Monthly Archives: Mei 2010

Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

(berpikir bersama Herbert Marcuse  Dan Erich Fromm )

Oleh: Rofiantinus Roger

Persoalan

Sejak usia dini sampai menginjak perguruan tinggi saya dicecoki konsep ini oleh orang tua dan para guru, “kamu harus menjadi orang yang berguna untuk masyarakat, bangsa dan Negara…” Kata “berguna” menjadi kata kunci untuk mereka yang bersekolah. Orientasi sekolah adalah kerja. Orientasi pendidikan adalah profesi. Arah pendidikan adalah kesuksesan. Kesuksesan ditakar dengan memiliki pekerjaan yang bagus, keluarga yang mapan (plus istri atau suami yang berkarir mantap), menjadi tokoh berpengaruh dalam masyarakat, dikenal banyak orang, kehidupan ekonomi yang cukup, memiliki barang-barang material yang standar kelas menengah, dsb. Menjadi “manusia” atau “orang” didefinisikan oleh kriteria kesuksesan yang diterima sebagai pandangan umum masyarakat. Hal itu terungkap dalam frase usang, “…dia sudah jadi orang…”  Hemat saya, dibalik ungkapan “berguna untuk masyarakat, bangsa dan negara” secara implisit tersembunyi suatu konsep pendidikan berorientasi pasar.

Visi semacam ini menarik jika dihadapkan dengan visi UNESCO mengenai tujuan pendidikan. Menurut lembaga PBB ini, pendidikan bertujuan untuk tercapainya autonomy, equity, dan survivalAutonomy berkaitan dengan pemberian kesadaran kepada individu atau kelompok agar dapat hidup mandiri dan hidup bersama untuk kehidupan yang lebih baik. Equity atau keadilan berarti pendidikan sedapat mungkin memberi kesempatan kepada seluruh anggota masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan budaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberikan pendidikan dasar yang sama. Dan survival berarti dengan pendidikan kebudayaan akan diwariskan dari generasi ke generasi. (Burhanudin Salam: 1997, 12) Saya menerima pemahaman humanistis  yang mengatakan bahwa pada dasarnya pendidikan merupakan sebuah proses pemanusiaan manusia, sebuah proses penyadaran dan pembebasan manusia, sehingga dunia semakin manusiawi. Apakah pendidikan berorientasi pasar merangum juga visi humanistik? Dan apakah menjadi manusia harus memiliki kriteria sukses yang didikte pasar? Dalam uraian berikut saya mengajak pembaca untuk  melihat pemikiran Herbert Marcuse dan Erich Fromm sebagai pisau analisis terhadap persoalan ini. Read the rest of this entry

MENYIMAK BENTUK-BENTUK KONGKRET MASYARAKAT MANUSIA

(Sebuah Deskripsi Filsafat Sosial)

Kodrat sosial manusia menuntut suatu kebersamaan. Dalam kebersamaan itu terjadi interaksi personal dan interpersonal antar manusia. Interaksi itu menyata dalam bentuk-bentuk kongkret masyarakat manusia yakni: keluarga, agama, budaya, negara, dan kelompok bebas. Berikut akan diuraikan secara singkat dan sederhana tentang bentuk-bentuk itu.

Keluarga (family)

Apa itu keluarga? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus menggali akar kata dalam bahasa yang lebih tua yakni Bahasa Latin. Kata family dalam Bahasa Inggris berasal dari kata familia yang berarti rumah tangga. The Oxford Universal Dictionary memberi beberapa deskripsi penting. Pertama, keluarga merupakan sebuah badan yang terdiri dari pribadi-pribadi yang hidup dalam sebuah rumah dan di bawah seorang kepala, yang terdiri dari orangtua, anak-anak, dan pembantu. Kedua, keluarga merupakan kelompok yang terdiri dari orangtua dan anak-anak mereka, yang hidup bersama maupun tidak; dan dalam makna yang luas berarti semua orang yang memiliki kedekatan karena hubungan darah atau keturunan (affinity). Ketiga, mereka yang berasal dari keturunan yang sama, memiliki rumah dan garis keturunan yang sama.[1] Keluarga merupakan sel terkecil masyarakat di mana identifikasi awal seorang individu terjadi.

Keluarga terbentuk pertama-tama karena alasan kodrati eksistensial. Manusia senantiasia membutuhkan yang lain. Kebutuhan untuk berada bersama yang lain terejahwantah salah satunya lewat keluarga. Dengan kata lain, manusia tidak bisa menjadi individu yang menyendiri tetapi individu bersama individu yang lain. Yang kedua berkaitan dengan pembentukan manusia itu secara integral berawal dari sel masyarakat yang lebih kecil, yang menjadi lingkup hidupnya. Jadi, adanya keluarga merupakan kebutuhan eksistensial. Dalam sosialitas manusia, pembentukan keluarga juga erat kaitannya dengan pendidikan. Keluarga bertanggungjawab atas pendidikan seseorang. Tugas ini merupakan tuntutan kodrati keluarga. Read the rest of this entry

FACEBOOK YANG ‘SUPERFESIAL’

Article by Fian Roger*

Facebook merupakan  jejaring pertemanan paling diminati dan paling banyak dikunjungi  di dunia maya. Terhitung mulai dari uji coba oleh penemunya sampai pada pengenalan secara resmi kepada publik, situs ini banyak menarik khalayak terutama yang haus akan relasi yang menembus batas-batas tradisional dan normal. Facebook atau yang sering disingkat fb merupakan sebuah ruang sosial virtual yang menembus batas-batas; geografis, umur, status dan jarak.

Situs ini menawarkan sebuah ruang di mana seseorang bisa menjalin hubungan pertemanan dan juga bisa menemukan teman lama atau teman baru. Banyak fitur yang ditawarkan. Banyak kemudahan yang menggiurkan. Kemudahan-kemudahan itu antara lain; menulis apa yang dipikirkan (meski yang sering ditulis adalah apa yang dirasakan bukan dipikirkan, sebab merasa beda dengan berpikir), mempublikasikan identitas diri, mengunggah foto dan  video, menulis catatan dan tautan, ber-game ria dengan aneka permainan yang ditawarkan, memasang iklan, memutar musik kesukaan, mengirim smiley dan kartu ucapan, mengirimkan pesan, menulis berita, berbincang atau chatting, dsb (bdk. Ir. Yuniar Supardi, Facebook Undercover, Jakarta: Elexmedia komputindo, 2009). Memang, situs ini dirancang khusus bagi mereka  yang gandrung ‘narsis’ untuk menunjukan tampang di dunia maya. Read the rest of this entry