FACEBOOK YANG ‘SUPERFESIAL’

Article by Fian Roger*

Facebook merupakan  jejaring pertemanan paling diminati dan paling banyak dikunjungi  di dunia maya. Terhitung mulai dari uji coba oleh penemunya sampai pada pengenalan secara resmi kepada publik, situs ini banyak menarik khalayak terutama yang haus akan relasi yang menembus batas-batas tradisional dan normal. Facebook atau yang sering disingkat fb merupakan sebuah ruang sosial virtual yang menembus batas-batas; geografis, umur, status dan jarak.

Situs ini menawarkan sebuah ruang di mana seseorang bisa menjalin hubungan pertemanan dan juga bisa menemukan teman lama atau teman baru. Banyak fitur yang ditawarkan. Banyak kemudahan yang menggiurkan. Kemudahan-kemudahan itu antara lain; menulis apa yang dipikirkan (meski yang sering ditulis adalah apa yang dirasakan bukan dipikirkan, sebab merasa beda dengan berpikir), mempublikasikan identitas diri, mengunggah foto dan  video, menulis catatan dan tautan, ber-game ria dengan aneka permainan yang ditawarkan, memasang iklan, memutar musik kesukaan, mengirim smiley dan kartu ucapan, mengirimkan pesan, menulis berita, berbincang atau chatting, dsb (bdk. Ir. Yuniar Supardi, Facebook Undercover, Jakarta: Elexmedia komputindo, 2009). Memang, situs ini dirancang khusus bagi mereka  yang gandrung ‘narsis’ untuk menunjukan tampang di dunia maya.

Saya juga kepingcut dunia maya gara-gara fb. Bayangkan baru seumuran jamur berselancar jejaring ini, saya sudah memiliki relasi yang banyak dengan kawan-kawan yang sama-sama memaya. Padahal saya menggunakannya dengan intensitas yang jarang. Alasan pertama saya menggunakan fb adalah untuk tidak ketinggalan perkembangan dan informasi terbaru. Supaya tidak bingung dengan hal-hal baru. Misalnya, jika orang sebut fb maka saya langsung paham. Bukan malah  mengira bahwa itu adalah sebuah produk cokelat atau sejenis cat rumah. Alasan kedua, untuk menemukan kawan-kawan lama dan juga menemukan kawan-kawan baru sehingga relasi saya bisa mondial tidak sebatas seputar rumah tinggal saja.

Aksi unjuk muka merupakan salah satu fenomen yang menarik dari fb. Banyak orang menampilkan dan memoles yang paling baik pada album dan foto profilnya. Foto itu bersifat gambaran representatif dari penampang muka orang tertentu. Bahkan ada yang kelewat cemas, jangan-jangan fotonya menampilkan sisi lemah dari mukanya, misalnya jerawat, keriput, panu, kurap, ketuaan, kurang senyum, kelewat serius, gejala kebotakan, dsb. Maka, orang akan memodifikasi sedemikian rupa pose-pose fotonya sehingga bisa menampilkan yang menarik dan memikat (fascinosum). Walau kadang dengan membuat simulasi dengan polesan digital sehingga kelihatan ganteng dan cantik, baik dan bijak, pandai dan berwibawa. Namun sabar dulu, kita lihat realitas yang asli. Gejala ini disebut sebagai sebuah ‘muka’ superfesial.

FB yang superfesial

Superfesial merupakan sebentuk muka virtual yang merepresentasikan muka riil seseorang. Superfesial berbeda dengan superfisial. Superfisial berarti dangkal atau banal. Sedangkan, superfesial merupakan imaji yang dibuat pemakai untuk menghubungkannya dengan orang lain dalam ruang maya, secara maya pula. Sebuah ‘muka super’ atau ‘super muka’ yang dibuat menarik sehingga ada yang tertarik dan dibuat memikat sehingga ada yang memikat. Sebab, sebuah foto sungguh berbeda dengan realitas asli. Foto hanya representasi dari yang riil. Secara ontologis, yang riil itu unik dan selalu berubah dalam dirinya sendiri.

Pandangan ini mengandung dua pengandaian. Pertama, terdapat suatu situasi kecemasan pengguna yang disebabkan oleh kegusaran jangan-jangan ia menampilkan yang tidak sesuai imaji yang ia ciptakan sendiri. Dari proses itu terjadilah (meminjam istilah Jean Baudillard) sebuah ‘simulasi realitas’. Simulasi realitas berarti menjadikan seolah-olah riil apa yang sebenarnya tidak mewakili realitas dan seadanya dalam realitas. Simulasi merupakan sebentuk iklan untuk menarik apa yang bisa ditarik, untuk memikat apa yang bisa dipikat. Boleh jadi muka superfesial adalah sebentuk pengiklanan diri kepada  publik .

Kedua, dunia maya menciptakan sebuah imaji dalam diri peselancar maya terhadap realitas diri dan hidup sosialnya. Imaji itu terungkap dalam  fenomen pelelehan. Pelelehan antara yang asli dan yang palsu. Pelelehan batas antara ruang privat dan ruang public. Pelelehan jarak geografis jauh dan dekat. Dan pelelehan struktur sosialitas lama, misalnya tua dan muda, tinggi dan rendah. Ini membuktikan mulai merutuhnya secara pelan-pelan pola-pola  konvensional dan tradisional yang pada akhirnya digeser oleh dunia maya atau ruang virtual. Sebagai contoh, seorang gadis bernama Mawar (:bukan nama yang sebenarnya) mengoperasi dan memodifikasi mukanya  untuk kelihatan seperti Hillary Duff, setelah mengetahui bahwa pacarnya selingkuh di fb. Dia berusaha memikat dan tampil menarik untuk menggaet kembali si kekasih.  Pelelehan ruang privat dan ruang publik dapat dimisalkan dengan sebuah kasus di mana seorang istri mengungkap bahwa suaminya memiliki gangguan ereksi pada komentar dinding fb-nya. Ini membuat sang suami geram dan rumah tangga menjadi kacau. Cuma berawal dari sebuah komentar dinding. Runyam.

Mahasiswa dan fb

Mahasiwa merupakan insan akademis. Maka, secara pragmatis dia bisa menakar untung dan rugi menggunakan fb. Dari segi keuntungan berupa; relasi makin meluas, pengetahuan bertambah lewat diskusi di fb, mengalihkan sejenak kepenatan di ruang kuliah, memberi ruang ekspresi diri, ide, dan aspirasi. Segi kerugian berupa; banyak kejahatan ber-locus fb dan bermodus internet yang disebut cybercrime, misalnya penipuan dan pelacuran. Dari segi finansial, bisa saja isi dompet tergerus habis  gara-gara pulsa internet. Dari segi waktu, di mana banyak waktu potensial dikorupsi untuk berselancar ria di dunia maya. Dari segi kesehatan, terutama organ mata, di mana lama-lama di depan layar HP dan komputer bisa menyebabkan gangguan mata. Jadi, ada bandulan untung dan rugi dalam peselancaran seorang mahasiawa di dunia maya terkhususnya dalam ruang fb. Salah satu solusi untuk meminimalisir kerugian yakni dengan penggunaan yang  proporsional atau seimbang. Pilihan tergantung pada tiap-tiap pribadi. But, don’t worry to use fb, just enjoy it.[]

*ket.: Artikel-artikel serupa dapat dibaca pada blog  saya di www.fianroger.wordpress.com.

Posted on 24 Mei 2010, in ARTIKEL, OPINI, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: