Aral Melintangi Persamuhan

Asap dupaku meninggalkan bercak kekuning-kuningan pada dedaunan,

Aku menyambangi kediaman di siang pekat,

Waktu burung-burung hutan puasa berkicau,

Suasana sungguh senyap hanya suara derap bayanganmu datang.

Aku merabuni mesbah dengan wewangian rempah,

Berharap dikau sudi mampir lama,

Mencecap tuak manis yang kutumpahkan pada bebatuan,

Mengunyah sirih pinang berdua,

Mencicipi nasi yang dibungkus pada daun pisang,

Namun sayang, dikau hanya datang sebentar lalu pergi.

Rupanya ada aral yang meracuh kebeningan kita,

Hatiku dan ragaku belum bening untuk diterawangi,

Asap dupaku tak lagi dipedulikan,

Mantra-mantraku menjadi bisikan-bisikan kosong tak bertuju,

Dikau telah pergi berlari,

Tanda-tandamu lenyap, suaramu penyap.

Saat wewangian dan asap tak berguna,

Persamuhan sia-sia.

Nunu, 27 Juni 2009

Posted on 13 Februari 2010, in PUISI and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. wahhh………..ternyata dunia bisa menjembatani kreativitas yang selama ini terpendam dan aman dibawah alam sadar. kita bisa menulis asal terus membaca dan berefleksi serta berani menuang ide, walau sederhana dan nggak digandrungi orang-orang.

  2. saya sangat menyenangi puisi-puisi yang bergenre budaya, karena selama ini kita hanya melihat dominaso budaya indonesia barat seperti melayu dan jawa. sudah saatnya kita dari indonesia bagian Timur berkreativitas juga. bisa!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: