Kraeng Dende Terperanjat

Pagi-pagi dia pergi menadah embun-embun dingin

Kemudian bersolek dibawah rerimbun Betong yang kekar

Dia menunggu anak-anak gadis yang datang menimba air

Di mata air dingin dibawah rerimbun beringin di Wae Moro

Siang hari dia menerobos belukar,

Memetik beberapa anggrek bulan yang bergantungan di pohon-pohon kopi

Dia coba merangkai, mengikatnya dengan tali hutan

Niat hati memberi tanda suka pada gadis di Lingko sebelah

Malam ia termangu di Porong Telo

Ia mencenungi bebintangan yang meriah,

Songke kumal menutup kulit dari dingin yang menggigit

Pucuk-pucuk labu menemani renungan malamnya

Pagi-pagi buta ia ke Wae Lideng,

Ia terperanjat, kagum bercampur hasrat, sungguh sumringah.

Ia pikir melihat sosok mahluk halus cantik,

Padahal gadis pujaanya sedang mandi setengah telanjang.

Benlutu, 15 Juni 2009

Posted on 13 Februari 2010, in PUISI and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: