SISTEM PENDIDIKAN ENTREPRENEUERSHIP

Opini : Januario Gonzaga⃰

Dewasa ini banyak aktivitas pendidikan bermutu yang diterapkan di hampir semua sekolah. Beberapa sekolah menyiapkan sistem pembelajaran yang efektif, misalnya SMKN 2, membentuk SBI atau Sistem Belajar Intensif (TIMEX 01 Oktober 2010). Tuntutan lain yang urgen saat ini mengenai SNP atau Standar Nasional Pendidikan. Segala bentuk modifikasi ini tidak lain disebabkan oleh kondisi pendidikan bangsa yang selalu bermasalah. Kita saksikan bila Ujian Akhir dievaluasi hanya terdengar keluhan dan ratapan. Sistem pendidikan yang paling mutakhir pun selalu berakhir dengan ketidakpuasan, entah dari pemerintah, orang tua, siswa, pendidik.

Pendidikan, sebuah Proses

Para pakar pendidikan sudah meyakinkan kita bahwa pendidikan adalah sebuah proses. Sepanjang hidupnya manusia adalah makhluk yang belajar tentang apa saja guna mencapai tujuannya. Terminologi longlife education yang dipopulerkan hingga ke kampung-kampung bukan sekedar isu teknis tetapi menyangkut hal substantif. Bangunan pemikirannya ialah manusia adalah ‘ada’ yang menjadi (being and becoming). Demikian tulis filosof A. Whitehead.

Pendidikan di Indonesia, secara khusus di NTT mencerminakan signifiknasi dari konsep pendidikan sebagai sebuah proses. Bahkan menurut beberapa pelajar di NTT yang terlibat dalam forum diskusi ilmiah mahasiswa mengatakan, “Orang barat hanya merumuskannya menjadi sebuah istilah akademis saja, tetapi sudah lama tertanam dalam ranah masyarakat NTT”. Argumen yang dibangun antara lain, pertama, orang NTT mempunyai semangat belajar karena tuntutan alamnya yang tidak bisa tidak harus ditaklukan lewat kerja keras. Orang-orang NTT yang hidup di pedalaman selalu jauh dari sikap bersantai-santai apalagi bermalas-malas. Setiap saat selalu ada pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Kedua, orang NTT punya kesadaran untuk mengejar ketertinggalan. Sejak dahulu, wakil NTT yang bersuara di forum mana saja selalu nihil. Atas dasar itu disadarai bahwa banyak hak, privasi dan bahkan potensi alamnya diserobot dan diacuhkan begitu saja.

Kedua alasan itu hanya sebagian dari banyaknya alasan yang memberi tempat kepada sistem yang paling sempurna dari pendidikan di NTT. Sampai di sini dapat dikatakan bahwa sangat tidak tepat apabila di NTT orang merasa pesimis terhadap tingkat kualitas pendidikan. Mungkin harus kita akui bahwa keunggulan yang paling tinggi dari masyarakat NTT lebih kepada pendidikan nilai. Namun justeru lewat pendidikan nilai inilah semua sistem, metode, terbaru menemukan sisi adaptifnya. Pendidikan nilai telah menjadi jiwa di dalam setiap pengajaran yang diberikan di kelas. Coba kita dengarkan para guru yang mengajar di kelas. Guru manakah yang tidak menyelipkan petuah, wejangan, nasihat kepada peserta didiknya di kelas? Dari petuah-petuah itu kita bisa merunut bahwa ternyata filosofi masyarakat NTT memberi dampak yang begitu besar.

Menghadapi situasi pendidikan yang penuh tunttutan, kekhasan masyarakat NTT pun sedang berada pada persimpangan. Karakter pendidikan bagi mahasiswa yang dilontarkan oleh Rektor PGRI (TIMEX, 02 November 2010) menurut hemat saya mengangkat kembali identitas ke-NTT-an kita. Kita boleh saja berbangga dengan begitu banyak keunggulan sistem, metode, sarana, tetapi kita juga harus memikirkan manusia NTT. Para guru harus tiba pada kesadaran, siapakah orang NTT itu. Sebuah sistem yang sekiranya dapat menampung segenap aspirasi kita terutama demi menciptakan suatu ekuilibrium bagi pendidikan di NTT ialah sistem pendidikan entrepreneuership.

Sistem Pendidikan Entrepreneuership (SPE)

Entrepreneuership dalam bahasa Yunani/Greek dipahami sebagai latihan menggunakan kombinasi dari banyak hal, misalnya inisiatif, sumber daya fisik, dll., dan upaya sistemik yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu” (dalam makalah Prof. Dr. Ir. I Nyoman Sucipta, MP). Entrepreneuership di dunia pendidikan sangat penting artinya untuk membentuk perilaku positif terhadap sumber daya manusia. Sistem entrepreneuership menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan berinovasi dan beradaptasi.

Sistem Pendidikan Entrepreneuership tidak saja dipandang sebagai bagian dari pengajaran teknik berwirausaha, studi ekonomi, atau kajian manajemen. Sistem ini justeru menampilkan sebuah wajah baru yang mengharuskan peserta didik untuk menumbuh-kembangkan sifat peduli pada aksi nyata, mengembangkan tanggung jawab, optimisme, proaktif dan berorientasi. Jadi nilai pendidikan entrepreneuership harus dimasukkan dan diintegrasikan di semua aspek serta tingkat pendidikan.

Nilai pendidikan lokal merupakan penopang bagi karakter peserta didik di saat bertumbuhnya globalisasi pendidikan. Sistem Pendidikan Entrepreneuership merupakan sebuah sistem yang mengkombinasikan antara sistem kemutakhiran pengajaran dan perangkat nilai yang terselubung dalam lokalitas masyarakat NTT. Paulo Freire dalam setiap kesempatan ceramahnya menguak tabir ketertindasan masyarakat melalui sistem pendidikan berbasis penyadaran (konsientisasi). Penyadaran bukan sekadar jalan pintas menuju peradaban manusia, tetapi lebih jauh memberikan dampak positif bagi pengembangan jati diri manusia. Peserta didik saat ini bagaikan sebuah bank yang diisi dengan setiap pelajaran (juga setiap sistem) demi sebuah tujuan yang dinamakan nasionalisme kebangsaan. Namun perlu disadarai bahwa setiap cara yang dipakai tidak serta-merta mengejawantah hakikat sebuah tujuan.

Rupanya tidak monoton maksud Presiden saat mengeluarkan Instruksi Presiden No. 4 tahun 1995 tanggal 30 Juni 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan. Entrepreneuership (Kewirausahaan) merupakan amanat yang disahkan bagi masyarakat dan bangsa Indonesia untuk mengembangkan program-program kreatif, inovatif. Sistem pendidikan sekarang dapat mengadopsi roh entrepreneuership sebagai pilar di dalam ‘mengawinkan’ karakter global dan lokal pendidikan. Kita dapat menerapkannya di sekolah melalui kurikulum otonomi sekolah, melalui sistem pengajaran unggul juga kelas-kelas akselerasi. Entahkan sekolah dengan Akreditasi apa saja memiliki kedudukan yang sama di dalam memberi perhatian bagi keseimbangan pendidikan di NTT.

Seyogianya melalui Sistem Pendidikan Entrepreneuership dapat dijumpai anak-anak didik yang berkemampauan untuk go public tetapi juga yang berkekuatan untuk back home. Di dalam nilai-nilai entrepreneuership seperti, inovasi, keinginan untuk berprestasi, tanggung jawab, tanggapan terhadap risiko, kreatif, sebenarnya termaktub ide yang tidak jauh berbeda dari diskusi para mahasiswa tadi. Nyata bahwa di dalam menggiatkan sistem pendidikan yang bercorak global terdapat di sana kekayaan lokal yang sudah sejak dulu kala dialami, dihayati dan diperjuangkan. Dan dalam pendidikan, kita (pendidik dan peserta didik) bertanggung jawab secara moral untuk meneruskan sesuatu yang baik, melalui pemanfaatan modifikasi tertentu.

⃰ Mahasiswa Fakultas Filsafat Agama-UNWIRA Semester VII

Posted on 12 November 2010, in ARTIKEL, Masalah sosial, OPINI. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: