KIAMAT, SIAPA (TIDAK) TAKUT?

(Rm. Dr. Herman P. Panda, Pr)

Kiamat adalah suatu kata yang dalam percakapan sehari-hari selalu berkonotasi “ngeri” dan menakutkan. Segala sesuatu yang dasyat dan mengancam hidup manusia serta keutuhan alam semesta diibaratkan dengan kiamat. Gempa Bumi dan tsunami yang dahsyat, banjir bandang, letusan gunung api, wabah penyakit, bahkan perang seringkali membuat orang berujar: “jangan-jangan dunia hampir kiamat”. Orang yang sedang frustrasi dan putus asa pun seringkali dihibur: “dunia belum kiamat, masih ada waktu untuk berjuang lagi”. Titi Sandora dan Muchsin di tahun 70-an menghibur laki-laki yang putus cinta dengan bernyanyi: “sepanjang umur ada jodoh, banyak gadis pilihan, banyak janda …, dunia belum kiamat”. Dengan ungkapan-ungkapan seperti ini, menjadi jelas bahwa manusia umumnya memahami kiamat sebagai akhir segala-galanya, tanpa harapan hidup. “Kiamat, siapa yang tidak takut?” merupakan ungkapan umum dan dianggap sebagai kebenaran yang diterima semua orang.

Benarkah kiamat harus menakutkan? Pandangan Kristen memahami kiamat secara amat berbeda. Kiamat tidak dipahami sebagai akhir segala-galanya tanpa ada harapan hidup, tetapi sebaliknya merupakan saat segala sesuatu dibaharui. Dunia dan alam semesta sekarang, jagat raya dan segala isinya memang harus berakhir supaya terbit langit dan Bumi yang baru. Inilah pengharapan Kristen. Karena itu ungkapan yang Kristiani mestinya berbunyi: “kiamat, siapa takut?”

Kiamat, Siapa Tidak Takut?

Peristiwa dahsyat yang menyebabkan kehancuran di muka Bumi seringkali dihubungkan dengan kiamat. Kehancuran di muka Bumi terutama bila hidup sebagian umat manusia terancam, tentu saja menakutkan. Membayangkan saja peristiwa tsunami di Aceh atau gempa di Haiti, sudah membuat nyali ciut. Tetapi sebenarnya pengalaman hancur sudah merupakan hal yang biasa bagi planet Bumi kita, sejak munculnya di dalam jagad raya ini miliaran tahun yang lalu sampai kini. Dan walaupun berkali-kali hancur, dia tetap eksis, belum hilang sama sekali. Jadi kehancuran, walaupun merupakan peristiwa mengerikan, tetapi tidak menandakan tibanya hari kiamat. Ancaman-ancaman yang lebih dasyat atas Bumi sepanjang sejarah sejauh diselidiki para ahli dapat disebutkan beberapa di bawah ini.

v  Sekitar 570 juta tahun yang lalu pada periode Cambrian, terjadi kehancuran di muka Bumi yang menyebabkan lenyapnya sekitar 80 – 90 % dari seluruh spesies makhluk hidup di muka Bumi. Sesudah itu Bumi kembali normal. Makhluk hidup yang tersisa sekitar 10% itu terus bertumbuh, berevolusi, bahkan muncul berbagai spesies baru yang berkembang biak dan semakin memenuhi Bumi.

v  Sekitar 250 juta tahun yang lalu pada periode paleozoik, benua satu-satunya yang ada di Bumi waktu itu, yang disebut pan-gaia terpisah menjadi beberapa benua serta pulau-pulau. Peristiwa itu menyebabkan bencana besar yang melenyapkan sekitar 75-95 % makhluk hidup di Bumi. Yang sisa sekitar 5% itu terus berkembang biak, bahkan masih muncul lagi spesies-spesies baru. Bumi kembali ramai dipenuhi makhluk hidup yang hampir memenuhinya.

v  Sekitar 67 juta tahun yang lalu pada periode Cretacean, Bumi sempat dihantam sebuah komet raksasa sebesar kira-kira dua kali lipat dari gunung Himalaya, dengan kecepatan lajunya 65 kali dari kecepatan suara. Akibat hantaman komet itu, 65% makhluk hidup di Bumi binasa. Diperkirakan waktu itu segala jenis Dinosaurus yang telah menguasai Bumi selama kira-kira 166 juta tahun, ikut binasa. Yang sisa dari makhluk hidup itu terus berkembang biak, berevolusi dan bertambah banyak. Spesies-spesies baru pun muncul, karena Bumi kembali normal dan amat kondusif bagi hidupnya berbagai makhluk.

v  Sekitar 15.000 – 10.000 tahun sebelum Kristus, merupakan zaman es terakhir. Pada zaman itu sebagian besar makhluk hidup di Bumi kembali binasa karena tidak dapat bertahan hidup dalam cuaca yang buruk. Sesudahnya Bumi kembali normal. Makhluk hidup yang tersisa terus berkembang biak. Banyak spesies terus berevolusi, semakin hari semakin sempurna. Spesies makhluk hidup yang bernama homo (manusia) pun berevolusi makin lama makin sempurna sampai mencapai tahap akhir sebagai homo sapiens (manusia bijaksana).

Dari kehancuran demi kehancuran di muka Bumi seperti disebutkan di atas, memang mengakibatkan lenyapnya sebagian besar makhluk hidup yang pernah ada, contohnya Dinosaurus yang binasa selamanya. Tetapi sesudah kehancuran, kehidupan masih terus berlanjut bahkan semakin lama semakin sempurna. Maka kehancuran itu sekaligus berita buruk dan berita baik. Kehancuran menjadi berita buruk bagi yang akan tereliminasi dari muka Bumi, tetapi menjadi berita baik bagi yang bertahan hidup karena selanjutnya akan hidup lebih sempurna dan aman sentosa.

Seorang ahli biologi berkebangsaan Inggris mengatakan bahwa Bumi ini merupakan suatu superorganisme yang hidup. Bumi bertumbuh semakin hari semakin matang. Ketika terluka (mengalami kehancuran), dia berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Bila tidak ada keseimbangan, dia berusaha menyeimbangkan dirinya. Kadang-kadang kehancuran di permukaan Bumi merupakan momen penyeimbangan dirinya. Contohnya, ketika Dinosaurus, predator-predator raksasa itu menguasai muka Bumi dan tidak memungkinkan berlanjutnya hidup sebagian besar makhluk lain, maka mereka telah mengganggu keseimbangan di muka Bumi. Mereka harus hancur supaya keseimbangan kembali terjadi. Bumi, superorganisme itu mengaturnya secara baik, dengan mengeliminasi predator-predator raksasa itu dari tubuhnya. Dengan demikian makhluk-makhluk lain dapat berlanjut hidup dengan aman.

Ada pula pendapat yang tentu merupakan berita buruk bagi spesies homo (manusia) yang telah menguasai Bumi selama jutaan tahun. Ketika spesies homo yang dalam proses evolusinya telah menjadi homo sapiens (manusia bijaksana) dengan kecanggihan teknologinya semakin merusak Bumi, maka dia telah menjadi pengganggu bagi kelangsungan hidup makhluk-makhluk lain.   Homo sapiens telah berubah perlahan-lahan menjadi homo demens (manusia gila / bodoh) yang menjadi pengganggu keseimbangan di muka Bumi. Dalam hal ini homo demens berperilaku tidak beda dengan Dinosaurus yang selalu mengancam kelangsungan hidup sesama makhluk hidup. Karena itu ada kemungkinan Bumi pun suatu saat akan bosan dengan ulah homo demens ini lalu mengeliminasi mereka dari tubuhnya. Dengan kata lain, spesies homo akan lenyap selamanya seperti nasib Dinosaurus, dan makhluk lain yang lebih ramah dengan sesama makhluk hidup akan berlangsung hidup.

Dari uraian di atas nampak bahwa betapapun besarnya kehancuran yang terjadi di Bumi, belum tentu merupakan tanda-tanda tibanya hari kiamat. Setelah hancur, ternyata Bumi sembuh lagi dan terus hidup makin lama makin sempurna. Lalu, apakah dengan ini dapat disimpulkan bahwa Bumi dan seluruh jagad raya ini abadi sekalipun manusia akan lenyap? Tentu saja tidak. Paling kurang jawaban ini kita temukan dalam teologi Kristen (eskatologi). Eskatologi Kristen memang amat optimis dengan pandangannya akan nasib manusia. Allah rupa-rupanya tidak akan bosan dengan homo yang sekalipun kadang-kadang demens ini karena dia jugalah citra-Nya sendiri. Kalau Allah mau membinasakan manusia, sudah sejak zaman air bah, semua manusia lenyap termasuk Nuh dan bahteranya. Ternyata Allah menyelamatkan Nuh, karena Ia ingin manusia tetap hidup dan tetap menjadi mahkota segala ciptaan-Nya.

Kiamat, Siapa Takut?

Kiamat, bahasa teologinya adalah akhir zaman atau parousia. Kitab Suci menggambarkan akhir zaman itu sebagai kehancuran semesta, di mana terjadi disintegrasi struktur kosmos: bintang-bintang berjatuhan, Bumi bergoncang, gelombang laut menjadi amat dahsyat dan seluruhnya hancur. Tetapi langsung disertai juga dengan tiupan sangkakala oleh Malaikat yang menandai mulainya kebangkitan universal semua orang mati. Hal ini mengungkapkan berakhirnya alam semesta kini dan dari puing-puingnya muncul Langit baru dan Bumi baru. Dan terutama pada waktu itu Tuhan Yesus datang lagi dengan kemuliaan-Nya, turun dari awan-awan langit, dengan cara yang sama seperti Dia dulu naik ke Surga setelah kebangkitannya (Kis 1: 11). Dan kaum terpilih baik yang baru bangkit dari kubur maupun yang masih hidup akan terangkat ke awan-awan langit menyongsong Dia (1 Tes 4:17). Pada akhirnya terjadi pula pemisahan kekal antara mereka yang dapat bersama-sama dengan Dia dan mereka yang terpisah selamanya dari Dia.

Kehidupan kekal bagi kaum terpilih dan hukuman kekal bagi yang ditolak, merupakan salah satu topik utama dalam pewartaan Gereja purba tentang parousia. Putera manusia (Yesus Kristus) akan mengadili orang yang hidup dan mati di mana orang-orang benar di sebelah kanannya dan kaum berdosa yang ditolaknya di sebelah kirinya. Tetapi Paulus amat optimis bahwa para pengikut Kristus, kita “akan selama-lamanya bersama dengan Tuhan” (1 Tes 4:17).

Tetapi kapan itu terjadi? Kalau parousia itu adalah akhir dari alam semesta maka mestinya terjadi “persiapan” sebelum hal itu tiba. Teilhard de Chardin berpendapat bahwa suatu saat dunia ini akan mencapai tahap akhir dari proses evolusinya. Kematangan alam semesta yaitu ketika telah tercapai metamorfosis semesta ke dalam Kerajaan Allah, itulah saat akhir proses evolusi, karena Kristus sendirilah motor penggerak proses evolusi itu. Kristus, sang motor penggerak itu juga merupakan titik alfa (awal, saat penciptaan dunia) sekaligus titik omega (akhir, parousia). Di dalam proses itu manusia tidak tinggal pasif saja tetapi berperanan sebagai sarana yang turut merealisasikan Kerajaan Allah. Dengan kehendak bebasnya, manusia bekerjasama dengan rahmat penebusan Kristus yang mentransformasikan dunia ini tahap demi tahap menuju kepenuhan akhir zaman. Tetapi dengan kehendak bebasnya pula manusia sering berperilaku sebagai homo demens. Karena itu Yesus juga berkata: “masih adakah iman di Bumi” ketika Anak manusia (Kristus) datang kedua kalinya di dunia. Di bawah kuasa dari tiga “dosa pokok manusia” (kerakusan akan harta, kenikmatan dan kesombongan), maka upaya-upaya manusia bisa mengarah kepada penghancuran diri sendiri, di mana yang diperoleh manusia bukan kebangkitan melainkan kematian kekal. Jadi peranan manusia itu bisa positif,yaitu turut mempercepat perealisasian Kerajaan Allah, mempersiapkan akhir zaman. Bisa pula negatif, ketika orientasi manusia semakin menjauh dari kehendak Allah dan mencari kehendaknya sendiri. Bila positif, maka seluruh umat manusia benar-benar telah diresapi semangat Injil, dan pribadi-pribadi manusia seluruhnya mencapai keadaannya yang sempurna sebagaimana diciptakan Allah. Keyakinan yang optimistik ini terdapat dalam Gereja perdana. Karena itu mereka amat mengharapkan dan yakin sekali bahwa Kristus datang kembali dalam waktu yang tidak lama lagi. Mereka berdoa “maranatha”, datanglah Tuhan. Sebaliknya dunia kita sekarang karena semakin menjauh dari kehendak Allah, semakin pula kehilangan orientasi masa depan bahkan kehilangan prospek masa depan jauh (akhir zaman). Dari kenyataan bahwa manusia tak pernah tahu kapan kesempurnaan temporal di dunia ini tercapai (sebagai persiapan akhir zaman), maka manusia hanya bisa berharap dan menanti. Karena itu ketika Yesus ditanya kapan akhir zaman itu terjadi, jawabannya adalah: “tak seorang pun tahu, hanya Bapa di Surga saja”.

Sementara umat menantikan akhir zaman yang tidak diketahui kapan waktunya tetapi pasti datang, telah banyak manusia individual yang mati. Kematian boleh dikatakan permulaan dari akhir zaman. Kematian adalah akhir zaman bagi setiap orang, juga perjumpaan dengan Kristus yang akan datang. Bagi orang Kristiani, dengan kematian, “vita mutatur non tollitur”, hidup diubah bukannya dilenyapkan. Setelah hidup itu diubah, tidak akan diubah lagi. Jiwa tetap berlanjut hidup di balik kehancuran tubuh. Menurut iman kita, oleh kuasa Allah tubuh kita sekalipun hancur akan diperoleh lagi pada saat kebangkitan universal di akhir zaman.  Akan tetapi, pada saat itu kita harus berjumpa dengan pengadilan ilahi. Pengadilan ilahi mungkin menakutkan karena kita tidak pernah tahu apakah kita termasuk yang “di sebelah kanan” atau di “sebelah kiri-Nya”. Hakim di pengadilan itu tidak lain adalah Kristus. Kristus Sang hakim itu menurut St. Theresia adalah “sahabat yang terbaik”, Juru selamat. Dia mengadili kita sebagaimana adanya kita.

Setelah diadili, apakah kita terbuang selamanya dari persekutuan dengan Allah atau diterima dalam belaskasih dan pengampunanNya, tergantung dari pilihan terakhir kita: apakah kita melawan Allah atau mencintai Allah. Menurut Agustinus dalam “The City of God”, manusia bisa mencintai kebaikan, mencintai Allah sampai pada melupakan diri sendiri, sebaliknya dapat pula mencintai kejahatan, mencintai diri sendiri sampai melupakan Allah. Pilihan terakhir inilah yang menentukan keselamatan kita. Karena itu, dari pada berandai-andai tentang kapan akhir zaman datang, lebih baik mempersiapkan “akhir zaman” kita masing-masing yaitu kematian yang pasti tak pernah terelakkan. Paling kurang kita pastikan bahwa kita tetap mencintai Allah, sampai pada saat ajal menjemput.[]

Posted on 6 Maret 2010, in ARTIKEL, OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. jikalau dalam ajaran Islam ada hari dimana manusia akan dikumpulkan jadi satu yaitu di padang mahsyar, lantas bagaimana dengan ajaran kristiani??

    • dalam ajaran Kristian dikenal dengan suatu tegangan eskatologis. Kerajaan Allah telah datang dalam diri Yesus Kristus namun di sisi lain kita menantikan kepenuhannya dalam zaman eskatologis, saat Allah meraja dalam kemuliaannya. pemahaman surga adalah sebuah kehidupan yang lain setelah kita selesai berziarah di dunia ini. mas bisa berselancar di google mengenai ajaran Katolik mengenai kehidupan kekal. atau di WWW. VATICANARCHIVE. COM

  2. saya suka tuliasn Romo, inspiratif n mengena banget. Nanti tulis lagi ya Romo. Kita butuh insight teologi.

  3. Kita berdoa aja semoga kita senantiasa di berkahi..
    amiiin

    http://basobasri.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: