TINGGAL AKU DAN KATA-KATA Oleh: Rofiantinus Roger

Untuk Nama Yang Tak Terkatakan…

“Penderitaan ini menggerogoti hidupku, membuat retak dinding-dinding keberadaanku, sampai aku terbentur pada sebuah tembok batas yang membuat aku terkulai, sedikit demi sedikit tersingkir, bahkan melupakan diri. Di sisi lain aku bertumbuh menjadi lebih tabah hati dan semakin menjadi manusia dalam kemanusiaanku, ” tulis ayah dalam bukunya yang berjudul Diam.

Di halaman depan buku  itu tertulis, “Untuk Ebed”. Namaku Ebed. Itu nama kesayanganku yang diberi oleh ba’i. Aku anak pasangan Karel dan Getrudis yang bertemu pada saat kuliah, saling jatuh cinta, lalu menikah. Aku adalah satu-satunya anak hasil percintaan mereka yang dicari dengan setengah mati.

Pada suatu hari ayah berkata, “Bed, menurut kamu apa lagi yang harus ayah cari lagi? Pekerjaan yang bagus ada di tangan, plus didampingi oleh ibu kamu yang cantik. Secara manusiawi ayah telah memperoleh kriteria sukses. Apa lagi?”

“Masih cari Ebed yang lain,” jawabku lurus. Dia menepuk bahuku tanda kagum dengan jawabanku.

Ayah adalah seorang dosen di sebuah lembaga pendidikan tinggi favorit di kota kami. Ia menyelesaikan pendidikannya di Eropa sebagai doktor yang jenial. Ia merupakan salah satu dosen favorit dan produktif dalam melakukan penelitian di lembaga itu. Namun sayang, lantaran ide-idenya terlalu radikal, kiri dan banyak menentang kebijakan pemerintah, makanya ia diminta dengan hormat oleh pimpinan untuk mengungsi ke kampung. Di sana dia bisa menjadi penulis lepas. Jadilah kami hidup di sebuah rumah sederhana jauh dari kota di kampung asal ayah. Sementara ibuku adalah seorang perawat di rumah sakit milik pemerintah. Ia bekerja dengan sungguh melayani pasien-pasien. Hampir banyak waktunya diabdikan untuk pekerjaan, sampai ia hampir melupakan diri dan keluarganya.

*                 *              *

Setiap kali pulang sekolah, selalu aku menyempatkan diri mengintip bilik kerja ayah yang disesaki ratusan buku, entahkah itu yang bersifat ilmiah maupun fiksi, yang ditulis dalam bahasa Indonesia atau juga ditulis dalam bahasa asing, yang aku pikir ia pun tak paham semuanya. Sebentar aku membaca nama penulis buku-buku itu; Heidegger, Marcel, Jaspers, Sarte, Ponty, Hussrel, Smith, Marx, Lenin, Soepomo, Tan Malaka, Rendra dan banyak lagi. Nama-nama yang aneh menurutku, karena cukup asing ditelinga. Aku hanya tahu; Yongki, Asmin, Anus, Obet, Rigo, yang adalah tetangga dan teman-teman sepermainanku.

Ayah hidup dalam penderitaan panjang. Sejak masa muda ia sudah menderita paru-paru basah, riwayat jantung lemah, dan penglihatan yang kurang baik. Makanya, hari-harinya dihabiskan di sebuah bilik kecil untuk membaca, menulis, menerima dan mengirim e-mail kepada teman-temannya, menonton televisi kecil untuk mengetahui perkembangan dunia, dan berdiskusi denganku. Di sampingnya laptop-nya terdapat setumpuk kertas berisi rancangan tulisan, sajak-sajak, memoar, lukisan pensil yang abstrak. Semua bercecer tak beraturan. Rahasia dibalik berlalunya rasa sakit adalah buku-buku.

“Apa pekerjaan ayah kamu?” tanya seorang guru kepadaku di sekolah. “Penulis,” jawabku singkat.

Ayah memang penulis yang tenggelam di balik biliknya sendiri. Pikiran, ide-ide,dan gagasannya terputar dalam ruang kerjanya, dan tak sempat sedikitpun untuk beranjak ke luar pintu rumah. Selama ia mengasingkan diri, tulisan-tulisannya tidak dipublikasikan ke penerbit manapun. “Itu pekerjaan yang tak mungkin lagi,”katanya.

Aku adalah satu-satunya orang yang terus mendengarkan dan membaca tulisan-tulisannya, meski aku tak mengerti. Itu demi menyenangkannya saja.

“Di mana ibu kamu?” tanya seorang wanita separuh baya ketika aku pergi ke pasar.

“Di kota,” jawabku singkat.

Ibu hanya pulang seminggu sekali untuk menjenguk aku dan ayah. Kadang juga dalam sebulan ia hanya menitipkan sembako lewat kerabat untuk kami. Ayah dan ibu seperti sudah terpisah sebagai laki-laki dan perempuan lantaran buku-buku dan pasien.

*              *              *

Berbulan-bulan ibu tak kunjung pulang. Kami terus mencoba menghubunginya hp-nya, namun gagal dan berada di luar jangkauan. Kami juga mencoba menanyakan kepada kerabat, namun nihil. Mungkin ia sudah menikah lagi dengan laki-laki yang lebih muda, karena ayah sudah tak lagi menafkahinya secara badahiah sejak ia menderita sakit. Dugaan itu salah besar, ketika semuanya menjadi jelas pada bulan Maret. Seorang kolega ibu mengabarkan bahwa ibu sedang menjalani kemotherapi di sebuah rumah sakit di pulau lain. Ia menderita kanker payu dara. Mendengar itu ayah seperti biasa-biasa saja, mungkin karena kabar tentang orang sakit dan kesakitan menjadi pengalaman yang sudah biasa baginya. Lima bulan kemudian ibu meninggal, tanpa meninggalkan pesan apapun. Ayah tak pernah tahu ia menderita penyakit ganas itu. Mungkin karena tak pernah diberi tahu ataupun kalau diberitahu ayah tak mau tahu, lantaran sibuk dengan dunia buku-buku dan ide-idenya sendiri.

Untuk selamanya wanita itu pergi kepada keabadiaan, menuju Yang Tak Terkatakan. Kedukaan itu menindihku berbulan-bulan dan membuat aku terkulai seperti terbentur tembok batas dengan begitu keras. Aku pun mencoba mengintip perasaan ayah. Di sana hanya aku temukan gumpalan kata-kata ini dalam buku Renungan atas kematian sang kekasih: “Aku biarkan kamu meninggal sendirian, karena memang seharusnya begitu. Aku tak dapat campur tangan lebih jauh karena itu hidup dan matimu. Namun kamu telah meninggalkan dosa abadi dalam hatiku, karena deraan cinta pertama saat kita pertama kali bersua justru lebih kuat saat engkau telah pergi. Tinggal Ebed-lah yang menjadi gambarmu di hadapanku.”

Kata-kata inilah yang merajam hati ayah berbulan-bulan yang membuat ia semakin terasing, parah, rentan, letih, dan terkulai. Hari-harinya berjuang untuk menjinakkan penyakit ganas yang menggerogotinya dari dalam. Ia seperti daun yang kekuning-kuningan yang sebentar lagi akan kering, ditiup angin, jatuh, dan busuk. Ia seperti kayu kering yang menunggu waktu untuk tumbang. Ia  susah tidur, apalagi makan. Hari-hariku menjadi tersandera untuk merawatnya dan menghiburnya. Uang pensiun ibu digunakan untuk bertahan hidup meski itu tak cukup kalau dibagi dengan kebutuhan sekolahku. Meski demikian ia tetap berpikir dan menyuruh aku untuk menuliskan pikiran-pikirannya. Sekali lagi, hanya aku yang mendengarkannya dan membaca pikirannya.

*               *               *

“..Kebakaran…kebakaran…kebakaran, ”teriak seorang warga ketika aku baru pulang dari pastor paroki untuk meminta sakramen minyak suci untuk ayah.

“Bedd…rumah kamu terbakar,” kata seorang wanita yang tak kukenal.

“Apaaa….”

Aku berlari menuju rumah dimana aku mendapati banyak orang berjibaku memadamkan api. Untunglah belum terbakar semua, sehingga beberapa barang masih bisa diselamatkan kecuali bilik ayah dan buku-bukunya.

“Dimana ayah..ayahhh..ayahhh, ayahhhhh…” Duka, terkulai, jatuh,  tertindis perih adalah  rasa sakit yang tak terkatakan dan tak terobati, namun semua terasa indah karena membuat aku mengapung dalam kolam keseharian.

Ayah telah hangus terbakar bersama huruf-huruf vokal dan konsonan, kata-kata, frasa, kalimat, paragraf dan karangan-karangan. Ia terkubur bersama buku-buku, traktat, memoar, catatan-catatan, laptop, dan ide-idenya. Ia dikremasi bersama biliknya yang membosankan. Sekarang tinggal aku dan kata-kata. Aku yatim-piatu dan sebatang kara, seperti pohon yang tumbuh sendiri di tengah sabana. Seperti pulau kecil yang terlempar ke samudera nan luas. Masa laluku adalah pecahan-pecahan kedukaan dan penderitaan, masa sekarang adalah kematian yang mengusik, sedang masa depanku terpantul dari pecahan cermin yang kabur.

Aku luntang-lantung mencari-cari keluarga, sanak, dan kerabat untuk melanjutkan hidup. Hidupku seperti burung pipit yang terus mencari makan walau ditinggal kawanan. Aku terlempar dalam situasi yang sungguh membuat aku retak, tak bergerak.

*                *             *

Besok aku akan diwisuda menjadi sarjana teknologi informasi dari sebuah perguruan tinggi swasta yang terkenal di kota ini, besok semua mimpi akan terurai dalam derai air mata perjuangan. Namun apakah aku nanti juga mati di antara tumpukan alat-alat teknologi yang menjadi teman hari-hariku?

“Bed.., hey, jangan melamun terus, ada orang yang mau pesan notebook,” kata-kata temanku membangunkan aku dari lamunan panjang. (end)

Hati Maria, September 2010

Posted on 28 September 2010, in CERPEN and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: