MENEMUKAN “YANG KONKRIT” BERSAMA EMMANUEL LEVINAS Oleh: Rofiantinus Roger Semester VII FFA UNwira, pengaggum filsafat Levinas

bukalah itu

BANYAK orang menilai bahwa filsafat itu ilmu yang abstrak karena berurusan dengan ide-ide yang melangit, dengan istilah-istilah yang membuat dahi berkerut, ditambah lagi dengan buku-buku serta diktat-diktat yang baru dilihat saja sudah pusing, apalagi untuk mendalaminya. Filsafat merupakan ilmu bersilat lidah karena orang yang berfilsafat gandrung mempersoalkan hal-hal biasa dengan cara mempersulitnya, berputar-putar dengan istilah-istilah asing untuk membingungkan pendengar dan pembaca. Ada  yang alergi dengan filsafat karena mereka berpendapat bahwa filsafat itu ilmu yang kering, tema-tema yang dibahas didalamnya begitu rumit dan sulit, jauh dari usaha untuk membuktikan dengan eksperimen lapangan atau laboratorium ala ilmu-ilmu empiris seperti biologi, kimia, fisika, dll.  Penilaian-penilaian ini mencipta  anggapan bahwa filsafat bercorak esoteris, artinya filsafat hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang khusus, yang belajar khusus, yang tingkat pemahamannya tinggi. Kadar penilaian seperti ini bersifat sudut pandang yang sempit dan berasal dari kesalahpahaman mengenai filsafat. Ada pernyataan, hidup dulu baru berfilsafat.  Bahkan ada juga yang mengatakan, makan dulu baru berfilsafat. Hidup  merupakan tempat berfilsafat dan tujuan filsafat yakni melayani kehidupan. Pertanyaan: Apakah filsafat itu sesuatu yang abstrak atau sesuatu yang konkrit?

Membedakan  “yang konkrit” dan “yang abstrak”

Pemikiran Hegel dapat membantu kita memahami apa itu “yang abstrak” dan apa itu “yang konkrit” dalam kerangka yang terbalik terhadap apa yang selama ini jamak diterima umum. Pertanyaan: siapa yang berpikir abstrak, dan siapa yang berpikir konkrit? Dalam kehidupan sehari-hari kata “konkrit” menunjuk pada realitas yang bisa dilihat dan dipegang, sesuatu yang ada di tempat tertentu. Sebaliknya: kata “abstrak” biasanya menunjuk  pada sesuatu yang tidak bisa diindra, suatu paham yang serba umum, hasil dari proses “abstraksi” atas realitas khusus dan partikular. Namun menurut Hegel, arti biasa kata “Abstrak”/”konkrit” yang diberikan akal sehat manusia perlu dibalik. Maksudnya, “yang abstrak” adalah apa yang bisa diamati kini dan di sini; sedangkan “yang konkrit” adalah berbagai hal yang saling berkaitan, tumbuh, dan berkembang bersama (=concrescere, bhs. Latin) dengan apa yang bisa diamati. Kalau pengetahuan tentang “yang abstrak” (=abstrahere, bhs. Latin, menarik keluar) diperoleh lewat pengindraan, pengetahuan tentang “yang konkrit” didapat lewat pemikiran.  (Tjahjadi: 2007, 74)

Lantas siapa yang berpikir abstrak, siapa yang konkrit? Jawaban Hegel: manusia yang tidak terpelajar berpikir abstrak, manusia terpelajar berpikir konkrit. Manusia yang tidak terpelajar biasa menskematisasi data-data indrawi yang ia saksikan, berpegang teguh padanya dan serta merta mengidentifikasikannya dengan pengertian-pengertiann tertentu. Namun, manusia terpelajar akan menerobos masuk ke dalam persoalannya, melihat seribu peristiwa khusus, kesalingterkaitan antara berbagai peristiwa itu dan berbagai gerakan di dalamnya: ia tidak merasa puas dengan tetapan-tetapan empiris, bahwa sesuatu itu ada sebagaimana adanya. Menurut Hegel, tugas filsafat untuk membantu orang berpikir konkrit seperti ini. Filsafat adalah pengetahuan tentang kesalingterkaitan segala sesuatu, pengetahuan tentang totalitas seluruh kenyataan. (Ibid.) Obyek kajian filsafat adalah kenyataan itu sendiri, sedangkan kekhasan utama filsafat terdapat pada kajian atas kenyataan dalam aspek keumumannya. Kekhususan filsafat terletak dalam keumumannya

 

Perjumpaan “wajah ke wajah” dengan pengalaman

Emmanuel Levinas (1906-1995), seorang pemikir Yahudi, mencoba mengajukan sebuah pemikiran mengenai perjumpaan wajah ke wajah. Dalam hipotesa penulis, perjumpaan wajah ke wajah dalam filsafat Levinas membantu menemukan apa “yang konkrit”. Ia menulis dua karya besar yakni, Totalité et Infini (Totalitas Dan Yang-Tak-Berhingga, 1961) dan Autrement Qu être ou au-dellà de l’ Essence (Lain Daripada Ada, Di Seberang Esensi, 1974). (Franz-Magnis: 2006, 86)

Menurut beliau, ada dua semangat besar dalam filsafat barat, yakni semangat ontologis dan semangat metafisis. Semangat ontologis terangkum dalam ide totalitas. Ide totalitas menunjuk pada suatu cara berpikir yang berpusat pada si Aku (etrê le même). Cara berada seperti ini bertujuan untuk membentuk suatu identifikasi diri. Mengidentifikasikan diri dengan diri sendiri berarti mengidentikan diri dengan yang sama (meme). Dalam identifikasi ini ada gerakan kembali kepada diri. Di sini, Levinas ingin mendobrak tradisi filsafat barat yang ia sebut sebagai “the philosophy of the same.” Filsafat yang demikian disebut egologi atau filsafat tentang Aku. (TI, 44)

Dalam sejarah umat manusia selalu ada upaya untuk menundukan dan menyingkirkan “yang lain” dibawah “yang sama.” Yang sama (le même) selalu berusaha memasukan Yang Lain (l’ Autrui) ke dalam wilayah totalitasnya. Gerak langkah totalitas adalah gerak langkah mereduksi. Mereduksi yang lain kepada yang sama. Dalam reduksi selalu ada gerak kembali kepada yang sama, kepada diri sendiri yaitu sang “aku” sebagai subyek otonom, sebagai pusat kebenaran. Kebenaran tidak dicari di luar tetapi di dalam diri. Inilah yang disebut dengan imperialisme dari yang sama.

Semangat lain selain disebut Levinas sebagai hasrat metafisis untuk menemukan “yang lain” dalam keberlainannya.  Bagi Levinas, Yang Lain adalah pembuka horizon keberadaan kita, bahkan pendobrak menuju ketransendenan kita. Yang Lain itu ada dan indah. Manusia pada hakekatnya terasing satu sama lain. Maka, untuk menjembatani itu pertemuan atau perjumpaan menjadi suatu momen etis. Perjumpaan yang dimaksud adalah perjumpaan dengan yang lain.Yang adalah orang lain atau sesama manusia, secara khusus dalam pribadi yang lain sebagai person dalam keluhuran martabatnya dan manusia pada umumnya.  Pandangan ini merupakan kritik diri atas roh totaliter yang mengabsolutkan si Aku dalam sejarah filsafat. Dalam sejarah, yang lain selalu didekati sebagai obyek, suatu bagian dari skema pemahaman  si Aku. Hal itu memperkosa keunikan dan alteritas yang lain sebagai yang lain, yang lain dari aku.

Setiap kali aku menangkap hal-hal baru, “yang lain” itu menjadi bagian dari kekuasaanku dan kehilangan keberlainannya, sebab ia menjadi bagian dan masuk dalam totalitasku. Namun, sesungguhnya “yang lain” tidak pernah bisa kukuasai, sebab dari kehausan kekuasaanku muncul sosok “yang lain” yang belum aku ketahui yang memasung keinginanku yang tiada habisnya untuk sekali lagi menguasainya.  Keinginanku terus-menerus, di satu pihak, untuk menguasai, dan di lain pihak, ketakberhinggaan “yang lain”, yang selalu muncul, akhirnya menyadarkan diriku pada transendensi yang tidak dapat pernah kukuasai. Dengan kata lain, “yang lain” sesungguhnya berada di wilayah luar dari diriku dan tidak pernah bisa masuk dalam totalitasku yang ambisius. Di hadapan “yang lain”, aku hanya bisa tunduk dan menyerah.

Pengalaman dasar manusia dalah perjumpaan dengan yang lain. Dalam perjumpaan itu, kita sadar bahwa kita langsung bertanggungjawab total atas keselamatannya. Langsung dalam arti bahwa tanggung jawab itu membebani kita, mendahului komunikasi eksplisit kita dengan orang lain. Pengalaman itu bersifat etis.  Menurut Levinas, moralitas adalah pengalaman  paling dasar manusia. Ia selanjutnya menunjukan bahwa pengalaman dasar itu pengalaman tanggung jawab mutlak saya terhadap orang lain yang bertemu saya, di mana sinar kesucian ilahi ikut terlihat. Di sini Levinas dalam analisa eksistensial fenomenologis paling dasariah, menunjukan bahwa pengalaman moral adalah titik tolak segala kesadaran, sikap dan dimensi penghayatan manusia dan bahwa pengalaman dasariah itu sekaligus merupakan kesadaran akan adanya Yang Ilahi di belakangnya.

Levinas ingin menunjukan bahwa secara fenomemologis pada saat berhadapan dengan sesama kita langsung menyadari diri dipanggil olehnya untuk bertanggung jawab atas keselamatannya. Apakah kita mengiyakan atau menolak panggilan itu, adalah masalah belakangan (namun, itulah masalah yang dalam kesadaran mendapat perhatian kita, di mana lalu juga etika normatif mau membantu dalam menentukan sikap mana yang tepat bagi sesama itu). Levinas berfokus pada saat pra-reflektif di mana kita untuk pertama kali menyadari bahwa ada sesama menghadapi kita. Di saat itu, kita seakan-akan “disandera” oleh saudara itu, sehingga terikat total oleh tanggung jawab atas keselamatanya. Dalam kesadaran pra-reflektif itu juga termuat panggilan kepada kebaikan, tuntutan primordial untuk bersikap baik dan tidak jahat terhadap dia itu. Dan bahwa panggilan itu merupakan pancaran dari Yang-Baik-Tak-Berhingga di dalamnya kita bertemu dengan saudara. Manusia etis menurut Levinas adalah yang bertanggungjawab terhadap sesamanya.  Ia menandaskan, “Respondeo Ergo Sum (aku bertanggungjawab,  maka aku ada) berbeda dengan Descartes yang mengatakan, Cogito Ergo Sum, Aku berpikir maka Aku ada.”

Ia menunjukan bahwa fenomena pertemuan dengan orang lain ini menjadi dasar untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan dasar filsafat: bahwa ada  seorang Engkau, bahwa ada realitas di luar kesadaran saya.  Jadi bahwa pengertian manusia memang sampai pada realitas itu sendiri, bahkan bahwa saya menjadi diri saya hanya karena engkau, bahwa saya ada dan identik dengan saya (karena dalam pengalaman tanggung jawab purba itu saya secara langsung dan tak tergantikan menyadari diri bertanggungjawab atas keselamatan orang lain itu), bahwa sikap yang pertama adalah kebaikan dan bukan kejahatan, dan bahwa orang lain maupun kita ada karena adanya Yang Mahabaik.

Suatu perbuatan etis tertentu lahir dari respons yang diberikan atas kehadiran yang lain. Respons dalam bentuk jawaban, yaitu jawaban atas panggilan orang lain. Respons terhadap suatu jawaban mesti dibarengi dengan sikap siap untuk menanggung segala konsekuensi dari jawaban yang diberikan. Sikap menanggung suatu jawaban adalah tanggung jawab.

 

Melihat realitas dalam cara “yang lain”

Levinas mengatakan, “wajah sesamaku mengatakan, terimalah aku, jangan membunuh aku.” Wajah  memberitahukan perintah untuk “jangan membunuh”, ini kelihatan secara pasti mengungkapkan sesuatu yang seharusnya dan tanpa syarat. Wajah memberi perintah kepada setiap orang untuk bertanggungjawab atas yang lain. Wajah tidak dimaksudkan dengan hal fisis atau empiris, seperti keseluruhan yang terdiri dari bibir, hidung, dagu, dan seterusnya. Seandainya sama dengan sesuatu yang bersifat empiris begitu saja, wajah akan termasuk totalitas juga. Yang dimaksudkan dengan wajah adalah orang lain sebagai yang lain menurut keberlainannya. Jadi, kualitas-kualitas fisis atau psikis yang bisa saja tampak pada sebuah wajah (tampan, muda, cemerlang, dll) tidak penting bagi Levinas.

Wajah berarti situasi di mana di depan kita orang lain ada dan muncul. Kita berhadapan wajah ke wajah tanpa pengantara. Ia hadir sebagai orang tertentu melalui wajahnya. Wajah itu menyapa kita. Barangkali ia minta uang atau ia hanya menatap kita dengan situasi diam. Lewat wajahnya kita berhadapan dengan orang lain. Sebuah situasi yang sebenarnya biasa, tetapi menurut fenomenologi luar biasa. Wajah itu telanjang (la visage nu). Artinya wajah yang begitu saja, wajah dalam keadaan polos. Wajah yang menyatakan diri sebagai visage significant, wajah yang telanjang di mana mempunyai makna; langsung, tanpa penengah, tanpa suatu konteks.          Penampilan wajah adalah suatu kejadian etis. Itulah langkah penting dalam pemikiran Levinas. Wajah menyapa saya dan saya tidak boleh acuh tak acuh saja. Ia mewajibkan saya. Ia mengunjungi saya supaya saya membuka hati dan pintu rumah saya. Ia menghimbau saya agar saya mempraktekan keadilan dan kebaikan. Wajah menyatakan diri sebagai “janda dan yatim piatu, orang miskin, orang asing ”.

Levinas menggagas sebuah pemikiran etis tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain sebagai wujud konkrit dari perjumpaan manusia melalui wajah ke wajah itu. Filsafat wajah-nya menarik untuk ditilik. “Wajah” yang dimaksud bukan sekedar bagian dari organ tubuh manusia yang terletak di bagian depan kepala. Yang dimaksud dengan Levinas dengan istilah ini adalah situasi dimana ada orang yang muncul di depan kita. Ia hadir sebagai orang tertentu melalui wajahnya. Dalam wajah sesuatu yang transenden menyatakan diri.

Wajah adalah sebuah personifikasi ketakberdayaan yang mengimbau suatu tindakan etis. Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dalam wajah itu, orang lain tampak sebagai orang tertentu, orang lain. Orang lain menyatakan diri sebagai yang betul-betul lain dari saya. Konsekuensinya adalah bahwa wajah sebagai wajah tidak dapat dikuasai, dipegang atau diperbudak. Kedua, dalam wajah itu orang berada sama sekali di luar kita. Ia tidak berbicara tentang bagaimana tanggung jawab moral, apa itu bertindak secara moral atau bagaimana reaksi yang harus diambil ketika orang lain berhadapan dengan kita, melainkan pada apa yang terjadi di saat wajah itu menatap kita. Ketika seoseorang berhadapan dengan orang lain, ia menjadi tidak bebas lagi, tidak bisa bersikap apatis  tetapi ia harus bertanggung jawab atasnya. Tanggung jawab itu bersifat total. Total dalam arti bahwa kita tersubstitusi bagi orang itu. Bebannya menjadi beban saya, tanggung jawabnya menjadi tanggung jawab saya. Saya bahkan bertanggung jawab atas kesalahan orang lain: orang itu, dengan segala beban yang ada padanya adalah beban saya.

Manifestasi yang lain adalah wajah. Maka, wajah adalah sebuah personifikasi sebagai yang miskin, janda, yatim piatu, orang asing, yang telanjang. Semua figur ini menyiratkan fakta tentang suatu kejadian etis. Epifani wajah adalah suatu kejadian etis. Kejadian yang membuka kemanusiaan, yaitu kemanusiaan yang mengandung di dalam dirinya suatu undangan etis. Undangan yang meminta suatu respons, yaitu respons dalam responsibilité.

Ia menegaskan bahwa baru ketika berhadapan dengan orang lain, saya menjadi saya, saya menemukan identitas saya, menemukan keunikan saya. Inilah yang menjadi inti dari paradigma filosofis Levinas tentang filsafat wajah.

Levinas berfokus pada saat pra-reflektif yang memuat data panggilan untuk kebaikan, tuntutan primordial untuk bersikap baik dan tidak jahat terhadap dia yang lain, dan bahwa panggilan itu merupakan pancaran dari yang baik-Yang-Takberhingga yang menjadi cakrawala di mana didalamnya kita bertemu dengan yang lain.

Dan segala usaha untuk mengeksplisitasi dan memahami keunikan manusia merupakan pelecehan terhadap alteritas (keberlainan yang lain, yang sama sekali lain) manusia sebagai persona. Segala usaha untuk memahami diri sesama merupakan kegagalan. Keunikan sesama sebagai pribadi hadir dihadapan “wajah yang telanjang”. Di sini Levinas memakai nama “Dia Yang Lain” untuk menerapkannya pada manusia. Manusia adalah misteri yang sulit dipahami. Manusia adalah valde aliud atau yang sama sekali lain bagi sesamanya. Karena dalam diri sesama yang unik itu Aku melihat DIA Yang Transenden (: Allah), maka aku harus menghormati sesama, bahkan harus tahkluk dan taat.

Menurutnya, ontologi atau metafisika esensialisme telah memperkosa keunikan. Bagaimana “ada” menjadi dasar keunikan dan sekaligus menjadi dasar kesamaan? Pertanyaan ini yang mau dijawab Levinas. Bahwa eksplisitasi keunikan hanya menjadi latar belakang bagi penindasan terhadap yang lain. Filsafat yang demikian adalah filsafat totalistis.

Menurut para komentator, pemikiran Levinas merupakan pengubah isu etika pasca-modern. Dengan berfokus pada fenomenologi yang lain, ia ingin meradikalkan Yang Lain yang telah lama dilupakan dalam diskursus seluruh filsafat barat. Descartes yang mengabsolutkan kesadaran, Husserl yang mengedepankan paradigma subyak-obyek, dan Heidegger yang mengumandangkan ontologi fundamental, ditolak Levinas. Paradigma semacam ini telah menjadi kerangka dasar pemikiran totaliter yang mengabsolutkan ego in se. Bagi Levinas  pemikiran seperti ini bersifat narsistis, egosentris. Padahal data paling dasar keterpanggilan manusia adalah melihat yang lain. Bukan hanya melihat, tapi merespon impuls etis yang didapat melalui perjumpaan wajah ke wajah dengan suatu sikap tanggung jawab. Ini bukan suatu etika normatif, melainkan suatu fenomemologi moral yang begitu saja disisihkan dalam sejarah.

Relevansi

Sebagai mahluk yang berbudi dan bernurani, manusia tidak sekedar melihat kenyataan hidup sebagai kumpulan data semata, melainkan ia mampu mengambil jarak dari kenyataan, menarik kesalingterkaitan antara-antara pengalaman-pengalaman hidup, dan membawanya pada tataran refleksi. Inilah hakekat berpikir konkrit.  Ternyata manusia tidak berhenti sampai di situ, dengan hasrat pengetahuannya ia senantiasa tak pernah puas dengan aneka jawaban yang sudah ada, melainkan ia senantiasa mengeksplorasi diri dan dunianya dalam menemukan kesatuan, kebenaran, kebaikan dan keindahan. Proses ini disebut dengan ber-filsafat. Pertama, Filsafat  bukan merupakan hasil renungan yang bersifat imajinatif melainkan sebuah hasil perjumpaan wajah ke wajah dengan kenyataan hidup. Kedua, filsafat mendorong orang yang belajar untuk bertindak secara etis karena panggilan mendasar mereka yang ber-filsafat yakni untuk bertanggung jawab terhadap kemanusiaan dalam segala situasinya. Ketiga, mereka yang berfilsafat adalah yang terbuka kepada cara pandang “yang lain”, kejamakan pemikiran dan terbuka untuk diubah oleh kebenaran karena tidak hanya puas dengan kebenaran yang dicapai oleh keakuannya sendiri. Keempat, orang yang berfilsafat adalah mereka yang mampu menjadi manusia bagi sesamanya karena filsafat merupakan pergumulan yang berangkat dari kenyataan hidup menuju pemahaman metafisis dan pertualangan budi untuk menemukan pola-pola yang dinamis dalam kenyataan hidup dan dunia kehidupan manusia. Selamat ber-filsafat. Jayalah FFA. ***

Sumber-sumber:

Levinas, Emmanuel, Totality And Infinity, An Essay On Exteriority, Duquesne University Press, Pittsburgh, Pa, 1969

————————–, Alterity And Transcendence, Columbia University Press, New York, 1995

————————–, Reponsibility For The Other (An Interview With Philippe Nemo), Cross Currents, 1984

Suseno,Franz Magnis, Etika Abad  Kedua Puluh, 12 teks kunci, Yogyakarta: Kanisius, 2006

—————————, 12 Tokoh Etika abad ke-20, Yogyakarta: Kanisius, 2000

Tjahjadi L., Simon Petrus, tuhan Para filsuf dan ilmuwan, Yogyakarta, Kanisius, 2007

About these ads

Posted on 6 Desember 2010, in ARTIKEL, Masalah sosial and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: