MENYINGKAP MAKNA WAJAH YANG LAIN BERSAMA EMMANUEL LEVINAS

Article by Rofian Roger

Mahasiswa FFA UNWIRA Kupang

penggiat cafe filosofia

  1. I. DISKURSUS AWAL

Kompas tanggal 9 Maret 2010 memberitakan bahwa, 500 telah tewas  dalam konflik sektarian (kelompok beda agama) di Nigeria.Tiga hari sesudahnya, Kompas menampilkan kembali berita mengenai konflik itu. Namun, dari angle yang berbeda. Sebuah fotografi menampilkan  sekelompok wanita dan anak-anak berpakaian hitam yang mengadakan protes di jalan. Sambil menangis mereka berteriak menuntut penghentian konflik, karena telah banyak wanita dan anak-anak yang tidak bersalah menjadi korban pembantaian.[1] Sementara itu, di dalam negeri terorisme menguak kembali di Nangroe Aceh Darusalam (NAD).  Terungkap bahwa, para tokoh penting menjadi target para teroris. [2] Mereka  telah mengubah modus opperandi target bukan lagi tempat berkumpulnya para ekspatriat, melainkan membunuh para tokoh  penting  yang berseberangan dengan ideologi  mereka.

Mengapa peneliti mengangkat dua kasus di atas? Dua kasus ini mewakili sebuah paradigma egologi yang menjadikan sesama sebagai obyek. Sebuah proyek totalisasi, di mana manusia menjadi rezim totaliter yang menindas sesamanya, yang menghilangkan hidup sesamanya. Ini terjadi dalam pendekatan subyek-obyek dalam relasi manusia. Yang menjadi pertanyaan, siapakah sesamaku, siapakah aku dan apakah aku bertanggungjawab atas keberadaan yang lain? Sejarah telah menoreh sekian banyak cerita miris, di mana terjadi pengangkangan terhadap kemanusiaan. Masih kuat terkenang genosida nazi terhadap orang-orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi, berbagai praktek homisida oleh rezim-rezim totaliter, ribuan korban perang Afganistan dan Irak, aneka pulau kemiskinan akibat ketidakadilan struktural, menjalarnya terorisme, penderitaan dan kelaparan di dunia ketiga, dan sebagainya. Persoalan-persoalan ini menyembul mozaik totalisasi yang berujung pada kekerasan dan penindasan terhadap sesama.

Darimanakah sumber  “kewajiban moral” itu? Thomas Aquinas melihat Hukum Abadi-lah yang menjadi referensi moral manusia. Dia memahami moralitas sebagai ketaatan terhadap hukum kodrat. Hukum kodrat dimaksudkan sebagai keterarahan kodrat manusia, bersama kodrat alam semesta, pada perwujudan hakekatnya. Hukum kordat adalah partisipasi dalam hukum abadi yang bukan lain adalah kebijaksanaan Allah sendiri sebagai asal-usul  dan penentu kodrat ciptaan.[3] Sedangkan Kant lebih melihat bahwa paham-paham moral tidak mungkin diperoleh dari pengalaman empiris-indrawi. Paham-paham moral bersifat a priori dan berdasarkan akal budi praktis, yaitu berdasarkan pengertian mengenai baik dan buruk yang mendahului segala pengalaman. [4] Kaum  Utilitarian menekankan nilai moral perbuatan manusia ditentukan oleh tujuannya, yakni apakah perbuatan itu menunjang kebahagiaan umum atau tidak. [5] Tiga jawaban ini merupakan sebagian dari aneka pendekatan atas pertanyaan besar di atas.

Pada era postmodern isu etika bergeser. Perintis moral postmodern boleh dikata adalah Emmanuel Levinas. Levinas ingin membawa persoalan moral pada ranah kongkret pertemuan intersubyektif. Ia memperkenalkan satu konsep “yang lain” (l’autrui) yang menjadi kunci seluruh pemikirannya. Proyek  filsafatnya berfokus pada bagaimana membuka arti mendasar pertemuan dengan sesama dalam proses menjadi diri setiap orang.[6]krisis tanggung jawab dewasa ini. Persoalan ini merupakan salah satu kajian sentral dalam pemikiran Levinas yang tentu saja menarik untuk dikaji terlebih lagi dalam konteks

II. FENOMENOLOGI TANGGUNG JAWAB MENURUT EMMANUEL LEVINAS

A. Informasi singkat tentang Emmanuel Levinas

Emmanuel Levinas merupakan salah seorang filsuf yang terkenal, sukar, dan original di antara para pemikir Eropa abad kedua puluh. Etika post-rasionalnya berdiri sebagai penantang ultim dan patut diteladani terhadap tendensi kesendirian ada (solitude of being). Ia memberi kesaksian yang rigorus dan dinamis terhadap tanggung jawab yang tak berhingga terhadap pribadi yang lain. Pemikiran Levinas mengungkapkan etika sebagai filsafat pertama (prote philosphie). Panggilannya pada tanggung jawab kemudian mengarahkan pemikirannya bukan hanya kepada yang benar (the true) tapi pada kebaikan (the good). Asumsi kolosal pada tanggung jawab inilah yang membuat Levinas disebut-sebut sebagai pengubah isu utama filsafat kontemporer.[7]

Ia  lahir pada 12 Januari 1906 di Kaunas (atau Kovno, dalam bahasa Russia), Lithuania.[8] Lithuania yang pada waktu itu merupakan bagian dari Russia pra-revolusi. Levinas merupakan anak sulung dari dua bersaudara, Boris dan Aminadab. Memori awal hidupnya diwarnai oleh kematian Tolstoy, dan peringatan trisentenial rumah Romanov. Perang dunia pertama, dan revolusi 1917 membaur dalam kenangannya akan toko buku ayahnya di Kovno. Judaisme pada saat itu berkembang menjadi gerakan spiritual tinggi di Lithuania, dan abad ke-18 telah menghasilkan seorang Talmudis jenial yakni Gaon dari Vilna. Pada  saat yang sama keluarga Levinas berasal dari generasi yang melihat masa depan mereka dalam bahasa dan budaya Russia. Bacaan awal Levinas bukan hanya Kitab Suci Yahudi, melainkan juga pengarang-pengarang besar  Russia seperti: Pushkin, Gogol, Dostoyevsky, dan Tolstoy.  Kegandrungan pada penulis-penulis besar ini mengantarnya untuk pergi ke Strasbourg (kota Prancis yang paling dekat dengan Lithuania) pada tahun 1923 untuk belajar pada Charles Blondel dan Maurice Pradines.[9]

Pada tahun 1928-1929, ia berkunjung ke Freiburg untuk studi pada Edmund Husserl dan juga menghadiri seminar-seminar Heidegger. Husserl mengajar psikologi fenomenologis dan konstitusi intersubyektivitas.[10] Pada saat itu juga, Heidegger mengganti posisi Husserl di Freiburg.[11] Ia  mulai menulis disertasi mengenai teori intuisi Husserl. Dia juga mendalami Being and Time dari Martin Heidegger. Levinas juga menghadiri pertemuan terkenal di Davos antara Heidegger dan Cassier yang menurut Levinas menandai ‘akhir humanisme.’ Kuliah-kuliah dengan Husserl dan Heidegger menjadi amat penting dalam menewajahn ‘panggilannya’ dalam  filsafat.

Pada tahun 1930, tesisnya The Theory Of Intuition In Husserls Phenomenology dipublikasikan di Prancis. Tahun  1931, dengan bekerjasama dengan Gabrielle Peiffer, Levinas menerjemahkan karya Huserl Cartesian Meditations ke dalam bahasa Prancis. Ia menikahi seorang gadis yang dikenalnya sejak kecil bernama Raïssa Levi pada tahun 1932. Tahun 1934, analisis filosofis mengenai “Hitlerisme”, berjudul Reflections on The Philosophy of Hiltèrisme dipublikasikan. Setahun berikutnya, ia mempublikasikan esai original ontologi hermeneutis berjudul  On Escape. [12]

Pada umur tiga puluh tahun ia menjadi warga Prancis dan bekerja pada bagian administrasi di Aliansi  Israelité Universelle. Pada saat pecahnya perang,  Levinas menjadi penerjemah bahasa Russia dan Jerman. [13][14] Ia kemudian mendekam dalam tahanan[15], di mana ia bisa mempelajari Hegel, Proust dan Rousseau dalam periode kerja paksa. Buku Levinas, Existence and Existents, yang merupakan deskripsi eksistensi anonim dan keadaan insomnia, tidur, horor, vertigo, nafsu, kebosanan, dan kelambanan, mulai ditulis dalam penjara. Setelah perang usai, ia kembali ke Paris untuk menjadi direktur Ecole Normale Israelité Orientale di College Philosophique, yang didirikan Jean Wahl. Dia membuat berbagai paper yang kemudian terkumpul dalam Time and The Other. Sejak tahun 1957 ia berkontribusi pada  colloquium Talmud[16] tahunan para intelektualis  Yahudi berkebangsaan Prancis.[17] Sementara itu, keluarganya di Lithuania dibunuh oleh tentara Nazi karena mereka Yahudi. Tak pernah Levinas kembali ke Jerman lagi.

Tahun 1961 terbitlah opus magnus pertama Levinas Totalité et Infini[18] Ia mengajar sebagai guru besar pada beberapa universitas di Prancis. Tahun 1974, terbit karya besar kedua, Autrement Qu être ou au-dellà de l’ Essence (Lain Daripada Ada, Di Seberang Esensi). [19] Ia meninggal pada tanggal 25 Desember 1995 di Paris. (Totalitas Dan Yang-Tak-Berhingga).

B. Fenomenologi Tanggung Jawab Emmanuel Levinas

B.1 Konsep “Yang Lain” (L’ Autrui)

Emmanuel Levinas berusaha mengayuh makna yang lain (l’autrui atau the Other). Bagi Levinas, Yang Lain adalah pembuka horizon keberadaan kita, bahkan pendobrak menuju ketransendenan kita. Bagi dia Yang Lain itu ada dan indah. Manusia pada hakekatnya terasing atau alien satu sama lain. Maka untuk menjembatani itu pertemuan atau perjumpaan menjadi suatu momen etis. Perjumpaan yang dimaksud adalah perjumpaan dengan yang lain.

Yang lain adalah orang lain atau sesama manusia, pribadi yang lain sebagai person dalam keluhuran martabatnya. Pandangan ini merupakan kritik diri atas roh totaliter yang mengabsolutkan ego dalam sejarah filsafat. Dalam sejarah, yang lain selalu didekati sebagai obyek, suatu bagian dari skema inteligibel ego. Hal itu memperkosa keunikan dan alteritas yang lain sebagai yang lain, lain dari aku. [20]

Pribadi yang lain tidak boleh diperlakukan sebagai ‘benda’. Karena pada hakekatnya eksistensi kita adalah sebuah ketelanjangan, karena ketelanjangan kita merupakan eksitensi privat. Eksistensi privat itu adalah ranah interioritas yang berkembang terpisah dari dunia. Namun dalam masyrakat kita tidak tahluk dengan ketelanjangan itu, atau juga digelisahkan oleh ketelanjangan Yang Lain. Dalam masyarakat terungkap suatu eksterioritas di mana relasi aku dengan yang lain menemukan tempat. Aku bukan merupakan solitude being melainkan adaku selalu terhubung dengan relasi dengan Yang Lain. Aku membutuhkan yang lain sebagai yang lain. Bukan yang lain sebagai alter ego, atau aku yang lain, tapi yang lain dalam keyanglainannya. [21]

B.2 Perjumpaan dengan Yang Lain

Setiap kali saya menangkap hal-hal baru, “yang lain” itu menjadi bagian dari kekuasaanku dan kehilangan keberlainannya, sebab ia menjadi bagian dan masuk dalam totalitasku. Namun, sesungguhnya “yang lain” tidak pernah bisa kukuasai, sebab dari kehausan kekuasaanku muncul sosok “yang lain” yang belum aku ketahui yang memasung keinginanku yang tiada habisnya untuk sekali lagi menguasainya.  Keinginanku terus-menerus, di satu pihak, untuk menguasai, dan di lain pihak, ketakberhinggaan “yang lain”, yang selalu muncul, akhirnya menyadarkan diriku pada transendensi yang tidak dapat pernah kukuasai. Dengan kata lain, “yang lain” sesungguhnya berada di wilayah luar dari diriku dan tidak pernah bisa masuk dalam totalitasku yang ambisius. Di hadapan “yang lain”, saya hanya bisa tunduk dan menyerah. [22]

Pengalaman dasar manusia dalah perjumpaan dengan yang lain. Dalam perjumpaan itu, kita sadar bahwa kita langsung bertanggungjawab total atas keselamatannya. Langsung dalam arti bahwa tanggung jawab itu membebani kita, mendahului komunikasi eksplisit kita dengan orang lain. Pengalaman itu bersifat etis.  Menurut Levinas, moralitas adalah pengalaman  paling dasar manusia. Ia selanjutnya menunjukan bahwa pengalaman dasar itu pengalaman tanggung jawab mutlak saya terhadap orang lain yang bertemu saya, di mana sinar kesucian ilahi ikut terlihat. [23] Di sini Levinas dalam analisa eksistensial fenomenologis paling dasariah, menunjukan bahwa pengalaman moral adalah titik tolak segala kesadaran, sikap dan dimensi penghayatan manusia dan bahwa pengalaman dasariah itu sekaligus merupakan kesadaran akan adanya Yang Ilahi di belakangnya.

B.3 Tanggung Jawab terhadap Yang Lain (la responsibilité pour autrut)

Levinas ingin menunjukan bahwa secara fenomemologis pada saat berhadapan dengan sesama kita langsung menyadari diri dipanggil olehnya untuk bertanggung jawab atas keselatannya. Apakah kita mengiyakan atau menolak panggilan itu, adalah masalah belakangan (namun, itulah masalah yang dalam kesadaran mendapat perhatian kita, di mana lalu juga etika normatif mau membantu dalam menentukan sikap mana yang tepat bagi sesama itu).[24]

Levinas berfokus pada saat pra-reflektif di mana kita untuk pertama kali menyadari bahwa ada sesama menghadapi kita. Di saat itu, kita seakan-akan “disandera” oleh saudara itu, sehingga terikat total oleh tanggung jawab atas keselamatanya. Dalam kesadaran pra-reflektif itu juga termuat panggilan kepada kebaikan, tuntutan primordial untuk bersikap baik dan tidak jahat terhadap dia itu. Dan bahwa panggilan itu merupakan pancaran dari Yang-Baik-Tak-Berhingga di dalamnya kita bertemu dengan saudara.[25]Respondeo Ergo Sum (aku bertanggungjawab,  maka aku ada).”[26] Manusia etis menurut Levinas adalah yang bertanggungjawab terhadap sesamanya.  Ia menandaskan, “

Ia menunjukan bahwa fenomena pertemuan dengan orang lain ini menjadi dasar untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan dasar filsafat: bahwa ada  seorang Engkau, bahwa ada realitas di luar kesadaran saya.  Jadi bahwa pengertian manusia memang sampai pada realitas itu sendiri, bahkan bahwa saya menjadi diri saya hanya karena engkau, bahwa saya ada dan identik dengan saya (karena dalam pengalaman tanggung jawab purba itu saya secara langsung dan tak tergantikan menyadari diri bertanggungjawab atas keselamatan orang lain itu), bahwa sikap yang pertama adalah kebaikan dan bukan kejahatan, dan bahwa orang lain maupun kita ada karena adanya Yang Mahabaik.[27]

Suatu perbuatan etis tertentu lahir dari respons yang diberikan atas kehadiran yang lain. Respons dalam bentuk jawaban, yaitu jawaban atas panggilan orang lain. Respons terhadap suatu jawaban mesti dibarengi dengan sikap siap untuk menanggung segala konsekuensi dari jawaban yang diberikan. Sikap menanggung suatu jawaban adalah tanggung jawab.

B.4   Signifikansi etis  wajah

Levinas mengatakan, “wajah sesamaku mengatakan terimalah aku, jangan membunuh aku.” [28] Wajah  memberitahukan perintah untuk “jangan membunuh”, ini kelihatan secara pasti mengungkapkan sesuatu yang seharusnya dan tanpa syarat. Wajah memberi perintah kepada setiap orang untuk bertanggungjawab atas yang lain.[29]

Wajah tidak dimaksudkan dengan hal fisis atau empiris, seperti keseluruhan yang terdiri dari bibir, hidung, dagu, dan seterusnya. Seandainya sama dengan sesuatu yang bersifat empiris begitu saja, wajah akan termasuk totalitas juga. Yang dimaksudkan dengan wajah adalah orang lain sebagai yang lain menurut keberlainannya. Jadi, kualitas-kualitas fisis atau psikis yang bisa saja tampak pada sebuah wajah (tampan, muda, cemerlang, dll) tidak penting bagi Levinas.[30]

Wajah berarti situasi di mana di depan kita orang lain ada dan muncul. Kita berhadapan wajah ke wajah tanpa pengantara. Ia hadir sebagai orang tertentu melalui wajahnya. Wajah itu menyapa kita. Barangkali ia minta uang atau ia hanya menatap kita dengan situasi diam. [31]Lewat wajahnya kita berhadapan dengan orang lain. Sebuah situasi yang sebenarnya biasa, tetapi menurut fenomenologi lur biasa. Wajah itu telanjang (la visage nu). Artinya wajah yang begitu saja, wajah dalam keadaan polos. Wajah yang menyatakan diri sebagai visage significant, wajah yang telanjang di mana mempunyai makna; langsung, tanpa penengah, tanpa suatu konteks. [32]

Penampilan wajah adalah suatu kejadian etis. Itulah langkah penting dalam pemikiran Levinas. Wajah menyapa saya dan saya tidak boleh acuh tak acuh saja. Ia mewajibkan saya. Ia mengunjungi saya supaya saya membuka hati dan pintu rumah saya. Ia menghimbau saya agar saya mempraktekan keadilan dan kebaikan. Wajah menyatakan diri sebagai “janda dan yatim piatu”.[33]

Levinas menggagas sebuah pemikiran etis tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain sebagai wujud konkret dari perjumpaan manusia melalui wajah ke wajah itu. Filsafat wajah-nya menarik untuk ditilik. “Wajah” yang dimaksud bukan sekedar bagian dari organ tubuh manusia yang terletak di bagian depan kepala. Yang dimaksud dengan Levinas dengan istilah ini adalah situasi dimana ada orang yang muncul di depan kita. Ia hadir sebagai orang tertentu melalui wajahnya. Dalam wajah sesuatu yang transenden menyatakan diri.

Wajah adalah sebuah personifikasi ketakberdayaan yang mengimbau suatu tindakan etis. Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dalam wajah itu, orang lain tampak sebagai orang tertentu, orang lain. Orang lain menyatakan diri sebagai yang betul-betul lain dari saya. Konsekuensinya adalah bahwa wajah sebagai wajah tidak dapat dikuasai, dipegang atau diperbudak. Kedua, dalam wajah itu orang berada sama sekali di luar kita. Ia tidak berbicara tentang bagaimana tanggung jawab moral, apa itu bertindak secara moral atau bagaimana reaksi yang harus diambil ketika orang lain berhadapan dengan kita, melainkan pada apa yang terjadi di saat wajah itu menatap kita. Ketika seoseorang berhadapan dengan orang lain, ia menjadi tidak bebas lagi, tidak bisa bersikap apatis  tetapi ia harus bertanggung jawab atasnya. Tanggung jawab itu bersifat total. Total dalam arti bahwa kita tersubstitusi bagi orang itu. Bebannya menjadi beban saya, tanggung jawabnya menjadi tanggung jawab saya. Saya bahkan bertanggung jawab atas kesalahan orang lain: orang itu, dengan segala beban yang ada padanya adalah beban saya.

Manifestasi yang lain adalah wajah. Maka, wajah adalah sebuah personifikasi sebagai yang miskin, janda, yatim piatu, orang asing, yang telanjang. Semua figur ini menyiratkan fakta tentang suatu kejadian etis. Epifani wajah adalah suatu kejadian etis. Kejadian yang membuka kemanusiaan, yaitu kemanusiaan yang mengandung di dalam dirinya suatu undangan etis. Undangan yang meminta suatu respons, yaitu respons dalam responsibilité.

Ia menegaskan bahwa baru ketika berhadapan dengan orang lain, saya menjadi saya, saya menemukan identitas saya, menemukan keunikan saya. Inilah yang menjadi inti dari paradigma filosofis Levinas tentang filsafat wajah.

Levinas berfokus pada saat pra-reflektif yang memuat data panggilan untuk kebaikan, tuntutan primordial untuk bersikap baik dan tidak jahat terhadap dia yang lain, dan bahwa panggilan itu merupakan pancaran dari yang baik-Yang-Takberhingga yang menjadi cakrawala di mana didalamnya kita bertemu dengan yang lain.

B.5   Keunikan Yang Lain

Persoalan yang justru diperuncing dalam pemikiran Levinas adalah kritiknya terhadap kencenderungan reduksionis dalam sejarah filsafat, dari pra-sokrates sampai dengan Heidegger. Bagi Levinas, tradisi filsafat barat merupakan “the philosophy of the same” karena segala usaha untuk membangun suatu totalitas merupakan pemerkosaan terhadap keunikan yang lain. [34]

Dan segala usaha untuk mengeksplisitasi dan memahami keunikan manusia merupakan pelecehan terhadap alteritas (keberlainan yang lain, yang sama sekali lain) manusia sebagai persona. Segala usaha untuk memahami diri sesama merupakan kegagalan. Keunikan sesama sebagai pribadi hadir dihadapan “wajah yang telanjang”.[35] Di sini Levinas memakai nama “DiaYang Lain” untuk menerapkannya pada manusia. Manusia adalah misteri yang sulit dipahami. Manusia adalah valde aliud atau yang sama sekali lain bagi sesamanya. Karena dalam diri sesama yang unik itu Aku melihat DIA Yang Transenden, maka aku harus menghormati sesama, bahkan harus tahkluk dan taat.

Menurutnya, ontologi atau metafisika esensialisme telah memperkosa keunikan. Bagaimana “ada” menjadi dasar keunikan dan sekaligus menjadi dasar kesamaan? Pertanyaan ini yang manu dijawab Levinas. Bahwa eksplisitasi keunikan hanya menjadi latar belakang bagi penindasan terhadap yang lain. Filsafat yang demikian adalah filsafat totalistis.

  1. II. DISKURSUS AKHIR

Emmanuel Levinas merupakan pengubah isu etika pasca-modern. Dengan berfokus pada fenomenologi yang lain, ia ingin meradikalkan Yang Lain yang telah lama dilupakan dalam diskursus seluruh filsafat barat. Descartes yang mengabsolutkan kesadaran, Husserl yang mengedepankan paradigma subyak-obyek, dan Heidegger yang mengumandangkan ontologi fundamental, ditolak Levinas. Paradigma semacam ini telah menjadi kerangka dasar pemikiran totaliter yang mengabsolutkan ego in se. Bagi Levinas  pemikiran seperti ini bersifat narcistis, egosentris. Padahal data paling dasar keterpanggilan manusia adalah melihat yang lain. Bukan hanya melihat, tapi merespon impuls etis yang didapat melalui perjumpaan wajah ke wajah dengan suatu sikap tanggung jawab. Ini bukan suatu etika normatif, melainkan suatu fenomemologi moral yang begitu saja disisihkan dalam sejarah.

Akar dari penindasan, pemerkosaan, pembunuhan terhadap sesama adalah kegagalan dalam melihat yang lain sebagai yang lain, kegagalan melihat wajah yang lain. Kisah Auswitch terekam dalam jiwa Levinas sebagai momen pedih di mana keluarganya sendiri menjadi korban. Analisis Levinas  dalam fenomenologi yang lain berhubungan dengan kejadian miris itu. Apalagi diskriminasi terhadap orang Yahudi di Eropa, menjadi sebuah terminus a quam bagi analisis terhadap keunikan dan alteritas yang lain. Dengan mengeritik metafisika esensialisme, Levinas sebenarnya mengungkapkan bahwa hanya Tuhan yang unik an sich. Keunikan manusia hanya ada dalam tataran horisontal, yakni relasi antara manusia. Namun dalam relasi vertikal manusia berada dalam satu kategori yakni yang terbatas, yang tergantung pada Dia yang adalah Der Ganz Andere (Dia  Yang Sama Sekali Lain). Kita patut berterimakasih pada Levinas karena telah berjuang mengungkap cacat cela filsafat modern yang memutlakan kesadaran dan mencoba menggali kekayaan data kesadaran secara fenomenologis dan kakayaan yang lain. Akhirnya manusia etis levinasian adalah dia yang berada bagi yang lain. Dia yang bertanggungjawab terhadap yang lain. Manusia secara pra-refleksif sebenarnya terpanggil untuk bertanggungjawab terhadap sesama.

Posted on 26 November 2010, in ARTIKEL, Masalah sosial. Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. mas fian, bisa saya tahu beberapa referensi yang anda cantumkan di tulisan ini? kebetulan saya sedang neliti levinas dan sastra. penelitiannya udah selesai, hanya tinggal memperkaya beberapa perspektif. tulisan anda menarik. jika diidzinkan, bisakah saya minta referensinya? kita bisa tukar informasi tentang levinas jika mau. salam. oya, saya mahasiswa sastra indo ugm. terima kasih.

  2. Selain Wajah (Visage), mungkin kita juga perlu membahas salah satu aspek penting yang seringkali rumit dipahami dari filsafat Levinas, yakni The Saying (le Dir). Dalam bahasa Indonseia, nyaris tak ditemukan kata yang sepadan untuk menerjemahkan The Saying. Selain politik dan etika, dengan The Saying, Levinas juga berfilsafat dengan bahasa.
    Levinas memahami the Saying sebagai bahasa-yang-melaku. Bahasa yang membahasa. Atau bila boleh dirumuskan secara singkat: bahasa yang ngucap. Di sini, bukan mulut yang berbicara, tetapi suatu totalitas diri. Mulut yang mengucapkan kata-kata akan
    melahirkan 􀂳yang-terucap􀂴 (le Dit). Dengan yang-terucap, yang-lain dirumuskan, dan dengan demikian 􀂳dihadirkan􀂴 agar lebih mudah dipahami. Tapi le Dir tidak demikian. Le Dir adalah bahasa yang tidak mau merumuskan yang-lain agar dipahami. Le Dir, sebaliknya, mau membiarkan yang-lain tetap dalam kelainannya.
    Bagaimana le Dir ini bisa saya lakukan? Le Dir saya alami, ketika saya membuka diri kepada yang-lain. Sebelum dan ketika saya membuka mulut, saya sadar bahwa saya harus menyapanya. Saya sadar, bahwa saya harus membuka diri saya untuk diketahui olehnya. Kesadaran yang terjadi serentak sebelum dan pada saat saya membuka mulut, itulah le Dir.
    Perbedaan antara le Dit dan le Dir tentu saja tidak dikotomis. Keduanya saling mengisi dan terkait. Ketika saya menyapa Anda, 􀂳Halo!􀂴, sapaan itu telah menjadi le Dit, yang-terucap. Tapi sapaan itu pada saat yang sama tidak bermaksud untuk memahami sepenuhnya kelainan Anda. Karena, kata 􀂳Halo!􀂴 itu sendiri tidak bermakna, jika saya tidak menyapa Anda. Kata itu sendiri hanyalah sapaan. Ia adalah undangan moral bagi saya untuk membuka diri di hadapan Anda (le Dir).
    Tapi, apapun itu, membaca Levinas membuat kita sadar bahwa the Other itu ternyata bukan hanya grasroot dan subaltern yang selama ini dibayangkan oleh pemikir pascakolonial, tetapi “Yang Lain”, “Yang Eksterior”, sesama manusia, pemahaman, kesadaran, bahkan Tuhan kita sekalipun.

    Salam kenal…

  3. Mata itu pelita hati. Melalui tatapan mata dalam pertemuan, orang belajar saling mengenal. Akhirnya mereka dapat saling percaya dan bersatu. Sebuah tuntutan proses menuju cinta.

  4. haduh.. filsafat. aku suka filsafat tapi aku belum pernah dengar imanuel levinas ini. buknkah humanisme sudah cukup uuntuk mengharagai nyawa manusia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: