MENYIMAK BENTUK-BENTUK KONGKRET MASYARAKAT MANUSIA

(Sebuah Deskripsi Filsafat Sosial)

Kodrat sosial manusia menuntut suatu kebersamaan. Dalam kebersamaan itu terjadi interaksi personal dan interpersonal antar manusia. Interaksi itu menyata dalam bentuk-bentuk kongkret masyarakat manusia yakni: keluarga, agama, budaya, negara, dan kelompok bebas. Berikut akan diuraikan secara singkat dan sederhana tentang bentuk-bentuk itu.

Keluarga (family)

Apa itu keluarga? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus menggali akar kata dalam bahasa yang lebih tua yakni Bahasa Latin. Kata family dalam Bahasa Inggris berasal dari kata familia yang berarti rumah tangga. The Oxford Universal Dictionary memberi beberapa deskripsi penting. Pertama, keluarga merupakan sebuah badan yang terdiri dari pribadi-pribadi yang hidup dalam sebuah rumah dan di bawah seorang kepala, yang terdiri dari orangtua, anak-anak, dan pembantu. Kedua, keluarga merupakan kelompok yang terdiri dari orangtua dan anak-anak mereka, yang hidup bersama maupun tidak; dan dalam makna yang luas berarti semua orang yang memiliki kedekatan karena hubungan darah atau keturunan (affinity). Ketiga, mereka yang berasal dari keturunan yang sama, memiliki rumah dan garis keturunan yang sama.[1] Keluarga merupakan sel terkecil masyarakat di mana identifikasi awal seorang individu terjadi.

Keluarga terbentuk pertama-tama karena alasan kodrati eksistensial. Manusia senantiasia membutuhkan yang lain. Kebutuhan untuk berada bersama yang lain terejahwantah salah satunya lewat keluarga. Dengan kata lain, manusia tidak bisa menjadi individu yang menyendiri tetapi individu bersama individu yang lain. Yang kedua berkaitan dengan pembentukan manusia itu secara integral berawal dari sel masyarakat yang lebih kecil, yang menjadi lingkup hidupnya. Jadi, adanya keluarga merupakan kebutuhan eksistensial. Dalam sosialitas manusia, pembentukan keluarga juga erat kaitannya dengan pendidikan. Keluarga bertanggungjawab atas pendidikan seseorang. Tugas ini merupakan tuntutan kodrati keluarga.

Keluarga melahirkan individu dan mendidiknya. Tugas keluarga adalah untuk menjaga kesinambungan keutuhan umat manusia sebagai suatu kesatuan. Keluarga merupakan lembaga bentukan manusia sendiri. Terminus a quo (titik awaliah) pembentukan sebuah keluarga adalah ikatan purba yang disebut cinta. Cinta itu membentuk kesatuan dan keterkaitan individu-individu. Terminus ad quam (titik akhiriah) pembentukan sebuah keluarga adalah perkembangan individu dan realisasi kemanusiaanya secara integral. Secara tradisional, keluarga dibentuk oleh ikatan laki-laki dan perempuan. Yang kemudian mereka akan menghasilkan keturunan. Laki-laki dan perempuan ciri khas masing yang membuat mereka berbeda satu sama lain, misalnya perbedaan fisik dan psikis. Secara kodrati, perbedaan itu membuka ruang untuk membangun kesatuan.  Elemen naluri seksual merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari pembentukan keluarga. Daya kodrati ini memungkinkan penerusan keturunan.  Lewat penyatuan naluriah yang mengarah kepada sesuatu yang lebih mulia terbentuklah keluarga.     [2]

Agama (religion)

Ada beberapa deskripsi mengenai agama. Pertama, agama berkaitan dengan iman yang dilembagakan. Dasar sebuah agama adalah iman akan adanya Wujud Tertinggi yang disebut Tuhan. Kedua, agama juga berkaitan dengan ritus. Iman diungkapkan dalam pelbagai ritus yang khas agama bersangkutan. Ketiga, agama berkaitan dengan perangkat-perangkat moral yang dihormati dan dilakukan. Keempat, agama mempunyai doktrin yang menjadi sarana pentransmisian segenap ajaran-ajaran. [3]

Agama mengandung beberapa makna fundamental berkaitan dengan pembentukannya. Pertama, agama berkaitan dengan kebutuhan eksistensial manusia berkaitan dengan kekuasaan di luar dirinya dan di luar  pengalamannya. Kedua, wahyu yang membuka cakrawala  kemengadaan bagi manusia untuk mengungkapkan imannya. Wahyu memiliki otoritas. Ketiga, Kitab Suci merupakan akar dari tradisi yang diteruskan dan kebiasaan-kebiasaan yang dipertahankan. Keempat, manusia sadar akan realitas di luar dirinya yang treus menariknya dan di sisi lain menggetarkannya (Rudolf Otto, “fascinosum et tremendum”).

Manusia senantiasa membutuhkan kejelasan makna kemengadaannya. Dalam agama, ia merasa menemukan singkapan jawaban atas makna eksistensinya. Inilah alasan eksistensial. Alasan lain bersifat teleologis (telos: tujuan). Manusia senantiasa mencari dan rindu akan tujuan akhir hidupnya. Agama diyakini sebagai instrumen yang mengarahkannya menuju tujuan ultim itu.  Alasan ontologis berupa suatu sifat ketergantungan manusia secara neccesarium karena hakekatnya yang kontingens. Manusia tergantung kepada Tuhan sebagai pemberi makna kemengadaannya. Agama memberi ruang bagi pengungkapan ketergantungan itu. Agama memperdengarkan sebuah suara evokatif yang terus memanggil manusia kepada kepenuhan kemanusiaannya. [4] Dengan  kata lain agama memberikan peta orientasi jalan hidup bagi manusia kepada suatu finalitas tertentu.

Budaya (culture)

Kata culture merujuk pada istilah Latin cultura yang dekat dengan kata cult, berarti penyembahan. Kultur berhubungan dengan kebiasaan manusia. [5] Menurut Antropologi Budaya, kebudayaan atau budaya dalam pengertian sebagai lembaga mencakup cara berpikir dan berlaku yang merupakan ciri khas suatu bangsa. Instansi budaya terdiri dari; bahasa, ilmu pengetahuan, hukum, kepercayaan, musik, kebiasaan kerja, larangan-larangan. Kebudayaan merupakan way of life atau pandangan hidup suatu entitas sosial tertentu. Sementara menurut sosiologi, kebudayaan merupakan keseluruhan kecakapan, kesenian, ilmu pengetahuan, yang dimiliki manusia sebagai subyek masyarakat. Secara historis, budaya merupakan warisan masyarakat yang dilanjutkan turun-temurun. Sementara secara psikologis, kebudayaan berkaitan dengan penyesuaian manusia kepada alam atau penyesuaian terhadap syarat-syarat hidup. Jadi, kebudayaan sebagai sebuah bentuk kongkret masyarakat manusia (human society) dapat ditilik dari aneka prespektif seperti yang digambarkan di atas.[6]

Bagaimana kebudayaan terbentuk? Untuk menjawabi pertanyaan ini menarik untuk menelusuri kata Bahasa Latin Colere. Istila ini berarti mengerjakan tanah, mengolah dan memelihara ladang. Budaya berkaitan dengan bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengolah alam. Dari term ini kita juga mengenal kata argicultura yang berarti pertanian. Pertanian berasal dari kebutuhan eksistensial manusia untuk mempertahankan dirinya di hadapan alam. Untuk tetap bertahan ia harus mengolah alam. Kebiasaan lambat laun menjadi budaya.

Beberapa ahli menjelaskan kebudayaan dari beberapa aspek. Zoetmulder menyatakan bahwa budaya memungkinkan perkembangan segala posibilitas dan kekuatan kodrat, terutama kodrat dalam manusia di bawah pembinaan akal budi. Tylor melihat budaya sebagai keseluruhan gagasan dan hal-hal yang dihasilkan oleh manusia dari pengalaman historis mereka. Kebudayaan  merupakan keseluruhan cara berpikir dan cara bertingkah laku, yang diteruskan dari generasi ke generasi. Penjelasan Zoetmulder menekankan aspek aktivitas dan proses. Budaya merupakan aktivitas dan proses kontinual. Sedangkan, pemahaman Tylor lebih menekankan bentuk-bentuk, tahap, serta proses budaya. Seorang pemikir kebudayaan bernama Ernst Cassier mengungkapkan alasan keberadaan instansi budaya berakar pada hakekat manusia sebagai mahluk simbolis. Manusia adalah ens symbolicum. Budaya merupakan system symbol yang memiliki makna dalam kehidupan suatu masyrakat. [7] Ia sendiri adalah symbol dan ia mengonstitusi dunianya dalam berbagai ungkapan simbolis. Salah satunya budaya.

Dari uraian di atas penulis mengambil prespektif bahwa pembentukan berbagai instansi kebudayaan manusia didasarkan pada kebutuhan dasariah manusia untuk mempertahankan hidupnya dan untuk memaknai ziarah tradisinya kepada suatu realisasi kemanusiaan secara integral.

Negara (nation)

Kata nation berasal dari Bahasa Latin nationem, nat, nacci yang berarti dilahirkan. Pertama, negara menunjuk pada ras tertentu, dengan ciri-ciri tertentu, dan sejarah tertentu. Kedua, negara merupakan bentuk organisasi politik yang setidaknya memiliki tiga unsur penting yakni wilayah yang definitif, penduduk, dan kedaulatan. [8] Kata lain dari negara adalah masyarakat sipil, yaitu persatuan dari orang-orang sipil untuk mencapai sesuatu yang lebih besar demi kemakmuran bersama. Menurut GS 74 sub 1 negara merupakan “satu persekutuan yang lebih besar yang menurut tujuan instrinsiknya menyelenggarakan kemakmuran serta kesempurnaan hidup di dunia ini yang tidak dapat dipenuhi oleh persekutuan yang lebih kecil daripadanya.”

Tujuan pembentukan sebuah negara adalah demi kebaikan umum, bonum commune. Suatu situasi yang memperlihatkan kecukupan yang sempurna agar manusia betul-betul mewujudkan diri sebagai manusia yang berkembang secara penuh di dunia ini. Karena itu dalam dirinya negara mencakupi semua nilai yang diperlukan  manusia misalnya, nilai moral, nilai sosial, nilai pribadi, nilai religious, dsb. Negara juga membangun suatu orde iuridis (suatu ordo hukum) karena mengatur hubungan-hubungan menurut hak dan tugas-tugas orang. Sebagai orde yuridis negara adalah persatuan hidup sosial kongkret yang terakhir. Oleh karena itu, ia mempunyai kekuasaan mengatur semua bawahannya termasuk seluruh warganya. Ia merupakan instrinsik dan ekstrinsik komplit dengan kekuatannya untuk menjamin ‘kebaikan umum’ semua warga. Kendati demikian, negara tetap menghormati hak-hak dan kepribadian warganya. Inilah unsur-unsur konstitutif dari Negara itu sendiri. Negara dibentuk oleh mereka dan untuk kepenuhan perkembangan mereka.[9]

Kelompok bebas (free organization)

Persekutuan bebas tidak berasal dari kodrat namun secara mendasar dibutuhkan oleh manusia untuk pengembangan dirinya. Disebut ‘bebas’ karena dari segi keberadaannya dan dari segi struktur bergantung pada kehendak bebas manusia.[10] Contoh, kelompok akademisi, kelompok pencinta alam,  kelompok fotografer, dsb. Pembagian kelompok ini membantu individu menemukan identitas dalam pelbagai bidang kehidupan (identifikasi diri) misalnya, bidang agama, bidang ekonomi, politik, budaya, dst. Juga disesuaikan dengan profesi, minat, dan bakat si individu, misalnya dosen, dokter, guru, mekanik, dst.

Mengapa kelompok ini terbentuk? Kelompok-kelompok bebas terbentuk karena kebutuhan-kebutuhan manusia tidak hanya dapat dipenuhi oleh keluarga, agama, budaya dan negara saja. Kendati dibentuk secara bebas namun prinsip subsidiaritas tetap dihormati. Konstitusi negara  kita juga yakni dalam pasal 28 UUD 1945 telah melegitimasi pembentukan kelompok-kelompok ini dengan dasar pemikiran bahwa mereka tidak merugikan kebaikan umum.

Itulah sedikit deskripsi mengenai bentuk-bentuk kongkret masyarakat manusia. Bentuk-bentuk masyarakat manusia ini memberi orientasi bagi manusia untuk berkembang secara penuh dalam sosialitasnya. Tanpa keterlibatan dalam bentuk-bentuk ini mustahil ia akan memetakan rangkaian sejarah hidupnya. [ze]


[1] Bdk.William Little, The Oxford Universal Dictionary , 3rd edition, revised and edited by C.T. Onions, Clarendon Press: 1955, Oxford, hlm. 673.

[2] Bdk. Paul Ngganggung, SVD, MSc., Filsafat Sosial (bahan kuliah), FFA Unwira Kupang: 2003, hlm. 24.

[3] Bdk. DR. Dominikus Saku, Agama: Evokasi Kepenuhan Hidup, Jakarta: PT. Binamitra Megawarna, 2007, hlm. 61.

[4] Deskripsi ini dibuat penulis merujuk pada buku Mgr. Domi, Ibid.

[5] Bdk.The Oxford Universal Dictionary, Op. Cit. hlm. 437.

[6] Norbertus Jegalus, Filsafat Kebudayaan (bahan kuliah), FFA Unwira Kupang: 2003, hlm. 3 dan 6

[7] Ibid. hlm. 12 dst.

[8] Bdk.The Oxford Universal Dictionary, Op. Cit. hlm. 1311

[9] Paul Ngganggung, SVD, MSc., Op.Cit. hlm. 28.

[10] Ibid., hlm. 30.

Posted on 25 Mei 2010, in ARTIKEL, OPINI, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. wilhelmus Agato

    saya suka artikel ini. tulis terus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: