“KISAH LONCENG KIAMAT”

Oleh: Fian Roger, Cmf

Pada Jumat 15 January 2010 yang lalu, para ilmuwan memundurkan satu menit Lonceng Kiamat simbolis, karena perkembangan yang penuh harapan dalam masalah senjata nuklir dan perubahan iklim. Lonceng simbolis itu, yang menunjukan seberapa dekat umat manusia dengan kehancuran akibat ulah mereka sendiri, dimundurkan ke enam menit sebelum tengah malam dari lima menit pada hari kamis. Penyetelan itu dilakukan setelah para pemimpin dunia mengeluarkan upaya untuk mengurangi senjata nuklir di negara mereka dan bekerja  sama menstabilkan iklim (antaranews.com).

Kita tahu, dua diantara masalah-masalah serius yang membutuhkan perhatian ‘duarius’ dalam dunia dewasa ini adalah penimbunan senjata nuklir dan perubahan iklim. Penimbunan senjata nuklir dilakukan oleh negara dunia pertama dan negara-negara yang keadaan ekonominya sudah maju dengan dalih untuk melindungi kepentingan negaranya misalnya yang dilakukan oleh negera-negara dengan ambisi nuklir seperti, As, China, India, Korea Utara, Iran, Russia, dan beberapa negara Eropa.

Beberapa dekade yang lalu Paus Yohanes ke-23 dalam enksiklik Pacem In Terris art.109 menyuarakan, “…kami sedih sekali menyaksikan persediaan senjata yang begitu bertimbun-timbun, yang telah dan tetap masih diproduksi di negeri-negeri yang lebih maju perekonomiannya. Kebijakan itu melibatkan pergelaran  luas sumber-sumber keahlian dan material, sehingga rakyat negeri-negeri itu terpaksa menanggung beban yang cukup berat, sedangkan negeri lain tidak mendapat bantuan yang mereka butuhkan untuk perkembangan ekonomi dan sosial mereka.” Singkatnya, lebih baik uang dan tenaga yang di-po’a untuk membuat senjata nuklir dialihkan untuk membantu negara-negara miskin dan membangun pendidikan mereka yang tertinggal. Itu akan lebih arif daripada membuat senjata makan tuan(baca: manusia). Sebenarnya kalau mau adil senjata nuklir tidak hanya dikurangi tapi ditiadakan saja.

Hati juga miris-teriris melihat derap-derap pemusnahan kehidupan yang kita alami sekarang seperti perubahan iklim, kemerosotan tanah, pencemaran air dan udara. Kita terus merusak bumi dan mengancam masa depan kehiduan itu sendiri (bdk. Dokumen Kapitel CMF ke-24 no 2,j). Akibat yang terjadi adalah krisis pangan yang buruk, cuaca yang tak terkontrol, krisis air bersih, kekeringan, panas yang berlebihan, banjir, dll. Pertemuan para pemimpin negera di Kopenhagen kali lalu hanya menghasilkan tumpukan pendapat tanpa desakan kuat dan komitmen penuh. Sebuah kesepakatan tanpa kesepakatan. Indonesia juga parah amat. Lihat saja centang perenang alam yang dieksploitasi secara semena-mena di Bombana Sulawesi Selatan, penambangan batu bara yang mengenaskan di seantero Kalimantan, amburadulnya penambangan mangan di Timor Barat yang membuat lubang menganga dimana-mana.

Kita butuh sebuah tanggungjawab bersama untuk memelihara ciptaan. Si vis pacem protege creaturam. Artinya, kalau mau damai lindungi ciptaan. Komitmen bersama untuk melindungi ciptaan adalah suatu imperatif  baru yang perlu didengar dan dilaksanakan bersama.ini untuk nasip kita-kita juga  terlebih mereka yang paling rentan(; kaum miskin dan terpinggir). Kita pun tidak perlu membuat maju-mundur lonceng kiamat kalau kita sadar bahwa nasip planet ini ada juga ditangan manusia.[Shm,  Medio Februari ]

Posted on 6 Maret 2010, in ARTIKEL, OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Rogarinus Manurung

    wah…………di Manggarai juga liat bro. Banyak tanah ulayat yang dijual ke investor untuk dijadikan tempat tambang. pemda tambang hang terus, tambang bece, tambang korupsi.

  2. lonceng kiamat tu kan buatan manusia,……….pantasan aja dimainin semaunya………….kok buatan sendiri kok………………………sekarang lebih banyak buat bro…daripada komentar n omong doang. tq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: