Gus Dur Yang Pluralis Dan Wacana Pluralisme Indonesia

Oleh Fian Roger*

Pada tanggal 30 Desember 2009 yang lalu, mantan presiden RI KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur meninggal dunia di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta pada pukul 18.45 petang(Kompas, 31 Desember 2009). Beliau meninggal akibat penyakit yang dideritanya yakni gagal ginjal, diabetes, stroke, dan jantung. Ia tak sempat melewati akhir tahun 2009 karena pada umur yang ke 69 harus kembali kepada Sang Khalik.

Banyak sebutan untuk tokoh yang satu ini baik itu berupa pujian tulus, atau sebatas guyon, maupun yang bersifat kritik. Misalnya Gus Dur disebut sebagai tokoh pluralisme, pendorong demokrasi, tokoh multikulturalisme, pembela kaum minoritas, pejuang Islam moderat, pahlawan demokrasi, pejuang toleransi, bapak bangsa, pengusung perjuangan HAM, pengajar perdamaian, penentang kekerasan, dan macam-macam. Pribadi Gus Dur begitu fenomenal sampai-sampai ia “diplesetkan” oleh sebuah parodi politik dengan sebutan Gus Tur. Selama masa kepemimpinannya sebagai presiden ia banyak membuat gebrakan yang kontroversial dan membingungkan. Langkah- langkah politiknya sering sering terlihat ambigu sehingga membuat banyak orang tercengang. Gebrakannya ‘nekat’ sehingga banyak pihak yang merasa gamang dan ‘kurang nyaman.’

Yang paling menarik dari seorang sosok Gus Dur adalah karakternya yang pluralis. Padahal, kalau merunut latar belakang hidupnya ia sangat dipengaruhi ajaran Islam yang fundamental dalam lingkungan keluarga yang religius dan lingkup pesantren dengan tradisi islamik yang kokoh dan terkesan tertutup atau eksklusif. Roh pluralis Gus Dur telah diakui banyak kalangan. Salah satunya oleh Sekertaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Wali Gereja Indonesia, Rm. Benny Susetyo, Pr. Dia mengakui bahwa Gus Dur adalah tokoh yang sangat menghargai pluralisme dan kesatuan Indonesia. Selain Rm. Benny, tidak sedikit orang yang mengakui ini dengan jelas bahwa Gus Dur adalah negarawan yang memperjuangkan pluralitas bangsa. Ia memperjuangkan moderasi dan toleransi baik itu dalam kehidupan beragama maupun berbangsa dan bernegara. Pribadi Gus Dur begitu terbuka(inklusif) terhadap perbedaan suku, agama, dan ras atau yang sering disingkat SARA. Maka, tidak berlebihan jika banyak kalangan berduka mengharubiru atas kepergiannya.

Dedikasi Gus Dur pada pluralisme dibuktikan dengan komitmen untuk memperjuangkan demokrasi tanpa diskriminasi, menjunjung tinggi hak asasi manusia(HAM), dan usahanya untuk membangun fondasi masyarakat sipil yang penuh toleransi. Salah satu fakta yang menjadi bukti dedikasinya itu antara lain dengan menerbitkan Keppres No 6 tahun 2000 tentang pencabutan instruksi presiden No 14 tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Gebrakan ini membuka selubung diskriminasi yang dialami oleh etnis bermata sipit selama pemerintahan Orde Baru.

Wacana pluralisme dan sosok Gus Dur

Wacana dan perjuangan untuk menegakkan prinsip Bhineka Tunggal Ika telah berlangung lama. Prinsip ini menjadi fundamentum berdirinya NKRI. Roh persatuan dalam kemajemukaan menjadi kesadaran awali dalam peristiwa genesis entitas jamak yang bernama Indonesia. Kesadaran ini tersendat oleh primordialisme, dogmatisme dan fundamentalisme agama. Secara jujur harus diakui masalah agama di bumi pertiwi kita sangat rentan konflik. Ada kecenderungan untuk menyobek nilai-nilai Pancasila dan menyulamnya dengan sebuah ajaran agama yang dianggap paling baik. Jelas ini menjadi musuh roh pluralisme.

Kata plural yang ramai diwacanakan berasal dari istilah Latin pluralis. Pluralis sendiri berasal dari kata plus yang berarti lebih. Artinya suatu realitas yang tersusun atas kejamakan, misalnya dalam hal keanggotaan, susunan, dan jenis. Pluralisme merupakan suatu keadaan masyarakat yang terdiri dari ragam etnik, agama, kelompok budaya yang ko-eksis atau mengada bersama dalam suatu negara (Morris, American Heritage Dictionary of English Language, 1009). Indonesia adalah bangsa plural karena terdiri dari suku, agama, ras, yang majemuk yang terjalin dalam sebuah lanskap demokrasi berlandaskan Pancasila dan prinsip Bhineka Tunggal Ika.

Norbert Djegalus menyatakan bahwa dalam kerangka Pancasila kita bisa memandang kemajemukan suku dan agama itu sebagai sein dan sekaligus sebagai sollen. Kemajemukan merupakan kenyataan hidup berbangsa yang tidak dapat disangkal, das sein. Fakta kemajemukan itu tetap eksis bila setiap komponen dari kemajemukan itu menyadari dirinya hanya sebagian dari yang lain, das sollen(Lumen Veritatis, vol. 3 April-Desember 2009,12-13). Dari fakta itulah prinsip Bhineka Tunggal Ika menjadi sesuatu yang subtil. Djegalus membahasakannya dengan ungkapan Latin, ex pluribus unum. Artinya, bangsa Indonesia memiliki suatu penggilan kepada kesatuan. Kesatuan yang bukan berarti menyeragamkan melainkan kesatuan yang membuka ruang bagi koeksistensi setiap perbedaan-perbedaan yang ada.

Pluralisme adalah kesediaan untuk menerima kenyataan bahwa dalam masyarakat ada cara hidup beragama dan cara hidup berbudaya yang berbeda, serta kesediaan untuk hidup, bergaul dan bekerja bersama serta membangun negara bersama mereka. Bagi bangsa Indonesia yang majemuk suku dan agama, semangat pluralisme itu merupakan syarat mutlak agar ia tetap eksis sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI).

Seorang pluralis adalah dia yang menghormati dan menghargai sesama manusia dalam kekhasan identitasnya, dan itu juga berarti dalam perbedaannya. Sementara sikap pluralis menunjuk pada kesadaran dan keterbukaan untuk mengakui bahwa cara hidup dan cara beragama memiliki perbedaan satu sama lain. Sikap pluralis tidak menyangkal adanya fakta mayoritas dan minoritas. Justru sebaliknya seorang pluralis sejati menerima kenyataan itu sebagai sesuatu yang wajar. “Gitu aja kok repot,” kata Gus Dur.

Apa yang ditentang oleh roh pluralis adalah hegemoni, opresi, dan diskiriminasi dalam bentuk apapun oleh kelompok mayoritas, baik itu agama maupun suku karena menjadi momok perusak tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Hegemoni melahirkan diskriminasi. Diskriminasi berujung pada opresi atau penindasan. Menjadi aneh kalau ada kelompok agama yang mengharamkan pluralisme. Ini menunjukan bahwa secara sistem mereka sangat terkungkung dalam primordialisme, fundamentalisme,dan dogmatisme. Isme-isme inilah yang menghambat pertumbuhan dalam tenunan hidup berbangsa dan bernegara.

Gus Dur sebagai ikon perjuangan pluralisme

Gus Dur adalah seorang pahlawan pluralis. Ia berani melawan arus utama (mainstream) yang bersuara tak kalah nyaring untuk mengharamkan pluralisme. Meski ia banyak dikritik karena usahanya, namun ia tetap berani dan jalan terus untuk menyuarakan kebenaran. Tidak diragukan bahwa ia berkarakter pluralis karena memiliki insight pemahaman agama-agama yang benar dan juga cinta yang tulus pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi penulis, Gus Dur bukan hanya menjadi pahlawan pluralisme melainkan juga ikon perjuangan pluralisme Indonesia. Roh yang perlu dibangun dalam tatanan demokrasi yang plural adalah roh yang meng”Gus Dur.” Artinya sebuah kesadaran dan keterbukaan untuk menerima dan mengakui perbedaan yang ada sembari mengolahnya dalam sikap saling menghormati. Gus Dur telah memberi sebuah jejak (investiga) perjuangan politik inklusif di tanah air. Dalam pribadi Gus Dur pluralisme tidak hanya sebatas wacana, sebatas obrolan politis, atau rencana belaka, melainkan dalam aksi dan tindakan nyata.

Akankah ada pengganti dalam ranah perpolitikan kita yang berani berjuang untuk mempertahankan semangat Bhineka Tunggal Ika? Gus Dur memang unik sebagaimana setiap pribadi itu unik dalam dirinya sendiri. Tak ada yang bisa menggantikan pribadinya. Yang bisa dilakukan adalah meneruskan roh pluralismenya. Politik kita semestinya politik yang meng “Gus Dur”, politik dengan roh pluralisme. Sebuah politik inklusif yang berani berjuang untuk kebaikan bangsa (bonum nationale) bukan kepentingan agama atau suku tertentu. Terimakasih ‘Pak’ Dur atas keteladanmu. [fianroger@yahoo.co.id]

Rofiantinus Roger

Mahasiswa FFA Unwira Kupang

Posted on 13 Februari 2010, in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. jangan takut untuk melawan suara massa, meski massa itu mayoritas yang seakan-akan mau menelan mereka yang jumlahnya kecil. jumlah kecil bukan berarti tidak punya nyali. yang kecil akan kuat jika mereka setia dalam memperjuangkan kebenaran. yang aneh adalah ada kelompok tertentu yang mengklaim diri paling benar. seolah-olah Tuhan telah memberi harga mati bahwa kebenaran ada dalam tangan mereka. ini lucu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: