PENGHAKIMAN TERAKHIR: BUKAN GAMBARAN TEROR

(Suatu Refleksi Atas Ensiklik Spe Salvi No. 44)

Fr. Kris Ina, Cmf

Prakata

Di masa kecil, mungkin kita semua mendengar kisah-kisah tentang penghakiman terakhir yang diajarkan oleh guru ataupun orangtua kita. Penghakiman terakhir sering kali digambarkan secara negatif yaitu suatu keadaan di mana orang dihakimi di depan Sang Hakim Agung, disiksa dan kemudian dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala. Di sanalah terdapat ratap dan kertak gigi, dan sejenisnya. Gambaran ini sebenarnya untuk menakut-nakuti orang supaya hidup baik di dunia ini sehingga pada akhirnya menikmati kebahagiaan di surga. Sebaliknya, apabila berlaku jahat selama hidup di dunia maka nanti pun akan menderita sengsara dalam kehidupan sesudah kematian.

Dalam perjalanan sejarah, orang-orang juga mulai meramalkan tentang saat penghakiman terakhir ini. Dari ayat-ayat kitab suci dan dari sumber-sumber kuno lainnya orang mulai meramalkan bahwa saat penghakiman terakhir hampir tiba di mana semua manusia akan menderita sengsara. Lalu muncullah perkiraan, mulai dari tahun 200, 380, 838, 1000, 1260, 1533, 1844, 1914, 1988, 2000, ….. hanyalah sekedar contoh, tetapi tak ada satu pun yang benar. Ramalan-ramalan seperti ini menimbulkan keresahan dan rasa pesimisme dalam diri sebagian manusia untuk menghidupi hidup ini. Namun berhadapan dengan masalah seperti ini, ada baiknya jika kita menelisik sebentar bagaimana Paus Benediktus XVI melihat gambaran penghakiman terakhir dalam aroma pengharapan, bukan sebagai gambaran teror yang meresahkan tetapi gambaran harapan, dalam ensikliknya yang berjudul Spe Salvi (diselamatkan dalam pengharapan).

Selayang Pandang-Sepintas Lalu-Mengenal Spe Salvi

Spe Salvi facti sumus – kita diselamatkan dalam pengharapan (Rm 8:24). Demikian kalimat pembuka ensiklik Paus Benediktus XVI ini. Ensiklik ini dikeluarkan pada Pesta St. Andreas, tanggal 30 November 2007, pada awal masa Adven, dengan maksud untuk membantu menguatkan harapan orang Kristen akan kedatangan Juru Selamat pada peristiwa Natal.

Paus Benediktus XVI ingin membahas tiga keutamaan teologis dalam Gereja Katolik, yakni: iman, harapan dan kasih. Sebagaimana dalam ensiklik pertamanya Deus Caritas Est, Paus ingin meyakinkan semua umat manusia bahwa Allah adalah Kasih. Kini, dalam ensiklik yang keduanya ini, Paus ingin membangunkan harapan dalam diri setiap orang yang beriman kepada Allah. Kita diselamatkan dalam pengaharapan-spe salvi facti sumus.

Melalui ensiklik ini, Paus menegaskan kembali mengenai pentingnya harapan dalam masyarakat modern dan mengenai pentingnya umat Kristiani memulihkan arti harapan yang sebenarnya. Titik berangkat sekaligus yang menjadi setting di belakang gagasan ini adalah ‘misteri’ penderitaan manusia yang selalu tidak terjawab tuntas. Krisis yang menerpa banyak bidang kehidupan manusia, melumpuhkan semua sendi dan struktur hidup manusia. Dalam kekalutan hidup semacam itu banyak orang menjadi kehilangan pegangan dan orientasi hidup. Tak jarang banyak orang mempertanyakan, inikah kenyataan hidup yang sesungguhnya, hidup yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan. Bagaimana Allah dibicarakan dalam pengalaman jerih-payah; ketiadaan harapan; keputusasaan yang membelenggu hidup manusia? Masihkah hidup ini punya masa depan?

Spe Salvi mencoba mengangkat energi yang ada di dalam diri manusia yaitu kesadaran akan adanya harapan. Harapan yang selalu menggerakkan manusia untuk senantiasa menjumpai Allah. Bapa Suci juga melihat bahwa dunia saat ini sedang menderita oleh karena pelbagai jenis petaka alam, kejahatan manusia, dengki, dendam dan sejenisnya. Kejadian-kejadian yang mengancam keberadaan manusia menyebabkan banyak orang semakin takut untuk menghadapi masa depan. Tatapan banyak orang seperti hanyut dalam kegelapan, pesimisme, ketakutan pada apakah hidup ini masih punya masa depan. Melihat suramnya dunia dan geliat hidup di dalamnya, Paus berusaha membangunkan kembali harapan banyak orang, dengan kata-kata penuh harapan. “Kita diselamatkan dalam pengharapan-spe salvi facti sumus.” Pengharapan kita tidak pernah mengawang-awang, seperti orang yang bermain dadu atau bermain kuru-kuru semalaman suntuk, mereka-reka tanpa garansi yang pasti. Kita berharap dan berpengharapan dalam sebuah alur yang pas dan pasti. Kepastian itu adalah Allah sebagai sumber pengharapan kita.

Ensiklik Spe Salvi terdiri dari 50 nomor, dan dibagi dalam sembilan bagian yaitu: Introduksi (1); Iman adalah harapan (2-3); Konsep dari harapan berdasar iman dalam Perjanjian Baru dan Gereja awal (4-9); Apa itu hidup kekal? (10-12); Apakah harapan Kristen individualistis? (13-15); Transformasi atas harapan iman Kristen di zaman modern (16-23); “Pengaturan” atau seting dalam mempelajari dan mempraktekan harapan (32-48); dan Maria, bintang harapan (49-50). Pada bagian “pengaturan” atau setting dalam mempelajari dan mempraktekan harapan, di sana terdapat salah satu setting yaitu tentang penghakiman terakhir, selain doa, aksi dan penderitaan. Dalam setting ini Paus menegaskan bahwa dalam keadilan Allah terdapat rahmat yang membebaskan. Rahmat tersebut tidak membatasi keadilan, ia tidak membuat yang salah menjadi benar tetapi justru ia mewujudkan kasih Allah. Inilah hiburan dan harapan kita sehingga gambaran penghakiman terakhir bukanlah suatu teror melainkan sebuah gambaran harapan (SS. 44).

Penghakiman Terakhir: Sebuah Gambaran Harapan

Menurut ajaran iman Kristiani yang tradisional, bila seseorang meninggal, maka jiwanya berpisah dari badan dan ketika itu juga jiwa diadili. Sesudah “pengadilan” ini, jiwa pergi ke surga, ke neraka atau ke api penyucian. Dalam gagasan pengadilan ini, dapat dibedakan antara dua segi yakni Allah (atau Kristus) sebagai Hakim dan manusia yang bertanggungjawab atas hidupnya.

Gagasan Allah (atau Kristus) sebagai Hakim sebenarnya berasal dari pandangan Israel bahwa YHWH membela umat-Nya dan menghukum musuh-musuh-Nya. Tuhan akan mengadili bangsa-bangsa pada “hari Tuhan” (lih. Yeh 13:3; Zef 1:7). Kemudian dalam Kitab Daniel pengadilan ini sungguh menjadi sidang penghakiman atas seluruh dunia. Dari Kitab Daniel inilah muncul kebanyakan kisah penghakiman yang menakutkan, bernada teror bagi umat manusia. Penghakiman ini dilihat sebagai suatu fungsi khusus dari Anak Manusia (bdk. Mat 25:31; Dan 7:3), dan oleh karena itu juga diberikan kepada Yesus (Yoh 5:27).

Tanggung jawab manusia atas perbuatannya: ini merupakan segi lain yang ada pada gagasan penghakiman terakhir, dan ini semakin jelas dalam Perjanjian Baru, misalnya Allah akan membalas setiap orang menurut perbuatannya (bdk. Rm 2:6; 1Kor 3:10-15). Tetapi terutama Yohaneslah yang mengembangkan gagasan ini, di mana berulang kali ditekankan: “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:17; 8:15; 12:47). Akan tetapi walaupun tugas perutusan Yesus bukan untuk menghakimi, ini berarti tidak ada penghakiman, karena: “barang siapa menolak Aku dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman” (Yoh 12:48; bdk. 3:19-20). Penghakiman sebenarnya bukan tindakan baru yang ditambahkan sesudah orang melakukan perbuatannya, melainkan penampilan manusia dalam keadaannya yang sebenarnya: “sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan apa yang dilakukan dalam hidup ini, baik atau jahat” (2Kor 5:10; bdk. Gal 6:7).

Dari ini jelaslah bahwa penghakiman tidak boleh dilihat sebagai balas dendam, bahkan tidak juga sebagai balas jasa. Penghakiman lebih tepat disebut penampakan di muka umum dari semua manusia dalam keadaannya yang sesungguhnya. Pengadilan berarti konfrontasi manusia dengan Allah yang tidak dapat ditipu. Ini semua terjadi karena adanya rahmat Allah yang terus dicurahkan kepada kita umat manusia. Rahmat tersebut tidak membatalkan keadilan, dia juga bukanlah spons yang menghapus semuanya sehingga apapun yang dilakukan seseorang di bumi berakhir dengan nilai yang sama, dan rahmat ini pula yang memampukan manusia untuk terus berharap kepada Allah yang mampu menyelamatkannya.

Allah adalah pokok pengharapan, dan dasar pengharapan adalah tindakan penyelamatan Allah dalam diri Kristus. Maka pengharapan juga bukan kerinduan akan hidup di akhirat saja, melainkan kepenuhan iman yang memberi arti kepada hidup sekarang. “Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian” (2 Kor 3:12). Pengharapan berarti kekuatan untuk hidup sekarang, sehingga meskipun seringkali diteror dengan ramalan-ramalan akan tibanya saat akhir yang mengerikan di mana seluruh alam semesta mengalami kebinasaan, kita tetap kuat dan optimis dalam menjalani hidup ini. Karena kita percaya dan berpengharapan bahwa Kristus akan berpartisipasi dalam hidup ini sebagaimana kita berpartisipasi dalam hidup Kristus. Maka, “kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita sebab Ia, yang menjanjikannya, setia”. Sikap pengharapan berarti keberanian untuk menuju kepada kepenuhan hidup bersama Kristus.

Sejak dari masa-masa awal, prospek penghakiman telah mempengaruhi umat Kristen dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai suatu kriteria untuk menata kehidupan mereka saat ini, sebagai panggilan kepada suara hati mereka, dan pada saat yang sama sebagai harapan dalam keadilan Allah. Iman akan Kristus tidak pernah kelihatan sekedar ke belakang atau ke atas, tetapi selalu ke depan kepada saat pengadilan yang sering diproklamirkan Tuhan. Sikap melihat ke depan inilah yang telah memberi orang-orang Kristen rasa penting bagi saat sekarang. Dari sini, penghakiman terakhir menjadi sebuah simbol tanggung jawab kita dalam hidup. Namun dalam perjalanan sejarah hidup manusia, iconography penghakiman terakhir ditekankan lebih kepada aspek yang mencekam dan menakutkan, yang jelas lebih mengagumkan bagi yang melukisnya daripada memperlihatkan kegemilangan harapan yang sering begitu tersembunyi di bawah kengerian yang terlukiskan.

Namun dalam wajah Yesus Kristus yang menderita, terdapat suatu kepastian harapan: ada seorang Allah dan Allah dapat menciptakan keadilan dalam cara yang tidak dapat dipikirkan, namun kita dapat memulai mencoba mengertinya melalui iman. Dari situ kita bisa melihat ada kebangkitan badan, ada “pembatalan (undoing)” dari penderitaan. Atas alasan ini, iman dalam penghakiman terakhir pertama dan terutama adalah harapan. Sebuah dunia tanpa Allah adalah dunia tanpa harapan (bdk. Ef 2:12). Hanya Allah yang dapat menciptakan keadilan, dan iman memberi kita sebuah kepastian bahwa Dia melakukan itu. Gambaran penghakiman terakhir terutama bukanlah gambaran teror melainkan sebuah gambaran harapan. Meskipun mengerikan namun ia menggugah rasa tanggungjawab kita dalam menjalani kehidupan ini. Tanggungjawab untuk menghindari pelanggaran sumpah dan kesalahan, menyingkapkan selubung kebohongan dan kemewahan, kekuasaan, kesombongan dan kemaksiatan sehingga ketika Sang Hakim selesai menginspeksi kita di akhir zaman, Dia tidak mengirimkan kita langsung ke penjara kekal tetapi dengan tatapan mata Sang Hakim yang bersinar penuh cinta memurnikan diri kita dan mengirimkan kita ke pulau yang terberkati (SS. 44).

Cahaya yang memurnikan dan menyelamatkan kita adalah Kristus sendiri, Sang Hakim dan Penyelamat. Perjumpaan dengan-Nya adalah tindakan penghakiman yang menentukan. Di hadapan pandangan-Nya semua kepalsuan lumer. Perjumpaan dengan-Nya yang membakar kita ini, mentransformasikan dan membebaskan kita, membolehkan kita untuk benar-benar menjadi diri kita sendiri. Semua yang kita bangun selama hidup bisa terbukti sebagai sekedar jerami, kesombongan murni dan akhirnya runtuh. Namun dalam rasa sakit dari perjumpaan ini, terhamparlah keselamatan. Pandangan-Nya, sentuhan hati-Nya menyembuhkan kita melalui sebuah transformasi menyakitkan yang teringkarkan seperti dalam api. Tetapi ini adalah kesakitan yang membahagiakan di mana kekuatan kudus cinta-Nya membakar kita dan memampukan kita untuk secara total menjadi diri kita.

Bagaimana kita menghidupi kehidupan kita tidaklah penting tetapi pengotoran diri kita tidak menodai kita selamanya jika kita paling tidak terus menerus menjangkau Kristus, kepada kebenaran dan cinta. Pada saat penghakiman, kita mengalami dan meresapi kekuatan cinta-Nya yang begitu besar atas semua kejahatan di dunia dan di dalam diri kita sendiri. Kesaksian cinta ini menjadi tanda keselamatan dan kegembiraan kita. Oleh karena itu kita sebenarnya tidak perlu takut dengan akhir zaman. Saat penghakiman terakhir merupakan saat untuk kita melewati terowongan kepada persekutuan dengan Allah dalam tubuh Kristus. Oleh karena itu, penghakiman dari Allah adalah harapan, baik karena harapan tersebut adalah keadilan maupun karena rahmat. Keadilan dan rahmat inilah yang membuat kita semua untuk berharap, dan untuk pergi dengan percaya menemui Sang Hakim yang kita kenal sebagai “advokat” kita (SS. 47).

Purnakata

Tentu masih membekas dalam diri bahwa penghakiman terakhir merupakan sesuatu yang mengerikan. Namun perlu juga kita bahwa dalam perjumpaan dengan Sang Hakim segala ketakutan kita lumer oleh api kasih dan rahmat-Nya. Kepercayaan ini perlu terus ditumbuh-kembangkan seiring dengan pengharapan kita akan janji Allah.

Pengharapan adalah sebuah sikap hidup yang berani menatap ke depan menangkap janji Allah pada setiap peristiwa dan pengalaman hidup. Karena Allah yang berjanji adalah Allah yang setia juga memenuhi janji-Nya; Allah yang dahulu, Allah yang sekarang dan Allah yang akan datang adalah tetap Allah yang setia pada janji-Nya, janji untuk menyelamatkan. Oleh karena itu, di hadapan situasi dunia yang penuh dengan sikap pesimisme akan hidup, kita perlu terus bertumbuh dalam harapan bahwa Allah terus hidup dan sungguh mencintai kita serta menyelamatkan kita.J

Bahan Rujukan

Paus Benediktus XVI, Ensiklik Spe Salvi, 2007.

Dr. Nico Syukur Dister, OFM, Teologi Sistematika 2, Yogyakarta: Kanisius, 2004.

P. Ferdy Mello, CMF, Bahan Retret Untuk Postulan dan Novis Claretian, 2009.

Ingrid Listiati, Akhir Jaman Menurut Ajaran Gereja Katolik, diunduh dari http://katolisitas.org/2009/06/25/akhir-jaman-menurut-ajaran-gereja-katolik.

Posted on 6 Maret 2010, in ARTIKEL, OPINI. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Jhuly M'tiara Tobing

    gw setuju klo penghakiman dari Tuhan bukanlah teror. yang pasti berani berbuat didunia yach berani tanggung jawab dihadapan Allah, pada saat penghakiman terjadi….

  2. kalau memang bukan teror maka kita tidak perlu takut……. ya…..Allah adalah cinta, ga mungkin Allah yang maha cinta menghukum kita……kalau memang Ia menghukum kita dan memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita maka surga akan kosong bo………… Allah akan tetap mengampuni kita yang penting kita berani menghadapNya……thanks to bro kris yang telah memberikan informasi seputar spe salvi…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: