Monthly Archives: Februari 2010

Soliloquis


Sinyal-sinyal berseliweran tak beraturan

Acap kali saling berbenturan,

Saling menyilang.

Aku terpekur pada celah-celahmu

Menatap mukaku pada cermin pecah

Aku berbicara banyak kata, aku mendengarnya sendiri.

Aku membagi cerita pada dialog bisu

Tak ada lawan bicara, tak ada pendengar

Semua sibuk pada layar-layar berwarna.

SHM, 22 Agustus 2009

Aral Melintangi Persamuhan

Asap dupaku meninggalkan bercak kekuning-kuningan pada dedaunan,

Aku menyambangi kediaman di siang pekat,

Waktu burung-burung hutan puasa berkicau,

Suasana sungguh senyap hanya suara derap bayanganmu datang.

Aku merabuni mesbah dengan wewangian rempah,

Berharap dikau sudi mampir lama,

Mencecap tuak manis yang kutumpahkan pada bebatuan,

Mengunyah sirih pinang berdua,

Mencicipi nasi yang dibungkus pada daun pisang,

Namun sayang, dikau hanya datang sebentar lalu pergi. Read the rest of this entry

Compang Ruteng

Langit-langit barat pinggiran jingga memantul aura mistis pada latarmu

Pesonamu dibundari panorama tak biasa pada senja kala

Dari Porong Telo aku mencenungimu

Pohon Kalo Belanda begitu kokoh pada sudutmu

Batu-batu hitam besar mengkilat menyembul rahasiamu

Disana mesbah,

Tempat sesaji, dimana darah segar binatang kurban ditumpahkan

Disana dibalik telungkup-telungkup hitam

Jasad leluhur disimpan, menyimpan pusara kenangan abadi

Pandangan tiba-tiba menjadi abu-abu

Aku berkalut dalam misteri auramu Read the rest of this entry