Monthly Archives: November 2010

MENYINGKAP MAKNA WAJAH YANG LAIN BERSAMA EMMANUEL LEVINAS

Article by Rofian Roger

Mahasiswa FFA UNWIRA Kupang

penggiat cafe filosofia

  1. I. DISKURSUS AWAL

Kompas tanggal 9 Maret 2010 memberitakan bahwa, 500 telah tewas  dalam konflik sektarian (kelompok beda agama) di Nigeria.Tiga hari sesudahnya, Kompas menampilkan kembali berita mengenai konflik itu. Namun, dari angle yang berbeda. Sebuah fotografi menampilkan  sekelompok wanita dan anak-anak berpakaian hitam yang mengadakan protes di jalan. Sambil menangis mereka berteriak menuntut penghentian konflik, karena telah banyak wanita dan anak-anak yang tidak bersalah menjadi korban pembantaian.[1] Sementara itu, di dalam negeri terorisme menguak kembali di Nangroe Aceh Darusalam (NAD).  Terungkap bahwa, para tokoh penting menjadi target para teroris. [2] Mereka  telah mengubah modus opperandi target bukan lagi tempat berkumpulnya para ekspatriat, melainkan membunuh para tokoh  penting  yang berseberangan dengan ideologi  mereka.

Mengapa peneliti mengangkat dua kasus di atas? Dua kasus ini mewakili sebuah paradigma egologi yang menjadikan sesama sebagai obyek. Sebuah proyek totalisasi, di mana manusia menjadi rezim totaliter yang menindas sesamanya, yang menghilangkan hidup sesamanya. Ini terjadi dalam pendekatan subyek-obyek dalam relasi manusia. Yang menjadi pertanyaan, siapakah sesamaku, siapakah aku dan apakah aku bertanggungjawab atas keberadaan yang lain? Sejarah telah menoreh sekian banyak cerita miris, di mana terjadi pengangkangan terhadap kemanusiaan. Masih kuat terkenang genosida nazi terhadap orang-orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi, berbagai praktek homisida oleh rezim-rezim totaliter, ribuan korban perang Afganistan dan Irak, aneka pulau kemiskinan akibat ketidakadilan struktural, menjalarnya terorisme, penderitaan dan kelaparan di dunia ketiga, dan sebagainya. Persoalan-persoalan ini menyembul mozaik totalisasi yang berujung pada kekerasan dan penindasan terhadap sesama.

Darimanakah sumber  “kewajiban moral” itu? Thomas Aquinas melihat Hukum Abadi-lah yang menjadi referensi moral manusia. Dia memahami moralitas sebagai ketaatan terhadap hukum kodrat. Hukum kodrat dimaksudkan sebagai keterarahan kodrat manusia, bersama kodrat alam semesta, pada perwujudan hakekatnya. Hukum kordat adalah partisipasi dalam hukum abadi yang bukan lain adalah kebijaksanaan Allah sendiri sebagai asal-usul  dan penentu kodrat ciptaan.[3] Sedangkan Kant lebih melihat bahwa paham-paham moral tidak mungkin diperoleh dari pengalaman empiris-indrawi. Paham-paham moral bersifat a priori dan berdasarkan akal budi praktis, yaitu berdasarkan pengertian mengenai baik dan buruk yang mendahului segala pengalaman. [4] Kaum  Utilitarian menekankan nilai moral perbuatan manusia ditentukan oleh tujuannya, yakni apakah perbuatan itu menunjang kebahagiaan umum atau tidak. [5] Tiga jawaban ini merupakan sebagian dari aneka pendekatan atas pertanyaan besar di atas.

Pada era postmodern isu etika bergeser. Perintis moral postmodern boleh dikata adalah Emmanuel Levinas. Levinas ingin membawa persoalan moral pada ranah kongkret pertemuan intersubyektif. Ia memperkenalkan satu konsep “yang lain” (l’autrui) yang menjadi kunci seluruh pemikirannya. Proyek  filsafatnya berfokus pada bagaimana membuka arti mendasar pertemuan dengan sesama dalam proses menjadi diri setiap orang.[6]krisis tanggung jawab dewasa ini. Persoalan ini merupakan salah satu kajian sentral dalam pemikiran Levinas yang tentu saja menarik untuk dikaji terlebih lagi dalam konteks

II. FENOMENOLOGI TANGGUNG JAWAB MENURUT EMMANUEL LEVINAS

A. Informasi singkat tentang Emmanuel Levinas

Emmanuel Levinas merupakan salah seorang filsuf yang terkenal, sukar, dan original di antara para pemikir Eropa abad kedua puluh. Etika post-rasionalnya berdiri sebagai penantang ultim dan patut diteladani terhadap tendensi kesendirian ada (solitude of being). Ia memberi kesaksian yang rigorus dan dinamis terhadap tanggung jawab yang tak berhingga terhadap pribadi yang lain. Pemikiran Levinas mengungkapkan etika sebagai filsafat pertama (prote philosphie). Panggilannya pada tanggung jawab kemudian mengarahkan pemikirannya bukan hanya kepada yang benar (the true) tapi pada kebaikan (the good). Asumsi kolosal pada tanggung jawab inilah yang membuat Levinas disebut-sebut sebagai pengubah isu utama filsafat kontemporer.[7]

Ia  lahir pada 12 Januari 1906 di Kaunas (atau Kovno, dalam bahasa Russia), Lithuania.[8] Lithuania yang pada waktu itu merupakan bagian dari Russia pra-revolusi. Levinas merupakan anak sulung dari dua bersaudara, Boris dan Aminadab. Memori awal hidupnya diwarnai oleh kematian Tolstoy, dan peringatan trisentenial rumah Romanov. Perang dunia pertama, dan revolusi 1917 membaur dalam kenangannya akan toko buku ayahnya di Kovno. Judaisme pada saat itu berkembang menjadi gerakan spiritual tinggi di Lithuania, dan abad ke-18 telah menghasilkan seorang Talmudis jenial yakni Gaon dari Vilna. Pada  saat yang sama keluarga Levinas berasal dari generasi yang melihat masa depan mereka dalam bahasa dan budaya Russia. Bacaan awal Levinas bukan hanya Kitab Suci Yahudi, melainkan juga pengarang-pengarang besar  Russia seperti: Pushkin, Gogol, Dostoyevsky, dan Tolstoy.  Kegandrungan pada penulis-penulis besar ini mengantarnya untuk pergi ke Strasbourg (kota Prancis yang paling dekat dengan Lithuania) pada tahun 1923 untuk belajar pada Charles Blondel dan Maurice Pradines.[9]

Pada tahun 1928-1929, ia berkunjung ke Freiburg untuk studi pada Edmund Husserl dan juga menghadiri seminar-seminar Heidegger. Husserl mengajar psikologi fenomenologis dan konstitusi intersubyektivitas.[10] Pada saat itu juga, Heidegger mengganti posisi Husserl di Freiburg.[11] Ia  mulai menulis disertasi mengenai teori intuisi Husserl. Dia juga mendalami Being and Time dari Martin Heidegger. Levinas juga menghadiri pertemuan terkenal di Davos antara Heidegger dan Cassier yang menurut Levinas menandai ‘akhir humanisme.’ Kuliah-kuliah dengan Husserl dan Heidegger menjadi amat penting dalam menewajahn ‘panggilannya’ dalam  filsafat.

Pada tahun 1930, tesisnya The Theory Of Intuition In Husserls Phenomenology dipublikasikan di Prancis. Tahun  1931, dengan bekerjasama dengan Gabrielle Peiffer, Levinas menerjemahkan karya Huserl Cartesian Meditations ke dalam bahasa Prancis. Ia menikahi seorang gadis yang dikenalnya sejak kecil bernama Raïssa Levi pada tahun 1932. Tahun 1934, analisis filosofis mengenai “Hitlerisme”, berjudul Reflections on The Philosophy of Hiltèrisme dipublikasikan. Setahun berikutnya, ia mempublikasikan esai original ontologi hermeneutis berjudul  On Escape. [12]

Pada umur tiga puluh tahun ia menjadi warga Prancis dan bekerja pada bagian administrasi di Aliansi  Israelité Universelle. Pada saat pecahnya perang,  Levinas menjadi penerjemah bahasa Russia dan Jerman. [13][14] Ia kemudian mendekam dalam tahanan[15], di mana ia bisa mempelajari Hegel, Proust dan Rousseau dalam periode kerja paksa. Buku Levinas, Existence and Existents, yang merupakan deskripsi eksistensi anonim dan keadaan insomnia, tidur, horor, vertigo, nafsu, kebosanan, dan kelambanan, mulai ditulis dalam penjara. Setelah perang usai, ia kembali ke Paris untuk menjadi direktur Ecole Normale Israelité Orientale di College Philosophique, yang didirikan Jean Wahl. Dia membuat berbagai paper yang kemudian terkumpul dalam Time and The Other. Sejak tahun 1957 ia berkontribusi pada  colloquium Talmud[16] tahunan para intelektualis  Yahudi berkebangsaan Prancis.[17] Sementara itu, keluarganya di Lithuania dibunuh oleh tentara Nazi karena mereka Yahudi. Tak pernah Levinas kembali ke Jerman lagi.

Tahun 1961 terbitlah opus magnus pertama Levinas Totalité et Infini[18] Ia mengajar sebagai guru besar pada beberapa universitas di Prancis. Tahun 1974, terbit karya besar kedua, Autrement Qu être ou au-dellà de l’ Essence (Lain Daripada Ada, Di Seberang Esensi). [19] Ia meninggal pada tanggal 25 Desember 1995 di Paris. (Totalitas Dan Yang-Tak-Berhingga).

B. Fenomenologi Tanggung Jawab Emmanuel Levinas

B.1 Konsep “Yang Lain” (L’ Autrui)

Emmanuel Levinas berusaha mengayuh makna yang lain (l’autrui atau the Other). Bagi Levinas, Yang Lain adalah pembuka horizon keberadaan kita, bahkan pendobrak menuju ketransendenan kita. Bagi dia Yang Lain itu ada dan indah. Manusia pada hakekatnya terasing atau alien satu sama lain. Maka untuk menjembatani itu pertemuan atau perjumpaan menjadi suatu momen etis. Perjumpaan yang dimaksud adalah perjumpaan dengan yang lain.

Yang lain adalah orang lain atau sesama manusia, pribadi yang lain sebagai person dalam keluhuran martabatnya. Pandangan ini merupakan kritik diri atas roh totaliter yang mengabsolutkan ego dalam sejarah filsafat. Dalam sejarah, yang lain selalu didekati sebagai obyek, suatu bagian dari skema inteligibel ego. Hal itu memperkosa keunikan dan alteritas yang lain sebagai yang lain, lain dari aku. [20]

Pribadi yang lain tidak boleh diperlakukan sebagai ‘benda’. Karena pada hakekatnya eksistensi kita adalah sebuah ketelanjangan, karena ketelanjangan kita merupakan eksitensi privat. Eksistensi privat itu adalah ranah interioritas yang berkembang terpisah dari dunia. Namun dalam masyrakat kita tidak tahluk dengan ketelanjangan itu, atau juga digelisahkan oleh ketelanjangan Yang Lain. Dalam masyarakat terungkap suatu eksterioritas di mana relasi aku dengan yang lain menemukan tempat. Aku bukan merupakan solitude being melainkan adaku selalu terhubung dengan relasi dengan Yang Lain. Aku membutuhkan yang lain sebagai yang lain. Bukan yang lain sebagai alter ego, atau aku yang lain, tapi yang lain dalam keyanglainannya. [21]

B.2 Perjumpaan dengan Yang Lain

Setiap kali saya menangkap hal-hal baru, “yang lain” itu menjadi bagian dari kekuasaanku dan kehilangan keberlainannya, sebab ia menjadi bagian dan masuk dalam totalitasku. Namun, sesungguhnya “yang lain” tidak pernah bisa kukuasai, sebab dari kehausan kekuasaanku muncul sosok “yang lain” yang belum aku ketahui yang memasung keinginanku yang tiada habisnya untuk sekali lagi menguasainya.  Keinginanku terus-menerus, di satu pihak, untuk menguasai, dan di lain pihak, ketakberhinggaan “yang lain”, yang selalu muncul, akhirnya menyadarkan diriku pada transendensi yang tidak dapat pernah kukuasai. Dengan kata lain, “yang lain” sesungguhnya berada di wilayah luar dari diriku dan tidak pernah bisa masuk dalam totalitasku yang ambisius. Di hadapan “yang lain”, saya hanya bisa tunduk dan menyerah. [22]

Pengalaman dasar manusia dalah perjumpaan dengan yang lain. Dalam perjumpaan itu, kita sadar bahwa kita langsung bertanggungjawab total atas keselamatannya. Langsung dalam arti bahwa tanggung jawab itu membebani kita, mendahului komunikasi eksplisit kita dengan orang lain. Pengalaman itu bersifat etis.  Menurut Levinas, moralitas adalah pengalaman  paling dasar manusia. Ia selanjutnya menunjukan bahwa pengalaman dasar itu pengalaman tanggung jawab mutlak saya terhadap orang lain yang bertemu saya, di mana sinar kesucian ilahi ikut terlihat. [23] Di sini Levinas dalam analisa eksistensial fenomenologis paling dasariah, menunjukan bahwa pengalaman moral adalah titik tolak segala kesadaran, sikap dan dimensi penghayatan manusia dan bahwa pengalaman dasariah itu sekaligus merupakan kesadaran akan adanya Yang Ilahi di belakangnya.

B.3 Tanggung Jawab terhadap Yang Lain (la responsibilité pour autrut)

Levinas ingin menunjukan bahwa secara fenomemologis pada saat berhadapan dengan sesama kita langsung menyadari diri dipanggil olehnya untuk bertanggung jawab atas keselatannya. Apakah kita mengiyakan atau menolak panggilan itu, adalah masalah belakangan (namun, itulah masalah yang dalam kesadaran mendapat perhatian kita, di mana lalu juga etika normatif mau membantu dalam menentukan sikap mana yang tepat bagi sesama itu).[24]

Levinas berfokus pada saat pra-reflektif di mana kita untuk pertama kali menyadari bahwa ada sesama menghadapi kita. Di saat itu, kita seakan-akan “disandera” oleh saudara itu, sehingga terikat total oleh tanggung jawab atas keselamatanya. Dalam kesadaran pra-reflektif itu juga termuat panggilan kepada kebaikan, tuntutan primordial untuk bersikap baik dan tidak jahat terhadap dia itu. Dan bahwa panggilan itu merupakan pancaran dari Yang-Baik-Tak-Berhingga di dalamnya kita bertemu dengan saudara.[25]Respondeo Ergo Sum (aku bertanggungjawab,  maka aku ada).”[26] Manusia etis menurut Levinas adalah yang bertanggungjawab terhadap sesamanya.  Ia menandaskan, “

Ia menunjukan bahwa fenomena pertemuan dengan orang lain ini menjadi dasar untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan dasar filsafat: bahwa ada  seorang Engkau, bahwa ada realitas di luar kesadaran saya.  Jadi bahwa pengertian manusia memang sampai pada realitas itu sendiri, bahkan bahwa saya menjadi diri saya hanya karena engkau, bahwa saya ada dan identik dengan saya (karena dalam pengalaman tanggung jawab purba itu saya secara langsung dan tak tergantikan menyadari diri bertanggungjawab atas keselamatan orang lain itu), bahwa sikap yang pertama adalah kebaikan dan bukan kejahatan, dan bahwa orang lain maupun kita ada karena adanya Yang Mahabaik.[27]

Suatu perbuatan etis tertentu lahir dari respons yang diberikan atas kehadiran yang lain. Respons dalam bentuk jawaban, yaitu jawaban atas panggilan orang lain. Respons terhadap suatu jawaban mesti dibarengi dengan sikap siap untuk menanggung segala konsekuensi dari jawaban yang diberikan. Sikap menanggung suatu jawaban adalah tanggung jawab.

B.4   Signifikansi etis  wajah

Levinas mengatakan, “wajah sesamaku mengatakan terimalah aku, jangan membunuh aku.” [28] Wajah  memberitahukan perintah untuk “jangan membunuh”, ini kelihatan secara pasti mengungkapkan sesuatu yang seharusnya dan tanpa syarat. Wajah memberi perintah kepada setiap orang untuk bertanggungjawab atas yang lain.[29]

Wajah tidak dimaksudkan dengan hal fisis atau empiris, seperti keseluruhan yang terdiri dari bibir, hidung, dagu, dan seterusnya. Seandainya sama dengan sesuatu yang bersifat empiris begitu saja, wajah akan termasuk totalitas juga. Yang dimaksudkan dengan wajah adalah orang lain sebagai yang lain menurut keberlainannya. Jadi, kualitas-kualitas fisis atau psikis yang bisa saja tampak pada sebuah wajah (tampan, muda, cemerlang, dll) tidak penting bagi Levinas.[30]

Wajah berarti situasi di mana di depan kita orang lain ada dan muncul. Kita berhadapan wajah ke wajah tanpa pengantara. Ia hadir sebagai orang tertentu melalui wajahnya. Wajah itu menyapa kita. Barangkali ia minta uang atau ia hanya menatap kita dengan situasi diam. [31]Lewat wajahnya kita berhadapan dengan orang lain. Sebuah situasi yang sebenarnya biasa, tetapi menurut fenomenologi lur biasa. Wajah itu telanjang (la visage nu). Artinya wajah yang begitu saja, wajah dalam keadaan polos. Wajah yang menyatakan diri sebagai visage significant, wajah yang telanjang di mana mempunyai makna; langsung, tanpa penengah, tanpa suatu konteks. [32]

Penampilan wajah adalah suatu kejadian etis. Itulah langkah penting dalam pemikiran Levinas. Wajah menyapa saya dan saya tidak boleh acuh tak acuh saja. Ia mewajibkan saya. Ia mengunjungi saya supaya saya membuka hati dan pintu rumah saya. Ia menghimbau saya agar saya mempraktekan keadilan dan kebaikan. Wajah menyatakan diri sebagai “janda dan yatim piatu”.[33]

Levinas menggagas sebuah pemikiran etis tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain sebagai wujud konkret dari perjumpaan manusia melalui wajah ke wajah itu. Filsafat wajah-nya menarik untuk ditilik. “Wajah” yang dimaksud bukan sekedar bagian dari organ tubuh manusia yang terletak di bagian depan kepala. Yang dimaksud dengan Levinas dengan istilah ini adalah situasi dimana ada orang yang muncul di depan kita. Ia hadir sebagai orang tertentu melalui wajahnya. Dalam wajah sesuatu yang transenden menyatakan diri.

Wajah adalah sebuah personifikasi ketakberdayaan yang mengimbau suatu tindakan etis. Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dalam wajah itu, orang lain tampak sebagai orang tertentu, orang lain. Orang lain menyatakan diri sebagai yang betul-betul lain dari saya. Konsekuensinya adalah bahwa wajah sebagai wajah tidak dapat dikuasai, dipegang atau diperbudak. Kedua, dalam wajah itu orang berada sama sekali di luar kita. Ia tidak berbicara tentang bagaimana tanggung jawab moral, apa itu bertindak secara moral atau bagaimana reaksi yang harus diambil ketika orang lain berhadapan dengan kita, melainkan pada apa yang terjadi di saat wajah itu menatap kita. Ketika seoseorang berhadapan dengan orang lain, ia menjadi tidak bebas lagi, tidak bisa bersikap apatis  tetapi ia harus bertanggung jawab atasnya. Tanggung jawab itu bersifat total. Total dalam arti bahwa kita tersubstitusi bagi orang itu. Bebannya menjadi beban saya, tanggung jawabnya menjadi tanggung jawab saya. Saya bahkan bertanggung jawab atas kesalahan orang lain: orang itu, dengan segala beban yang ada padanya adalah beban saya.

Manifestasi yang lain adalah wajah. Maka, wajah adalah sebuah personifikasi sebagai yang miskin, janda, yatim piatu, orang asing, yang telanjang. Semua figur ini menyiratkan fakta tentang suatu kejadian etis. Epifani wajah adalah suatu kejadian etis. Kejadian yang membuka kemanusiaan, yaitu kemanusiaan yang mengandung di dalam dirinya suatu undangan etis. Undangan yang meminta suatu respons, yaitu respons dalam responsibilité.

Ia menegaskan bahwa baru ketika berhadapan dengan orang lain, saya menjadi saya, saya menemukan identitas saya, menemukan keunikan saya. Inilah yang menjadi inti dari paradigma filosofis Levinas tentang filsafat wajah.

Levinas berfokus pada saat pra-reflektif yang memuat data panggilan untuk kebaikan, tuntutan primordial untuk bersikap baik dan tidak jahat terhadap dia yang lain, dan bahwa panggilan itu merupakan pancaran dari yang baik-Yang-Takberhingga yang menjadi cakrawala di mana didalamnya kita bertemu dengan yang lain.

B.5   Keunikan Yang Lain

Persoalan yang justru diperuncing dalam pemikiran Levinas adalah kritiknya terhadap kencenderungan reduksionis dalam sejarah filsafat, dari pra-sokrates sampai dengan Heidegger. Bagi Levinas, tradisi filsafat barat merupakan “the philosophy of the same” karena segala usaha untuk membangun suatu totalitas merupakan pemerkosaan terhadap keunikan yang lain. [34]

Dan segala usaha untuk mengeksplisitasi dan memahami keunikan manusia merupakan pelecehan terhadap alteritas (keberlainan yang lain, yang sama sekali lain) manusia sebagai persona. Segala usaha untuk memahami diri sesama merupakan kegagalan. Keunikan sesama sebagai pribadi hadir dihadapan “wajah yang telanjang”.[35] Di sini Levinas memakai nama “DiaYang Lain” untuk menerapkannya pada manusia. Manusia adalah misteri yang sulit dipahami. Manusia adalah valde aliud atau yang sama sekali lain bagi sesamanya. Karena dalam diri sesama yang unik itu Aku melihat DIA Yang Transenden, maka aku harus menghormati sesama, bahkan harus tahkluk dan taat.

Menurutnya, ontologi atau metafisika esensialisme telah memperkosa keunikan. Bagaimana “ada” menjadi dasar keunikan dan sekaligus menjadi dasar kesamaan? Pertanyaan ini yang manu dijawab Levinas. Bahwa eksplisitasi keunikan hanya menjadi latar belakang bagi penindasan terhadap yang lain. Filsafat yang demikian adalah filsafat totalistis.

  1. II. DISKURSUS AKHIR

Emmanuel Levinas merupakan pengubah isu etika pasca-modern. Dengan berfokus pada fenomenologi yang lain, ia ingin meradikalkan Yang Lain yang telah lama dilupakan dalam diskursus seluruh filsafat barat. Descartes yang mengabsolutkan kesadaran, Husserl yang mengedepankan paradigma subyak-obyek, dan Heidegger yang mengumandangkan ontologi fundamental, ditolak Levinas. Paradigma semacam ini telah menjadi kerangka dasar pemikiran totaliter yang mengabsolutkan ego in se. Bagi Levinas  pemikiran seperti ini bersifat narcistis, egosentris. Padahal data paling dasar keterpanggilan manusia adalah melihat yang lain. Bukan hanya melihat, tapi merespon impuls etis yang didapat melalui perjumpaan wajah ke wajah dengan suatu sikap tanggung jawab. Ini bukan suatu etika normatif, melainkan suatu fenomemologi moral yang begitu saja disisihkan dalam sejarah.

Akar dari penindasan, pemerkosaan, pembunuhan terhadap sesama adalah kegagalan dalam melihat yang lain sebagai yang lain, kegagalan melihat wajah yang lain. Kisah Auswitch terekam dalam jiwa Levinas sebagai momen pedih di mana keluarganya sendiri menjadi korban. Analisis Levinas  dalam fenomenologi yang lain berhubungan dengan kejadian miris itu. Apalagi diskriminasi terhadap orang Yahudi di Eropa, menjadi sebuah terminus a quam bagi analisis terhadap keunikan dan alteritas yang lain. Dengan mengeritik metafisika esensialisme, Levinas sebenarnya mengungkapkan bahwa hanya Tuhan yang unik an sich. Keunikan manusia hanya ada dalam tataran horisontal, yakni relasi antara manusia. Namun dalam relasi vertikal manusia berada dalam satu kategori yakni yang terbatas, yang tergantung pada Dia yang adalah Der Ganz Andere (Dia  Yang Sama Sekali Lain). Kita patut berterimakasih pada Levinas karena telah berjuang mengungkap cacat cela filsafat modern yang memutlakan kesadaran dan mencoba menggali kekayaan data kesadaran secara fenomenologis dan kakayaan yang lain. Akhirnya manusia etis levinasian adalah dia yang berada bagi yang lain. Dia yang bertanggungjawab terhadap yang lain. Manusia secara pra-refleksif sebenarnya terpanggil untuk bertanggungjawab terhadap sesama.

KULTUS PEMUJAAN TUBUH ERA INFORMATIKA

Tidaklah ‘lebay’ jika kita menyebut semangat zaman (Seitgeist) ini sebagai zaman penguasaan teknologi dan informasi dan di sisi lain zaman perbudakan oleh teknologi dan informasi. Masih kuat dalam ingatan kita akan berbagai kasus video porno yang beredar luas (termasuk di kalangan mahasiswa/i) yang melibatkan beberapa artis kondang yang dilabeli predikat ganteng, tenar, cantik dan selebritis. Atau beberapa kasus tingkat lokal yang menggemparkan kota Kupang di mana beberapa wanita dan pria berbugil ria dalam foto-foto dan video digital. Kasus-kasus ini bermula dari sebuah keisengan untuk mengabadikan gambar tubuh entahkah dalam posisi diam atau bergerak sampai pada sebuah “chaos moral” yang oleh sejumlah moralis dan agamais dicap sebagai tindakan asusila. Menurut mereka (: kaum moralis dan agamais), bahwa pihak-pihak yang terlibat rupanya sedang terjerumus dalam perbudakan birahi yang menjadikan baik nilai-nilai agama maupun  etika menguap entah kemana.

 

“Nafsu menggebu-gebu bikin malu dan susah maju,” demikian lirik lagu dari Band yang tidak begitu kondang Efek Rumah Kaca. Upaya merekam adegan bersetubuh atau hanya sekedar memamerkan kemolekan tubuh dalam bentuk gambar entahkah untuk kenangan semata ataukah untuk kebutuhan pasar memang lazim zaman sekarang. Ada orang yang menyebut gejala ini sebagai kultus tubuh era informatika. Kultus tubuh adalah suatu upaya sadar ataupun tidak sadar untuk mengagung-agungkan atau mendewa-dewakan tubuh manusia baik itu melalui untuk kepentingan kesenangan pribadi maupun untuk memenuhi selera pasar. Dalam arti yang negatif, kultus tubuh merupakan suatu upaya pengobjekan tubuh untuk menjadi suatu komoditi demi keuntungan material ataupun  psikologis. Ada yang melihat fenomena ini sebagai suatu ketersesatan arah dari generasi teknologi dan informatika, dan ada pula yang menafsir sebagai ketidakdewasaan moral, psikologis dan rohani. Memang setiap kejadian hidup keseharian seperti ini merupakan sebuah teks yang bisa ditafsir dari aneka sudut pandang baik itu agama maupun ilmu pengetahuan dan filsafat.

 

Filsuf Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969) benar ketika ia mengungkapkan bahwa kemajuan tidak terlepas pula dari kemunduran. Tesisnya yakni teori kemajuan dimengerti juga dalam teori kemunduran. Pada masa pencerahan sejarah ditafsir sebagai proses yang melibatkan manusia dalam dalam pertentangan satu sama lain. Sejarah dipandang sebagai pembebasan manusia dari cengkeraman alam dimana perkembangan sejarah memperlihatkan proses diatasinya ketergantungan manusia pada alam. Kebebasan penuh manusia dilihat sebagai keterlepasan bangsa manusia dari ketergantungan pada alam. Inilah yang kemudian disebut sebagai emansipasi. Namun kemajuan tidak dapat dilepaskan dari kemunduran sebab kemajuan tidak mungkin jika tidak ada sesuatu yang ditiadakan atau dihancurkan, yaitu alam dari mana manusia membebaskan diri. Maka bagi Adorno, teori tentang kemajuan hanya mungkin sebagai teori dialektis, artinya teori di mana kemajuan hanya dimengerti sejauh kemunduran dimengerti. Inti dialektika adalah perlunya penguasaan. [1]

 

Bukan berarti dengan menahlukan alam manusia sudah masuk dalam  kebebasannya.  Yang terjadi malah manusia menjadi budak oleh kemajuan itu, karena ia menjadi obyek penguasaan. Daripada menghasilkan emansipasi ilmu pengetahuan dan tehnik membuat manusia menjadi obyek. Manusia menjadi subyek yang menguasai sekaligus obyek yang dikuasai. Ia yang mau membebaskan diri, pada kenyataannya diperbudak saja. Adorno menyebut ini sebagai  ‘Umschlag’ atau suatu pembalikan dari subyek menjadi obyek. Bagaimana manusia yang mengklaim diri sebagai subyek yang bebas dan pelaku bebas menjadi budak kemajuan?[2] Adorno memang kelihatan pesimis dengan segala kemajuan IPTEK namun jika kita baca pemikiran dalam konteks zaman teknologi dan informasi kita dapat menemukan sebuah benang merah yang menggambarkan paradoks kemajuan.

 

[1] Kees Bertens, Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman, Jakarta: Gramedia, 2002, hlm. 210.

[2]  Op. Cit., hlm. 211.

pasti ada rasa untuk Litta (kisah cinta anak Ruteng) By: Rofiantinus Roger*

Litta, gadis di bemo itu

Setiap kali aku pulang dari tempat kerja, aku selalu menggunakan bemo. Di samping lebih murah, juga karena aku belum mau beli sepeda motor. Daripada harus kredit yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan pihak dealer, lebih baik aku jalan kaki saja. Aku memang mau begini saja, meski mama dan saudara-saudara mendorongku untuk beli motor agar memudahkan untuk pulang-pergi dari rumah ke tempat kerja atau pun sebaliknya. Aku tak mau karena lebih milih hidup sederhana. Tidak mau hidup sekedar tunjuk-tunjuk barang yang mampu dibeli. Kalau saja mau beli, itu sudah dari dulu. Ini bukan soal isi kantong, tapi soal pilihan. Gajiku besar semenjak kerja pada salah satu Bank swasta di Ruteng.
Aku memilih naik bemo saja. Sudah biasa. Semenjak aku taman kanak-kanak sampai sudah kerja seperti sekarang ini, aku sudah terbiasa menumpang bemo. Sampai-sampai teman-teman kerja menjuluki aku sebagai ‘manusia bemo’.
Saat-saat naik bemo kujadikan saat santai, menikmati jalan-jalan kota atau sekedar melihat wajah-wajah baru orang yang sungguh lain dari keluarga, kenalan, dan para teman-temanku. Saat itulah aku menemui Litta. Itu terjadi 4 bulan lalu.
***
Ruteng, Februari 2010.
Gadis itu kelihatan terburu-buru keluar dari rumahnya. Ada seorang ibu separuh baya yang kelihatan sedang marah-marah di depan pintu. Aku menerka bahwa itu ibu gadisnya. Ia menyerobot masuk sesaat saja bemo berhenti seperti roket pejuang Palestina yang meluncur di jalur Gaza. Dengan nafas terengah-engah ia duduk. “Gila ne cewek”.
“Huff… dasar orang tua, kerjanya hanya marah-marah saja. Orang mau pergi sekolah juga harus diberi nasihat pagi-pagi.” Gadis itu mengeluh.
Setelah itu ia mengeluarkan Blackberry-nya, sebuah barang yang harganya bisa membuat dahi berkerut. Tak lama kemudian ia mengambil juga headset dari saku tasnya, lalu memasang alat itu pada kedua telinganya dan mendengar lagu-lagu kesukaannya. Ia tak mempedulikan orang-orang di sekitar. Kuhitung-hitung dalam bemo itu ada 5 orang. Sopir dengan kondekturnya, aku, gadis itu, dan seorang ibu tua yang tak tahu akan turun di mana. Ia sungguh tak peduli.
“Om..Sa turun di Ahmad Yani,” katanya kepada Sopir.
“Ya, nona, ” jawab si pengemudi singkat.
Aku tidak biasa memberi tahu tempat turun karena setiap bemo jurusan Leda-Kota Ruteng yang aku tumpangi sudah tahu aku harus turun di mana setiap pagi. Si ibu tua juga turun tepat di depan RSUD Ruteng. Dia membawa bungkusan-bungkusan plastik hitam. Aku menebak bahwa ibu itu sedang menjaga keluarganya yang sakit.
Si gadis itu masih sibuk dengan Bb-nya. Tak peduli sedikitpun kalau aku telah memperhatikannya dari tadi. Eleh-eleh-eleh. Sesekali ia berhenti mendengar musik dan mengetik sms dengan cepat. Jari jemarinya seperti mesin yang sudah diprogram untuk mengetik sms di tuts-tuts mungil alat itu. Tak lama ia menjawab telepon teman-temannya. Suaranya begitu besar saat bicara. Sepertinya ia hendak mengatakan kepada supir, kondektur dan aku bahwa dia sedang menelpon. Sesekali dia tertawa meladeni orang yang di ujung telepon. “Kegilaan hp kali,” kataku dalam hati.
Gadis itu masih SMA. Lihat saja seragamnya. Pada dada kanan seragamnya ditulis, Maria Tarlitta B. Mungkin saja namanya Litta. Ia memakai rok yang menyentuh lutut. Pakaiannya ketat. Belahan-belahan tubuhnya yang baru mekar sungguh nampak. Belum lagi harum parfum ala gadis-gadis opera sabun. Hmmm. Asyik. Sungguh ia terkesan seksi dan membangkitkan imajinasi pagi-pagi. Litta seperti bunga yang sedang mekar dan mekar dengan begitu bergairah. Akhirnya, dia turun juga, tepat di depan gerbang sebuah SMA di kota Ruteng. Ohh…..rupanya dia sekolah di sini. Dari situ kutahu nama gadis itu. Litta. Hehe. Meski belum kenalan. Tebak saja.
***
Ruteng, Mei 2010.
Suatu hari aku tak sengaja lewat di depan sekolah Litta. Kulihat gadis itu sedang bercengkrama dengan kawan-kawannya. Mereka tertawa begitu bebas, sebebas burung-burung yang sedang mengais-ngais makanan pada sela-sela rerumputan di halaman. Mungkin saat itu jam istirahat. Dari jalan nampak jelas betul aku bisa melihat anak-anak SMA itu berkelompok-kelompok bercerita dan tertawa sambil melihat kendaraan yang lalu-lalang. Dari situ kutahu padahal Litta adalah seorang gadis yang ceria.
***

Juni, 2010.
Aku sendiri di dalam bemo bersama dengan sang supir.
“Kita jalan su pa tak ada penumpang lagi.”
“Mana-mana saja bung, apalagi kampung tengah sudah takitu ni” Jawabku.
Kami meluncur dari arah Toko Pagi menuju ke Markas Brimob kemudian melaju ke jalur Leda. Bemo begitu melaju. Mungkin karena sang supir mau makan siang. Hehehe…ikut saja. Sesampai di depan Toko Buku Nusa Indah kulihat Litta berdiri sendiri.
“Berhenti dulu ka’e,” kataku kepada sopir itu.
“Litta, ayo naik,” pintaku kepada gadis itu.
Gadis itu keheran-heranan. Siapa laki-laki yang sok kenal sok dekat ini? “Ayo,” pintaku lagi.
Ia akhirnya naik juga setelah bertingkah seolah-olah bingung. Siapakah Aku? Mengapa aku mengajaknya? Dia duduk terdiam. Sesekali ia memperhatikanku. Sedikit lagi ia mungkin bertanya.
“Om kenal aku ko?”
“Tidak. Hanya tau namamu saja dari tulisan di seragam itu e.” Hehehehe. Ia juga terkekeh. Kok bisa? Memang kenapa? Salah ko?
“Boleh ralat? Aku belum om-om e”
“Ok deh ka…”
Hanya kami berdua di bemo itu. Di sana ada percakapan. Makin lama makin menunjukan tanda-tanda baik. Tak ada lagi dering sms masuk, telepon, atau sejenisnya. Yang ada percakapan dua anak manusia yang baru tahu nama masing-masing. Betul, nama kecil gadis itu adalah Litta. Ia begitu cantik. Mungkin umurnya baru 18 atau 19 tahun. Gadis yang baru mekar, harum, dan ranum. Dia terlihat indah mengalahkan bunga mawar di pekaranganku. Diam. Itu adalah jeda antar kalimat percakapan. Tatapan menginterupsi di sela-sela pembicaraan. Dua bola mata berbicara. “Apakah aku tertarik sama anak baru gede yang karena berparas ayu dan mengenakan pakaian seragam seksi ini, dia yang sedemikian rupa mengganggu hasratku kelaki-lakianku?” Aku membatin. Tak lama Litta turun.
“Kiri Om.” Katanya kepada sang supir. Bemo segera berhenti. “Ka’ Aku turun duluan. Sampai nanti.” Sambil melambaikan tangan lalu menghilang dari pintu…
Litta turun di depan rumahnya. Seorang bapak paruh baya menunggu di depan rumah. Litta mencium tangannya. Lalu masuk ke rumah dengan sopan. Aku mengamati dari bemo yang melangkah dengan pelan.
***
Selanjutnya aku terus berjumpa dengan Litta di bemo yang aku tumpangi. Seakan-akan ada kontak batin antara kami berdua. Saat aku naik bemo A, ia juga naik bemo yang yang sama. Saat aku melirik kepadanya, pada saat yang sama ia juga melirik. Saat aku kebetulan sedang menengok ke luar jendela, ia juga sama. Wahhh…ada apa neh? Rupanya ada suatu persenyawaan. Hehe. Aku jatuh cinta sama anak SMA. Anak SMA!!!! Entah bagaimana sampai suatu sore aku nekat menyambangi rumah gadis itu. Rupanya dia sedang seorang diri di sana. Dia juga senang aku datang. Bahkan disambut bak teman sebaya saja. Padahal umur kami terpaut berbeda 6 tahun.
Karena diterima begitu baik di rumahnya, aku menjadi ketagihan mengunjungi rumah itu. Aku seperti kumbang yang sangat tertarik kepada bunga yang baru mekar. Ingin mencuri madunya, namun masih takut-takut. Sungguh rasa yang berkelebat ramai. Suka. Cinta. Hasrat. Naksir. Macam-macam. Apapun jenisnya, namun yang pasti ada rasa untuk Litta. Kecantikan, kemolekan dan kemanjaan gadis itu sungguh-sungguh menyandera hati. Orangtuanya pun tahu kalau aku sedang dekat dengan anak mereka. Mereka bersikap apa adanya. Mungkin aku sekaligus menjadi penjaga si anak gadis. Kalau mau di sebut pacaran, hubungan itu tak seromantis cinta Gaston dan Jupe, hanya ada tawa canda dan saling melirik tak lebih dari itu. Aku pun semakin lekat.

Kami sering naik bemo berdua. Cuma berdua. Hanya ada om sopir yang setia mengantar. Kadang kami meluncur ke Lintas Luar Kota Ruteng hanya untuk mengambil jarak sejenak dari kota berhawa dingin itu. Acap kali juga pergi menyusuri hutan-hutan Ampupu di Wae Lengkas. Semua itu terbingkai dalam suatu hubungan yang sulit disebut pacaran. Ini tepatnya sebuah persahabatan dua manusia yang baru bertumbuh. Tapi menurut orang-orang, kami sungguh pacaran, karena sering berdua. Hehehe.
***
Niat tak membeli motor meski tabungan sudah gemuk kini luluh. Aku kasihan sama Litta. Masa pacaran dengan gadis yang sebegitu cantik tak pakai sepeda motor? Bukannya takut ketinggalan tren, cuma ini kebutuhan mendesak. Ciehhh. Setelah konsultasi dengan keluarga, akhirnya aku merumahkan sebuah motor Yamaha CS1 dari sebuah Dealer. Kontan. Malas kredit. Motor itu berwarna keperak-perakan. Warna yang aku suka.

Karena sudah memiliki CS1, maka tugas ke kantor dan jalan-jalan dengan Litta sudah dipermudah. Ciuhhhh. Jalan-jalan kota Ruteng tak pernah alpa dengan sepasang manusia yang meluncur dengan motor baik itu baik itu sore maupun malam hari. Si laki-laki mengenakan helm masker standar sementara si wanita dengan rambut terurai memeluk si laki-laki dari belakang. Orang bilang itu gaya naik motor gaya nungging. Seperti kuda saja. Hehehe. Waktu-waktu senggang, kami manfaatkan secara sungguh untuk pacaran dengan sungguh-sungguh. Meski pergi hanya melihat pepohonan dan menghirup aroma hutan. Namun tak ada acara cium-ciuman ala film romantis. Yang ada hanya kecupan yang terlihat ragu-ragu seperti dalam film-film amatir.
***
November, 2010
Hari Minggu yang cerah. Aku meminta ke ayah Litta untuk mengajaknya ke Danau Rana Mese. Alasannya untuk refreshing. Bak gayung bersambut, ortunya setuju, yang penting jangan macam-macam. Padahal dalam hati aku sudah menyiapkan sebuah kencan spesial, yang lain dari yang sebelumnya. Waktu itu hari ulang tahunku. Aku telah menyiapkan sebuah lagu, bebungaan, makanan dan minuman seadanya untuk membuat hari itu layak disebut pesta.
Kami pun star dari rumah pagi pukul 7.30. Kami meluncur melewati kita masalah. Bok-bok di sekitar Wae Reno kali lipat bak pembalap profesional saja. Namun tiba-tiba sesampai di Mano. Brarrrr….brarr….motorku seperti dihantam oleh tubrukan yang keras. Tak jelas. Hancur. Terlempar. Tergesek aspal. Pusing. Apa kami yang menabrak atau mobil itu yang menabrak? Tak jelas. Motor terguling. Penyok. Aku juga tak Litta jatuh ke arah mana. Aku pusing tak sadarkan diri……….sampai…….
Aku tersadar sudah ada di ICU RSUD Ruteng. Aku cek kaki, tangan, mulut, kepala, rusuk…Ahhh ternyata masih utuh..hanya kaki yang kena luka lecet panjang akibat gesekan di aspal.
“Dokter…Litta.. di mana…. Littaaa…?”
“Dia ada di sebelah. Dia juga tidak apa-apa, hanya sedikit lecet. Rupanya Tuhan masih memberi kalian kesempatan hidup.” Jawab si dokter dengan tenang.
Aku menoleh ke sebelah. Si gadis itu rupanya juga sudah siuman. Dia tersenyum padaku. Itu tandanya dia baik-baik saja. Litta..Littta…maafkan Aku e, sudah buat kamu begini. “Sudahlah ka…Litta juga bersyukur ka’ juga selamat.”

Kisah ini kutulis sehari sebelum aku bertunangan dengan Litta. I love U cinta.(end) http://www.fianroger.wodpress.com di Rumah Kata-kata.