CINTA ROMANTIS : SEBUAH RELIEF AMBIGUITAS


By: Fian Roger*(catatan permenungan yang tak ilmiah)
Cinta romantis merupakan tema yang hangat untuk selalu diperbincangkan. Banyangkan saja, ketika mengetik kata kunci ‘cinta romantis’ pada sebuah mesin pencari virtual, kita akan menemukan ribuan entri yang berisikan cinta romantis. Kontennya beragam, mulai dari catatan yang tak ilmiah sampai yang ilmiah. Ada yang berbentuk puisi dan ada pula yang berbentuk prosa. Dan bagi aku, mengayuh lebih dalam cinta romantis bukanlah pekerjaan yang membuang-buang waktu. Justru inilah hasrat terkuatku yakni untuk menyibaknya secara lain.

Dalam evolusi pemikiran soal ini bukan tidak digubris oleh para pemikir. Justru tema ini menjadi sesuatu yang membasahi kekeringan pemikiran filosofis mereka yang acap kali jarang mendarat pada permukaan, karena terus menukik mencari akar realitas. Soal ini masuk dalam penelaahan antropologi filosofis. Salah satu pemikir yang aku senangi adalah Platon. Platon memandang badan sebagai penjara atau kuburan bagi jiwa. Dalam bahasa yang lebih keren waktu itu disebut soma sema. Badan menjadi semacam kuburan bagi jiwa. Konon, tubuh menerima jiwa yang mengalami kejatuhan dari dunia idea, dunia asal muasal jiwa. Jiwa digambarkan sedemikian rupa sebagai sesuatu yang terbelenggu dalam badan dan membutuhkan pelepasan. Jiwa senantiasa bernostalgia akan saat-saat indahnya dalam dunia idea. Jelas, dalam pemikiran Platon jiwa merupakan sesuatu yang lebih luhur dari badan. Jiwa identik dengan kebakaan, sedangkan badan identik dengan kefanaan. Badan merupakan eksistensi rendahan.

Pandangan itu berimbas pada cara pandang mengenai cinta. Cintapun dibuat klasifikasi. Ada cinta badaniah yang sering disebut eros. Aku lebih suka menyebutnya dengan cinta romantis. Ada cinta persahabatan atau filia, cinta kekeluargaan, dan cinta ranah kasih yang disebut agape. Dalam piramida susunan cinta romantis sering ditempatkan pada nomor buntut. Sedang agape sering diberi nomor wahid dan dijadikan menjadi semacam cinta keilahi-ilahian.

Dalam mitos Aristophanes yang dikisahkan dalam salah satu mahakarya Platon, yakni Symposium, memperlihatkan bahwa cinta pada kondisi asalinya menyatukan dua badan yang berbeda dalam satu keping jiwa (Levinas, 1969: 254). Mitos  ini menyiratkan bahwa cinta romantis merupakan singgahan sementara untuk mencapai cinta yang lebih adiluhur yakni penyatuan jiwa dalam tataran yang lebih rohani. Cinta jenis ini dianggap lebih dekat dengan kecenderungan alamiah yang rendah karena melibatkan gairah sebagai arena lepas landasnya.

Ada yang menafsir mitos ini sebagai suatu gerak kembali kepada ego atau sang aku. Dalam cinta romantis perpaduan gairah akan menghasilkan kenikmatan yang akan merayap hingga wilayah puncak kepuasan. Dan salah satu gambaran yang tertinggal adalah pendaran sebuah relief ambiguitas. Apa itu relief ambiguitas? Istilah ini aku pinjam dari Emmanuel Levinas, seorang pemikir Prancis. Ia adalah penulis buku Totality and Infinity. Namun, jangan mengernyitkan dahi dulu, istilah memang agak aneh dan puitis ini perlu penjelasan lebih lanjut.

Pertama, ada bandulan yang tak terelakan dalam cinta romantis yakni kutup antara aku yang egois dan dia yang lain di seberang. Dia yang aku maksudkan di sini adalah pacar, kekasih, tambatan hati, ttm, dan macam-macam.  Disebut ambigu karena, aku memproyeksi  cita-citaku, angan-anganku, imajiku, harapanku, gambaranku, pada yang lain yang aku cintai. Yang lain harus memenuhi kriteriaku sehingga aku mencintainya. Itu semua aku lakukan untuk memuaskan hasratku. Boleh jadi aku mencintai dia yakni gambaran yang kuciptakan lewat dirinya. Ambigu di sini dimaksudkan, dalam hal yang kungkap sebagai cinta aku mencintai diriku lewat dia dan mencintai gambaran kesempurnaan ciptaanku yang kukenakan pada dirinya.        Seorang teman perempuanku berkata demikian, “ cinta (maksudnya cinta romantis) merupakan ruang saling mengisi, juga tempat saling berdalih mencari diri yang sejati, saling memanipulasi hasrat untuk mencipta kenikmatan, saling memberi kepuasan, saling membagi gairah, saling bergulat dalam mimpi-mimpi  yang acapkali merupakan sebentuk mimikri diri.”

Kedua, cinta secara niscaya bertuju pada yang lain, yang aku sebut sebagai kekasih. Dalam Fenomenologi Eros salah satu bagian dalam bukunya Levinas menulis begini, “ mencintai berarti takut pada yang lain, hadir menolong kerentannya. Dalam kerentanan seorang kekasih hadir, dia yang aku cintai. Penampakan yang lain dalam kerentanan sebagai, yang lemah, yang butuh ditolong, yang menggelisahkan…”  Ini disebut sebagai rezim kelembutan. Mudah-mudahan ini adalah istilah yang pas. “Jalan kelembutan terdiri dari keterpecahan dan kerentanan yang ekstrim.” Kerentanan identik dengan sifat wanita. Sedangkan keterpecahan identik dengan sifat pria. Di sini kebutuhan saling menyempurnakan membentuk ruang.

Bagiku, mencintai dalam tataran romantis mempunyai dua matra, yakni penyerahan diri (surrender) dan penahlukan (conquest). Di sini cinta romantis mendapat karakter ambigu. Suatu relief ambiguitas. Jangan terlalu pusing dengan kata, ‘relief’. Makna yang kupakai disini untuk menyebut kata ‘gambaran’ secara agak lain biar keren. Harus jujur diakui bahwa, keterhubunganku dengan kekasihku berakar pada saling keterasingan antara aku dan dia. Aku dan dia saling menjadi orang asing satu sama lain. Pada suatu titik kami bertemu. Pertemuan kami lewat kontak mata dan ketergerakan hasrat mencipta ruang bagi hubungan kami.

Relief ambiguitas. Sebuah gambaran yang unik. Saya mencintai kekasihku. Itu berarti saya menutup peluang pada yang lain. Hanya dia seorang! Karena mencintai dua atau tiga pribadi sekaligus akan membuat cuaca dalam ruang hati tak menentu. Disinilah makna penyerahan diri.  Pada taraf ini boleh jadi ‘kebebasan’ yang selalu didengung-dengungkan sebagai hasrat tiap insan menjadi ketertundukan. Cinta yang seringkali dicap sebagai ‘kehendak buta’ menghasilkan semacam ‘perbudakan.’ Sebuah ketertundukan di bawah rezim kelembutan. Ini yang aku maksudkan dengan penyerahan diri (surrender)

Di sisi lain, saya harus meyakinkan kekasih saya bahwa hanya dia yang aku cintai. Aku disa meyakinkan dia dengan segala cara, sampai dia betul-betul memegang omonganku. Saya membuat dia yakin bahwa selubung keraguan yang dia pasang luluh dalam kehendak cintaku. Dia boleh saja memasang metode keraguan atau metode bertanya untuk mengecek kesungguhanku sebelum menyerahkan hatinya untuk kulebur dengan hatiku. Segala tehnik mungkin aku pakai untuk meluluhkan hatinya. Mungkin itu kata-kata, bahasa tubuh, tulisan, aksi, perhatian, dam macam-macam. Inilah yang aku maksudkan dengan penahlukan (conquest).

Dalam cinta yang dialami sepasang kekasih bisa jadi saling menjadi rezim satu sama lain adalah suatu situasi yang tak terhindarkan dan wajar. Sebab alasan untuk mencintai adalah karena tidak ada alasan untuk itu. Cinta dan mencintai adalah sebuah gairah purba yang dimiliki semua manusia. Sebuah kondisi primordial yang tak bisa disangkal. Ada pandangan tertentu yang memojokan cinta romantis atau eros sebagai sesuatu yang badaniah belaka. Tapi bagiku, pendapat seperti ini kurang lengkap karena semua manusia hadir lewat pengalaman cinta romantis sepasang manusia, laki-laki dan perempuan. Tanpa pengalaman ini cinta yang seolah-olah ilahi yang agung-agungkan tidak mendapat makna di bawah matahari. Justru eros adalah karunia dari Sang Khalik  yang perlu disyukuri dan dinikmati. Cinta romantis bukan hanya jalan menuju yang lebih rohani tetapi api yang menghidupkan lokomotif pencarian keutuhan cinta.

Relief ambiguitas adalah sebentuk kata-kata puitis. Memang terkesan puitis dan kaku. Di sisi lain juga kurang ilmiah. Maklum, ini hanya sebuah catatan tak ilmiah dari seorang pemula dalam mengindrai realitas kehidupan. [SHM, 26/2/10]

Posted on 24 Mei 2010, in ARTIKEL, OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: