Ateisme dalam kacamata filsafat

“ Pada zaman dulu, Karya Agung bisa dituliskan dalam batu zamrud. Manusia menolak hal-hal sederhana, dan mulai menulis banyak traktat, tafsiran-tafsiran, dan kajian-kajian filosofis. Mereka juga mulai merasa tahu lebih banyak daripada orang lain, ” kata Sang Alkemis kepada  Santiago dalam Novel Paulo Coelho, The Alchemist, hal. 162.

Pengantar

Masalah ketuhanan merupakan masalah yang tidak simpatik dan coba dihindari manusia. Dalam hati manusia ada kecenderungan untuk menolak Tuhan, dan penolakan ini seringkali terjadi secara a priori. Manusia memutuskan bahwa Tuhan tidak boleh ada karena cenderung mempertahankan otonomi dan kebebasan pribadi yang dimutlakan. Singkatnya, Tuhan tidak boleh ada, agar manusia ada secara penuh, tanpa merasa dikekang atau diperbudak (Dr. Domi Saku, Pr, Manuskrip Filsafat Ketuhanan, FFA Unwira, Kupang, 2010, hal.5).

Penolakan semacam ini melahirkan sikap-sikap negatif terhadap masalah ketuhanan, seperti ateisme. Ateisme digambarkan sebagai sikap dan tindakan yang tidak mengakui adanya Tuhan dan menyangkal peran agama sebagai medium menuju Yang Transenden itu. Agama dan Tuhan disangkal adanya. Jika merunut pada asal katanya, ateisme terdiri dari a dan theos. “Tidak Tuhan”. Tidak untuk masalah Tuhan. Kata theos berasal dari kata dwesos atau yang lebih pendek dhaos, yang berarti bernapas atau menarik nafas, atau juga yang memberi hidup (ibid). Tuhan diidentikan sebagai pemberi hidup  bagi yang mengakui adanya Tuhan.

Secara umum Ateisme dibedakan menjadi dua yakni, ateisme sistematis dan ateisme praktis. Dalam ateisme praktis, orang sengaja melalaikan soal Tuhan dan agama, kemudian tidak memikirkannya, seolah-olah Tuhan tidak ada. Seringkali situasi hidup sekularistis dan materialistis merupakan lahan subur berkembangnya ateisme praktis. Namun ada situasi tertentu(baca: “situasi batas” menurut Karl Jaspers) yang memaksa orang memikirkan dan mempertimbangkan kembali arti, nilai, dan tujuan hidupnya.

Ateisme sistematis merupakan upaya manusia untuk secara ilmiah membentuk suatu sistem ajaran yang mau membuktikan bahwa realitas yang kita alami tidak memerlukan suatu prinsip transenden agar realitas itu dimengerti, menjadi intelegibel. Singkatnya, orang berupaya secara sistematis dan praktis misalkan melalui indoktrinasi bahwa Tuhan tidak ada. Menurut Franz Magnis-Suseno, ateisme ilmiah atau filosofis seperti ini susah untuk dipertahankan. Alasannya, Tuhan tidak dapat dibuktikan, hal itu,  lebih lagi berlaku bagi yang bukan-adanya Tuhan. Tidak mungkin membuktikan bahwa sesuatu tidak ada, kecuali dalam ruang terbatas. Bahwa Tuhan tidak ada sama sekali tidak dapat dibuktikan. Apalagi, kalau mengikuti empirisme yang hanya menganggap sah suatu pengertian yang berdasar pada panca indra (Franz Magnis-Suseno, Menalar tuhan, Yogyakarta, Kanisius, 2006, hal.102).

Dalam abad 20, ateisme berkembang menjadi ideologi dan tidak ilmiah. Karena alasan-alasan ideologis orang tidak mau adanya Tuhan, maka ia membangun teori yang mau membuktikannya. Misalnya, ideologi marxisme-leninisme yang masih berkembang puing-puingnya sampai sekarang. “Kekuasaan partai komunis kandas, jika Tuhan ada, maka Tuhan tidak boleh ada.” Kenyataannya di negara-negara komunis sekarang ada sebuah gerakan kembali pada jati diri sebagai perindu yang ilahi yang telah mendarah daging pada jiwa mereka, meski otoritas alergi dengan urusan agama dan urusan Tuhan.

Agnotisisme Kant

Ateisme boleh dikatakan ketinggalan zaman tetapi agnotisisme, indiferentisme, dan indiferentisme tetap melaju. Mengapa demikian? Karena ateisme tetap berkembang dalam bentuk yang lain dan akan terus berkembang dalam zaman sekuler ini. Yang paling kentara adalah ateisme praktis yang mempunyai dampak besar dalam domain moral, sosial, agama, dan politik. Bentuk tacit dari ateisme adalah agnotisisme. Agnotisme menyatakan bahwa adanya Tuhan tidak dapat dibuktikan. Bois Rey-Mond menyebutnya dengan, “ignoramus et ignorabimus.” Menurut para agnotisis hal adanya Tuhan dianggap tidak dapat  diketahui secara filosofis. Pandangan ini sebetulnya berasal dari pandangan bahwa manusia  tidak dapat mengetahui realitas yang sebenarnya, suatu realitas Das Ding an Sich. Apalagi kalau menyangkut sesuatu yang berada di luar jangkauan budi.

Salah satu tokoh agnotisis yang terkenal adalah Emmanuel Kant. Ia hidup antara 1724-1804 dan dijuluki “penghancur metafisika.” Dalam karyanya yang termasyur, Kritik Der Reinen Vernunft, Kant menyatakan bahwa segala usaha Metafisika gagal. Memikirkan obyek-obyek diluar  cakupan pengalaman indrawi  hanya menghasilkan “kesesatan” dan “tipuan”(Suseno:2006, 105). Dan karena Tuhan terletak diluar pengalaman manusia, maka tidak mungkin “menentukan secara teoretis tentang adanya Tuhan.” Pengetahuan kita terbatas pada dunia alam. Jadi, dengan sendirinya ateisme menjadi basi dan tidak masuk akal.

Dalam pandangan yang dirumuskan sebagai antinomi-antinomi, ia membedakan antara ide regulatif dan ide konstitutif. Ide regulatif merupakan ide yang datang dari postulat-postulat dimana dipercayai begitu saja, tanpa membuka suatu pengetahuan baru. Ide tentang adanya Tuhan merupakan postulat, ide yang diterima begitu saja. Sedangkan, ide konstitutif merupakan ide yang berasal dari dunia pengalaman dan membangun pengetahuan  yang baru. Inilah kajian ilmu empiris atau ilmu positif.

Kant secara tegas membatasi pengetahuan manusia pada obyek-obyek inderawi. Dan karena Tuhan bukan obyek indrawi, Tuhan menurut Kant bukan obyek pengetahuan manusia. Tetapi dengan demikian Tuhan belum selesai bagi Kant. Hal itu kelihatan dari kenyataan bahwa Kant tidak begitu saja menolak segala wacana filsafat tentang Tuhan, melainkan secara rinci memperimbangkannya. Kant menyangkal kemungkinan pengetahuan obyektif tentang Tuhan bukan untuk mematikan pemikiran tentang-Nya, melainkan ia mau menutup jalan ke Tuhan yang dianggapnya jalan buntu agar manusia mencari jalan yang sebenarnya untuk mempertanggungjawabkan imannya kepada-Nya. Kant sendiri menegaskan bahwa penyangkalan kemungkinan pengetahuan teoretis tentang Tuhan berarti bahwa adanya Tuhan tidak dapat dibantah. Ateismepun sekali lagi, tidak masuk akal. Jasa Kant adalah bagaimana membedakan secara jelas kajian ilmu positif dan ilmu-ilmu transempiris. Singkatnya, adanya Tuhan bukan obyek percobaan laboratorium karena Tuhan itu obyek metafisik.

Relativisme agama dan indiferentisme

Apakah cukup sampai pada agnotisisme?  Relativisme agama dan indiferentisme merupakan wujud lain dari agnotisisme. Dan semua ini tidak cukup untuk menjawabi persoalan mendasar mengenai hidup. Persoalan ini berimplikasi pada domain agama, moral, politik, dsb.

Pertama, agama lebih ditarik sebagai wilayah pribadi(privatisasi). Tergantung pada selera yang bersangkutan. Agama merupakan urusan pribadi. Ada cara berpikir yang berkembang bahwa setiap orang boleh mengambil sikap yang terasa cocok baginya, dan selain itu keyakinan keagamaan pribadi pantang dibicarakan. Pandangan ini menguat pada zaman sekarang, terlebih lagi dengan kemajuan di segala bidang kehidupan. Inilah sekularisme. Ciri pokok sekularisme yaitu, semakin banyak wilayah kehidupan yang dapat dijalankan tanpa acuan pada agama.

Kedua, indiferentisme moral mendapat tempat  yang semakin luas. Ini dibuktikan dengan perlahan-lahan memudarnya nilai-nilai dan tantanan-tatanan tradisional agamawi dengan pandangan baru yang sifatnya relatif dan reduksionis. Ketidakpedulian pada etika kehidupan karena pereduksian semua penilaian pada ranah pribadi. Kalau begini maka institusi agama lama-lama akan kehilangan legitimasi moral. Menurut sebagian orang ini merupakan indikasi kemajuan. Bahwa agama tidak lagi memecah belah manusia. Agama semata-mata urusan pribadi.

Apakah kita harus betah dalam relativisme agama dan indiferentisme dalam banyak aspek? Tentu tidak. Relativisme agama akan mengakibatkan krisis moral, karena reduksi agama pada wilayah pribadi akan mengesampingkan aspek komuniter agama itu sendiri. Agama selalu mencakup sifat komuniter yang berakar pada kodrat manusia yang senantiasa berada dengan yang lain. Privatisasi agama menjadi tidak masuk akal, apalagi dalam hubungannya dengan Yang Transenden. Tidak ada seorang manusiapun yang menjadi alien dari komunitas kehidupannya, begitupun dengan agama. Indiferentisme juga tidak akan mempunyai manfaat apa-apa karena kepenuhan hidup individu selalu melibatkan seluruh nilai, tatanan, institusi, tradisi hidup yang melekat dalam lingkup hidupnya sendiri. Indiferentisme merupakan sebentuk “ekskomunikasi” dari realitas hidup di mana menuntut keterlibatan individu. Individu mau tidak mau harus terlibat dalam lingkup itu untuk bisa berkembang dan bertumbuh. Dengannya privatisasi, relativisme, dan indiferentisme bukan hanya membahayakan tapi juga kurang dapat diterima dalam penalaran yang benar.

Penutup

Kita perlu mempertahankan tesis bahwa tanpa Tuhan, manusia tidak mungkin mencapai perkembangan dan kesempurnaan, bahkan tidak dapat berada sama sekali. Manusia adalah ens contingens, yang seluruh keberadaannya tergantung sepenuhnya dan selalu pada ens necessarium, yang kita namakan Tuhan. Tanpa Tuhan, manusia tidak dapat mencapai kepenuhan, perkembangan yang mungkin untuk kodratnya, yakni intelek dan kehendak. Tanpa Tuhan moralitas tidak mungkin, karena fundamentum moralitas adalah Tuhan. Perkembangan kodrat manusia berlangsung menurut prinsip: potentur specificatur ab obiecto. Obyek dari intelek adalah kebenaran, ens ut verum, sedangkan obyek dari kehendak adalah kebaikan, ens ut bonum. Tuhan sendiri merupakan Veritas Suprema et Bonum Supremum, kebaikan dan kebenaran tertinggi. Ia merangkum tiga pertanyaan metafisis yang mendasar yang didalami dalam Filsafat Ketuhanan yakni, dari mana(Causa Efficiens), apa itu(Causa Formalis), dan ke mana(Causa Finalis). Manusia yang tercipta dari ketiadaan menurut citra Tuhan, mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan tertinggi dalam mengenal dan mencintai-Nya, dalam persatuan budi dan kehendak dengan Tuhan. Jadi, ateisme ketinggalan zaman. []

Posted on 6 Maret 2010, in ARTIKEL, FilSafat, Masalah sosial, OPINI, tEOlOgI and tagged , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Gregorius Sanbein

    orang yang tak mau tau itu namanya tak tau terimakasih. Allah seperti yang kita pelajari dalam tradisi skolastik merupakan Esse simplex. Ia mahasederhana, namun dalam kesederhanannya tersimpan misteri yang mengagumkan.

  2. intinya ….Tuhanlah adalah kebenaran dan hidup. “barangsiapa tidak mengakui………….” Iman mzaman sekarang memang semata-mata personal bro. jangan disalahin. kalau kita pake sistem kerumun kamapn kita menjadi mandiri. apa maksud kamu dengan karakter komuniter.??????

  3. wah………….tulisan begini bikin kepala mengernyit. bisa ga bro diungkapin dengan kata-kata yang lebih sederhana. gue sih ngerti,………..tapi bingung juga. emang ya kebingungan merupakan awal dari berfilsafat. b shargai bro. tulis terus….asah kemampuan kamu.

  4. Sekerang ini banayak bermunculan orang2 dengan ideologi agnostik, ga usah jauh2 deh. Banyak teman2 saya yang muslim KTP saja, ngakunya muslim tapi jarang bahkan tidak pernah shalat apalagi ngaji…sama halnya mengaku beriman namun tidak bertaqwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: