Monthly Archives: September 2010

TINGGAL AKU DAN KATA-KATA Oleh: Rofiantinus Roger

Untuk Nama Yang Tak Terkatakan…

“Penderitaan ini menggerogoti hidupku, membuat retak dinding-dinding keberadaanku, sampai aku terbentur pada sebuah tembok batas yang membuat aku terkulai, sedikit demi sedikit tersingkir, bahkan melupakan diri. Di sisi lain aku bertumbuh menjadi lebih tabah hati dan semakin menjadi manusia dalam kemanusiaanku, ” tulis ayah dalam bukunya yang berjudul Diam.

Di halaman depan buku  itu tertulis, “Untuk Ebed”. Namaku Ebed. Itu nama kesayanganku yang diberi oleh ba’i. Aku anak pasangan Karel dan Getrudis yang bertemu pada saat kuliah, saling jatuh cinta, lalu menikah. Aku adalah satu-satunya anak hasil percintaan mereka yang dicari dengan setengah mati.

Pada suatu hari ayah berkata, “Bed, menurut kamu apa lagi yang harus ayah cari lagi? Pekerjaan yang bagus ada di tangan, plus didampingi oleh ibu kamu yang cantik. Secara manusiawi ayah telah memperoleh kriteria sukses. Apa lagi?”

“Masih cari Ebed yang lain,” jawabku lurus. Dia menepuk bahuku tanda kagum dengan jawabanku.

Ayah adalah seorang dosen di sebuah lembaga pendidikan tinggi favorit di kota kami. Ia menyelesaikan pendidikannya di Eropa sebagai doktor yang jenial. Ia merupakan salah satu dosen favorit dan produktif dalam melakukan penelitian di lembaga itu. Namun sayang, lantaran ide-idenya terlalu radikal, kiri dan banyak menentang kebijakan pemerintah, makanya ia diminta dengan hormat oleh pimpinan untuk mengungsi ke kampung. Di sana dia bisa menjadi penulis lepas. Jadilah kami hidup di sebuah rumah sederhana jauh dari kota di kampung asal ayah. Sementara ibuku adalah seorang perawat di rumah sakit milik pemerintah. Ia bekerja dengan sungguh melayani pasien-pasien. Hampir banyak waktunya diabdikan untuk pekerjaan, sampai ia hampir melupakan diri dan keluarganya.

*                 *              *

Setiap kali pulang sekolah, selalu aku menyempatkan diri mengintip bilik kerja ayah yang disesaki ratusan buku, entahkah itu yang bersifat ilmiah maupun fiksi, yang ditulis dalam bahasa Indonesia atau juga ditulis dalam bahasa asing, yang aku pikir ia pun tak paham semuanya. Sebentar aku membaca nama penulis buku-buku itu; Heidegger, Marcel, Jaspers, Sarte, Ponty, Hussrel, Smith, Marx, Lenin, Soepomo, Tan Malaka, Rendra dan banyak lagi. Nama-nama yang aneh menurutku, karena cukup asing ditelinga. Aku hanya tahu; Yongki, Asmin, Anus, Obet, Rigo, yang adalah tetangga dan teman-teman sepermainanku.

Ayah hidup dalam penderitaan panjang. Sejak masa muda ia sudah menderita paru-paru basah, riwayat jantung lemah, dan penglihatan yang kurang baik. Makanya, hari-harinya dihabiskan di sebuah bilik kecil untuk membaca, menulis, menerima dan mengirim e-mail kepada teman-temannya, menonton televisi kecil untuk mengetahui perkembangan dunia, dan berdiskusi denganku. Di sampingnya laptop-nya terdapat setumpuk kertas berisi rancangan tulisan, sajak-sajak, memoar, lukisan pensil yang abstrak. Semua bercecer tak beraturan. Rahasia dibalik berlalunya rasa sakit adalah buku-buku.

“Apa pekerjaan ayah kamu?” tanya seorang guru kepadaku di sekolah. “Penulis,” jawabku singkat.

Ayah memang penulis yang tenggelam di balik biliknya sendiri. Pikiran, ide-ide,dan gagasannya terputar dalam ruang kerjanya, dan tak sempat sedikitpun untuk beranjak ke luar pintu rumah. Selama ia mengasingkan diri, tulisan-tulisannya tidak dipublikasikan ke penerbit manapun. “Itu pekerjaan yang tak mungkin lagi,”katanya.

Aku adalah satu-satunya orang yang terus mendengarkan dan membaca tulisan-tulisannya, meski aku tak mengerti. Itu demi menyenangkannya saja.

“Di mana ibu kamu?” tanya seorang wanita separuh baya ketika aku pergi ke pasar.

“Di kota,” jawabku singkat.

Ibu hanya pulang seminggu sekali untuk menjenguk aku dan ayah. Kadang juga dalam sebulan ia hanya menitipkan sembako lewat kerabat untuk kami. Ayah dan ibu seperti sudah terpisah sebagai laki-laki dan perempuan lantaran buku-buku dan pasien.

*              *              *

Berbulan-bulan ibu tak kunjung pulang. Kami terus mencoba menghubunginya hp-nya, namun gagal dan berada di luar jangkauan. Kami juga mencoba menanyakan kepada kerabat, namun nihil. Mungkin ia sudah menikah lagi dengan laki-laki yang lebih muda, karena ayah sudah tak lagi menafkahinya secara badahiah sejak ia menderita sakit. Dugaan itu salah besar, ketika semuanya menjadi jelas pada bulan Maret. Seorang kolega ibu mengabarkan bahwa ibu sedang menjalani kemotherapi di sebuah rumah sakit di pulau lain. Ia menderita kanker payu dara. Mendengar itu ayah seperti biasa-biasa saja, mungkin karena kabar tentang orang sakit dan kesakitan menjadi pengalaman yang sudah biasa baginya. Lima bulan kemudian ibu meninggal, tanpa meninggalkan pesan apapun. Ayah tak pernah tahu ia menderita penyakit ganas itu. Mungkin karena tak pernah diberi tahu ataupun kalau diberitahu ayah tak mau tahu, lantaran sibuk dengan dunia buku-buku dan ide-idenya sendiri.

Untuk selamanya wanita itu pergi kepada keabadiaan, menuju Yang Tak Terkatakan. Kedukaan itu menindihku berbulan-bulan dan membuat aku terkulai seperti terbentur tembok batas dengan begitu keras. Aku pun mencoba mengintip perasaan ayah. Di sana hanya aku temukan gumpalan kata-kata ini dalam buku Renungan atas kematian sang kekasih: “Aku biarkan kamu meninggal sendirian, karena memang seharusnya begitu. Aku tak dapat campur tangan lebih jauh karena itu hidup dan matimu. Namun kamu telah meninggalkan dosa abadi dalam hatiku, karena deraan cinta pertama saat kita pertama kali bersua justru lebih kuat saat engkau telah pergi. Tinggal Ebed-lah yang menjadi gambarmu di hadapanku.”

Kata-kata inilah yang merajam hati ayah berbulan-bulan yang membuat ia semakin terasing, parah, rentan, letih, dan terkulai. Hari-harinya berjuang untuk menjinakkan penyakit ganas yang menggerogotinya dari dalam. Ia seperti daun yang kekuning-kuningan yang sebentar lagi akan kering, ditiup angin, jatuh, dan busuk. Ia seperti kayu kering yang menunggu waktu untuk tumbang. Ia  susah tidur, apalagi makan. Hari-hariku menjadi tersandera untuk merawatnya dan menghiburnya. Uang pensiun ibu digunakan untuk bertahan hidup meski itu tak cukup kalau dibagi dengan kebutuhan sekolahku. Meski demikian ia tetap berpikir dan menyuruh aku untuk menuliskan pikiran-pikirannya. Sekali lagi, hanya aku yang mendengarkannya dan membaca pikirannya.

*               *               *

“..Kebakaran…kebakaran…kebakaran, ”teriak seorang warga ketika aku baru pulang dari pastor paroki untuk meminta sakramen minyak suci untuk ayah.

“Bedd…rumah kamu terbakar,” kata seorang wanita yang tak kukenal.

“Apaaa….”

Aku berlari menuju rumah dimana aku mendapati banyak orang berjibaku memadamkan api. Untunglah belum terbakar semua, sehingga beberapa barang masih bisa diselamatkan kecuali bilik ayah dan buku-bukunya.

“Dimana ayah..ayahhh..ayahhh, ayahhhhh…” Duka, terkulai, jatuh,  tertindis perih adalah  rasa sakit yang tak terkatakan dan tak terobati, namun semua terasa indah karena membuat aku mengapung dalam kolam keseharian.

Ayah telah hangus terbakar bersama huruf-huruf vokal dan konsonan, kata-kata, frasa, kalimat, paragraf dan karangan-karangan. Ia terkubur bersama buku-buku, traktat, memoar, catatan-catatan, laptop, dan ide-idenya. Ia dikremasi bersama biliknya yang membosankan. Sekarang tinggal aku dan kata-kata. Aku yatim-piatu dan sebatang kara, seperti pohon yang tumbuh sendiri di tengah sabana. Seperti pulau kecil yang terlempar ke samudera nan luas. Masa laluku adalah pecahan-pecahan kedukaan dan penderitaan, masa sekarang adalah kematian yang mengusik, sedang masa depanku terpantul dari pecahan cermin yang kabur.

Aku luntang-lantung mencari-cari keluarga, sanak, dan kerabat untuk melanjutkan hidup. Hidupku seperti burung pipit yang terus mencari makan walau ditinggal kawanan. Aku terlempar dalam situasi yang sungguh membuat aku retak, tak bergerak.

*                *             *

Besok aku akan diwisuda menjadi sarjana teknologi informasi dari sebuah perguruan tinggi swasta yang terkenal di kota ini, besok semua mimpi akan terurai dalam derai air mata perjuangan. Namun apakah aku nanti juga mati di antara tumpukan alat-alat teknologi yang menjadi teman hari-hariku?

“Bed.., hey, jangan melamun terus, ada orang yang mau pesan notebook,” kata-kata temanku membangunkan aku dari lamunan panjang. (end)

Hati Maria, September 2010

Anak-anak: bukan dihilangkan, tapi dilindungi

Oleh: Fian Roger

Dalam pencarian ide untuk memulai tulisan ini, saya teringat akan seorang drummer perempuan yang cantik. Siapakah dia? Dia adalah seorang bocah, kontestan sebuah ajang pencarian bakat pada sebuah stasiun televisi swasta. Dengan tangan-tangannya yang mungil sang bocah perempuan itu menggebuk alat musik itu dengan semangat. Jemarinya cantik kala memainkan stik. Di depan drum kesayangannya terpampang tulisan, “Stop violence against children! (hentikan kekerasan terhadap anak-anak)” Gadis kecil penuh bakat itu bernama JP Millenix. Siapa sangka sang bocah bisa memainkan alat musik modern itu selincah dan sepandai para pemusik profesional.

Pesan yang ia sampaikan sederhana namun menukik serta menarik. Sebuah pesan anti kekerasan dan diskriminasi terhadap anak-anak. Suara yang mewakilkan sekian banyak anak yang menjadi korban kekerasan, kekejaman, manipulasi, pelecehan, dan pelbagai bentuk ketidakadilan lain.

Ihwal senada disampaikan sekitar 300 anak Indonesia pada kongres Anak Indonesia IX di kota Pangkal Pinang pada 20 dan 21 Juli silam. Mereka berhasil merumuskan 8 poin “suara anak Indonesia.” Beberapa hal yang penting adalah tuntutan mereka kepada pemerintah untuk menyediakan rumah perlindungan bagi anak terlantar, korban kekerasan, korban perdagangan, korban bencana, dan anak yang berhadapan dengan hukum. Mereka juga meminta pemerintah mencanangkan gerakan nasional melawan kekerasan dan kekejaman terhadap anak; dan membebaskan biaya kesehatan bagi anak. Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil, terisolasi, di perbatasan, mereka minta agar diberi fasilitas memadai. Mereka juga menuntut perlindungan dari bahaya rokok sebagai zat adiktif dengan melarang iklan rokok, menaikan harga rokok, membuat peringatan bergambar pada bungkusan rokok, dan menjauhkan akses anak dari rokok  (Tempo, 8 Agustus 2010, 55). Poin-poin ini menyembul kenyataan bahwa banyak anak yang menjadi korban ketidakadilan di negeri ini.

Goenawan Mohamad menyebut kenyataan ini sebagai “penghilangan anak-anak”. Menurutnya, setiap hari anak-anak dihilangkan. Bentuk penghilangan itu beraneka macam. Ada yang lewat cara  halus. Ada pula yang berupa kekerasan. Para bocah dicetak dalam tatanan simbol orang dewasa. Model mereka bukan dari imajinasi mereka sendiri. Mereka didikte, diatur, dan ditentukan oleh orang dewasa.

Mereka di kepung dari segala arah. “Di  layar televisi, mereka dibikin menyanyi seperti biduan komersial menyanyi, berkotbah seperti para kiai berkotbah, bersaing seperti para pecundang dewasa bersaing, ” tulis sang kolumnis majalah Tempo itu (Tempo, 1 Agustus 2010). Mereka juga menjadi obyek penggerusan pelbagai taman hiburan, industri mainan, produser televisi, pengelola jasa iklan untuk meraup keuntungan. Semua itu seakan-akan diamini secara umum.

Anak-anak: korban yang rentan

Banyak anak setiap hari menjadi korban penghilangan itu. Sekitar 2 juta anak dieksploitasi secara ekonomis dengan dipaksa untuk bekerja. Setiap tahun prostitusi anak meningkat. Kebanyakan anak yang dipaksa menjadi pelayan birahi itu terkena HIV-Aids. Di seluruh dunia terdapat 100 juta anak jalanan terlantar tanpa makanan dan pendidikan dasar yang layak.  Penjualan bayi dan organ bayi juga meningkat tajam. Dan setengah dari pengungsi di dunia adalah anak-anak (bdk. Manual JPIC). Setiap tahun masalah ini meningkat tajam.

Catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menunjukan bahwa sebanyak 39,18 persen dari 1. 649 kasus kekerasan terhadap anak merupakan kekerasan seksual. Aris Merdeka Sirait (Ketua Dewan Komisioner Komnas PA)  menyatakan bahwa kekerasan dan eksploitasi terhadap sudah melampaui batas-batas perikemanusiaan. Terdapat 69 kasus penculikan bayi dengan aneka modus, misalnya anak di bawah umur 1 tahun dijual dengan 10 juta-15 juta. Selama Januari-Juni 2010 saja terdapat 676.849 permasalahan dan kasus pelanggaran hak anak yang terdiri dari kasus kekerasan, penelantaran, eksploitasi, keterlibatan anak dalam konflik hukum dan anak yang memerlukan perlindungan khusus (Kompas.com., 12 Agustus 2010).  Catatan ini menunjukan bahwa di negara kita perlindungan terhadap anak sangat rendah. Ini baru yang tercatat, apalagi yang berada diluar jangkauan pengetahuan umum. Mungkin lebih besar lagi. Lebih parah.  Dan lebih kejam.

Di negara ini terdapat dua payung hukum perlindungan terhadap anak yakni; UU peradilan anak No.3 tahun 1997 yang memberikan perlindungan kepada anak yang melakukan perbuatan pidana dan UU Perlindungan Anak No.23 tahun 2002 yang memberikan perlindungan hukum kepada anak terhadap segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. Anak yang diatur dalam UU Perlindungan Anak adalah orang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih berada dalam kandungan (Puspenkum Kejagung RI 2007).

Adanya aturan demikian tidaklah serta merta mengurangi angka kekerasan dan diskriminasi terhadap anak. Yang terjadi malah semakin parah. Kedua UU ini sejatinya memberikan konsep perlindungan terhadap segenap warga negara terutama yang rentan menjadi korban ketidakadilan. Seperti biasa, semakin banyak peraturan semakin banyak pula pelanggaran. Anak-anak yang seharusnya dilindungi malah diperdaya. Jalan keluar bersama untuk menemukan benang merah persoalan ini adalah ada pada kesadaran  moral dan tanggung jawab etis bersama. Tanpa dua hal ini, ratusan lembar aturan hukumpun tidak akan mampu membendung ragam ketidakadilan yang diderita anak.  Karena kesadaran moral dan tanggung jawab moral haruslah menopang hukum.

Dari relasi “Aku-itu” menuju relasi “Aku-Engkau”

Akar dari masalah ketidakadilan terhadap anak-anak adalah terletak pada faktor relasi, yakni relasi antara orang dewasa dan anak-anak, sesama sebaya dan anak-anak itu sendiri, dan relasi lingkungan dan anak-anak itu. Alasan pokoknya adalah berdasar pada hakekat keadilan itu sendiri. Keadilan merupakan relasi yang benar antara manusia dan sesamanya, manusia dengan lingkungan, dan manusia dangan Sang Khalik. Dalam pelbagai kasus ketidakadilan  itu ditemukan relasi yang kurang etis terhadap sesama. Relasi yang tidak seimbang itu berpola “aku-itu dan aku-dia.”

Dalam relasi “aku-itu”, sesama diperlakukan sebagai obyek. Jenis relasi ini bersifat pragmatis. Sesamaku diperlakukan sebagai benda saja. Aku menggunakannya sejauh ia menguntungkan dan bermanfaat bagiku. Aku tidak menghiraukannya jika aku tidak membutuhkannya. Aku mau membentuk dia sesuai dengan kehendakku. Sebagai misal, dalam kasus penculikan, penjualan, dan transplantasi organ anak-anak, mereka dijadikan barang dagangan belaka. Dalam pengekspliotasian anak-anak secara ekonomi dan seksual, mereka dijadikan sarana pemuas nafsu belaka. Mereka diperlakukan layaknya, kursi, dadu, laptop,vibrator dan benda-benda lain. Padahal mereka adalah sesama yang bermartabat.

Sedang dalam relasi “Aku-dia”, sesama memang tidak diobyekan, melainkan diperlakukan sebagai subyek. Sikapku terhadapnya adalah netral dan acuh tak acuh. Sesama dibiarkan menderita dan terlantar. Lingkungan dan orang-orang merasa tidak bertanggungjawab.  Dalam kasus tertentu anak-anak dengan sengaja dibiarkan berada dalam situasi darurat, dalam masalah hukum, dibiarkan menjadi minoritas dan terisolasi, diperjualbelikan, menjadi korban narkoba padahal anak tersebut membutuhkan pertolongan dan perlu dibantu.

Relasi “aku-itu/ aku-dia” harus beralih menuju relasi “Aku-Engkau” demi menciptakan sosialitas bercita rasa keadilan. Menurut Martin Buber kedua pola relasi ini merupakan relasi utama yang membentuk keseharian hidup (M.Paulus: 2006,74). Landasan dari relasi “Aku-Engkau” terletak pada hakekat manusia sebagai mahluk sosial yang senantiasa merindukan suatu kesatuan dan kebersamaan yang semakin luas dan semakin mendalam. Manusia sebagai pribadi ingin diakui dalam keunikannya dan kekhasannya. Maka, manusia terarah kepada suatu kesatuan di mana keunikan tidak terhapus, melainkan diakui dan diteguhkan (Snijders: 2004, 48).     Relasi  “Aku-Engkau” harus menjadi menjiwai seluruh masyarakat.

Sikap pragmatis tidak memadai karena diri sesama diperlakukan sebagai benda saja. Sikap benci tidak memadai karena meniadakan diri sesamanya. Sikap acuh tak acuh tidak memadai karena menyamakan manusia dengan fungsinya. Relasi “Aku-Engkau” memandang manusia sebagai sesama yang harus diperlakukan dengan cinta dan tanggung jawab. Demikian pula halnya dalam memperlakukan anak-anak, sebagai manusia yang unik dan bermartabat mereka harus diberi cinta dan tanggung jawab yang penuh. Bukan sebaliknya. Maka, mereka harus dilindungi dan dijaga dengan perhatian. Ini tugas luhur para orang tua, pendidik, masyarakat,  dan pemerintah. Semua orang.

Anak-anak adalah suatu potensi tumbuh kembang suatu bangsa dan suatu komunitas sosial di masa depan, yang memiliki sifat dan ciri yang khusus. Kekhususan ini terletak pada sikap dan perilakunya dalam memandang dan memahami dunia yang merupakan lingkup hidupnya. Oleh karenanya, anak-anak patut diberi perlindungan secara khusus oleh komunitas masyarakat, komunitas agama, komunitas politik dan pemerintah. Dengan demikian mereka akan bertumbuh seperti tunas-tunas yang segar karena diairi pada musim hujan dan pada masa mendatang mereka akan menghasilkan buah-buah yang baik dan segar. Sebab  ada pepatah mengatakan, “pohon yang kuat tidak tumbuh dari tunas yang lemah.”

Perlindungan dan advokasi kepada anak-anak yang rentan terhadap ketidakadilan merupakan satu panggilan mulia hidup bermasyarakat. Jika ada anak-anak yang mengalami keterasingan, diskiriminasi, kekerasan dan kekejaman, maka berilah pertolongan sedini mungkin, laporkan ke pihak berwajib, dan lindungi mereka dari lingkaran kekerasan dan diskriminasi selanjutnya.