yang dalam ya? aku belum sepenuhnya paham

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: