Monthly Archives: Maret 2010

Ruteng Pu’u

PENGHAKIMAN TERAKHIR: BUKAN GAMBARAN TEROR

(Suatu Refleksi Atas Ensiklik Spe Salvi No. 44)

Fr. Kris Ina, Cmf

Prakata

Di masa kecil, mungkin kita semua mendengar kisah-kisah tentang penghakiman terakhir yang diajarkan oleh guru ataupun orangtua kita. Penghakiman terakhir sering kali digambarkan secara negatif yaitu suatu keadaan di mana orang dihakimi di depan Sang Hakim Agung, disiksa dan kemudian dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala. Di sanalah terdapat ratap dan kertak gigi, dan sejenisnya. Gambaran ini sebenarnya untuk menakut-nakuti orang supaya hidup baik di dunia ini sehingga pada akhirnya menikmati kebahagiaan di surga. Sebaliknya, apabila berlaku jahat selama hidup di dunia maka nanti pun akan menderita sengsara dalam kehidupan sesudah kematian.

Dalam perjalanan sejarah, orang-orang juga mulai meramalkan tentang saat penghakiman terakhir ini. Dari ayat-ayat kitab suci dan dari sumber-sumber kuno lainnya orang mulai meramalkan bahwa saat penghakiman terakhir hampir tiba di mana semua manusia akan menderita sengsara. Lalu muncullah perkiraan, mulai dari tahun 200, 380, 838, 1000, 1260, 1533, 1844, 1914, 1988, 2000, ….. hanyalah sekedar contoh, tetapi tak ada satu pun yang benar. Ramalan-ramalan seperti ini menimbulkan keresahan dan rasa pesimisme dalam diri sebagian manusia untuk menghidupi hidup ini. Namun berhadapan dengan masalah seperti ini, ada baiknya jika kita menelisik sebentar bagaimana Paus Benediktus XVI melihat gambaran penghakiman terakhir dalam aroma pengharapan, bukan sebagai gambaran teror yang meresahkan tetapi gambaran harapan, dalam ensikliknya yang berjudul Spe Salvi (diselamatkan dalam pengharapan). Read the rest of this entry

MUTIARA TANUR

Salam superrr. Tulisan ini buat para pencinta kehidupan, yang terus melestarikan kehidupan, dan selalu berkata ya pada kehidupan. Ini kata-kata yang tak biasa diungkap sebentuk mutiara-mutiara berbusa nan sejuk  dari Sang Alkhemis

Ada sebuah dusta terbesar dalam hidup yakni,  bahwa pada suatu titik dalam hidup kita, kita kehilangan  kendali atas apa yang terjadi pada kita, dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib. Demikianlah dusta terbesar itu. Lantas apa itu takdir, kalau nasib adalah dusta??? Takdir adalah apa yang selalu ingin engkau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka. Pada titik kehidupan, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan sesuatu yang mereka inginkan wujudkan dalam hidup mereka. Tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai menyakinkan bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu. Read the rest of this entry