pasti ada rasa untuk Litta (kisah cinta anak Ruteng) By: Rofiantinus Roger*

Litta, gadis di bemo itu

Setiap kali aku pulang dari tempat kerja, aku selalu menggunakan bemo. Di samping lebih murah, juga karena aku belum mau beli sepeda motor. Daripada harus kredit yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan pihak dealer, lebih baik aku jalan kaki saja. Aku memang mau begini saja, meski mama dan saudara-saudara mendorongku untuk beli motor agar memudahkan untuk pulang-pergi dari rumah ke tempat kerja atau pun sebaliknya. Aku tak mau karena lebih milih hidup sederhana. Tidak mau hidup sekedar tunjuk-tunjuk barang yang mampu dibeli. Kalau saja mau beli, itu sudah dari dulu. Ini bukan soal isi kantong, tapi soal pilihan. Gajiku besar semenjak kerja pada salah satu Bank swasta di Ruteng.
Aku memilih naik bemo saja. Sudah biasa. Semenjak aku taman kanak-kanak sampai sudah kerja seperti sekarang ini, aku sudah terbiasa menumpang bemo. Sampai-sampai teman-teman kerja menjuluki aku sebagai ‘manusia bemo’.
Saat-saat naik bemo kujadikan saat santai, menikmati jalan-jalan kota atau sekedar melihat wajah-wajah baru orang yang sungguh lain dari keluarga, kenalan, dan para teman-temanku. Saat itulah aku menemui Litta. Itu terjadi 4 bulan lalu.
***
Ruteng, Februari 2010.
Gadis itu kelihatan terburu-buru keluar dari rumahnya. Ada seorang ibu separuh baya yang kelihatan sedang marah-marah di depan pintu. Aku menerka bahwa itu ibu gadisnya. Ia menyerobot masuk sesaat saja bemo berhenti seperti roket pejuang Palestina yang meluncur di jalur Gaza. Dengan nafas terengah-engah ia duduk. “Gila ne cewek”.
“Huff… dasar orang tua, kerjanya hanya marah-marah saja. Orang mau pergi sekolah juga harus diberi nasihat pagi-pagi.” Gadis itu mengeluh.
Setelah itu ia mengeluarkan Blackberry-nya, sebuah barang yang harganya bisa membuat dahi berkerut. Tak lama kemudian ia mengambil juga headset dari saku tasnya, lalu memasang alat itu pada kedua telinganya dan mendengar lagu-lagu kesukaannya. Ia tak mempedulikan orang-orang di sekitar. Kuhitung-hitung dalam bemo itu ada 5 orang. Sopir dengan kondekturnya, aku, gadis itu, dan seorang ibu tua yang tak tahu akan turun di mana. Ia sungguh tak peduli.
“Om..Sa turun di Ahmad Yani,” katanya kepada Sopir.
“Ya, nona, ” jawab si pengemudi singkat.
Aku tidak biasa memberi tahu tempat turun karena setiap bemo jurusan Leda-Kota Ruteng yang aku tumpangi sudah tahu aku harus turun di mana setiap pagi. Si ibu tua juga turun tepat di depan RSUD Ruteng. Dia membawa bungkusan-bungkusan plastik hitam. Aku menebak bahwa ibu itu sedang menjaga keluarganya yang sakit.
Si gadis itu masih sibuk dengan Bb-nya. Tak peduli sedikitpun kalau aku telah memperhatikannya dari tadi. Eleh-eleh-eleh. Sesekali ia berhenti mendengar musik dan mengetik sms dengan cepat. Jari jemarinya seperti mesin yang sudah diprogram untuk mengetik sms di tuts-tuts mungil alat itu. Tak lama ia menjawab telepon teman-temannya. Suaranya begitu besar saat bicara. Sepertinya ia hendak mengatakan kepada supir, kondektur dan aku bahwa dia sedang menelpon. Sesekali dia tertawa meladeni orang yang di ujung telepon. “Kegilaan hp kali,” kataku dalam hati.
Gadis itu masih SMA. Lihat saja seragamnya. Pada dada kanan seragamnya ditulis, Maria Tarlitta B. Mungkin saja namanya Litta. Ia memakai rok yang menyentuh lutut. Pakaiannya ketat. Belahan-belahan tubuhnya yang baru mekar sungguh nampak. Belum lagi harum parfum ala gadis-gadis opera sabun. Hmmm. Asyik. Sungguh ia terkesan seksi dan membangkitkan imajinasi pagi-pagi. Litta seperti bunga yang sedang mekar dan mekar dengan begitu bergairah. Akhirnya, dia turun juga, tepat di depan gerbang sebuah SMA di kota Ruteng. Ohh…..rupanya dia sekolah di sini. Dari situ kutahu nama gadis itu. Litta. Hehe. Meski belum kenalan. Tebak saja.
***
Ruteng, Mei 2010.
Suatu hari aku tak sengaja lewat di depan sekolah Litta. Kulihat gadis itu sedang bercengkrama dengan kawan-kawannya. Mereka tertawa begitu bebas, sebebas burung-burung yang sedang mengais-ngais makanan pada sela-sela rerumputan di halaman. Mungkin saat itu jam istirahat. Dari jalan nampak jelas betul aku bisa melihat anak-anak SMA itu berkelompok-kelompok bercerita dan tertawa sambil melihat kendaraan yang lalu-lalang. Dari situ kutahu padahal Litta adalah seorang gadis yang ceria.
***

Juni, 2010.
Aku sendiri di dalam bemo bersama dengan sang supir.
“Kita jalan su pa tak ada penumpang lagi.”
“Mana-mana saja bung, apalagi kampung tengah sudah takitu ni” Jawabku.
Kami meluncur dari arah Toko Pagi menuju ke Markas Brimob kemudian melaju ke jalur Leda. Bemo begitu melaju. Mungkin karena sang supir mau makan siang. Hehehe…ikut saja. Sesampai di depan Toko Buku Nusa Indah kulihat Litta berdiri sendiri.
“Berhenti dulu ka’e,” kataku kepada sopir itu.
“Litta, ayo naik,” pintaku kepada gadis itu.
Gadis itu keheran-heranan. Siapa laki-laki yang sok kenal sok dekat ini? “Ayo,” pintaku lagi.
Ia akhirnya naik juga setelah bertingkah seolah-olah bingung. Siapakah Aku? Mengapa aku mengajaknya? Dia duduk terdiam. Sesekali ia memperhatikanku. Sedikit lagi ia mungkin bertanya.
“Om kenal aku ko?”
“Tidak. Hanya tau namamu saja dari tulisan di seragam itu e.” Hehehehe. Ia juga terkekeh. Kok bisa? Memang kenapa? Salah ko?
“Boleh ralat? Aku belum om-om e”
“Ok deh ka…”
Hanya kami berdua di bemo itu. Di sana ada percakapan. Makin lama makin menunjukan tanda-tanda baik. Tak ada lagi dering sms masuk, telepon, atau sejenisnya. Yang ada percakapan dua anak manusia yang baru tahu nama masing-masing. Betul, nama kecil gadis itu adalah Litta. Ia begitu cantik. Mungkin umurnya baru 18 atau 19 tahun. Gadis yang baru mekar, harum, dan ranum. Dia terlihat indah mengalahkan bunga mawar di pekaranganku. Diam. Itu adalah jeda antar kalimat percakapan. Tatapan menginterupsi di sela-sela pembicaraan. Dua bola mata berbicara. “Apakah aku tertarik sama anak baru gede yang karena berparas ayu dan mengenakan pakaian seragam seksi ini, dia yang sedemikian rupa mengganggu hasratku kelaki-lakianku?” Aku membatin. Tak lama Litta turun.
“Kiri Om.” Katanya kepada sang supir. Bemo segera berhenti. “Ka’ Aku turun duluan. Sampai nanti.” Sambil melambaikan tangan lalu menghilang dari pintu…
Litta turun di depan rumahnya. Seorang bapak paruh baya menunggu di depan rumah. Litta mencium tangannya. Lalu masuk ke rumah dengan sopan. Aku mengamati dari bemo yang melangkah dengan pelan.
***
Selanjutnya aku terus berjumpa dengan Litta di bemo yang aku tumpangi. Seakan-akan ada kontak batin antara kami berdua. Saat aku naik bemo A, ia juga naik bemo yang yang sama. Saat aku melirik kepadanya, pada saat yang sama ia juga melirik. Saat aku kebetulan sedang menengok ke luar jendela, ia juga sama. Wahhh…ada apa neh? Rupanya ada suatu persenyawaan. Hehe. Aku jatuh cinta sama anak SMA. Anak SMA!!!! Entah bagaimana sampai suatu sore aku nekat menyambangi rumah gadis itu. Rupanya dia sedang seorang diri di sana. Dia juga senang aku datang. Bahkan disambut bak teman sebaya saja. Padahal umur kami terpaut berbeda 6 tahun.
Karena diterima begitu baik di rumahnya, aku menjadi ketagihan mengunjungi rumah itu. Aku seperti kumbang yang sangat tertarik kepada bunga yang baru mekar. Ingin mencuri madunya, namun masih takut-takut. Sungguh rasa yang berkelebat ramai. Suka. Cinta. Hasrat. Naksir. Macam-macam. Apapun jenisnya, namun yang pasti ada rasa untuk Litta. Kecantikan, kemolekan dan kemanjaan gadis itu sungguh-sungguh menyandera hati. Orangtuanya pun tahu kalau aku sedang dekat dengan anak mereka. Mereka bersikap apa adanya. Mungkin aku sekaligus menjadi penjaga si anak gadis. Kalau mau di sebut pacaran, hubungan itu tak seromantis cinta Gaston dan Jupe, hanya ada tawa canda dan saling melirik tak lebih dari itu. Aku pun semakin lekat.

Kami sering naik bemo berdua. Cuma berdua. Hanya ada om sopir yang setia mengantar. Kadang kami meluncur ke Lintas Luar Kota Ruteng hanya untuk mengambil jarak sejenak dari kota berhawa dingin itu. Acap kali juga pergi menyusuri hutan-hutan Ampupu di Wae Lengkas. Semua itu terbingkai dalam suatu hubungan yang sulit disebut pacaran. Ini tepatnya sebuah persahabatan dua manusia yang baru bertumbuh. Tapi menurut orang-orang, kami sungguh pacaran, karena sering berdua. Hehehe.
***
Niat tak membeli motor meski tabungan sudah gemuk kini luluh. Aku kasihan sama Litta. Masa pacaran dengan gadis yang sebegitu cantik tak pakai sepeda motor? Bukannya takut ketinggalan tren, cuma ini kebutuhan mendesak. Ciehhh. Setelah konsultasi dengan keluarga, akhirnya aku merumahkan sebuah motor Yamaha CS1 dari sebuah Dealer. Kontan. Malas kredit. Motor itu berwarna keperak-perakan. Warna yang aku suka.

Karena sudah memiliki CS1, maka tugas ke kantor dan jalan-jalan dengan Litta sudah dipermudah. Ciuhhhh. Jalan-jalan kota Ruteng tak pernah alpa dengan sepasang manusia yang meluncur dengan motor baik itu baik itu sore maupun malam hari. Si laki-laki mengenakan helm masker standar sementara si wanita dengan rambut terurai memeluk si laki-laki dari belakang. Orang bilang itu gaya naik motor gaya nungging. Seperti kuda saja. Hehehe. Waktu-waktu senggang, kami manfaatkan secara sungguh untuk pacaran dengan sungguh-sungguh. Meski pergi hanya melihat pepohonan dan menghirup aroma hutan. Namun tak ada acara cium-ciuman ala film romantis. Yang ada hanya kecupan yang terlihat ragu-ragu seperti dalam film-film amatir.
***
November, 2010
Hari Minggu yang cerah. Aku meminta ke ayah Litta untuk mengajaknya ke Danau Rana Mese. Alasannya untuk refreshing. Bak gayung bersambut, ortunya setuju, yang penting jangan macam-macam. Padahal dalam hati aku sudah menyiapkan sebuah kencan spesial, yang lain dari yang sebelumnya. Waktu itu hari ulang tahunku. Aku telah menyiapkan sebuah lagu, bebungaan, makanan dan minuman seadanya untuk membuat hari itu layak disebut pesta.
Kami pun star dari rumah pagi pukul 7.30. Kami meluncur melewati kita masalah. Bok-bok di sekitar Wae Reno kali lipat bak pembalap profesional saja. Namun tiba-tiba sesampai di Mano. Brarrrr….brarr….motorku seperti dihantam oleh tubrukan yang keras. Tak jelas. Hancur. Terlempar. Tergesek aspal. Pusing. Apa kami yang menabrak atau mobil itu yang menabrak? Tak jelas. Motor terguling. Penyok. Aku juga tak Litta jatuh ke arah mana. Aku pusing tak sadarkan diri……….sampai…….
Aku tersadar sudah ada di ICU RSUD Ruteng. Aku cek kaki, tangan, mulut, kepala, rusuk…Ahhh ternyata masih utuh..hanya kaki yang kena luka lecet panjang akibat gesekan di aspal.
“Dokter…Litta.. di mana…. Littaaa…?”
“Dia ada di sebelah. Dia juga tidak apa-apa, hanya sedikit lecet. Rupanya Tuhan masih memberi kalian kesempatan hidup.” Jawab si dokter dengan tenang.
Aku menoleh ke sebelah. Si gadis itu rupanya juga sudah siuman. Dia tersenyum padaku. Itu tandanya dia baik-baik saja. Litta..Littta…maafkan Aku e, sudah buat kamu begini. “Sudahlah ka…Litta juga bersyukur ka’ juga selamat.”

Kisah ini kutulis sehari sebelum aku bertunangan dengan Litta. I love U cinta.(end) http://www.fianroger.wodpress.com di Rumah Kata-kata.

Posted on 25 November 2010, in CERPEN, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Dear fian,
    Saya sangat terharu membaca cerita anda. Kebetulan saat ini saya sudah 3 minggu di ruteng dalam rangka pekerjaan. Saat saya browsing tentang ranamese di google, tidak sengaja saya terbawa ke blog anda, dan saya terhanyut dalam cerita anda…saya menyimpulkan kalau kalian berdua sekarang sudah bahagia menikah..

    Salam perkenalan,

    Leo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: